7 Fokus Iman Salah – Cara Menggantungkan Iman Percaya Yang Kurang Tepat – Hindari Menggantungkan Kepercayaan Anda Pada Hal-Hal Duniawi

Fokus Iman Salah – Cara Menggantungkan Iman Yang Kurang Tepat - Hindari Menggantungkan Iman Kepada Hal-Hal Duniawi

Jalan pencarian iman bukanlah sesuatu yang mudah. Saat kita masih tidak memahami banyak hal, kita hanya ikut-ikutan saja dengan gelora informasi yang mengorbit di sekitar. Akan tetapi, pencarian ini semakin tajam dan giat dilakukan saat pikiran mulai dipenuhi dengan pertanyaann-pertanyaan halus sampai kasar tentang hakekat kehidupan. Misalnya saja tentang, “apa tujuan kita di dunia ini? Apa yang bisa membuat kita senang tak terbatas? Mengapa apa masalah dan bagaimana cara menyelesaikannya? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya yang muncul dari dalam kepala untuk dijawab. Sadar atau tidak, semua ini berkaitan erat dengan kepercayaan yang kita miliki pribadi lepas pribadi.

Iman bisa saja diperoleh secara default dari orang tua. Saat kita masih kanak-kanak dan tidak memahami banyak hal, kita selalu mempercayai apa yang dipercayai oleh orang tua atau orang-orang yang lebih dewasa. Akan tetapi, saat kita sudah beranjak dewasa, akal pikiran mulai panjang menjangkau sisi-sisi sensitif kehidupan termasuk dalam hal keimanan. Mereka yang menyadari kecerdasannya akan mulai menggali dan menggali lebih dalam lagi agar sedapat-dapatnya memahami apa-apa saja yang sudah dimilikinya. Mulai berupaya untuk membedah berbagai tulisan, gambar, audio dan video yang ditemukan. Membanding-bandingkannya satu sama lain sambil memahaminya dengan logika positif. Sehingga didapatilah sebuah kepastian apakah kita sudah mengimani sesuatu yang benar atau malah yang salah?

Keyakinan adalah sebuah esensi kuat yang dipegang erat-erat oleh seseorang atau sekelompok orang. Orang yang meyakini sesuatu, melakukannya tidak tanggung-tanggung tetapi menghidupinya secara utuh. Menjadikan hal-hal yang diyakini sebagai pondasi yang membentuk dasar-dasar berpikir, berkata-kata dan bertingkah laku. Tidak hanya diekspresikan dalam bentuk-bentuk tertentu melainkan merupakan akar dari segala bentuk ekspresi. Pula tidak hanya dilakukan di waktu-waktu khusus tetapi setiap waktu dinyatakan baik secara eksplisit (langsung) maupun implisit (tidak langsung). Tetapi, perlu diketahui bahwa kekuatan percaya berawal dari dalam hati. Saat pikiran seseorang menguat niscaya perkataan dan perbuatannya juga akan dilakukan dengan penuh keyakinan. Tentu saja wujud kekuatan hati akan nyata ketika menghadapi masalah. Orang yang lemah imannya akan keok di terpa badai hidup, sedang mereka yang kuat kepercayaannyaannya, maju terus tanpa menyisakan rasa sakit, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama manusia.

Orang yang beriman tidak harus selalu  memamerkan dirinya dalam identitas khusus. Sebab keyakinan yang dimiliki bukan ditujukan kepada manusia. Orang yang beriman bukannya sedang mencari nama dihadapan manusia melainkan mereka yang percaya sedang mencari belas kasihan Tuhan atas hidupnya yang penuh lemah dan terbatas. Bahkan kita tidak perlu selalu menyebutkan keimanan yang dimiliki, hal semacam itu tidak penting bagi sesama. Yang terpenting apa yang bisa kita berikan: jangankan yang besar-besar, berbagilah dari yang kecil-kecil, misalnya ramah-tamah. Aktivitas santun yang sederhana ini, bisa saja diabaikan oleh orang lain. Tetapi, hati tidak merintih derita sebab segala yang dilakukan, kita perbuat seperti untuk Tuhan. Jadi dalam hal ini, kuat iman berarti tetap/ selalu berbuat baik sekalipun orang lain sudah tidak baik.

