10 Cara Mempertahankan Kesenangan Mengubahnya Jadi Kebahagiaan

Cara Mempertahankan Kesenangan Mengubahnya Menjadi Kebahagiaan

Apa pun yang kita lakukan di dunia ini, baik buruknya sangat ditentukan oleh pikiran. Sebagai pengendali dan sumber-sumber semua informasi yang berputar di dalam diri kita, otak tak pernah tertidur bahkan sedetik pun. Sekali pun badan ini mati, namun otak masih saja aktif selama beberapa menit sebelum akhirnya mati juga. Sebagai manusia, di sinilah letak keunggulan spesies yang paling berkuasa di bumi. Ada banyak hewan dan tanaman yang fisiknya besar, kekar dan tak tergoyahkan: tetapi mereka bisa dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh manusia. Kemampuan memanipulasi berbagai hal memang baik adanya. Namun manipulatif demi keuntungan pribadi jelas salah besar. Saat-saat egois seperti inilah, otak manipulator menjadi sangat berbahaya bagi orang lain dan juga bagi orang itu sendiri termasuk bagi lingkungan sekitar.

Satu-satunya cara untuk membuat manipulasi otak selalu positif adalah mengaktifkannya demi kepentingan Yang Maha Kuasa dan demi kepentingan bersama manusia lainnya. Kepentingan pribadi memang tidak diabaikan sama sekali melainkan memadukannya dengan kepentingan orang lain. Artinya kepentingan pribadi yang sehat dapat berjalan akur beriringan dengan kepentingan bersama. Bila selama hidup di dunia, kita mampu memanajeman sedemikian rupa, tiga kepentingan besar, yaitu kepentingan Tuhan, kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain. Alhasil, tidak ada yang dapat mengacaukan kehidupan kita. Masalah-masalah yang datang dapat dihadapi dengan sukacita. Sampai hal-hal kecil yang ada dalam hidup kita pun membawa kebahagiaan yang membuat hati senang.

Jelaslah bahwa yang namanya kesenangan tidak pernah lepas dari materi-materi duniawi yang ada di sekitar kita. Akan tetapi, ada saja orang yang hidupnya kurang menyenangkan padahal harta bendanya berkelimpahan. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh karena masalah hati yang menggerogoti dari dalam. Artinya, sehebat apa pun hidup ini terlihat dari luar: itu tidak menentukan apa yang dirasakan oleh hati. Mungkin kita bisa berbohong kepada sesama dengan tetap tertawa tetapi kita tidak mampu membohongi diri sendiri. Apa yang kita rasakan akan selalu bersua berulang kali sampai bosan sendiri. Karena ada sesuatu yang mengganjal hati, kita tidak bisa melepaskan rasa senang maksimal. Sekalipun rekan-rekan di sekeliling sangat menikmati momen tersebut. Apa itu yang mengganjal dan menelan habis redup sukacita jiwa? Kita akan membahasnya satu demi satu.

Pengertian

Senang adalah sukacita sesaat yang timbul oleh karena gejolak yang ditimbulkan orang lain dan materi lainnya (baik benda hidup maupun abstrak-mati) di sekitar kita. Tidak ada suatu takaran yang dapat menentukan seberapa senang seseorang. Artinya kita tidak bisa menilai sebesar apa rasa tersebut. Lagi pula, saat-saat yang menyenangkan berbeda-beda untuk setiap orang: yang ini di sini, sedang yang itu di situ. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang beracorak majemuk. Sekali pun demikian, suasana hati tetap bisa kita atur menurut kebiasaan yang selama ini kita bawakan. Buatlah dirimu terbiasa bersukacita niscaya rasa senang gembira itu selalu nyata. Bila selama ini anda mampu menjaga konsistensi sikap maka bukan mustahil “hati yang bergembira selalu dirasakan nyata.”

