7 Cara Menunggu Diterima Sebagai Penulis Lepas (Freelance)

Cara Menunggu Proses Diterima Sebagai Penulis Lepas (Freelance)

Apa-apa di dunia ini: polanya adalah aktivitas. Tidak ada yang benar-benar diam di muka bumi sebab batu-batu pun turut bergerak bersama-sama dengan rotasi bumi. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai manusia yang telah dianugerahkan dengan bakat bergerak alamiah, yakni tulang, otot dan sendi? Aktiflah selalu maka aktivitas itulah yang akan membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Orang yang hanya duduk nyaman, santai terus-menerus justru beresiko mengalami gangguan kesehatan dalam waktu lama. Bukan hanya kesehatan fisiknya saja yang terganggu tetapi mental-pikirannya juga labil mudah tergoncang. Oleh karena itul, baiklah kita mulai bergerak menurut kemampuan dan bakat alamiah yang dinugerahkan Allah.

Dari sekian banyak talenta yang diterima, dilatih dan dikembangkan oleh tiap-tiap orang, yang paling lembut dan tidak melelahkan secara fisik adalah bakat menulis. Dari SD bahkan yang sempat singgah Paud & Taman Kanak-Kanak pasti telah diajari dasar-dasar menulis. Zaman serba canggih sekarang, hampir tidak ada yang tidak mampu melakukannya, kecuali anak di bawah umur. Mereka yang tidak bersokolah pun, tahu melakukannya: setidak-tidaknya mampu membuat tanda tangan sendiri. Seharusnya orang yang berprofesi sebagai penulis adalah mayoritas di dalam masyarakat. Tebakan kami, di negara-negara maju, profesi semacam ini banyak diminati muda-mudi pencari kerja.

Pada hakekatnya, menulis itu mudah. Cukup dengan tenangkan diri, selami pikiran, gali masa lalu dan jangkau masa depan kemudian mulailah ungkap lewat tulisan, apa-apa saja yang ditangkap oleh pikiran. Memang semuanya tidak sesederhana itu. Butuh latihan: kesabaran, kerja keras dan ketekunan juga waktu yang cukup lama hingga potensi tersebut berkembang. Yang terpenting adalah “jangan pernah lemah, lesu, apalagi menyerah saat badai datang membekukan hari. Kendala terhebat yang dialami oleh seorang penulis adalah ketika dirinya kehilangan ide-ide cemerlang yang biasanya keluar dari dalam pikiran masing-masing. Bekunya otak membuat ide-ide mandek sehingga merepotkan bagi orang itu sendiri.

Menurut pengalam kami, ide-ide yang membeku dengan cepat disebabkan oleh karena desakan waktu. Kita sesak hati, sudah saatnya menerbitkan tulisan tetapi baru dikerjakan sehingga kesannya sangat buru-buru (deadline). Menulis butuh ketenangan hati, deadline yang sudah di depan mata padahal tidak ada kisah cerita yang kelar, akan mengacaukan konsentrasi, sulit berpikir hingga gagal merangkai kata-kata spesifik. Faktor lainnya yang membuat ide putus adalah tulisan yang tidak nyambung dan saling bertentangan satu-sama lain. Keadaan semacam ini seperti menghadapi persimpangan jalan namun tidak tahu mengambil keputusan, apa lurus saja, belok kanan atau belok kiri? Oleh karena itu, jika memang tulisan kita tidak nyambung satu-sama lain, perlu segera disampaikan klarifikasi agar tidak mengganjal ide-ide berikutnya.

