7 Alasan Manusia Dan Hewan Bersahabat – Ular Adalah Binatang Kesayangan Hawa

Alasan Manusia Dan Hewan Bersahabat – Ular Adalah Binatang Kesayangan Hawa

Kisah-kisah di dalam Kitab Suci merupakan rentetankenyataan yang pernah terjadi, jauh sebelum generasi kita ada. Hanya saja, terkadang kita merasa ragu sendiri terhadap hal-hal tersebut karena agaknya bertentangan dengan logika dan ilmu pengetahuan secara umum. Namun, seiring berjalannya waktu, ada banyak orang yang mengungkapkan penjelasan dari teka-teki tersebut. Sayang, yang terjadi justru ada yang menyimpangkannya ke arah yang kurang tepat. Sekali pun demikian, itu tidak masalah; melainkan sudah menjelaskan lebih dari cukup tentang beberapa rahasiakisah acakdari masa lalu.Jadi, apa pun yang ada di dalam blog ini, bukanlah hasil pemikiran kami seorang tetapi berdasarkan racikan dari berbagai sumber (utamanya Roh Kudus).

Manusia dan alam semesta adalah satu. Kita tidak lebih sempurna dari komponen lingkungan yang ada di sekitar. Justru hal-hal alamiah itulah yang lebih baik daripada kita. Mengapa kami berkata demikian? Karea pada kenyataannya mereka lebih kuat dari kita. Misalnya saja adalah pepononan: pernahkah memukul pohon lalu tumbang? Atau pernahkah memukul buaya sehingga dia terluka? Tentulah makhluk hidup tersebut tidak akan pernah tumbang hanya dipukul dengan tangan kosong dan tidak akan pernah terluka hanya dengan ditumbuk. Akan tetapi, manusia yang mengalami kekerasan semacam itu justru akan merasakan sakit yang mendalam bahkan sampai terjatuh, terluka dan berdarah pula.

Adalah lebih baik bagi kita untuk tidak merasa angkuh selama menjalani hidup di dunia ini. Sebab kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling lemah dari segi kemampuan fisiknya. Memang hewan dan tumbuhan yang ada di bawah kita masih sangat banyak yang lebih lemah tetapi sadarilah juga bahwa yang lebih kuat di atas kita masih sangat banyak. Jadi, tidak perlu memusuhi apa pun seumur hidup kita di bumi ini. Sekali pun menemukan makhluk lainnya berperilaku aneh (mengganggu). Tidak harus semuanya dimusnahkan, tetapi berupaya untuk menerima keberadaan mereka atau net-netnya usirlah mereka dari sekitar. Sebab berdasarkan pengalaman sejarah di Taman Eden dan perjalanan hidup umat manusia selanjutnya, mereka bermanfaat pula untuk menguji kehidupan kita. Semata-mata agar semakin intim dengan Yang Maha Kuasa.

Pengertian

Persahabatan yang kami maksudkan di sini adalah kita tidak hanya tahu memanfaatkan keberadaan makhluk hidup lainnya, melainkan juga turut peduli dan berperan aktif untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka. Jadi manusia dan hewan bersahabat artinya manusia yang hidup berdampingan dengan segala jenis binatang, mampu mengendalikan pemanfaatannya sesuai kebutuhan dan menjaga kelestariannya dari waktu ke waktu. Akan tetapi, diawal-awal kehidupan, Tuhan mengutuk kedekatan antara manusia dengan binatang. Sebab perempuan bisa berada di bawah pengaruh hewan kesukaannya, sedang laki-laki pun bisa dipengaruhi oleh perempuan. Semuanya ini karena masing-masing pihak belum memahami seutuhnya tentang fungsi-fungsinyas dalam hegemoni alam semesta.

Defenisi – Manusia dan hewan bersahabat artinya manusia yang hidup berdampingan dengan segala jenis binatang namun mampu mengendalikan pemanfaatannya sesuai kebutuhan dan menjaga kelestariannya dari generasi ke generasi.