Iman membawa manusia kepada kebaikan. Jika apa yang kita yakini malah membawa kita ke dalam kejahatan, itulah kesesatan berpikir. Kita juga perlu memilah-milah apa yang diyakini: jangan mengartikan semua yang tertulis senyatanya (secara denotatif). Terkadang beberapa ajaran yang kita yakini tersaji dalam bentuk kiasan dan perumpamaan yang perlu dicari makna konotatifnya. Ajaran iman yang merusak kehidupan, secara perlahan dan pasti akan segera ditinggalkan oleh penganutnya. Pada akhirnya, ajaran kepercayaan yang memajukan kehidupan akan semakin kuat mengakar membangun peradaban dari generasi ke generasi.

Fokus iman yang salah

Seseorang meyakini sesuatu atau tidak adalah kehendak bebas. Ini merupakan jaminan yang diturunkan langsung dari undang-undang yang berlaku di seluruh negeri. Tetapi bukan dalam arti, ajaran iman harus berasal dari negara/ pemerintah sebab jalan kepercayaan sudah memiliki jalur sendiri-sendiri, yang bahkan lebih tua dari negara itu endiri. Saat kita membahas tentangnya berarti serta merta membahas soal  ketuhanan dan ajaran agama ini dan itu. Pusat dari suatu keyakinan terletak dalam diri Tuhan yang dideskripsikan dalam firman yang disampaikan oleh hamba-hambanya.

Sayang, dalam perkembangan kepercayaan, telah banyak dikotori oleh hal-hal duniawi yang sesungguhnya secara perlahan menyingkirkan keberadaan Allah dalam kehidupan manusia. Tidak lagi menganggapnya sebagai “yang utama” melainkan memindahkannya pada urutan yang lebih rendah, sebab yang utama adalah kaya harta. Itulah manusia yang lebih fokus kepada apa yang dapat dilihat, didengar, dibaui, dikecap dan diraba semata. Ketika materi fana menjadi tolak ukur keimanan kita, di situlah kehidupan ini mulai bias karena terkesan menghalalkan segala cara demi mencapai angka-angka yang dianggap bernilai tinggi. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa fokus keyakinan yang salah sehingga berpotensi mengusir bahagia dan memperpendek umur dan lain-lain.

  1. Fokus terhadap uang dan harta benda.

    Uang itu penting, semua orang membutuhkannya. Bahkan setiap hal yang kita lakukan di dunia ini bersentuhan langsung dengan produk uang. Mulai dari atas sampai ke bawah dari barang-barang yang kita gunakan pasti dibeli dengan uang. Orang-orang yang berpikiran sempit, menyebut dirinya kaum materialistis, sangat mendewakannya. Segalanya dinilai dari sudut pandang nilai tukar padahal hidup kita tidak serta-merta masuk area perdagangan.

    Selama hidup, kita perlu memilah-milah, saat di pasar, yang diutamakan adalah uang. Tidak mungkin kita masuk bank jika tidak membawanya atau hendak mengambilnya: cukup sampai di situ. Akan tetapi, selama menjalani hidup, tidak mesti berimbas langsung dengan banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Artinya, orang beriman tidak selalu berarti harus memiliki banyak kekayaan bernilai selangit.

    Tidak ada hubungannya antara materi yang dimiliki dengan besar kecilnya keyakinan seseorang. Sebab Yesus Kristus sendiri tidak memiliki harta benda seumur hidupnya. Justru, materi yang terlalu besar bisa menyingkirkan Allah dalam hati. Lagi pula, keberadaan Allah semakin terasa saat ada masalah sedang orang yang bermodal tebal dapat mengatasi semua masalahnya dengan melego uangnya sehingga keinginannya selalu terlaksana.

  2. Terhadap kemuliaan/ kehormatan.

    Apakah orang yang beriman kepada Tuhan selalu terhormat? Dimana-mana dihargai orang? Sadarilah bahwa menjadi orang percaya, tantangannya cukup besar. Terlebih ketika ajaran yang kita bawakan, secara tidak langsung berhubungan erat dengan orang-orang penting di negeri. Orang yang merasa terganggu dengan keberadaan kita akan memicu gejolak lain berupa gangguan sosial yang datang dari berbagai sumber (misalnya aktivitas lebay, mesin-mesin dan berbagai hal yang terkesan tidak alami alias dibuat-buat).

