7 Hal Yang Paling Menyakitkan – Bayangkan Penyesalan Orang Yang Masuk Neraka Kelak

Hal Yang Paling Menyakitkan - Bayangkan penyesalan orang yang masuk neraka kelak

Betapa indahnya rangkaian pesona yang bergulir teratur di sekitar kita. Ada pula kejadian yang menimbulkan sensasi kemaknaan yang hadir dalam rangkaian fluktuasi yang tidak stabil. Sedang pada waktu-waktu tertentu, ada momen ledakan yang penuh kejutan mendebarkan walau dirangkai dalam materi sederhana. Segala liku-liku kehidupan yang pernah kita cicipi, pastilah meninggalkan sesuatu yang disebut dengan rasa. Sekalipun kebanyakan rasa di masa lalu telah terlupakan tetapi ada momen tertentu yang masih saja terulang-ulang dalam kilasan super cepat film hati. Kenangan-kenangan yang mungkin telah terlupakan oleh banyak mata tetapi hati masih dekat-dekatan dalam letupannya yang sekilas saja.

Dalam susah senangnya hidup di dunia, kita belajar untuk memahami banyak hal yang sebelumnya tidak kita mengerti. Mencoba hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita lakukan. Melakukan perubahan kecil sampai besar demi mencapai konteks-konteks kehidupan yang sesuai dengan bingkai ketuhanan dan pola hidup masyarakat yang lazim. Banyak peristiwa pelik yang kita lalui semata-mata karena anomali zaman. Tidak ada yang perlu disalahkan sebab semuanya itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi di sisi lain, kita teruskan segala usaha untuk menggenapi dan menggapai apa yang benar di hadapan Tuhan dan apa yang adil di antara sesama manusia.

Apa yang paling menyakitkan di dunia ini?

Di tengah gelora kehidupan yang kadang lambat bersahabat tetapi terkadang pula menjadi super cepat dan sangat mengganggu. Kita berusaha untuk menjadi diri sendiri, menghadapi semuanya dengan rendah hati dan berlapang dada. Sambil melakukan apa yang terbaik menurut apa yang kita pahami. Sekalipun kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Rasa sakit seolah tidak bisa dihindari bahkan kadang datang tak putus-putusnya. Saat kita berjuang demi yang terbaik, itu bukan jaminan akan terbebas dari penderitaan. Justru semakin kita bersikap benar maka semakin banyak tantangan yang berpeluang tersakiti, baik fisik maupun rohani. Berikut akan kami uraikan beberapa yang kami mengerti tentang topik tersebut.

  1. Yang paling menyakitkan adalah tidak pernah tersakiti/ tertekan/ menderita.

    Kalau tidak pernah menderita sebelum-sebelumnya maka derita pertama yang kita alami sangat menyakitkan. Pengalaman pertama memiliki kesan yang lebih bombastis dan beresiko direplay berulang kali di dalam pikiran. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan mengambil resiko penderitaan lainnnya. Tetapi, janganlah mengambil sikap-sikap negatif yang jelas-jelas menyebabkan rasa sakit yang segera maupun yang datangnya lambat. Melainkan ambil resiko menderita karena melakukan hal-hal yang positif. Semakin sering kita menderita maka semakin mudah melupakan betapa menyakitkannya rasa sakit itu.

  2. Yang paling menyakitkan adalah tidak memiliki tujuan hidup.

    Apa jalan hidupmu? Apa yang kamu kejar selama hidup di dunia ini? Apa yang kamu inginkan? Tanpa tujuan hidup, kita seperti manusia yang terombang-ambing di tengah lautan zaman yang tak pasti. Semakin jauh kita melangkah, semakin berasa tak berarti hidup ini tanpa tujuan. Bahkan kita tidak tahu akan berjalan ke mana? Keadaan semacam ini sangat memilukan hati sekali pun air mata tidak menetes.

  3. Yang paling menyakitkan adalah tidak memiliki Tuhan dan tidak berbagi dengan orang lain.

    Apa rasanya menjadi ateis? Hidup hanya didedikasikan untuk mencari nikmat mulia duniawi! Padahal yang semacam itu, sifatnya sangat terbatas, putus-putus dan fluktuatif. Hidup menjadi sangat membosankan dan penuh kehampaan karena kita tidak memiliki Allah di dalam hati. Hanya mereka yang senantiasa fokus kepada Tuhanlah yang dapat mengabaikan rasa bosan dan meraih hari-hari penuh kemaknaan.