Faktor penyebab manusia dan hewan adalah bersahabat

Kita dengan segala kehendak bebas yang termuat dalam setiap pribadi lepas pribadi adalah bahaya terbesar bagi kelangsung hidup di bumi ini. Padahal bumi sangat membutuhkan peran binatang untuk menjaganya tetap seimbang. Sebab tanpa binatang besa sampai kecil maka jumlah makhluk hidup nakal alias serangga pengganggu yang ada di lingkungan membludak melebihi batas toleransi yang bisa mengancam umat manusia itu sendiri. Akan tetapi, hubungan kita dengan makhluk hidup lain telah dipisahkan oleh kutukan di Taman Eden. Itu adalah kesalahan pertama dan sekaligus gambaran dari pola terjadinya dosa hingga saat ini. Berikut akan kami jelaskan bahwa hubungan persahabatan ini telah dijelaskan secara rinci oleh Alkitab.

  1. Kita berkuasa bukan berarti dapat memusnahkannya sama sekali.

    (Kejadian 1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

    Katakanlah seorang Ibu di rumah telah memasak makanan dengan sungguh-sungguh hingga hasilnya benar-benar baik di lidah. Akan tetapi, salah satu anggota keluarga mengatakan,“makan ini tidak enak” lalu membuangnya begitu saja. Lantas menurut anda, bagaimana perasaan Ibu yang membuat makanan tersebut? Pasti dia akan menjadi agak marah karena hal tersebut.

    Demikianlah gambaran perasaan Tuhan Allah pencipta alam semesta besarta segala isinya saat ada orang yang berlaku sewenang-wenang membunuh tapi tidak mengonsumsi hewan ciptaan-Nya. Terlebih lagi kalau sampai ciptaan tersebut dimusnahkan/ dipunahkan sama sekali. Oleh karena itu, jadilah manusia yang berkuasa memanfaatkan tumbuhan, hewan dan dan komponen lingkungan lainnya, tetapi juga turut menjaga dan memelihara keberadaannya agar tetap ada dari masa ke masa. Bukankah dengan demikian manusia bersahabat dengan binatang?

  2. Sang Pencipta membentuk makhluk yang berkeriapan tersebut dari tanah sama seperti manusia.

    (Kejadian 2:19-20) Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

    Pada momen ini, untuk pertama kalinya manusia diperkenalkan dengan hewan oleh Sang Khalik. Besar kemungkinan pada saat itu, sembari memberi nama-nama binatang, Adam juga mengambil beberapa di antaranya untuk dijadikan peliharaan. Demikian juga hawa kelak akan mengambil beberapa di antaranya untuk dipelihara. Kemungkinan besar, hewan yang kita pelihara sekarang termasuk sebagai peliharaan nenek moyang kita di awal masa setelah penciptaan.

    Manusia tidak perlu kepedean lalu merasa diri sebagai makhluk yang lebih superior dari makhluk lainnya. Sebab nyatanya dari firman di atas, Yang Maha Mulia juga membentuk binatang dari tanah. Keadaan ini menunjukkan bahwa kita tidak lebih baik tanpa makhluk lainnya. Melainkan saat tiap-tiap makhluk mampu bekerja sama niscaya keberlangsungan hidup di seluruh bum terjamin sejang masa.

  3. Ada komunikasi sederhana antara kita dan hewan.

    (Kejadian 3:1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

    Bukan hanya di zaman dahulu saja, kita bisa berkomunikasi dengan binatang. Sampai sekarang pun bentuk komunikasi isyarat tersebut masih kentara. Mereka yang memiliki hewan peliharaan pasti memahami apa yang kami maksudkan. Misalnya saja saat memanggil atau mengusir ayam/ kucing/ anjing. Masing-masing ada bahasa isyarat/ bahasa sederhananya yang biasanya berbeda-beda untuk tiap-tiap wilayah/ daerah.

    Manusia yang memahami maksud hewan adalah kemampuan alamiah yang dimiliki manusia demi mendukung perannya sebagai “penguasa di bumi.” Besar kemungkinan komunikasi antara ular dan Hawa tidak dalam bentuk kata-kata kompleks seperti layaknya antara manusia dengan manusia. Bahasa isyarat di sini maksudnya sekali pun hewan-hewan tersebut tidak mengucapkan kata-kata tetapi majikannya pasti paham dengan apa yang diinginkannya.  Itu jugalah yang terjadi pada perempuan pertama: dia mampu memahami perubahan perilaku hewan tersebut dan mengerti dengan tujaannya sehingga terciptalah komunikasi sederhana.

