10 Alasan Berbuat Baik – Motivasi Kebaikan Adalah Sebuah Panggilan Jiwa

Alasan Berbuat Baik – Motivasi Kebaikan Adalah Sebuah Panggilan Jiwa

Apa alasanmu? Itu motivasimu, itu kekuatanmu!

Pernahkah ada yang bertanya kepada seseorang, “mengapa kamu baik sekali ke dia?” Apa jawaban yang pernah anda dengar atau pernah anda berikan seputar pertanyaan tersebut? Mungkin jawabannya beragam ya… kita akan bahas itu nanti. Tetapi, apa pun yang menyebabkan kebaikan keluar dari diri ini, sangat menentukan keberlangsungan hal-hal tersebut seumur hidup. Apakah kita melakukannya lagi nanti atau malah berhenti sampai di situ saja, menyesal, pasrah lalu menyerah pada buruknya keadaan. Semuanya itu sangat tergantung dari “apa alasan anda.” Motivasi yang buruk pasti akan segera melenyapkan tindakan; yang tanggung-tanggung hanya akan bertahan setengah jalan; sedang yang dasar motivasinya positif akan tetap semangat untuk dilakukan lagi dan lagi.

Pondasi sikap yang kuat, tidak mudah diguncang gempa internal dan eksternal

Seperti apa pun keadaan kita saat ini, berupayalah selalu untuk menemukan dasar-dasar yang meyakinkan saat hendak melakukan sesuatu. Sebab “alasan” sama saja dengan pondasi. Orang yang membangun sikapnya di atas pondasi yang tidak kokoh akan mudah diruntuhkan oleh sendi-sendi negatif dalam dirinya sendiri ditambah lagi dengan tekanan gempa kecil yang biasanya berasal dari luar. Kita akan melalui masa-masa hidup yang sukar sampai memahitkan jiwa. Mereka yang memiliki motivasi yang bengkok akan dengan mudah dihambat oleh masalah sukar yang kecil-kecil. Lain halnya dengan mereka yang memiliki alasan yang benar dan tulus akan mampu bertahan di tengah soal-soal kehidupan yang semakin berat mendesak.

Bahagia baiknya sesaat sebelum, saat sedang dan setelah beraktivitas.

Mereka yang mau berbuat baik pastilah akan menuai kebahagiaan. Bahagia yang kami maksudkan tidak terjadi setelah berbuat kebajikan melainkan sesaat sebelum, saat sedang dan setelah berbuat pun, rasa hati yang berbahagia tersebut selalu nyata. Rasa di hati tersebut bukanlah sebuah upah dan tidak juga berasal dari orang lain. Tetapi “kebahagiaan” semata-mata berbicara soal bagaimana cara manusia memanajemen pikirannya sehingga mampu menghasilkan hal-hal baik namun mengabaikan hal-hal buruk yang kerap bergulir deras di sekitarnya. Oleh karrena itu, mulailah belajar untuk memanipulasi pikiran sendiri agar selalu bahagia di segala waktu sehingga kebajikan kita terus mengalir kepada siapa pun yang mungkin.

Pengertian

Motivasi berbuat baik adalah dasar-dasar yang membuat seseorang hendak berbagi kasih kepada sesamanya. Pada dasarnya, kebaikan juga bisa menjadi sebuah motivasi untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi, berbuat baik karena kebaikan itu sendiri terlalu rapuh untuk dijadikan dasar. Kita perlu sesuatu yang lebih teguh dan lebih kuat dibandingkan semuanya itu. Sesuatu yang bisa dijadikan dasar yang tidak akan pernah berubah dari masa ke masa. Juga tidak akan pernah goyah sekali pun ditantang oleh berbagai badai kehidupan yang datang silih berganti bahkan kadang bertubi-tubi.