    Rancu rasanya hidup ini kalau kita tidak mampu berbagi dengan orang lain. Seolah-olah ada yang kurang, ada serpihan yang hilang sehingga kita pun merasa hari-hari yang dilalui membosankan dan tidak bermakna. Akan tetapi, saat kita mampu berbagi dengan sesama, hati senang bergirang, bahagia pun terasa penuh. Tidak perlu muluk-muluk, mulailah berbagi dari hal-hal kecil, misalnya sopan santun.

  4. Yang paling menyakitkan adalah tidak melindungi kelestarian alam.

    Saat kita berpikiran pendek dan tidak mau tahu tentang peran lingkungan dalam menopang kehidupan. Ada kecenderungan membiarkan bahkan mengizinkan terjadinya kerusakan lingkungan. Padahal dengan berlaku demikian, kita menimbun kecelakaan di masa depan. Apa tidak menyakitkan rasanya saat sesuatu yang telah susah-susah dibangun, tiba-tiba amblas dalam sekejap. Enggan menjaga kelestarian lingkungan hanya menunda rasa sakit hingga bencana itu sampai dalam kapasitas yang lebih merusak.

  5. Yang paling menyakitkan adalah hidup bersama orang yang tidak sepaham.

    Masing-masing orang memiliki jalan hidup yang dipilih secara pribadi. Sayang, tidak semuanya prinsip hidup manusia adalah sama. Misalnya saja, ada orang yang beraliran sosialis dan ada pula yang beraliran kapitalis. Jika kita mau rendah hati dan ikhlas, tidak ada yang perlu dibuktikan apalagi dipertengkarkan. Melainkan baiklah masing-masing orang bersahabat dengan musuh-musuhnya walau kerap disakiti. Yakinlah bahwa semakin sering menderita maka semakin terlupakan betapa sakitnya rasa sakit itu.

  6. Yang paling menyakitkan adalah tau apa yang benar tetapi tidak melakukannya.

    Pilu rasanya hati ini, karena berulang kali melalaikan suara-suara teguran yang gemerincing dari dalam diri sendiri. Kita menyesal berulang kali karena ada kesempatan baik untuk melakukan apa yang benar tetapi kita justru mengabaikannya. Suara hati seolah mempersalahkan diri kita atas kelalaian yang baru saja terjadi. Memang jelas bahwa tidak ada manusia yang sempurna tetapi itu bukan alasan untuk tidak melakukan kebaikan padahal ada kesempatan yang sangat bagus.

  7. Yang paling menyakitkan hati adalah mempertahankan apa yang jelas-jelas salah.

    Kita memahami bahwa ini dan itu salah tetapi masih saja dilakukan. Kita sudah beberapa kali diingatkan bahwa sesuatu tidak benar adanya, namun masih saja ditekuni. Kita merasa bahwa semuanya baik-baik saja, padahal hari demi hari mengerjakan hal-hal yang kurang tepat. Kesalahan ini memang akibatnya tidak segera dirasakan. Fatalnya karena hal tersebut terus-menerus dilakukan: seperti menumpuk-numpuk dosa di hadapan Tuhan. Suatu saat, hari-hari kemurkaan akan datang yang memaksa kita masuk dalam penderitaan tiada akhir: neraka!

Kesimpulan

Rasa sakit, setiap orang pernah merasakannya. Sebuah nano-nano kehidupan yang menambah semarak keindahan dunia. Kita harusnya merasa bahagia karena menderita akibat menempuh jalan-jalan kebenaran dan keadilan. Tidak ada penyesalan, baik sekarang maupun di akhir zaman kelak karena kita telah maksimal -menempuh kehendak Tuhan. Untuk apa hari-hari penderitaan di bumi demi sesuatu yang kita sesali, baik di bumi maupun di akhirat kelak. Derita ini cukuplah di bumi saja tetapi di hari penghakiman kelak tidak ada lagi penyesalan. Sebab kita dilayakkan Tuhan untuk memasuki sorga-Nya. Orang yang enggan tersakiti di dunia, siap-siap tersakiti di zaman penuaian besar terjadi. Bayangkan betapa limpahnya penyesalan orang yang masuk neraka kala itu! Bayangkan betapa sedih pilunya mereka dan berhentilah berbuat yang jahat!

Salam, Orang yang tersakiti,
orang yang manusiawi,
menantikan hal-hal sorgawi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.