7 Alasan Waktu Adalah Kebaikan

Alasan Waktu Adalah Kebaikan

Apa yang selalu ada di dalam hati anda saat menjalani hari demi hari? Mungkinkah itu seputar materi: harta benda, rumah, kendaraan dan aksesoris lainnya? Bisa saja itu adalah tentang jabatan dan pangkat berkelas yang diiming-imingi. Atau mungkin saja, itu tentang hal-hal berbau seks? Apa pun yang sedang anda bahas-bahas di dalam hati hingga saat ini, sadarilah bahwa hal-hal tersebut dapat melambung berubah jadi perkataan dan perbuatan.Saat sikap kita baik maka hal tersebut menunjukkan bahwa hati pun sedang bagus-bagusnya. Akan tetapi saat sikap serong, bisa jadi kiadaan ini menunjukkan bahwa kita telah tenggelam jauh dari kelurusan hati dan melenceng dari kasih mula-mula.

Biasanya, semakin lama seseorang memikirkan sesuatu maka makin  tenggelam dirinya dalam keluhan-keluhan yang memakan kebahagiaan. Saat hidup makin jauh dari jalur yang benar maka bisa-bisa sikap menjadi liar sebagai pelampiasan kejemuan yang memakan sendi-sendi pikiran. Ketika otak mulai melumpuh, pikiran banyak bercabang kemana-mana. Tidak mampu fokus saat diajak melakukan sesuatu, mudah sekali merasa terganggu oleh hembusan angin pantai yang memang sudah ada dari sononya. Oleh karena itu, berhati-hatilah selama berpikir, dunia ini tidak perlu terlalu dipikirkan, nanti bisa pusing dan stres pun mendekat. Lebih baik puja-puji Tuhan di dalam hati, itu lebih mendatangkan kelegaan.

Pengertian

Waktu adalah kesempatan untuk berbuat baik, jangan sia-siakan sedetik pun dalam hidup ini untuk memikirkan hal-hal yang buruk-buruk. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa apa yang bergulir di sekitar kita terkadang memaparkan ketidakbenaran. Terlebih ketika kita menyaksikan media-media yang berseliweran, selalu menampilkan kisah-kisah kehidupan yang penuh konflik, kegagalan, kecelakaan, pembunuhan, perampokan, pencurian (korupsi), perselingkuhan, perceraian dan lain sebagainya. Selalu sadari bahwa apa yang terdapat di depan kita kerap bertujuan untuk membuat tingkat kewaspadaan dan pengendalian diri lebih optimal. Akan tetapi, orang yang menyia-nyiakan waktunya, membiarkan dirinya melumpur dalam kejahatan sendiri.

Faktor penyebab waktu disebut-sebut sebagai kebaikan

Mana yang lebih duluan ada, kebaikan atau waktu? Mungkin ada yang berkata bahwa anggapan tentang masa lebih dulu ada karena tidak ada hari-hari tanpa suatu masa yang mengiringinya. Akan tetapi, kami berkata bahwa hal-hal baik selalu lebih dahulu ada barulah penghitungan masa berlangsung. Seperti saat alam semesta diciptakan, bukan itu yang duluan “jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama” (bnd. Kejadian 1:5). Tetapi yang duluan adalah “berfirmanlah Allah” (Kejadian 1:3) maka kebaikan pun jadilah di seluruh alam semesta nan luas. Berikut ini akan kami jelaskan apa adanya mengapa sebaiknya masa-masa yang kita jalani dilewatkan untuk melakukan kebajikan selagi masih ada kesempatan.

  1. Mengasihi Allah sepanjang waktu.

    Setiap detik yang kita lalui di bumi ini atas dasar kasih karunia Tuhan. Bukan karena kita mampu, cerdas, kuat dan sempurna. Melainkan karena Allah kita baik dan Diapun ingin agar kita dapat saling mengasihi. Bukankah Tuhan telah memberi contohnya dengan turun ke bumi menjadi pribadi yang sederhana?

    Bagaimana caranya untuk mencintai Allah yang bahkan belum pernah dilihat oleh mata kepala ini? Bahkan kita belum pernah meraba dan berbicara dengan-Nya. Sadarilah sobat mb, bahwa Tuhan adalah seluruh alam semesta ini, tiap-tiap bagiannya menunjukkan kekhasan tersendiri yang menggambarkan kepribadian Sang Pencipta yang sesungguhnya. Akan tetapi, kita manusialah yang sering sekali meracau dimana pun berada. Sebab telah diberikan pilihan-pilihan bebas yang memungkinkan untuk memiliki sesuatu dalam jumlah yang berlebihan. Saat manusia mulai lebih hebat dari sesamanya maka arogansinya mengembang dan menyamakan dirinya seperti Allah yang harus selalu mendapat perlakuan baik. Kalau tidak maka yang suka mengganggu akan disingkirkannya.