Cara mempertahankan kesenangan konsisten

Kalau hanya senang saja, semua orang juga bisa mencapai itu, hanya dengan memenuhi apa yang diinginkan hatinya. Itulah pada dasarnya prinsip rasa senang, yakni saat-saat seorang manusia mampu memenuhi hawa nafsunya. Jelaslah bahwa semuanya rasa ingin tersebut berawal dari panca indra yang melihat-lihat apa yang memesona di sekitarnya. Tentulah ini tidak pernah lepas dari berbagai-bagai hal yang gemerlapan di dalam dunia yang fana ini. Orang yang tidak mampu mengendalikan diri, tidak akan mampu mengekang hawa nafsunya. Sedang mereka yang dewasa mengekang nafsu akan sanggup mengendalikannya sehingga tidak sampai menimbulkan efek buruk bagi dirinya sendiri, sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa cara mempertahankan rasa yang menyenangkan tetap dan selalu ada.

  1. Memenuhi panggilan Tuhan.

    “Apa panggilan Tuhan dalam hidup anda?” Pertanyaan ini juga identik dengan, “mengapa Allah mengutus kita ke bumi? Lalu, apa yang menjadi tujuan hidup kita?” Siapa pun dia yang mampu memenuhi panggilan hidupnya akan beroleh kelegaan di tengah riuh-gemuruh dunia.

    Adalah mustahil bisa merasakan kesenangan saat hati rasa galau menutupi hari-hari hidup. Panggilan hidup juga berhubungan dengan tugas-tugas kita selama hidup di bumi. Apa yang menjadi tanggungjawab kita kepada Tuhan merupakan tugas-tugas selama di bumi. Niscaya ketika semua tugas diselesaikan tepat waktu, ada rasa lega. Sehingga tanpa disadari ketika kita mampu menyelesaikan tanggungjawab, membuat hati mudah mencapai tingkat kesenangan hidup yang memadai.

  2. Tulus berbuat baik.

    Ambil prinsip seumur hidup “Tiada hari tanpa berbuat baik.” Kebaikan kita merupakan penghubung kuat yang menjalin erat tali silahturahmi kepada sesama dan tentu saja kepada Tuhan. Sebab Tuhan menganjurkan, “kasihilah sesama mu seadil-adilnya, sebagaimana kamu mengasihi diri sendiri.”

    Apanya yang menyenangkan saat kita mengasihi sesama? Bukankah yang terjadi malah, apa yang ada pada kita telah berkurang (telah dibagikan kepada orang lain)? Memang jelas dalam beberapa kebaikan, kita mengalami pengurangan saat membagikannya, terutama soal berbagi materi (uang dan harta benda). Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa di sisi lain, materi yang kita miliki turut bertambah, biasanya melalui gaji. Dan biasanya, jumlah yang ditambahkan ke kas kita tiap-tiap bulan, lebih banyak daripada jumlah yang kita sedekahkan kepada sesama. Kita senang memberi karena dengan demikian kita jadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama sekaligus memenuhi tuntutan Sang Pencipta.

    Tahukah anda, ada satu kebaikan yang menyenangkan namun tidak mengurangi sepeser pun dari hak miliki yang kita kumpul-kumpulkan? Itulah yang dikenal sebagai ramah tamah. Bukankah kita tidak kehilangan apa-apa saat berbagi sikap santun kepada sesama? Jadi, mengapa kita tidak rajin melakukannya pada momen yang dibutuhkan? Bukankah dengan demikian kita bisa berkata “senang rasanya melihat orang lain bahagia.”

  3. Hal-hal yang sederhana, itu yang terus ada.

    Selanjutnya: itulah kata yang dibutuhkan dimana akan kita lalui dalam ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu hari-hari hidup di bumi? Bagaimana hidup ini terus berlanjut? Apa yang perlu kita lakukan agar apa yang dirasakan saat ini tetap ada dan terus ada pada masa-masa selanjutnya? Yang perlu kita lakukan adalah hidup sesederhana mungkin. Sebab hal-hal yang sederhana, mampu kita sediakan terus-menerus dan ramah lingkungan.

    Pada umumnya, pendapatan kita sudah mencukupi jika kebutuhan yang dibeli biasa saja, bukankah itu sangat menyenangkan? Akan tetapi, rasa-rasanya pendapatan kita serba kurang ini-itu, karena yang kita inginkan selalu saja mewah dan berkelas: bukankah ini sangat memuakkan? Lagi pula hal-hal yang sederhana, sifatnya ramah lingkungan. Artinya, konsumsi yang dilakukan tidak sampai merusak lingkungan hingga menimbulkan bencana alam.