Motivasi seseorang yang berlaku baik terhadap orang lain

Kita tidak mungkin masih ada di dunia ini, bila tidak ada kebaikan. Sebab sejak kecil bahkan sejak dari dalam kandungan, kita hanyalah makhluk lemah yang tidak tahu apa-apa tentang segala sesuatu yang akan dihadapinya kelak. Oleh karena itu, saat anda merasa bahwa hati sudah mulai letih-lesu dan kehilangan semangat untuk terus hidup. Cobalah untuk berbagi kebaikan kepada keluarga, sesama di lingkungan sekitar dan siapa pun yang dimungkinkan. Sebab hal-hal tersebut bisa menjadi penyemangat hidup dari waktu ke waktu. Berikut ini akan kami berikan beberap alasan mengapa kita perlu dan harus berbuat baik selama hidup di dunia ini.

  1. Ingin menjatuhkan.

    Orang menjatuhkan sesamanya karena alasan sakit hati/ benci, balas dendam, iri hati/ dengki dan lain sebagainya. Itu adalah alasan-alasan personal yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain tetapi hanya oleh dirinya sendiri. Sedangkan ada juga alasan-alasan sosial yang turut memicu tindakan “modus berbuat baik” tetapi nyatanya menjatuhkan kawan adalah persaingan, perselisihan, pertengkaran dan berbagai momen rebutan (saling berebut) lainnya.

    Orang-orang tersebut sangat manipulatif. Mereka menyembunyikan sifat-sifat jahatnya di balik manisnya bibir dan lembutnya kata-kata. Padahal, sesungguhnya hati penuh dengan rancangan yang syarat dengan kejahatan. Orang juga bisa menjatuhkan kita dengan sengaja memuji sehingga timbullah rasa sombong yang bisa membuat kaki tersandung.

  2. Hendak menguji.

    Orang yang mau menguji sesamanya, sebaiknya memiliki surat perintah dari organisasi tertentu. Sebab senyatanya, orang benar tidak menguji sesamanya. Sekali pun terjadi cobaan kecil, itu hanyalah sebuah kekhilafan. Sebab sikap yang menguji bisa disama-artikan dengan tindakan penyesatan, padahal Tuhan sudah mencela hal tersebut. Seperti ada tertulis.

    (Matius 18:7) Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

    Jadi, sekali pun apa yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan, bila tujuan-tujuannya untuk merugikan sesama, itu sudah tidak benar. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan niat hati saat berbuat kebajikan kepada orang lain. Dari pada berbaik hati hanya demi alasan tidak berdasar untuk menguji, lebih baik tidak usah merealisasikan maksud-maksud semacam itu. Akan tetapi, biarlah sistem yang menguji kita, sebab mereka punya aturannya dan hal tersebut telah disetujui oleh semua orang.

  3. Saudara/ kerabat/ handaitolan saya itu.

    Berbagi kepada seseorang karena dia adalah saudara memang cukup untuk jadi alasan logis. Bagaimana jadinya kalau kita tiba-tiba ada di lingkungan yang rata-rata bukan kerabat dekat? Lalu, bagaimana jadinya ketika kita diperhadapkan dengan orang yang bukan saudara sendiri? Masih maukah kita memberi dengan cuma-cuma? Padahal Tuhan berfirman “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (bnd. Roma 13:9).”

  4. Sahabat/ kenalan/ teman saya itu.

    Memberi kepada sahabat karib bisa dilakukan dengan luwes. Tetapi bagaimana jadinya ketika orang yang membutuhkan pertolongan adalah seseorang yang masih agak jauh karena dia aldalah teman orang-orang itu. Sekiranya pertolongan tidak segera diberikan, akan lebih buruk keadaan sikawan tersebut. Padahal di dalam firman Tuhan kita tidak diperkenankan untuk menahan kebaikan kepada siapa pun. Selama itu memungkinkan maka lakukanlah dengan sepenuh hati.

    (Yakobus 4:17) Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

  5. Orang tua saya itu.

    Menghormati seseorang karena dia adalah orang tua kandung kita memang bisa diterima oleh akal sehat. Namun bagaimana jadinya ketika orang yang kita hargai tersebut melakukan kecurangan? Masihkah kita menghormatinya? Bagi mereka yang suka mendendam tentu hal ini tidak akan berjalan dengan mudah. Selama dendam itu belum dilupakan maka selama itu pula kehidupan kita semakin menjauh dari sikap-sikap yang baik.