    Bersinggung pendapat dengan orang-orang yang berpengaruh membuat keadaan kita tersudutkan. Tetapi tenang saja, sebab apa yang mendatangi kehidupan anda merupakan badai yang dapat dibiasakan sehingga menjadi angin sepoi-sepoi belaka. Siapakah orang yang menolak angin sepoi-sepoi? Gangguan indra yang berlangsung di sekitar kita dapat diredam sambil dinikmati dengan tetap sibuk melakukan hal-hal baik. Pilihannya adalah fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja.

    Jika kita menghubungkan iman dengan hormat mulia yang diperoleh, maka hidup akan mengarah untuk menggapai pangkat/ jabatan sentral di dalam masyarakat. Apa yang tinggi dan besar menjadi nafsu menggebu-gebu sehingga beresiko menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Politik uang akan dijadikan pelumas agar ekspektasi segera terwujud. Politik finah akan disebar-luaskan demi menghambat laju para pesaing/ rival politik.

    Bila kita beriman hanya demi menjadi orang yang mulia dan terhormat. Orang percaya yang dihormat-hormati dan di puja-puji selama hidupnya telah beroleh upah yang sepadan karena kerja keras dan ketekunannya dalam melayani Tuhan. Sadarilah bahwa niat demi hormat-mulia duniawi membuat upah iman sudah dituai selama hidup di bumi. Tetapi, mereka yang percaya namun tidak terhormat dan tidak mulia selama di bumi, niscaya akan beroleh upah besar saat pulang ke sorga kelak.

  3. Terhadap teman yang banyak.

    Apakah orang yang beriman selalu memiliki banyak teman? Lebih banyak orang dekat di sekitarnya yang sangat akrab dipanggil dengan sebutan “sahabat.” Apakah kekuatan iman berhubungan erat dengan semakin banyaknya orang luar yang menjadi sahabat kita? Atau analogi terbaliknya, semakin banyak sahabat, semakin beriman orang tersebut.

    Harap disadari, untuk menambah sahabat tidak rumit-rumit amat. Miliki segepok uang lalu traktir ke kantin teman-teman anda, niscaya mereka akan menjadi sahabat yang loyal asal ada duit. Mereka yang memiliki banyak harta dan kekuasaan punya sahabat sangat banyak tetapi belum tentu dia percaya kepada Tuhan.

    Justru dalam beberapa keadaan, mengikut jalan Tuhan malah membuat kita semakin dibanned oleh oknum tertentu. Terkadang banyak orang menjauhi kita karena alasan yang tidak jelas tetapi lebih banyak karena mereka tidak suka dengan ide-ide keagamaan yang kita anut. Prinsip kepercayaan yang berbeda inilah yang kerap kali menimbulkan gejolak halus ngeri-ngeri sedap. Terlebih ketika orang tersebut memiliki lebih banyak sumber daya yang dikuasai: niscaya gangguan sosial yang ditimbulkannya juga lebih menguras emosi. Akan tetapi, teman-teman yang adalah musang berbulu domba itu, tidak akan mampu menjatuhkan semangatmu. Bahkan ketika tersandung jatuh pun, semangat tetap berkobars lalu bangkit lagi untuk melanjutkan perjuangan iman seperti sebelum-sebelumnya.

  4. Terhadap hewan.

    Pada sudut pandang versi lain, ada yang menyebutkan bahwa orang yang kuat imannya ditakuti oleh hewan-hewan. Burung-burung akan bernyanyi-nyanyi untuknya. Ayam-ayam akan bersorak-sorak untuknya bahkan serangga-serangga pun turut bersahut-sahutan.

    Spekulasi semacam ini, biasnya semakin tinggi menjadi-jadi karena rasa GR yang meledak-ledak. Padahal bisa saja hewan-hewan tersebut bersuara merdu karena hidupnya sejahtera terpelihara oleh keberadaan lingkungan yang hijau sejuk dan kaya makanan dimana-mana. Keadaan ini bisa juga ditimbulkan oleh karena kehidupannya saja yang sedang beruntung dapat makanan banyak. Atau suara-suara merdu tersebut juga timbul semata-mata untuk merayu-rayu pasangannya, berkelamin.