    Kerendahan hati membuat hidup sederhana tidak berlebih-lebihan yang mengarahkan hati senang tenang terus-menerus. Kesederhanaan mudah dilakukan, hanya perlu siap sedia korban perasaan. Sebab saat kehidupan kita terlalu sederhana, orang lain bisa dengan mudah merendahkan dan mengejek. Akan tetapi, mereka yang telah mencicipi betapa bermanfaatnya hidup sederhana akan menanggung semua penghinaan itu dengan senyum mungil penuh syukur.

  4. Ikhlas menjalani hidup.

    Mengapa menjadi ikhlas membuat kita mudah merasa senang? Sebab dunia ini penuh distorsi: sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak kita inginkan bisa saja terjadi tiba-tiba. Sesiap apakah kita menghadapi keadaan penuh ambiguitas semacam itu?

    Saat hati yang rela ikhlas sudah dipelihara, maka seburuk apa pun situasi mampu dihadapi dengan sukacita. Emosi di dalam dada tidak bergejolak hantam-hantaman sebab semua yang telah terjadi bisa diterima apa adanya. Tidak ada penyesalan merong-rong jiwa sebab kita sudah maksimal bekerja sehingga hasilnya bisa diterima apa adanya.

  5. Bertahan dalam pencobaan.

    Apakah kita bertahan dengan mengepalkan tahan, menekuk tumit dan mengeram-geram? Tentu saja, bertahan dalam masalah yang kami maksud adalah mempertahankan sifat-sifat baik yang dimiliki. Sebab, biasanya persoalan berupaya mengobok-obokkan kehidupan kita: lantas, apakah kita membiarkan hal itu terjadi? Orang yang bertahan panjang sabar dan kebaikan hatinya tidak memudar-hilang saat situasi berupaya memojokkannya. Pertahanan sejati adalah hati yang konsisten baik sekali pun kita dikelilingi oleh orang-orang yang plin-plan menjalani hidupnya. Apa yang dilakukan secara konsiten, itulah yang menyenangkan jiwa.

  6. Jujur menjalani hidup.

    Seharusnya, orang jujur itu selalu senang sebab tidak ada rahasia berbahaya yang disembunyikannya. Justru orang yang menyembunyikan kesalahannya dirundung rasa takut sehingga menikmati yang sudah ada pun tidak mampu. Ada rasa bersalah yang menggelegar di dalam hati, akibatnya untuk senyum saja tidak mampu, tidak sempat, lupa: karena rasa takut telah melarikan fokusnya. Jadilah orang jujur yang bijak agar hari-hari yang menyenangkan tidak tertunda karena kutuk kebohongan.

  7. Menyempatkan diri berpuasa.

    Mengapa berpuasa membuat kita senang? Karena puasa kenikmatan duniawi memberi jeda kesenangan materi yang mengarahkan kita pada kesenangan jiwa fokus positif (fokus Tuhan, bekerja, belajar). Orang yang mampu menyesuaikan diri dan menikmati peralihan tersebut akan terjaga riang gembiranya, selalu untuk selamanya. Puasa makan ini itu sesekali mampu mengisi ulang (recharge) kesenangan materi sehingga hidup terus sepanjang waktu.

  8. Menyukai fluktuasi rasa.

    Sifat-sifat baik pada momen yang tepat perlu dijaga konsistensinya. Akan tetapi, rasa indra mencicipi dunia ini, baiknya fluktuatif. Jangan karena gaji pas-pasan: kita makan makanan yang buruk-buruk terus; sesekali juga nikmatilah yang harga-nikmatnya menengah. Juga janganlah karena gajinya besar: kita selalu makan makanan berkelas; sesekali juga konsumsilah rasa sederhana asam, asin dan pahit. Manusia butuh fluktuasi rasa agar hidupnya selalu riang dan garing untuk dijalani.