  6. Dia pernah baik pada saya.

    Alasan ini merupakan sebuah dorongan yang umum di antara orang-orang duniawi. Jika anda bagus ke saya maka saya pun akan bagus ke anda, demikian sebaliknya, bila anda buruk ke saya maka saya pun akan jauh lebih buruk lagi ke anda. Tentulah berbagi dengan cara seperti ini kurang mengena di dalam hati. Sebab dengan berlaku demikian, kita cenderung membeda-bedakan orang. Padahal semua manusia setara di mata Tuhan.

  7. Saya lagi senang/ beruntung.

    Sepertinya mudah sekali untuk berbagi kepada sesama saat kita sedang beruntung, misalnya menang undian/ lotre. Terlebih ketika hadiah yang diperoleh cukup besar sehingga rasa-rasanya untuk memberi, semudah membuang angin. Padahal yang namanya keberuntungan dan kemenangan tidak selalu ada tiap hari. Lalau bagaimana hari-hari lainnya dapat anda lalui? Padahal mustahil kita bisa hidup normal dari hari ke hari kalau tidak mau berbagi yang baik karena hati memahit, hidup terus sial .

  8. Saya ingin diperhatikan, dibaikkan, beruntung dan diberkati.

    Apa rupa-rupa keinginan yang pernah terbesit di dalam benak kita? Saat yang dikehendaki tersebut mulai diharapkan maka ada dorongan dari dalam hati untuk lebih banyak berbuat baik dari waktu ke waktu. Alasan semacam ini memang sangat memotivasi kita agar terus dan terus berbuat apa-apa saja yang layak untuk dihaturkan ke hadapan orang lain. Akan tetapi, bagaimana jadinya sikap-sikap yang kita ekspresikan saat apa yang diharapkan mulai pupus dan kandas di tengah jalan? Jangan-jangan kita mulai menyesali diri lalu berbalik arah menjadi acuh tak acuh.

  9. Karena itu adalah tupoksi saya.

    Tugas-tugas yang diberikan kepada kita adalah untuk melayani sesama. Bekerja di depan dan terhubung dengan masyarakat luas membuat kita selalu berupaya untuk bersikap santun bahkan saat menghadapi seseorang yang kurang ramah sekali pun.Namun bagaimana jadinya semangat untuk melayani tersebut jika kita sedang diperhadapkan dengan soal-soal kehidupan yang datang secara beruntun (bertubi-tubi)? Masihkah kita fokus melayani dengan lembut tatkala diperhadapkan dengan orang yang kasar angkuh yang kampungan? Di atas semuanya itu, kalahkanlah kekasaran dengan kelemahlembutan. Seperti ada tertulis.

    (Roma 12:21) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

  10. Karena panggilan jiwa: panggilan Tuhan.

    Kebaikan adalah panggilan jiwa tiap-tiap manusia. Tidak ada manusia yang tidak rindu untuk melakukannya. Justru tanpa menemukan kebermanfaatan hidup, kita bisa dihantui kekosongan. Alasan utama untuk melakukan kebajikan adalah karena telah terlebih dahulu menikmati kemurahan hati Tuhan di sepanjang umur yang telah dilalui. Jadi mengapa kita pelit berbagi? Bukankah kita ingin mengucapkan terimakasih atas kemurahan hati Allah? Jadi, berbagilah, seperti ada tertulis.

    (Matius 25:40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

    Hindari fokus kepada manusia saat anda hendak memberi sesuatu. Saat fokus kepada orangnya (objek), kita akan ditawan oleh ingatan-ingatan suram menyangkut orang tersebut. Akibatnya gambaran-gambaran buruk masa lalu itulah yang membuat nyali menciut, dimana ujung-ujungnya enggan mewujudkan niat baik tersebut.

    Pada tahapan ini, kita perlu belajar membuang masa lalu yang buruk-buruk lalu memusatkan pikiran hanya kepada Tuhan saja atau bisa juga mempelajari dan mengerjakan hal-hal yang positif di sekitar kita. Serta di sela-sela semuanya itu, berupaya untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dimana teknik terbaik untuk melakukannya adalah dengan “menghadiahkan kebaikan kepada orang lain, dimana sebenarnya ditujukan untuk kemuliaan nama Tuhan.” Alias “anggaplah bahwa setiap hal baik yang anda lakukan kepada seseorang adalah kado untuk Tuhan.”Seperti ada tertulis.

