7 Penghancur Kebahagiaan – Apa Yang Menghilangkan Bahagia Dalam Hati?

Penghancur Kebahagiaan – Apa Yang Menghilangkan Bahagia Dalam Hati

Pernahkah anda mengambil waktu, 3-15 menit untuk memikirkan kehidupan orang-orang di sekitar kita? Saat sistem tidak adil dalam membagi sumber daya maka orang miskin dan pengangguran adalah pemandangan yang lumrah. Akan tetapi, saat keadilan sosial dipelihara, maka tidak ada lagi keluarga yang menjerit hatinya karena kekurangan ini-itu. Pada saat keadilan diberlakukan, materi yang diterima oleh keluarga ini akan setara dengan keluarga itu. Mungkin hanya dalam beberapa objek perlu diberlakukan putaran bergilir agar semua dapat manfaat indah pada waktunya. Kekuatan materi memang jelas sangat mempengaruhi kesenangan manusia. Tetapi, orang yang belajar membiasakan dirinya akan tetap menemukan kebahagiaan, sekali pun sistem masih jauh dari kata adil.

Itulah sifat khas dari inti kehidupan manusia. Yakni mampu menyesuaikan diri hingga terbiasa dengan situasi yang masih jauh dari harapan. Saat kita menuntut dan menanti-yenantikan keadilan:  Ketidak-adilan justru mengarahkan kehidupan agar terbiasa merasa cukup dengan apa yang ada saja. Segala sesuatu yang digiatkan secara terus-menerus dalam waktu lama, akan menjadi kebiasaan baik. Kebiasaan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akan membudaya: sulit dilupakan dan mendatangkan kebahagiaan hakiki  di dalam hati. Saat kita menuntut keadilan tetapi tidak ada yang berlaku adil: hanya ikhlas dan kemampuan membudayakan hal-hal baiklah yang menjadi awal kebahagiaan hidup.  Jangan fokus kepada apa tuntutan kita terhadap orang lain/ organisasi/ sistem tetapi fokuslah kepada Tuhan dan tetap berbuat baik kepada siapa pun.

Dalam hidup ini, kita bisa menginginkan apa saja, selama merasa mampu mewujudkannya. Akan tetapi, kita tidak boleh fokus memikirkan itu-itu saja seharian penuh. Saat kita menggantikan puji-pujian kepada Tuhan dengan hal-hal duniawi yang belum tentu dimiliki, tepat saat itulah tenangnya hati direnggut. Terlebih ketika kenyataan semakin jelas, bahwa kita memang belum beruntung dan belum memiliki apa yang diinginkan. Kecewanya hati semakin besar bahkan berpotensi meledak menjadi amarah kepada diri sendiri, sesama bahkan marah juga kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, kerapian dalam memilah-milah apa yang perlu dipikirkan dan apa yang tidak perlu, sangat dibutuhkan selama kita hidup di dunia yang penuh godaan.

Pengertian

Di dalam dunia ini, ada saatnya membangun dan ada saatnya untuk menghancurkan. Ada pula sifat/ kebiasaan yang dapat menghancurkan hidup, meski terlebih dahulu ada yang membangunnya. Bahagia berkaitan erat dengan manajemen pola pikir. Suatu kemampuan untuk memilah-milah apa yang dapat kita pikirkan dan apa yang tidak. Termasuk kapan dan seberapa lama kita perlu memikirkan ini-itu. Kemampuan memilah-milah pikiran inilah yang menjadi kunci: apakah kita sedang membangun atau meruntuhkan kebaikan? Jadi, bisa dikatakan bahwa menghancurkan kebahagiaan adalah Kesalahan saat memfokuskan pikiran sehingga suasana hati berubah gelisah dan terpuruk dalam kesusahan. Orang yang mampu memanajemen pikirannya, akan dimampukan pula untuk meraih hari-hari yang berkualitas.