    Begitulah manusia yang menganggap dirinya adalah segalanya, merusak tatanan sosial bermasyarakat dan menyebabkan gangguang keseimbangan. Dimana semuanya itu demi kebanggaan pribadi dan kelompok. Mereka tidak akan berhenti dari semuanya itu sebelum bencana yang sesungguhnya mendatanginya.

    Manusia yang mengenal siapa dirinya, hanya akan menyibukkan diri untuk mencari apa yang dibutuhkannya saja bukan apa yang diinginkannya. Mereka merasa tidak penting untuk menggapai kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang tinggi-tinggi. Sebab semuanya itu menyebabkan banyak persaingan, perselisihan hingga pertengkaran. Mereka paham hal tersebut lalu meninggalkan pencapaian akan kepuasan indra. Namun mengejar kepuasan hati, yaitu dengan melakukan apa yang benar. Salah satunya adalah dengan mengasihi Allah seutuhnya tetap fokus kepada-Nya, baik dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta mengasihi sesama seperti diri sendiri dalam setiap pekerjaan dan pelajaran yang digeluti.

  2. Mengasihi sesama pada momen yang tepat.

    Kasih kita kepada sesama sifatnya terus-menerus dan tanpa batas. Selama ada waktu, berbuatlah yang baik kepada siapa pun. Asalkan hal tersebut dimungkinkan, lakukan dengan suka hati. Bertulus hatilah dalam berbuat baik seolah itu adalah hadiah yang semata-mata diberikan bukan untuk manusia melainkan untuk Tuhan. Dasari setiap kebajikan yang dilakukan dengan kasih kepada Sang Khalik sehingga kita tidak lagi menuntut balasannya dari sesama dan hati pun tenang walau sikap positif kita kerap disalah-artikan.

    Saat berbuat baik, korbankanlah apa-apa saja yang menurut anda akan selalu ada dalam hidup ini. Untuk apa mengorbankan sesuatu tetapi hanya sekali dua kali saja. Jangan fokus pada apa yang terbatas yang bisa membatasi kemurahan hati sendiri. Melainkan latihlah sikap yang santun dan perbuatanyang rela bertolong-tolongan. Orang yang selalu hidup mengasihi sesama seperti diri sendiri, apa adanya, akan menemukan kekuatan sekaligus semangat baru dalam menjalani waktu sekali pun banyak rintangan menghadang. Orang percaya yang tidak berhenti & tetap konsisten berbuat baik akan menemukan ketenangan hati di tengah kerasnya guncangan sikap acuh tak acuh yang bisa saja datang dari berbagai pihak.

  3. Mengasihi lingkungan sekitar.

    Memang kita telah ditakdirkan untuk berkuasa atas hewan, tumbuhan dan berbagai komponen lingkungan lainnya. Memanfaatkannya semaksimal mungkin bukanlah masalahnya. Tetapi yang menjadi masalah adalah saat kita memanfaatkannya semata-mata demi mencapai kemuliaan hidup: lebih besar dan lebih tinggi dari generasi sebelum-sebelumnya. Sadarilah bahwa keinginan untuk mencapai apa yang lebay, biasanya dilakukan dengan mengorbankan banyak hal. Termasuk dalam hal ini adalah menyingkirkan makhluk hidup lainnya sampai tak tersisa.

    Oleh karena itu, berhenti mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Sebab sehebat apa pun kekuatan fisik dan otak kita, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan pepohonan hijau di dalam hutan. Mereka mampu melakukan banyak hal untuk menjernihkan bumi ini. Dimulai dari usaha menyerap panas matahari agar tidak terlalu membakar kulit, menyaring udara selalu bersih, menyediakan air tanah di segala waktu, memelihara hujan pada musimnya, memberi makan makhluk hidup lainnya (termasuk manusia) dan lain sebagainya.

    Kita, manusia sebanyak apa pun itu, tidak akan mampu menggantikan peran satu batang pohon saja. Sebab metabolisme tubuh ini berlawanan dengan sistem kerja tanaman berklorofil. Sudah sepantasnya, kita menjaga dan menjamin keberadaan hewan, tumbuhan dan komponen lingkungan alamiah. Tindakan pelestarian lingkungan di segala waktu bukanlah demi kebaikan lingkungan sebab mereka tidak memiliki rasa dan tidak dapat mengakui kepahitan hidupnya. Tetapi, peremajaan lingkungan adalah demi manusia itu sendiri dan demi anak cucu kita.