    Menurut pandangan Kitab Suci, binatang bisa senang mengeriap oleh karena mereka pun memuji-muji Allah. Sang Pencipta yang memberinya suara tersebut sejak dari awal kehidupan di mulai di muka bumi ini. Pendapat tersebut sangat masuk akal karena kita pun manusia, baru merasakan sukacita yang besar saat hidup fokus memuji-muji Sang Maha Mulia. Kemungkinan besar demikianlah binatang dan tumbuhan sekali pun. Mereka yang bernafas akan bernyanyi-nyanyi memuliakan Allah semata-mata untuk membuat hari-hari penuh sukacita.

    Namun, mungkin saja ada orang beriman sempit yang merasa sombong kebangetan. Berpikir bahwa hewan-hewan tersebut bersuara oleh karena kehadirannya. Orang yang merasa dirinya mulia sehingga binatang-binatang pun bersahut-sahutan memuja-muji kedatangannya.

    Sadarilah bahwa tolak ukur iman yang disandarkan kepada suara merdu hewani, sifatnya sangat rapuh. Sebab suara-suara indah itu sifatnya fluktuatif dan sama sekali tidak dapat diartikan. Hanya Tuhanlah yang dapat memicunya dan yang mengetahui artinya.

  5. Terhadap gejala alam/ peristiwa alamiah.

    Apakah orang yang beriman dapat diukur dari pesona alam yang terjadi selama hidupnya? Misalnya, karena dia orang beriman maka alam pun ramah-ramah kepadanya. Hujan selalu patuh pada kendalinya dan hidupnya terhindar dari marabahaya angin badai. Harap dipahami bahwa gejala alam bisa dibedah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kapitalis bermodal tebal dapat mengirim pesawat-pesawat hercules untuk menurunkan hujan atau menahannya di daerah tertentu saja. Artinya, ilmu pengetahuan dengan sokongan mesin bisa mengendalikan alam begitu rupa sehingga cuaca dapat berubah drastis dalam sekejap.

    Memang selama berada di bumi, Tuhan Yesus Kristus kerap memperlihatkan kekuatannya yang luar biasa dahsyat. Dia mampu mengendalikan cuaca dan meredakan angin badai yang bergelora. Itulah ciri khas-Nya sebagai Tuhan. Akan tetapi, kita bukanlah Allah melainkan hanya manusia biasa yang tidak punya kuasa atas apa pun. Sehingga alam kadang mendukung aktivitas kita namun tidak jarang juga peristiwa alam memporak-porandakan kehidupan ini.

    Alam tidak selalu mendukung aktivitas kita tetapi kita dapat mengantisipasi bencana alam terburuk dengan cara turut menjaga dan memelihara keberadaan hutan. Jika hutan-hutan tetap asri hijau, kemungkinan untuk terjadinya bencana besar semakin kecil. Saat kita menjadi orang beriman, bukan berarti kita dianugerahkan kekuatan Tuhan yang mampu mengendalikan alam sekitar. Pergolakan alam rimba berlangsung secara fluktuatif dan stabilitasnya semakin kuat saat pemerintah dan masyarakat merawat awet hutan lebat.

  6. Kedekatan terhadap tokoh terrtentu.

    Ada pula orang yang merasa bahwa mereka yang hidup dekat dengan tokoh-tokoh tertentu di dalam masyarakat, memiliiki keyakinan lebih kuat. Misalnya, karena orang tua dan saudaranya adalah penatua jemaat, maka anak-anaknya otomatis memiliki keyakinan yang kuat: padahal belum tentu. Contoh lainnya, orang yang lahir di tengah keluarga hamba Tuhan (pendeta), belum tentu memiliki keyakinan yang kuat dibanding anak Tuhan lainnya.

    Keyakinan satu-satu orang tidak bisa dibagikan secara otomatis kepada orang lain, sekali pun kepada orang terdekat (misalnya suami, istri, saudara). Kepercayaan seseorang sangat tergantung dari seberapa paham dirinya terhadap ajaran yang ada dan seberapa banyak masalah yang mampu diselesaikannya. Keberadaan orang-orang penting di sekitar kita hanyalah pendukung dalam menjalani hidup yang penuh rintangan.

  7. Fokus iman pada kenyamanan hidup.

    Apakah dengan menjadi orang percaya, kenyamanan hidup yang dapat dicicipi menjadi lebih banyak? Hidup orang percaya tidak serta merta selalu nyaman. Dalam hal ini, ada rasa yang fluktuatif, bisa meninggi namun bisa pula menurun. Mustahil kita hanya merasakan hidup yang selalu nyaman saja, sebab manusia memiliki kepentingan yang berbeda dan kerap melakukan kekhilafan. Kedua hal ini sifatnya tidak bisa dikontrol, menyebabkan distorsi rasa sakit dan selalu mengisi hari-hari hidup yang manusiawi.