Contoh hal-hal yang dapat menghilangkan/ menghancurkan/ melenyapkan bahagianya hati

Pada dasarnya, segala sifat-sifat buruk bisa membuat bahagia lari. Biasanya, bila buruknya sikap telah mengusir yang baik, sekalipun kita memperbaikinya, rasanya akan tetap buruk selama beberapa waktu. Ada waktu jeda rasa yang berbeda-beda saat kita mulai berupaya mengubah hal-hal yang kurang benar. Oleh karena itu, kapoklah menjadi orang yang berkelakuan menyimpang lalu mulailah biasakan diri untuk menekuni kebaikan sederhana. Mulailah dari diri sendiri, di dalam keluarga dan dalam masyarakat termasuk dalam organisasi/ sistem. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa faktor yang menyebabkan bahagiamu hancur berkeping-keping.

  1. Fokus pada keinginan.

    Inginkan apa saja yang ada di dunia ini, selama itu pantas dimiliki. Jangan juga kita menginginkan sesuatu yang memang jelas-jelas tidak bisa dimiliki. Melainkan apa yang mungkin, harapkanlah itu! Di balik semuanya itu, sadarilah bahwa hawa nafsu merupakan cara kita membanting diri sendiri sehingga menjadi sadar dan tau diri: apa yang layak untuk kita dan apa yang tidak. Mereka yang pernah terhempas karena nafsunya yang berlebihan akan belajar banyak dan tidak lagi menginginkan hal yang serupa dalam waktu dekat.

    Pernahkah anda ke toko-toko online dimana berbagai barang tersaji indah di depan mata? Sesaat saja, rasanya senang hati melihat berbagai barang tersebut. Lalu anda pun menutup aplikasinya dan melanjutkan aktivitas lainnya. Orang yang setelah menutup aplikasi belanja namun hatinya masih membayang-bayangkan barang idamannya sampai dibawa dalam lamunan dan malamnya dimimpikan. Kebiasaan seperti inilah yang disebut dengan fokus pada hawa nafsu.

    Apa pun yang anda mau dalam dunia ini, harapkanlah itu tanpa melamunkannya. Inginkanlah itu tanpa memimpikannya dan sukai barang-barang tersebut tanpa mencemaskannya/ mengkuatirkannya. Melainkan alangkah lebih baik bila kita melanjutkan hidup, terus beraktivitas, fokus kepada Tuhan, pelajaran dan pekerjaan yang diemban.

  2. Kurang tulus.

    Sebagai manusia berakhlak, hari-hari kita penuh dengan kebaikan. Ini bukan saja datang dari sumbangan orang lain dan lingkungan alamiah, tetapi kita sendiri pun turut melakukannya pada momen-momen yang sesuai.

    Yang perlu kita perhatikan saat berbuat kebaikan adalah hati yang selalu tulus berbagi. Tanpa ketulusan, ada sebercak hasrat di dalam hati, mengharapkan balasan atau respon positif penerima. Padahal, kita sadar betul bahwa sesama manusia tidak bisa kita tebak atau atur-atur sesuai dengan kehendak sendiri. Ada-ada saja momen khilafnya, saat apa yang kita bagikan, tidak diresponi dengan baik, kadang acuh tak acuh.

    Sikap teman yang kurang meresponi niat baik kita, bisa terwujud dalam bentuk pengalihan perhatian, mengalihkan pembicaraan, dicuekin dan bisa saja diejek orang lain. Kejadian semacam ini lumrah dan dapat ditanggung dengan sukacita, asalkan niat hati tulus saat berbuat baik. Sebab setiap kebaikan yang diantarkan kepada sesama, ditujukan kepada Tuhan, untuk kemuliaan nama Tuhan.

    Lain halnya ketika hati tidak tulus, sedikit saja respon buruk dari sesama, sudah dapat menghancurkan kebahagiaan kita. Hanya karena tekanan kata sambutan negatif orang, sukacita lenyap, konsentrasi pecah dan menyesal telah berbuat baik. Oleh karena itu, agar keterpurukan semacam ini menghimpit hati anda, buatlah komitmen yang tulus sebelum memberi ini-itu kepada kawan dekat maupun jauh.