    (Kolose 3:23) Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain?

Dimana ada perbuatan baik disitu ada pengorbanan. Lalu apa yang pantas untuk kita korbankan di dalam kehidupan ini? Bukankah kita datang ke dunia tak bawa apa-apa dan berpulang ke sorga juga tak membawa apa-apa? Akan tetapi, kita telah diberikan berbagai-bagai hal atau lebih tepatnya telah melatih dan menambang banyak hal selama hidup: itulah yang perlu dibagikan kepada sesama seadil-adilnya. Baik dari segi pengetahuan, bagikan secara merata; baik harta, bagikan secara merata; maupun kekuasaan, terbagi secara adil. Ketiga hal ini terutama dibutuhkan dalam lingkup luas organisasi (sistem). Sedang, manusia itu sendiri hanya wajib untuk memberikan atau membagikan apa yang sanggup diberinya. Lebih dari itu, biarkanlah Tuhan yang bekerja atas kita.

Mulailah memberi dari dalam diri sendiri,. Kemampuan/ potensi yang kita miliki merupakan sebuah bakat yang selalu ada untuk dibagikan kepada orang lain, baik lewat pekerjaan maupun pendidikan yang ditempuh. Hal lainnya yang bisa kita bagikan adalah sikap, baik perkataan maupun perbuatan sehari-hari. Justru sikap tidak terbatas untuk dibagikan kepada siapa pun, akan selalu ada dan selalu bisa diekspresikan asalkan kondisi kesehatan fisik tetap terjaga primadona. Jadi, bukankah itu bisa diberikan secara cuma-cuma, seolah-olah sedang memberi hadiah kepada sesama? Untuk apa memberikan sesuatu yang terbatas? Pastikanlah bahwa kebaikan tersebut selalu ada sepanjang usia kita selama di bumi ini sehingga bisa terus-menerus diberikan kepada siapa saja.

Menurut kami , berikanlah korban yang anda ketahui selalu ada, misalnya ramah tamah: senyum, sapa, salam, mengucapkan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik. Sebab sikap ini tidak akan pernah habis dari dalam diri kita. Yang perlu ditingkatkan dari kebaikan tersebut adalah kerendahan hati dan siap uji atas tiap-tiap hal yang kita bagikan. Serta pelajaran paling penting adalah lakukanlah dengan konsisten, lama-lama juga nanti terbiasa. Saat kita sudah terbiasa ramah maka sikap-sikap tersbut akan keluar secara otomatis, luwes tanpa terbeban sama sekali bahkan sekali pun diperhadapkan dengan pengabaian yang bertubi-tubi.

Kesimpulan

Hindari memandang manusianya saat kita hendak melakukan kebajikan. Memang fokus kepada orang tertentu pertama-tema akan berjalan lancar. Akan tetapi, lama-kelamaan satelah mengetahui tabiat buruknya, kita menjadi jemu berbagi kepada orang tersebut. Terlebih ketika si dianya terus-menerus acuh tak acuh. Namun, lain halnya ketika setiap tindak tanduk kita di dunia ini, dilandaskan terhadap pengenalan akan Tuhan dan diberikan tanpa pamrih. Apa pun tanggapan mereka, kita tidak begitu memusingkannya, yang terpenting adalah bagikan hadiahnya sebanyak-banyaknya dengan cerdik namun tetap tulus. Sebab lebih limpah lagi kebaikan Tuhan yang pernah dirasakan selama kita hidup di dunia ini. Jadilah pribadi pengasih dan penyayang yang mau menyenangkan Tuhan dan bukan hendak menyenangkan manusia.

Salam, Motivasi berbuat kebajikan
sangat menentukan ketahanan mental
ketika diperhadapkan dengan soal-soal.
Semakin mantap motivasinya
makin konsisten kebaikannya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.