  4. Mencintai penderitaan (rasa sakit, kekecewaan).

    Suka duka datang silih berganti, tetapi hindari membeda-bedakannya. Berupayalah untuk menyetarakan keduanya dengan kemampuan manajerial pikiran yang handal. Tentu ini tidaklah diperoleh semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi dengan tetap tekun dan konsisten melakukan apa yang baik dan benar di tengah kerasnya pergumulan hidup. Pada akhirnya kita akan mampu menyetarakannya sehingga tidak ada lagi hal yang dapat mengejutkan diri sendiri. “Saat senang, bersyukur. Demikian saat sedit, tetaplah bersyukur.”

    Orang yang mampu mencintai masalahnya, tidak bersungut-sungut saat gelombang kehidupan menerjang. Tetapi tetap sabar bertahan, fokus kepada Tuhan sambil terus melakukan kebaikan dan menunggu datangnya inspirasi pintu jalan keluar dari semuanya itu.

    Mereka yang mencintai rasa sakitnya bukan tidak lagi merasa sakit. Keperihan itu memang sempat terbesit namun berhasil disingkirkan karena hidup terus diarahkan kepada hal-hal positif. Mereka telah terbiasa mencicipinya dan berhasil mengubah rasa tersebut sebagai bentuk kebahagiaan karena paham betul, “apa manfaatnya?”

  5. Mengasihi musuh-musuh kita.

    Tidak mudah untuk memperlakukan lawan sama seperti diri sendiri. Keadaannya bisa jadi seperti air dan api yang tidak pernah bisa menyatu. Sekali pun demikian air dan api masih tetap rukun hidup berdampingan. Demikianlah seharusnya kita terhadap sesama: bila tidak dimungkinkan untuk saling berpadu menjadi satu, maka alangkah lebih baik bila tetap hidup berdampingan dengan rukun.

    Tidak ada lawan yang benar-benar musuh sebab seburuk apa pun mereka, asalkan menunjukkan perlawanan yang sadar, terkendali dan tidak melanggar aturan: khasiatnya nyata. Sebaiknya tidak ada pertarungan hidup dan mati sebab negeri kita kaya dan makmur dari ujung ke ujung. Terkecuali bila kita dengan sengaja merusak kekayaan alami dengan hidup bermewah-mewahan sehingga lingkungan rusak dimana-mana. Keadaan ini menyebabkan masing-masing orang berebut dan saling bertarung untuk bertahan hidup. Saat penyokong kehidupan tergerus sampai ke akar-akarnya, maka manusia mulai menyembunyikan dirinya di balik kekuatan teknologinya yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Sebab sistem kerja teknologi sama dengan manusia yang merusak tetapi tumbuhanlah yang memperbaikinya.

    Saat masing-masing orang hidup dalam kesetaraan, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sebab keberadaan manusia akan lebih lama di bumi, berumur panjang. Sehingga tidak ada satu orang pun yang pantas dianggap sebagai musuh. Sebab semua manusia adalah anak-anak Allah, saudara-saudara yang layak hidup sama seperti kita masih terus bertahan untuk berbuat baik sampai sekarang hingga nanti.

  6. Berbuat baik bagi generasi selanjutnya.

    Bagaimana cara kita melakukan kebajikan untuk masa depan bumi ini? Padahal kita sendiri pun belum tahu dengan pasti seperti apa masa depan itu? Pada posisi ini, kita tidak perlu terlalu dalam mengkaji sesuatu yang bahkan belum teraba. Melainkan yang kita butuhkan adalah mendidik generasi ini, menjadi contoh yang baik bagi anak sendiri dan orang-orang yang lebih muda dari kita. Sebab pada masanya nanti, akan tibalah gilirannya, menempati posisi yang kita tempati.

    Pendidikan yang baik: jujur dan transparan terhadap ilmu pengetahuan yang benar. Tidak ada lagi yang dengan sengaja disembunyi-sembunyikan dari yang lain. Tetapi setia wawasan umum perlu diketahui oleh tiap-tiap individu. Terkecuali tentang ilmu profesi yang membutuhkan keahlian khusus dan pembelajaran merinci untuk memahaminya.

    Setiap hasil ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya dan generasi masa kini, merupakan suatu jalan terang untuk kebaikan masa depan. Jika kita sudah menemukan sampai di sini maka kita pun berharap, orang-orang yang berikutnya datang, akan lebih maju lagi. Bukan maju dengan menginjak sesamanya tetapi maju bersama untuk mengusahakan apa yang benar dan adil untuk semua umat tanpa terkecuali.