    Kemampuan berkomunikasi dengan hewan menggunakan bahasa isyarat merupakan pertanda bahwa pada awalnya kita bersahabat dengan mereka. Akan tetapi kutukan di Taman Eden telah memisahkan pertemanan tersebut. Akibatnya, manusia memburu binatang secara berlebihan sehingga cenderung mengguncang keseimbangan alam. Akibatnya, serangga pengganggu merebak mengganggu aktivitas manusia dan binatang pengerat beranak-pinak bak jamur di musim hujan.

  4. Ular adalah hewan kesayangan perempuan.

    (Kejadian 3:13) Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

    Harap dipahami bahwa manusia pertama pada awalnya masih seperti anak-anak. Siapa coba, anak-anak yang tidak suka bermain dengan hewan-hewan kecil di sekitarnya? Ayo siapa dari pembaca sekalian yang memahami maksud kami? Mengapa nenek moyang Hawa sangat suka bermain-main dengan ular? Ketahulah bahwa ular dengan manusia sangat dekat (bersahabat) di awal masa setelah penciptaan. Di antara sekian banyak binatang yang diciptakan Tuhan, moyang Hawa menyukai dan sangat dekat sampai dijadikan teman bermain. Mungkin masih banyak hewan lainnya yang disukainya namun khusus dalam konteks ini, kita fokus pada makhluk yang membelit tanpa kaki.

    Mengertikah anda, apa yang menyebabkan kecenderungan tersebut? Menurut analisis dan pemahaman kami, keadaan tersebut disebabkan oleh karena moyang Hawa memiliki kulit yang sangat sensitif. Lagi pula mereka awalnya tidak mengenal dan tidak menggunakan pakaian. Jadi, saat ular itu melilit dan membelitnya, merasa geli sekaligus nyaman. Sehingga ada spekulasi dia selalu membawa-bawa ular tersebut kemana pun pergi. Melilitkannya ke badannya seperti perhiasan (mungkin itu di tangan atau leher)

  5. Tuhan mengutuk birahi Hawa terhadap ular dan memindahkannya kepada suaminya.

    (Kejadian 3:14) Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

    Lagi firman berkata,

    (Kejadian 3:16) Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

    Menceritakan ini, agak lucu sedikit ya… Tetapi itulah menurut kami gambaran dari kenyataan di masa lalu. Kalau anda percaya silahkan saja tetapi kalau tidak percaya juga tidak masalah.

    Baca baik-baik kutukan Tuhan terhadap ular “dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah….”Ini adalah pertanda bahwa ular semenjak diciptakan tidak menyentuh tanah, melainkan berada di atas pohon atau sukanya melilit di badan Hawa. Keadaan ini semakin menegaskan persahabatan antara ular dan Hawa. Seolah-olah ular tersebut dapat membuatnya senang dan nyaman karena seluruh kulitnya merasakan kehangatan yang menggelikan ketika hewan tersebut melilitkan diri dan menjalar di atas badannya.

    Pertalian antara manusia dan ular inilah yang dikutuk Tuhan. Sebab ular tersebut mampu menarik keluar berahi Hawa sehingga perasaan dan akal sehatnya berada dibawah kendali hewan tersebut. Kata-kata terakhir dari kutukan Tuhan kepada hawa, “engkau akan berahi kepada suamimu…,” menunjukkan perpindahan kedekatan dari ular ke suaminya. Pemisahan ini sangat baik agar perempuan itu tidak ketergantungan kepada ular melainkan bergantung kepada suaminya.

    Harap diketahui bahwa di hari-hari setelah penciptaan, ilmu pengetahuan manusia hampir nol. Demikian juga dengan Adam yang masih kurang paham dengan perannya dalam keluarga. Dia juga tidak tahu cara menyenangkan istrinya. Hawa yang tertarik bersahabat dengan ular juga tidak paham fungsinya di dalam keluarga sebab pengetahuannya hampir nol dan persahabatannya dengan ular pun merupakan hasil dari pengalaman coba-mencoba dan ternyata ada kecocokan.

