Manusia Tidak Dahsyat, Hebat dan Luar Biasa Tetapi Itu Milik Tuhan – Manusia Tidak Lebih Unggul Dari Sesamanya

Manusia Tidak Dahsyat, Hebat dan Luar Biasa Tetapi Itu Milik Tuhan – Manusia Tidak Lebih Unggul Dari Sesamanya

Biar bagaimana pun, kita tidak bisa memungkiri ketidaksempurnaan ini: itulah alasan esensial yang membuat kita butuh Allah

Tuhan selalu di hati kita sampai kapan pun. Dapatkah anda merasakannya? Bukan karena kita hebat dan bukan pula karena kita sempurna. Melainkan karena kita lemah maka kita butuh keberadaan-Nya. Sesungguhnya, jika manusia adalah makhluk yang sempurna, berarti ia tidak butuh siapa-siap. Mampu hidup sendiri, membuat makanan sendiri, membuat minuman sendiri dan membuat barang-barang kebutuhan lainnya sendiri. Inilah pertanda kesempurnaan, bisa melakukan segala sesuatu seorang diri saja. Jadi, ketidaksempurnaan manusia membuatnya membutuhkan peran sesamanya, makhluk hidup lain dan alam sekitar sebagai penopang kehidupan. Bukankah semuanya itu adalah ciptaan Tuhan?

Baik jasmani maupun rohani, semua sudah disediakan Tuhan. Jangan tahan diri lambat mengasihi Allah secara utuh dan mengasihi sesama dengan adil.

Tidak cukup sampai kebutuhan materi saja yang diperoleh dari Tuhan. Tetapi kebutuhan inti-utamanya juga kita peroleh dari Sang Khalik, yakni sesuatu yang tak kasat mata tetapi dapat menerangi mata hati. Kebutuhan ini lebih dikenal sebagai kebutuhan rohani. Jiwa yang selalu bahagia dan tenang tidak kita peroleh dari dunia ini sebab berbagai macam kepentingan tumpah ruah di sekitar. Bagaimana hati bisa tenang, di saat dunia bergemuruh? Mampukah kita untuk tetap bahagia, ketika tekanan hidup mulai datang dari berbagai sudut? Di sinilah Tuhan berperan menuntun kita dalam kebenaran hakiki. Mengajari kita untuk mengasihi Sang Khalik seutuhnya dan mengasihi sesama dengan adil (seperti diri sendiri).

Lagu-lagu pujian dan penyembahan kepada Sang Pencipta menunjukkan betapa dahsyat, hebat dan luar biasa karyanya memenuhi alam semesta.

Sebagai orang yang percaya terhadap kemahakuasaan Allah, sudah kewajiban kita untuk memuja-mujinya disegala waktu, jika itu mungkin. Lagu-lagu tentang kedahsyatan perbuatan-Nya, terus kita nyanyikan, bisakah anda menyaksikan dan memberi contohnya? Coba rasakan betapa hangat bahkan panasnya sinar matahari tetapi bumi tidak sampai terbakar karenanya, siapa yang menyeimbangankan itu kalau bukan Tuhan? Lihatlah ombak-ombak besar bergulung-gulung tetapi tidak sampai melewati garis pantai: tendangan ombaknya hanya berlaku di pinggir pantai saja. Atau siapakah yang dapat menimbun jutaan kubik air di atas angin, tetapi tidak pernah jatuh membanjiri bumi. Dan masih banyak peristiwa alam luar biasa di sekitar kita yang merupakan hasil dari ciptaan Yang Maha Mulia. Bukankah semua keistimewaan ini menunjukkan bahwa Dialah pribadi yang hebat dan dahsyat itu?

Kita terbawa emosi saat menyanyikan lagu-lagu rohani sehingga merasa diri sudah lebih hebat karena kita anak Tuhan. Saat pikiran semacam ini muncul, sangkallah dirimu, sebab itu adalah keangkuhan. Pandailah memilah-milah persepsi/ pendapat/ asumsi tentang segala sesuatu.

Berhati-hatilah, hindari mencampur-adukkan semuanya. Kalau Allah adalah pribadi di atas rata-rata, bukan berarti kehidupan kita pun berada di atas rata-rata.