    Karya seni termasuk bagian dari pengetahuan yang bisa menjadi dasar-dasar bagi mereka untuk menemukan gayanya sendiri. Atau setidak-tidaknya mereka mampu mempertahankan budaya-budaya lama dalam berkarya dengan menambahkan bumbu kreativitas khas. Sehingga terus abadi memberi pelajaran hidup bagi tiap-tiap orang.

  7. Berbuat baik kepada diri sendiri.

    Kita menduluankan kepentingan bersama untuk diusahakan bareng-bareng. Akan tetapi, setelah kebajikan kepada orang lain dan urusan bersama lainnya selesai maka saatnya kita berbuat baik kepada diri sendiri. Di tengah kesibukan yang padat-merapat, jangan sampai lupa untuk menjaga kesehatan, luar dalam, fisik-mental.

    Salah satu isu kesehatan terpenting zaman ini adalah pengaruh pengobatan air, garam dan ludah sendiri terhadap daya tahan tubuh dan keberlangsungan hidup manusia di muka bumi. Ketiga bahan ini adalah serangkai dan saling mendukung satu sama lain. Tetapi yang paling banyak terlupakan adalah mengonsumsi air putih. Semua penyakit disebabkan oleh dehidrasi, oleh karena itu sering-sering alias rajinlah mengonsumsi air putih segar dari waktu ke waktu. Inilah kebaikan yang sangat sederhana terhadap diri sendiri, bila terlupakan lama-lama bisa melayang nyawa ini. Bagi yang mau berumur panjang dan jauh dari aktivitas penuaan badan, berupayalah untuk rajin meminum air putih sedikit-sedikit (2-3 teguk). Ketekunan andalah yang menyelamatkan diri sendiri.

Penyokong kehidupan rusak, waktu kita terbatas

Sadarkah anda bahwa sesungguhnya keberadaan kita di bumi ini terpelihara oleh karena peran besar dari lingkungan hidup? Kelestarian hutan-hutan di sekitar adalah jaminan dari keberlangsungan hidup manusia yang selalu ada dari generasi ke generasi. Bila manusia hanya berupaya untuk menemukan jati dirinya lewat kemewahan, kenyamanan duniawi yang berlebihan, dipastikan lingkungan jadi korbannya. Saat lingkungan alamiah yang adalah komponen utama penopang kehidupan rusak, kehidupan umat manusia mulai sulit. Keadaan ini didorong oleh peningkatan penggunaan teknologi secara besar-besaran sebagai pengganti untuk menopang kehidupan kita.

Dampak negatif dari pemanfaatan teknologi tanpa kendali (kapitalis liberal) dan manajemen yang buruk (korupsi), semakin merusak bumi. Akibatnya, waktu kita di bumi semakin singkat bahkan bisa diprediksi, lewat berbagai fenomena alam langka yang muncul tiba-tiba. Bencana alam pun sudah mulai susul-menyusul menghempaskan penduduk di wilayah tertentu. Korban jiwa dan materi berjatuhan dimana-mana. Bahkan ketika keadaan sudah semakin parah, generasi berikutnya pun terpaksa menghadapi peperangan akibat kebobrokan pengelolaan lingkungan yang buruk pada masa kita.

Kesimpulan

Tidak ada waktu tanpa kebaikan! Segala yang positif layak untuk dipertahankan dari generasi ke generasi. Sebab tanpa kebajikan tidak ada masayarakat yang adil dan makmur. Melainkan karena masing-masing orang mengasihi sesamanya seperti diri sendiri, itulah tonggak dan tulang punggung yang mampu bertahan di tengah pergolakan zaman. Sebab tanpa keadilan sosial maka masing-masing orang akan berbuat negatif demi mencapai hasrat tinggi-besar, penuh arogansi. Keadaan ini beresiko memicu keserakahan yang merusak lingkungan hidup. Padahal tanpa pepohonan, apa yang bisa kita lakukan? Kita hanyalah makhluk yang kocar-kacir saling serang karena unsur utama penopang kehidupan terancam tipis bahkan habis di masa depan. Berbuat baiklah kepada Tuhan, alam sekitar, sesama manusia bahkan terhadap musuh sekali pun. Serta tunjukkan juga sifat-sifat postif kepada generasi selanjutnya agar kehidupan bermasyarakat semakin dekat dengan kebenaran hakiki.

Salam, hargai waktu
lakukan kebaikan.
Hidup tidak hanya didedikasikan
untuk diri sendiri saja.
Tetapi juga untuk sesama,
lingkungan alamiah dan
anak-cucu kita berikutnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.