    Berhati-hatilah, jangan karena makhluk hidup lain mampu membuatmu senang/ nyaman maka keimananmu bisa dikendalikan oleh perilakunya. Saat perilakunya aneh, kita merasa tidak nyaman dan keyakinan kita menguap mulai bimbang hati. Melainkan tetaplah berjalan dalam kebenaran dan hindari menggantungkan iman kepada perilaku binatang.

    Jadi, kutukan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah penegasan dari fungsi masing-masing orang di dalam keluarga. Sedang Tuhan hendak mengarahkan berahi Hawa yang awalnya dari ular kepada suaminya, Adam. Sebab sesungguhnya lakil-laki pertama mampu melakukan apa yang dilakukan ular kepada perempuan itu (menyentuh, mengelus, memeluk) bahkan lebih dahsyat lagi. Hanya saja Adam belum memahaminya dan baru akan diajar hamba Tuhan (malaikat) saat mereka berada di luar Taman Eden.

    Sedikit tips untuk keluarga kristen: istri memiliki kulit yang lebih sensitif dari suami, sering-seringlah dielus. Kalau lagi sedih istrinya, dielus-elus biar jadi senang; kalau lagi kesal istrinya, dibelai-belai biar jadi cinta. Wkwkwkkkkk…. Ayah yang bijak dan bertanggung jawab, paham bagaimana caranya memuaskan hasrat istrinya jangan sampai mencari ular yang lain wkwkwkkkkk….

  6. Gambaran pengembalian persahabatan manusia dan hewan di zaman Musa.

    (Bilangan 21:8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”

    Kutukan yang diberikan Tuhan untuk memisahkan manusia dengan hewan bisa jadi membuat kita memusnahkan mereka sama-sekali. Padahal yang dikatakan Tuhan dalam firman tersebut hanya kepada satu ular saja. Besar kemungkinan, masih ada ular lain yang belum dikutuk (pasangannya sebab Tuhan menciptakan makhluk hidup sepasang-sepasang). Apa arti semuanya itu? Artinya, kita tidak boleh membunuh semua ular yang ada di sekeliling. Sekali pun kita membunuhnya, pastikanlah itu karena benar-benar mengganggu dan menyebabkan jatuhnya korban.

    Kutukan yang memisahkan manusia dan ular, bisa dijadikan sebagai dasar untuk memusnahkan hewan lainnya bahkan tumbuhan juga. Ada yang membabat habis hutan-hutan dan membunuh hewan liar secara membabi-buta tanpa meninggalkan sisa. Semuanya itu dilakukan demi arogansi/ keangkuhan yang serakah dan manipulatif. Akibatnya, kita juga yang merasakan dampaknya, seperti meledaknya pertumbuhan serangga pengganggu, meningkatnya jumlah hama tanaman, banjir, longsor, pencemaran udara dan lain sebagainya. Semua bencana alam tersebut terjadi oleh karena terlalu mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.

    Beruntunglah kita, bahwa Tuhan telah mengembalikan persahabatan/ hubungan yang baik antara manusia dan alam. Gambaran membaiknya hubungan tersebut terjadi di zaman Musa. Keaddaan ini sekaligus menegaskan betapa pentingnya makhluk hidup lain dalam kehidupan kita. Kejadiannya saat nabi Musa membuat tongkat yang diliti ular tedung agar setiap orang Israel yang terpagut olehnya tidak mati.

    Ular gurun memang lebih berbahaya daripada ular tropis karena di gurun jarang ada makanan dan jarang hujan. Sedang di daerah tropis, limpah dengan makanan dan kaya hujan (mengandung garam) yang sekaligus bermanfaat untuk mengurangi toksisitas bisa ular. Tuhan tidak mau, generasi selanjutnya membenci ular dan makhluk hidup lainnya hanya karena dipisahkan oleh kutukan masa lalu. Melainkan yang dikehendaki Sang Pencipta adalah saat kita bersahabat hidup rukun bersama binatang dan tumbuhan lainnya.