Cara menunggu proses diterima sebagai penulis lepas (freelance)

Orang-orang di luar sana menggunakan tenaga otot maksimal untuk bekerja tetapi penulis mengeluarkan sedikit energi menyelesaikan tugas-tugasnya. Lagi pula, pekerjaan ini tidak butuh ke kantor, anda bisa menyelesaikannya dimana saja (bekerja dari rumah/ work from home). Awalnya, memang kita sangat tertarik mendengar kemudahan profesi tersebut. Akan tetapi, ketika anda bulat tekad memutuskan untuk menjadi salah satu dari kami, mulai banyak kendala yang ditemui. Di sinilah mental positif akan diuji sehingga tampaklah “aslinya kita itu seperti apa?” Namun mereka yang memiliki tekad yang kuat, jiwa pejuang, pantang mundur dan tetap rendah hati akan berhasil melaluinya pula, perlahan tapi pasti. Berikut seadanya saja, beberapa tips dan trik yang perlu diadopsi untuk menunggu disetujui/ di-acc dalam profesi ini.

  1. Miliki semangat pejuang untuk terus berkarya.

    Ada banyak orang yang merasa dirinya positif tetapi tidak memiliki semangat saat dihempaskan badai. Akan sangat banyak soal-soal yang kita hadapi dari berbagai arah. Bila kita kecut hati dan mudah putus asa, segera juga mundur tersipu-sipu. Bahkan orang yang tidak kuat mentalnya akan melukai dirinya sendiri.

    Sadarilah bahwa masalah yang sedang dihadapi, semakin dipikirkan, semakin memahitkan hati. Kita perlu lebih banyak mengabaikan distorsi sambil memaafkan semua orang yang terlibat di dalamnya. Lalu berupayalah agar mayoritas pikiran kita tertuju bernyanyi memuliakan Sang Pencipta.

    Memang gemerlap dunia bisa memicu semangat, terlebih ketika kita mengharapkan sesuatu yang besar di masa depan. Akan tetapi, cepat sekali semangatnya buyar, pecah dan tak berdaya lagi saat dirintangi oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Satu-satunya semangat yang selalu ada dan tetap terang benderang adalah semangat untuk memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama dengan adil.

    Apa tujuan anda menulis, itulah yang akan menyemangati setiap jalan yang ditempuh. Jika tekad hati sudah bulat untuk menulis demi kemuliaan nama Tuhan dan sebagai bentuk kasih yang adil kepada sesama. Niscaya, semangat juang yang energinya berasal dari kebenaran akan tetap ada seumur hidup.

    Teruslah menulis dan tetaplah menulis. Berat memang jalan yang ditempuh untuk bisa diterima/ disetujui sebagai penulis lepas (freelance) tetapi bukan tidak mungkin. Jika orang-orang di luar sana pernah melalui proses-proses menunggu lama panjang seperti yang kita alami, niscaya kita juga dapat menjalaninya. Pandanglah kepada visi ke depan, semua kelambatan yang terjadi pasti membaik asal kita tetap berusaha maksimal.

  2. Panjang sabar.

    Kapasitas kesabaran yang identik dengan kemampuan bertahan merupakan kelanjutan dari sikap hidup yang rendah hati. Artinya, mustahil seseorang tabah menghadapi pencobaan yang kerap singgah bertubi-tubi, bila enggan menyangkal diri sendiri.

    Orang yang panjang sabar, mampu tetap tenang di tengah situasi penuh gejolak. Menghadapi ejekan dalam damai sembari menyebarkan kebaikan. Mampu menunggu lebih lama, sampai diakhir, tinggal sendirian. Merespon teguran yang bukan-bukan dengan tetap ramah menjadi pendengar yang baik. Sekalipun hidup melambat, tidak ada penyesalan, melainkan sabar menunggu sambil tetap sibuk menulis sesuai minat yang digeluti.

    Cara terbaik membuat kita sabar adalah dengan selalu aktif. Hindari menunggu sambil diam sama sekali. Setidak-tidaknya fokuslah memuji-muji Tuhan di dalam hati agar hati tetap bersukacita. Selama proses ini, bila dimungkinkan carilah pekerjaan tambahan atau kerja sampingan. Setidaknya buat tambahin pulsa atau paket data (walau sesungguhnya ada juga dikasih ortu). Asalkan pekerjaan tersebut tidak mengganggu aktivitas menulis, tukunilah itu sambil menantikan jawaban dari perusahaan. Misalnya saja jualan pulsa, token listrik dan voucher digital lainnya. Atau anda bisa menemukannya berdasarkan minat, kemampuan dan kebutuhan orang-orang di sekeliling.