  3. Kurang ikhlas.

    Setiap manusia punya keinginan, masing-masing orang punya tujuan yang berbeda. Sehebat-hebatnya manusia, tidak selalu mampu mengendalikan apa yang harus terjadi dan apa yang tidak boleh terjadi dalam hidupnya. Ada kehendak Tuhan yang berputar menaungi alam semesta: itu terjadi di luar kemampuan kita. Dan ada yang namanya kehendak sistem/ kehendak organisasi yang sewaktu-waktu bisa menyambar, tanpa mampu kita kendalikan secara pribadi.

    Orang yang menyadari bahwa kemampuannya terbatas adanya, mengedepankan sikap ikhlas menghadapi kenyataan hidup. Apa pun yang terjadi, saat hati menyambutnya dengan ikhlas: pasti mendatangkan kebahagiaan. Akan tetapi, bagi orang yang tidak mampu menerima kenyataan hidup apa adanya. Sukacitanya hancur lebur saat kenyataan yang berlangsung merupakan kebalikan/ menyimpang dari kemauan/ kehendaknya.

  4. Kurang berani menerima tantangan ujian kehidupan.

    Berada pada zona nyaman memang berasa enak tenan. Tidak ada ujian yang datang sebab kita menjauhkan diri dari masyarakat yang biasanya selalu ramai bergejolak. Saat kita berupaya mengisolasi diri sendiri dan berwenang mengatur ulang lingkungan sekitar sehingga terciptalah lingkungan yang selalu kondusif terkendali dalam zona nyaman kehidupan.

    Lingkungan sekitar yang benar-benar di bawah kendali, menciptakan zona nyaman sekaligus menjauhkan kita dari ujian kehidupan. Akibatnya, saat kita keluar dari zona tersebut, untuk masuk dan berbaur di dalam masyarakat: khilafnya sesama dapat ditanggapi secara berlebihan. Konsentrasi buyar dan bahagia mudah hancur berserakan, hanya karena orang lain dan sikon (situasi & kondisi) menekan kita secara langsung maupun tidak langsung.

    Oleh sebab itu, hiduplah seperti masyarakat pada umumnya. Tinggallah di lingkungan yang ramai agar hati tetap berani baik sekalipun ada pihak yang berupaya menekan dari berbagai sudut. Kebaikan kita jangan sampai menciut satu kilometer, hanya karena tekanan hidup sejengkal.

  5. Belum terbiasa hidup sederhana.

    Ada orang yang hidupnya sederhana tetapi bawannya hepi-hepi aja. Tetapi ada pula yang tinggal di daerah mewah tetapi mudah membenci saat kenyataan hidup tidak sesuai dengan keinginannya. Coba lihat acara di televisi, apa ada orang yang hidupnya miskin melarat, bermasalah dengan saudara, berperkara dengan suami/ istrinya atau bertengkar dengan tetangganya? Umumnya, yang sering bermasalah dengan sesamanya adalah manusia yang ekominya menengah ke atas sedang mereka yang kehidupannya sangat sederhan, tidak suka mengganggu sesama.

    Mereka yang terbiasa hidup sederhana lebih luwes dalam menanggapi orang lain. Akan tetapi, orang yang suka memelihara arogansi, mudah bersitegang dengan sesamanya. Tiada lagi bahagia di dalam hati, ketenangan hancur lebur dalam dirinya, hanya karena masalah-masalah sepele yang mungkin saja tidak ditujukan untuknya. Orang yang tidak hidup sederhana, membanggakan kelebihannya, itulah yang membuatnya senang. Tetapi, ketika ada pihak yang mengusik kesenangannya, sikap mulai beringas, amburadur dan tak tentu arah.