Sayang, ada beberapa orang yang rancu pemahamannya. Berpikir bahwa kalau dirinya telah menjadi anak Tuhan maka hidupnya akan menjadi dahsyat, hebat, luar biasa di atas rata-rata. Padahal dengan berpikiran demikian, rasa sombong terpupuk di dalam hati. Tidak cukup sampai di situ saja. Ia juga merasa bahwa orang lain perlu menghargai & menghormati dirinya lebih dari rata-rata manusia. Padahal dengan berlaku demikian, dia menyamakan diri dengan tuhan yang berkuasa, mulia dan terkenal. Sadarilah bahwa sebesar apa pun berkat yang kita terima, jangan jadikan itu sebagai kebanggaan sumber kesenangan sebab nikmatnya hanya sesaat saja. Malahan, kebiasaan buruk ini menjadikan kita lebih jahat dari penjahat: sebab kulit luarnya alim namun maksud hatinya lalim.

Firman berisi tentang keunggulan orang percaya di antara orang fasik pada abad kegelapan. Tetapi zaman sekarang, mana boleh kita merasa lebih baik dari anak Tuhan lainnya?

Berhati-hatilah saat memahami Kitab Suci. Memang ada bagian tertentu yang menunjukkan betapa unggulnya anak Tuhan dibandingkan dengan bangsa lain di sekitarnya. Sadarilah bahwa itu peristiwa yang sudah lama sekali dimana orang Israel hidup di tengah-tengah bangsa fasik, penyembah berhala, pembunuh dan perilaku keji lainnya. Sedang zaman sekarang, tidak boleh kita lebih unggul dari orang lain sebab semua yang ada di sekeliling kita adalah anak-anak Tuhan lainnya yang percaya Yesus, sama seperti kita. Adalah salah besar memakai firman yang digunakan untuk membandingkan orang percaya dan orang fasik. Lantas, kita pun melakukan hal yang sama dengan membandingkan lebihnya kita dari mereka yang seiman.

Stop menghakimi: bukankah saat ini semua orang percaya Yesus? Kalau pun ada yang tidak, tetap saja Allah mengehendaki agar kita mengasihi sesama secara adil.

Dunia zaman sekarang sudah berbeda. Kita perlu keluar dari konteks perjanjian lama yang berkisah tentang cara orang Israel bertahan bahkan melawan bangsa kafir di sekelilingnya. Sedang sekarang ini, coba amati baik-baik sekeliling anda, apakah ada orang kafir, penyembah berhala, pembunuh? Jelas tidak ada, sebab orang kristen diajak Tuhan Yesus untuk tidak menghakimi sesamanya. Lantas, terhadap siapa kita membanggakan diri? Membuat seolah-olah diri sendiri lebih hebat materi dan lebih dihormati dibandingkan orang percaya lainnya? Di sinilah firman Tuhan sangat mengena tentang kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Kita wajib memperlakukan orang lain secara adil sebab zaman sekarang semua orang percaya Tuhan Yesus Kristus. Jadi tunggu apa lagi: mari setarakan pengetahuan umum, pendapatan dan kekuasaan.

Kesimpulan

Dalam dunia sandiwara, kita bisa lebih baik. Dalam game, kita bisa lebih hebat. Dan dalam dunia maya kita bisa lebih unggul dari orang lain. Tetapi di dunia nyata, semua manusia sama. Hindari melebih-lebihkan diri sendiri agar hati tidak berbangga-bangga menyombongkan diri. Sebab semua manusia adalah anak Tuhan. Pandai-pandailah memilah-milah kehidupan dan pastikan anda selalu menempatkan sesuatu sesuai tempat dan waktunya.

Kami tahu dan kami pun sadar, sebab campur aduk rasa ini pun pernah kami rasakan dahulu. Ketika firman Tuhan berkata dahsyat, hebat dan luar biasa: kami pun bersorak dan hati bergirang karena secara tidak langsung kami pun merasa bahwa “kalau Tuhanku demikian, aku juga demikian dong….” Kami harap perasaan yang menyetarakan kekuatan Allah dengan kekuatan kita, perlu dipotong secara perlahan-lahan sampai habis. Hati-hati berasumsi, hindarilah mencampur adukkan semuanya. Ingatlah dengan batas-batasnya. Kita diajarkan Tuhan untuk mengkopi-paste (meniru) cara hidup yang penuh kasih. Memang benar, di abad awal kekristenan, orang yang beriman lebih unggul dari yang lainnya. Perlu dipahami bahwa pada zaman itu, orang percaya hidup di tengah-tengah bangsa kafir. Lantas, di zaman sekarang, siapa yang kafir? Bukankah semua orang hidup damai, tenteram dan makmur bersama-sama? Jadi, tidaklah pantas bila kita membuat aturan ini-itu sedemikian rupa agar terkesan lebih dari sesama orang percaya.

Salam, Di masa lalu anak Tuhan
jauh lebih baik dari
orang yang tidak mengenal Allah.
Zaman sekarang,
siapa yang tidak mengenal Allah?
Tidaklah patut melebihkan diri
dari sesama orang percaya lainnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.