  7. Zaman pemulihan kembali.

    (Yesaya 11:8) Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

    Allah yang kita sembah memang luar biasa. Segala rencana-Nya indah dan sangat rapih dari zaman ke zaman. Baiklah masing-masing dari kita selalu berusaha memahi maksud-maksud-Nya dalam kehidupan ini. Agar kita bisa berpikir, bertutur dan berbuat untuk kemuliaan nama-Nya sampai ujung usia ajal menjemput. Mulailah dengan rutin membaca, mendengar dan mempelajari firman-Nya.

    Firman ini menunjukkan bahwa suatu saat manusia tidak lagi menginjak kepala dan membunuh ular. Sebab manusia sudah lebih cerdas dengan memahami bahwa makhluk tersebut juga memiliki peranan penting untuk menciptakan ekosistem yang seimbang. Tidak ada lagi musuh-musuhan dengan hewan dan tumbuhan melainkan ada rasa damai dan toleransi yang kental. Bahkan saking tolerannya, anak kecil yang belum bisa ngomong dan tidak tahu apa-apa pun menjadikannya sahabat.

    Kalau awalnya yang suka bermain-main dengan ular adalah perempuan karena suami jarang membelainya. Itu sudah tidak berlaku lagi, kini para ayah sudah lebih bijak dari moyangnya sendiri. Para suami sudah tahu hobi dan memahami kesukaan istrinya: sering berhubungan badan dan sering membelai, niscaya istri akan klepek-klepek patuh kepada suami.

    Kini kebiasaan bermain ular pindah ke anak-anak. Ayah dan Bunda yang memiliki anak, silahkan dicoba. Sebab itu ular bisa membuat anak nyaman, tidak perlu lagi dihibur, digendong-gendong, dibeliin mainan lain oleh orang tuanya. Sebab ada kawan ular yang cukup menemaninya. Tentu saja, Ayah dan Bunda jangan menarok yang besar, bila perlu yang kecil atau sedang-sedang saja.  Jangan lupa juga untuk mencabut taring hewan tersebut agar tidak sampai melukai anak. Berani!!! (Mohon maaf, paragraf ini hanya asumsi, JANGAN DITIRU 😀 😀 )

Kesimpulan – “Bumi ini milik bersama”

Awalnya, kita bersahabat dengan binatang namun persahabatan tersebut ditentang Tuhan karena kita terlalu ketergantungan dengan sikap mereka. Jangan sampai, perilaku hewan di sekitar kita dapat mengendalikan iman kita. Melainkan santai saja menanggapi sikap mereka yang “aneh atau bagaimana gitu?” Petiklah pelajaran dari moyang Hawa yang hidupnya bisa dikendalikan ular hanya karena binatang tersebut memberinya kehangatan yang menyenangkan. Kita akan membahas kisah tersebut dalam Kronologi Kejadian Di Taman Eden pada tulisan berikutnya. Terkhusus dalam kisah ini, ular mewakili para binatang yang berkeriapan di sekitar kita.

Apa anda berani membiarkan ular hidup di sekitar? Binatang ini bisa jadi predator semut, cicak, lipan, laba-laba dan lain sebagainya. Jangan percaya dengan info-info hoax yang menyebutkan bahwa ular dapat menelan manusia. Malah yang terjadi justru sebaliknya. Hanya manusialah yang bisa serakah selama hidupnya. Dengan kehendak bebas dan pengetahuan yang dikuasai, telah sewenang-wenang mengeksploitasi hewan dan tumbuhan secara besar-besaran. Telatenlah dalam bersikap, hanya menginjak dan membunuh apa yang kita perlukan saja! Lebih dari itu, berhati-hatilah dengan arogansi superiaor yang beresiko membuat kita memakai ilmu pengetahuan untuk memanipulasi hewan/ tumbuhan dalam konspirasi kotor. Tamak mengeksploitasi sumber daya yang tersedia sehingga terjadilah bencana alam dan bencana kemanusiaan. Oleh karena itu, bersahabatlah dengan alam demi keberlangsungan hidup bersama di bumi yang permai.

Salam, Tuhan tidak bermaksud,
memisahkan binatang & manusia.
Tetapi Dia ingin masing-masing kita
paham dengan tujuan-Nya
lalu menjalaninya dengan sukacita
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.