  6. Tidak mampu menyesuaikan diri.

    Ada peristiwa yang berbeda-beda mendatangi kita atau kita datangi, baik secara sadar (telah diprediksi) maupun tidak sadar (tak terduga sebelumnya). Situasi yang berlain-lainan itu menuntut kita untuk mampu beradaptasi. Tiap-tiap lingkungan memiliki adatnya sendiri, berupayalah untuk mengikuti pola tersebut dengan sukahati.

    Ada saatnya dimana situasi sangat-sangat hening sekali. Ada pula masanya dimana hanya ada satu-dua yang berkoar-koar sedang yang lain diam. Juga ada waktunya ketika riuh gemuruh dimana-mana, semuanya pada ribut-ribut, entah apa yang ditertawai. Situasi-situasi semacam ini hanya segelintir saja dari aneka rupa situasi yang mungkin akan kita hadapi selama hidup di dunia. Mereka yang telah belajar beradaptasi, mampu bersukacita di tengah perubahan suasana yang sangat cepat. Akan tetapi, dedek bayi pasti menangis tersedu-sedu saat situasi disekelilingnya bergetar.

  7. Rasa bersalah.

    Hal terakhir yang kerap kali membuat kebahagiaan meredup lenyap adalah saat kita menyadari kesalahan yang telah dilakukan terlebih ketika hal tersebut turut diingatkan oleh orang lain. Rasa bersalah seperti duri yang menusuk-nusuk pikiran sehingga konsentrasi mudah hancur lebur, jiwa tertekan dan cepat patah semangat saat dirintangi melakukan apa yang baik dan yang benar.

    Rasa bersalah ini bisa disebabkan oleh karena sifat-sifat buruk, misalnya iri hati, cakap sombong, mata angkuh, amarah yang tak terkendali, suudzon (prasangka buruk), mengejek, menghina, menyindir, berbohong, menipu, munafik, fitnah dan lain sebagainya. Semua kejahatan ini bisa menciut-hancurkan sukacita. Oleh karena itu, hindari dengan memperketat fokus pada hal-hal positif dan belajar untuk menyeleksi setiap sikap sebelum diekspresikan. Jika sudah terlanjur bersalah: perlu mohon ampun kepada Allah, siap sedia menanggung ganti rugi dan meminta maaf kepada sesama.

    Menurut kelangsungannya, rasa bersalah terbagi dalam dua arah, yakni kekhilafan yang timbul karena ketidaksengajaan/ spontanitas dan kesalahan yang timbul karena disengaja/ direncanakan. Berupayalah untuk menjadi pribadi yang berusaha meminimalkan kesalahan dengan mempelajari kebenaran, terutama yang diajarkan oleh Kitab Suci dan juga lewat buku-buku positif lainnya (baik online maupun offline).

Kesimpulan – Mengapa sukacita dalam hati bisa berakhir?

Apa lagi yang bisa menghancurkan kebahagiaan selain dari keinginan. Hawa nafsu adalah batu sandungan bahagia, tetapi jangan takut menginginkan. Sukailap barang dan jasa apa saja tetapi jangan merindukannya, inginkan peralatan apa saja tetapi jangan memimpikannya. Pastikanlah bahwa pengharapan kita terhadap dunia tidak sampai membuat kuatir, ujung-ujungnya menjadi gelisah. Memfokuskan pikiran secara terus-menerus kepada dunia, malah membuat hati semakin tidak tenang saja. Sebab apa yang bisa kita kendalikan dan sanggup dimiliki sangatlah kecil sedang apa yang ditawarkan dunia kepada kita, sangatlah besar. Oleh karena itu, cerdiklah saat memikirkan sesuatu, pastikan hal-hal tersebut tidak jauh-jauh dari jalur kebaikan dan kebenaran. Simak juga teman, Faktor yang menyebabkan kurang sukacita menjalani hidup.

Salam, Fokus pikiran
menentukan suasana hati!
Fokus dunia,
malah tidak tenang hati.
Fokus Tuhan,
hati pun tenang dan damai
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.