  3. Tetap bergantung kepada orang tua dan keluarga.

    Jelaslah kemudahan untuk menjadi seorang penulis, nyata adanya. Cukup dengan mendaftar dan menyetorkan sejumlah uang di salah satu situs terkemuka maka semuanya beres, tinggal menunggu hasil. Sadarilah bahwa ekspektasi kita yang menganggap proses-proses kehidupan serba cepat, sangat rentan kecewa.

    Proses yang kita butuhkan untuk dapat diterima sebagai penulis lepas (freelance) cukup memakan waktu lama. Lantas, darimana kita menafkahi diri kalau penghasilan sama sekali nihil? Pada saat-saat seperti inilah, kita butuh yang namanya keluarga. Mau tidak mau harus tetap bertahan dahulu di dalam keluarga dan mengharapkan uang saku dari orang tua.

    Walau kadang-kadang dibully karena terlalu lama menganggur, perlu rendah hati bertahan. Tidak masalah hidup melambat dan ejekan meluap dari berbagai penjuru. Asalkan kita tetap fokus kepada Tuhan dan tetap ramah kepada semua lawan. Sambil-sambil tetap menyibukkan diri untuk menulis hal-hal positif sesuai bidang masing-masing.

  4. Menulis butuh perencanaan (hindari tulis hari ini, terbitkan hari ini/ besok).

    Saat kita masih pemula, setiap tulisan yang diterbitkan sangat dekat dengan deadline. Ketika baru-baru pertama menggeluti profesi ini, kami menyerahkan tulisan (post blog) tepat di hari yang sama/ sehari sebelumnya saat tulisan tersebut dibuat. Memang kebiasaan buruk ini lancar-lancar saja diawal. Akan tetapi, saat dirintangi oleh masalah kecil sampai besar: tulisan yang kita hasilkan jadi kacau balau (misalnya kalimatnya ambigu, kata-kata kurang huruf dan lain sebagainya).

    Adalah baik bagi seorang penulis untuk mengedapkan perencanaan karya terlebih dahulu. Jangan terbitkan selama beberapa hari agar mengendap 5-7 tulisan. Setelah itu, saat anda menghasilkan tulisan yang ke delapan, terbitkanlah tulisan yang pertama dibuat. Ketika menyelesaikan tulisan ke sembilan, postinglah tulisan yang ke dua, demikian seterusnya.

    Jeda penerbitan semacam ini membuat kita sempat merevisi tulisan. Siapa tahu juga, ada ide-ide baru yang turut mendukung artikel tersebut yang diperoleh dari mimpi tadi malam atau setelah melihat/ membaca karya orang lain dari berbagai media. Revisi semacam ini adalah kesempatan penyempurnaan yang membuat karya yang dihasilkan semakin berkualitas. Siapa tahu juga ada hal-hal kurang etis yang tidak sengaja diketik, masih sangat mungkin untuk diperbaiki lagi.

  5. Memperbaiki ketidaksejajaran atau ketidaksesuaian atau ketidakbenaran ide yang pernah diterbitkan.

    Jalaslah bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan selalu benar. Serapih-rapihnya mempersiapkan karya, ada-ada saja distorsi yang ditemukan disana-sini. Apabila anda menyadari hal tersebut, segeralah perbaiki. Namun, bila ini ditemukan oleh orang lain/ pembaca: jangan keraskan hati: rendah hatilah mengakuinya sambil mengoreksi apa yang perlu.

