Semua Manusia Sama Nilainya – Kita Tidak Lebih Baik Dari Manusia Lainnya – Anda & Saya Tidak Lebih Baik Dari Mereka

Semua Manusia Sama Nilainya - Kita Tidak Lebih Baik Dari Manusia Lainnya – Anda & Saya Tidak Lebih Baik Dari Mereka

Perjalanan panjang sejarah kehidupan umat manusia tidak pernah lepas dari pencarian tentang hal-hal yang lebih bernilai. Ada masa ketika kehidupan begitu fokus pada kekuasaan. Orang-orang besar berupaya sekuat tenaga untuk memperluas pengaruh, menaklukkan satu pihak dan menginjak pihak lain. Mengobarkan peperangan demi memperluas wilayah, melakukan penjajahan demi bertambah-tambah kaya harta-bendanya. Semua materi yang dianggap berharga menjadi bahan rebutan yang memicu persaingan, perselisihan, pemberontakan dan perang. Semua peristiwa yang menciderai kemanusian kebanyakan berawal dari perebutan sumber daya brilian yang terbatas.

Semakin terbatas sesuatu, semakin dicari keberadaannya. Saat emas dan berlian terbatas, menusia ramai mencarinya. Saat gandum dan padi terbatas maka orang-orang akan memburunya layaknya emas dan permata. Di waktu masyarakat belum berkembang pengetahuannya maka hal-hall kecil pun akan menjadi langka. Saat makanan terbatas, manusia berebut untuk mendapatkannya. Ketika air terbatas, orang-orang bersaing untuk memperolehnya. Dari keterbatasan inilah, kita belajar untuk saling berebut satu sama lain. Kedepan ini pun akan ada yang namanya perebutan-perebutan seperti ini, terlebih ketika sumber daya yang tersedia terbatas adanya. Tetapi kita tidak sampai terjebak dalam perebutan zaman dulu yang tega mengorbankan banyak nyawa, seperti yang terjadi dalam abad kegelapan. Melainkan kita punya sistem yang menjamin semuanya ada asalkan dipakai secara terkendali, terukur, teratur dan adil.

Saat manusia memperebutkan sesuatu maka yang dicari adalah siapa yang unggul. Mereka yang memiliki kelebihan akan menganggarkan kemampuannya untuk memperoleh lebih banyak hasil. Apa yang mereka perebutkan, malah melebar kemana-mana menjadi pertandingan masif yang membabi buta. Jangankan uang dan harta benda, nyawa pun akan ditukarkan demi memenangkan persaingan. Pada akhirnya yang terkuatlah yang akan memenangkan pertarungan, sedangkan yang kalah akan dikorbankan, diperbudak dan dijadikan sele-sele. Kemenangan itu mereka pikir sebagai keunggulannya namun sesungguhnya keadaan itu semakin memperkeruh keadaan mentalnya. Memperbudak orang lain rasanya diawal-awal memang enak-enak saja tetapi semakin lama justru memanjakan lalu melemahkan mental manusia.

Sistem multikapitalis turut pula memperkeruh dunia perniagaan. Agar sebuah perusahaan bisa maju, harus mencari-cari cara agar produknya lebih unggul dari produk lain. Berbagai macam cara dilakukan termasuk dengan sengaja menciptakan artis-artis papan atas yang menghambur-hamburkan sumber daya demi mendapat predikat baik. Padahal pada hakekatnya, produk yang dihasilkan sama saja dengan produk lain pada umumnya. Kelebihannya hanya terletak pada promosi miliaran yang digelontorkan sehingga disambut antusias oleh masyarakat. Naasnya, promosi yang dilakukan tidak melulu bernada positif. Ada juga hal-hal negatif berupa fitnah yang berpotensi memancing persepsi buruk masyarakat terhadap orang-orang atau kelompok tertentu. Getaran kecil yang memicu sentimentil sehingga manusia saling bersitegang leher satu sama lain. Memang dari luar mereka kelihatan akur tetapi hati panas bergolora saat bertemu. Di dunia maya, malah perang itu semakin panas sekali pun hanya dalam bentuk kata, suara, gambar dan video.