    Orang yang percaya kepada Tuhan tidak selalu merasakan kenyamanan seumur hidupnya. Saat hidup sedang enak-enaknya, janganlah menjadi sombong. Sebab, tidak ada hal-hal berharga (positif) yang dapat dipelajari dari situasi yang serba nyaman tersebut. Tetapi, saat sakit pahitnya sedang meradang, janganlah segera kecewa. Nyaman itu memang baik, tetapi penderitaan juga berfaedah mendidik, melatih pengendalian diri, menguatkan hati hingga mendewasakan hidup.

Kesimpulan

Tahukah anda, apa akibatnya saat kita menggantungkan iman pada uang, harta duniawi, jabatan, pangkat, peringkat, kenyamanan, persahabatan dengan manusia, pertemanan dengan hewan dan gejala alam lainnya? Hal-hal duniawi tersebut dapat berubah dengan cepat, baik secara alamiah, maupun akibat intervensi sesama manusia. Akibatnya, kepercayaan kita dapat dengan mudah dikendalikan orang lain! Harap disadari bahwa setiap keyakinan berpatokan pada hadirat Tuhan dan ajaran-Nya dalam keseharian kita. Saat menjadi percaya, memang ada hal-hal lahiriah yang turut membaik. Tetapi Iman yang berpatokan kepada hal-hal lahiriah mudah digoncang situasi & digoyahkan keadaan. Apakah kita pantas menyalahkan Tuhan saat hal-hal buruk terjadi di dalam kehidupan ini? Sedang yang selalu tetap adalah nilai-nilai kepercayaan yang termuat dalam Kitab Suci dan sejuk leganya hati dalam hadirat Tuhan.

Mari ambil satu-dua contoh saja. Misalnya, anda meyakini bahwa orang yang beriman selalu berharta banyak: bisa mengecewakan diri sendiri karena kekayaan yang kita miliki masih jauh lebih kecil dan masih banyak orang yang lebih tajir di luar sana. Contoh berikutnya, menggantungkan percaya pada tingginya jabatan dan kehormatan hidup: bisa membuat kita menghalalkan segala cara demi menggapainya. Misalnya lagi, mematokkan iman pada gejala alam: kita jadi takut berbuat baik kepada sesama karena tepat saat itu guntur sambar-menyambar dan badai hujan menghantam bumi. Niat baik kepada sesama, malah jadi terhambat, tertahan dan bahkan tidak jadi hanya karena kita menuhankan (mematokkan iman pada) guntur, hujan dan badai. Padahal cuaca atmosfer bumi dapat dikendalikan dengan mudah oleh oknum kapitalis picik bermodal raksasa.

Sekali lagi kami ingatkan, patokkanlah keyakinan kita kepada ajaran firman yang benar dan kepada lega suara hati yang berbisik dalam relung jiwa.

Besar kecilnya iman, sifatnya tidak kasat mata. Tidak ada satu pun standar duniawi yang dapat dijadikan tolak ukur. Sebab yang namanya materi dan kemuliaan sifatnya naik turun. Kepercayaan yang kita miliki, tidak ada sangkut pautnya dengan gemerlapan dunia. Bukan berarti tidak boleh menggapai hal-hal tersebut. Melainkan yang perlu diperhatikan bahwa semuanya itu malah dapat menghambat perkembangan keyakinan yang dimiliki. Kepercayaan kita bukanlah alat untuk mencapai kelimpahan hidup duniawi melainkan untuk menjalin kedekatan dengan Yang Maha Kuasa dan membina hubungan baik dengan sesama. Jika, hendak mengembang majukan keimanan, hindari fokus terus-menerus terhadap apa yang ada dihadapan anda. Melainkan utamakan waktu untuk fokus mengasihi Allah seutuhnya dan menyayangi sesama layaknya diri sendiri.

Salam gembira baik,
Kita tidak diperkenankan
untuk dapat mengukur iman orang lain
Besar kecilnya keyakinan kita
hanya diketahui sama
diri sendiri dan Tuhan semata.

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.