  6. Jadilah penulis tanpa identitas spesifik,

    Kita perlu menyangkal diri agar tidak angkuh membanggakan karya-karya terbaik yang ditelurkan. Sebab seburuk-buruknya seorang yang tekun menulis, pastilah ada beberapa dari karyanya yang berkesan luar biasa. Ketika seseorang terlanjur menyombongkan karyanya maka di sisi lain akan sangat jatuh hati, kecewa kepada diri sendiri saat menghasilkan karya-karya kecil yang recehan. Akibat kecewa semangat jatuh sehingga tidak mau lagi menuliskan hal-hal lainnya. Artinya, hati yang arogan bisa membuat produktifitas karya menurun drastis bahkan berhenti sama sekali.

    Sebagus-bagusnya nama, lebih bagus nama yang manusiawi – biasa saja. Sadar atau tidak, ketenaran nama sangat besar potensinya untuk menarik keluar sifat bangga hati yang menyenangkan. Suatu kekuatan negatif yang awalnya menambah semangat tetapi ujung-ujungnya menarik jatuh sangat keras. Oleh karena itu, baiklah kita menyangkal diri jauh-jauh hari dengan menjadi penulis anonim. Cukup diri sendiri saja yang tahu apa kelebihan kita. Keadaan ini juga turut membuat kita tidak lebay menuntut dihormati dan dihargai sesama. Jiwa pun bebas dari tekanan dan terus berkarya menurut bidang yang kita kuasai.

  7. Berhati-hati menuliskan kehidupan pribadi.

    Kami tidak melarang anda untuk mengeksplorasi kehidupan sendiri. Hanya saja, berhati-hatilah mengungkapkan perasaan di hadapan publik. Terkadang, perasaan yang kita miliki belum bisa menilai situasi dengan benar sehingga timbullah opini yang ambigu. Oleh karena itu, apa pun yang berusaha anda nilai dalam hidup ini: pertimbangkanlah baik-baik berdasarkan logika sehat yang positif. Bukannya kita tidak bisa membahas hal-hal negatif yang terjadi di sekitar namun yang perlu diperhatikan adalah membuat kesimpulan akhir yang positif bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.

    Beberapa bentuk kehati-hatian selama mengupas kehidupan pribadi adalah menyamarkan tokoh-tokoh yang berkaitan, menyamarkan lokasi/ wilayah, menyamarkan waktu dan lain sebagainya. Bahkan bila anda adalah penulis yang cukup cerdas, kejadian yang disajikan bisa diskenariokan menurut gaya sendiri/ style populer dengan membuka celah interaksi variatif yang disusun sekreatif mungkin. Bahkan kita pun bisa saja mengangkat cerita lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan namun telah disisipkan nilai-nilai yang berhubungan dengan realitas kehidupan.

    Saksikan juga teman, Bahaya menulis kehidupan pribadi. Oleh karena itu, tulisan yang mengupas kehidupan pribadi secara subjektif sebaiknya disimpan untuk diri sendiri saja. Artinya, tidap perlu buru-buru untuk menerbitkan tulisan semacam ini, cukup letaknya di diari/ buku harian/ jurnal harian saja dan tidak untuk dikonsumsi oleh publik.

Kesimpulan

Menulis sepertinya pekerjaan yang mudah namun begitu anda terjun ke dalamnya akan menemukan berbagai kendala yang mungkin saja tidak dialami oleh orang-orang dalam profesi lain. Tidak cukup hanya kerja satu-dua bulan saja menjadi pegawai magang dengan pemasukan hampir nihil. Anda butuh keluarga dan selalu sabar bertahan lebih lama sampai tulisan yang dihasilkan dengan tekun, diterima oleh sistem. Selama masa-masa peninjauan tanpa hasil, seorang blogger tidak berdiam diri saja, tetapi tetap menyibukkan diri berkarya tanpa melupakan aktivitas memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama seadil-adilnya. Tiap-tiap profesi punya tantangan yang berbeda-beda. Semata-mata untuk mempersiapkan kita agar mencintai profesi tersebut dengan terus berkarya menurut bidang masing-masing.

Salam, Setiap profesi punya keunikan,
Namun umumnya semua pekerjaan,
butuh kesabaran, kerja keras & ketekunan,
sebelum benar-benar menghasilkan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.