Keadaan yang biasanya memicu munculnya pencarian nilai tertinggi yaitu: (1) saat sumber daya terbatas, (2) persaingan dalam dunia perdagangan dan (3) saat memperebutkan kekuasaan/ jabatan. Namun secara personal, hati kita bisa saja memunculkan kata-kata “saya lebih unggul dari yang lain,” ini disebabkan oleh iri hati dan sikap sombong yang semata-mata membuat seolah hati senang.

Mencari-cari yang lebih baik, sepertinya sudah menjadi tabiat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, keinginan ini bisa muncul secara tiba-tiba. Biasanya dlpicu oleh iri hati, terlebih ketika perbedaan materi di antara keluarga yang satu dengan yang lainnya sangat mencolok. Di sisi lain, mereka yang sombong dapat pula mencari kesenangan dengan meninggikan diri dari orang lain, sekali pun hal tersebut hanya dilakukan di dalam hati belaka. Semua pencarian ini bisa dilampiaskan dengan cara yang paling kasar halus. Misalnya dengan menjadi pribadi yang suka usil bahkan bila keadaan semakin tidak terkendali, lagu-lagu penghinaan menjadi sindiran model baru. Bertindak dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara kasar maupun halus, merupakan kesalahan yang akan dituntut pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Karena apa yang dimiliki besar-besar: kendaraan besar, rumah besar, jabatan besar, gaji besar, nama besar dan berbagai hal besar lainnnya. Hati pun hanya tertuju pada semua kemuliaan dan kenikmatan duniawi itu. Menghitung-hitungnya di dalam hati, sambil disebutkan satu per satu. Rasa-rasanya semua keunggulan itu membuat hati girang senang bukan kepayang. Sedang di sisi lain, orang-orang yang tidak berada dan terbelakang ekonominya termangu-mangu menyaksikan para pembesar. Sambil-sambil hatinya mengiri, marah, membenci dan dendam: walau mereka tidak bisa berbuat banyak. Yang terjadi malah, hari-hari miskin semakin merosot, terbakar dengki, tertekan dan menjadi korban akibat pengaruh kapitalis arogan. Pada akhirnya segala pencarian terhadap label “terbaik dari yang baik” hanya akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri, sesama manusia (terlebih yang ekonominya lemah) dan lingkungan sekitar.

Menurut organisasi ini atau itu, manusia bisa saja dibeda-bedakan satu sama lain: itu hanya berlaku di organisasi tersebut. Sedang dalam kehidupan sehari-hari, tiap-tiap orang adalah setara. Sebab dunia ini diciptakan oleh Tuhan maka kita ikut aturan Tuhan. Bila kita berada dalam dunia yang diciptakan oleh sistem maka kita ikut aturan sistem. Tetapi sangat disayangkan kalau ada sistem/ organisasi yang menentang aturan Tuhan: jika ada yang demikian maka dapat dipastikan bahwa sistem tersebut hanya bakal seumur jagung.

Pahami baik-baik kawan, manusia bukanlah barang yang diperdagangkan di pasaran. Saat sales menawarkan prodak, ada yang murah, harga menengah dan ada yang mahal. Lalu perbedaan harga ini dibawa-bawa pula ke dalam diri manusia. Mereka yang membeda-bedakan orang menurut nilai seperti ini cenderung tidak disukai Tuhan. Itulah mengapa Tuhan Yesus Kristus turun ke dunia menyetarakan diri dengan masyarakat awam dan sedikit pun tidak pernah merasa lebih baik dari manusia lainnya. Seperti firman-Nya yang menyatakan “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja” (bnd. Lukas 18:19). Tuhan yang datang ke dunia menyangkal diri-Nya dengan mengatakan bahwa Dia bukanlah guru/ orang yang baik, melainkan Dia sama saja dengan manusia lainnya. Kalau Yesus Kristus saja menyetarakan dirinya dengan manusia fana, terlebih lagi kita terhadap sesama manusia lainnya. Jika anda mengakui bahwa Dia adalah Juruselamat Agung, maka kita pun wajib mengimplementasikan teladan yang ditunjukkan-Nya.

Salam gembira baik!
Semua manusia sama.
Sistem di atas kitalah
yang membeda-bedakan.
Sistem yang adil adalah
wujud nyata yang menegaskan
bahwa tidak ada orang
yang lebih baik dari sesamanya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.