  9. Tidak menuntut untuk dihormati dan dihargai sesama.

    Pencarian akan kehormatan dan harga diri merupakan sisi kemanusiaan yang selalu digenjot/ ditekan selama kita hidup. Berhati-hatilah dalam memandang diri sendiri: kita bukan Tuhan. Kita perlu ikhlas dan giat mengagung-pujikan dan meninggikan nama Sang Pencitpa: Tritunggal selama-lamanya. Akan tetapi, jangan sampai terbawa suasana bangga terhadap kemampuan dan kepunyaan kita. Angkuh ini bisa mengarahkan hati menuntut untuk dihargai dan dihormati lebih dari orang lain. Oleh karena itu, apapun kelebihan dan kepunyaanmu, tetap sangkal diri – injak diri sendiri agar nafsu untuk dihargai dan dihormati jauh dari kesan lebay.

    Kekhilafan orang lain mudah sekali menyucuk bangga harga diri. Merasa kurang dihormati karena bias situasi yang berputar dan tidak mampu dikendalikan. Akan tetapi, orang yang tidak menuntut untuk dihargai dan dihormati: senang-senang aja menghadapinya sambil menebar senyum dan ramah-tamah. Sejahat-jahatnya manusia, tidak ada orang yang selalu mengejek sesamanya yang terbukti baik, ramah dan lemah lembut terhadap semua orang.

  10. Terbiasa dengan semuanya itu, berbudaya kebaikan.

    Apa yang sudah biasa dilakukan membuat kita senang menggelutinya. Kehidupan yang senantiasa dikerjakan dengan tekun dan tulus hati menciptakan konsistensi rasa. Ini tidak terbentuk satu-dua hari saja, dari pengalaman kami, butuh waktu bertahun-tahun sampai anda menemukan konsistensi rasa yang menyenangkan di segala waktu dan semua sikon (situasi dan kondisi).

    Pada akhirnya, kesenangan positif nan sederhana yang sudah dibiasakan akan menjadi budaya yang dibawa-bawa sampai kapan pun. Bahkan kerap kali rasa yang menyenangkan tersebut tidak diekspresikan dan tidak terbaca oleh orang lain namun selalu bersemi di dalam hati. Artinya, kita selalu bergirang sekalipun dalam diam tak ada senyuman di wajah. Pada keadaan inilah, kegirangan kita telah bertransformasi menjadi kebahagiaan yang takkan pernah sirna.

Kesimpulan

Di awal-awal, senangnya kita tersimpul pada gemerlap materi dan perlakuan orang lain yang spesial. Seiring berjalannya waktu, kita pun mulai belajar mengarahkan hidup pada senangnya jiwa fokus positif. Pada tahapan inilah kegirangan hati mulai dibentuk secara perlahan-lahan dalam waktu lama. Mereka yang sudah terbiasa bahkan membudayakan hidup aktif fokus positif akan mengalami transformasi rasa sehingga hal-hal tersebut menjadi kebahagiaan yang takkan pernah hilang.

Ada dua kesenangan dalam hidup, yaitu yang ditimbulkan oleh materi dan yang ditimbulkan oleh hati-pikiran. Tidak baik jika kita hanya menikmati senangnya materi seharian penuh: itu bisa mengundang sakit-penyakit. Tetapi tidak baik juga bila kita hanya menikmati senangnya hati dengan senantiasa aktif positif memberi arti (fokus Tuhan, bekerja, belajar). Melainkan kita butuh kedua kesenangan tersebut hari demi hari. Hanya saja, dalam takaran intensitas: lebih banyak dibutuhkan kesenangan jiwa fokus positif dibandingkan dengan kesukaan materi duniawi. Terbiasalah fokus aktif positif niscaya sesederhana apa pun nikmat dunia yang tersaji, sudah mampu membuat senyum mungil merekah riang terpancar. Budayakanlah hal-hal baik maka kegiranganmu akan meresap ke dalam jiwa berubah menjadi kebahagiaan sejati.

Salam, Materi membuat hidup bergirang,
Fokus positif meresapkan girangnya hidup.
Budayakan hal-hal baik,
niscaya senang-bahagia selalu hidup!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.