Gede Rasa (GR) Menyebabkan Kesombongan Dan Tidak Tahu Diri

Setiap manusia lahir dalam kekosongan, membangun hidup dari inkonsistensi, untuk menemukan esensi dari kebenaran hakiki.

Kita diutus ke dunia ini dalam keadaan nihil: tidak ada apa-apa sama sekali dan tidak ada pengetahuan sama sekali dalam kondisi yang paling lemah. Pada saat-saat kekosongan tersebutlah kehidupan kita berada di jalur yang tidak menentu, kadang mau ke kanan dan kadang mau ke kiri. Tidak ada yang ditempuh secara konsisten sebab kita belum dewasa dan masih mencari-cari apa yang menjadi pegangan hidup. Kita mencoba segala sesuatu tetapi tidak ada sesuatu yang benar-benar terasa aman; sebab melakukan kejahatan, ada deritanya dan melakukankebenaran, ada pula deritanya. Kita bingung mau menempuh yang mana sedangkan keputusan yang hendak diambil tidak tertulis secara eksplisit (langsung) maupun implisit (tidak langsung) di dalam Kitab Suci yang dimiliki.

Kita mencoba-coba hidup dalam hawa nafsu sehingga bisa menentukan batas-batasnya.

Sebagai sebatang kara yang hidup di tengah hiruk-pikuk alam semesta, kita diperhadapkan dalam banyak hal-hal baru. Sementara diri ini sama sekali belum dibekali apa pun tentang hal-hal tersebut karena umur masih sangat muda dan daya tangkap terhadap informasi serta pengetahuan sangat minim. Saat kita bingung karena tidak ada orang yang dapat ditanyai di bumi tempat kita merantau, pilihannya adalah ikuti hawa nafsu saja. Pas terjebak dalam keterbatasan dana, mulai berpikir dua kali untuk membiarkan diri ditarik lagi dalam nafsu yang berlebihan. Sambil terus berjalan menapaki kaki, lirik sana-sini untuk menemukan sesuatu yang dicari. Padahal, sama-sekali tidak tahu apa itu yang sedang dicarinya? Simak juga, Manfaat memiliki hawa nafsu.

Saat hidup hampa, hati terpikat pada gemerlapan dunia, membuat kita terperdaya oleh cerita-cerita bohong yang juga berujung hampa

Di tengah-tengah kemudaan yang hampa, kita lantas mencari tahu lebih dalam lagi tentang sesuatu yang bahkan tidak pernah diraba dan dilihat. Mengikuti media-media yang menawarkan janji-janji nafsu selangit. Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan bagi para pemula yang masih sangat muda. Menggambarkan kehidupan tokoh yang mirip-mirip dengan hidup yang kita alami sehari-hari: penuh tekanan, hinaan tapi seorang pejuang yang tangguh. Lantas kita pun turut merasa bahwa artis yang memerankan film tersebut adalah kita, maka seperti itulah masa depan kita kelak. Lalu rasa GR tersebut secara otomatis langsung menciptakan rasa percaya diri yang tinggi sehingga beberapa dari sifat yang muncul dikotori oleh kesombongan yang hampir-hampir kelewat batas tidak tahu diri. Saksikanlah, Kehidupan nyata tidak sebombastis film.

Tutur kata penuh angkuh, perilaku penuh emosi; karena pikiran tertuju kepada yang megah-megah

Gaya bicara kepada kawan yang biasanya datar mulai terdengar pongah. Terlebih ketika privasi dirasa terganggu oleh situasi yang sedang bergulir akan memunculkan tindakan yang agresif. Sedang masalah yang satu belum selesai, sudah muncul masalah lainnya karena terlalu mempertahankan ego. Hubungan dengan orang lain pun mulai retak akibat banyaknya gangguan kecil yang ditanggapi dengan penuh emosional. Terlebih ketika apa yang diiming-imingi selama ini, nyatanya tidak kunjung terwujud. Merasa tertekan mental, bukan karena perilaku orang lain tetapi karena tingginya rasa bersalah yang memperberat hati. Hidup yang seharusnya mudah malah diberat-beratkan. Ditambah berat lagikarena terlalu mendambakan yang berkelas – bintang lima sehingga berada di ujung depresi berat.

Kesalahan yang memalukan bukan untuk ditangisi melainkan untuk dikoreksi dan diperbaiki

Saat kita mulai tidak senang menjadi diri sendiri karena banyaknya kesalahan yang mempermalukan diri sendiri . Sudah saatnya kita untuk mulai menarik diri dari kehidupan yang biasa dijalani. Mengambil waktu untuk menyendiri sambil melakukan berbagai telaah terhadap masa-masa silam yang telah berlalu. Mencari apa yang menjadi titik-titik kesalahan yang menyebabkan beragam distorsi sehingga menimbulkan rasa sakit. Tidak fokus membahas apa kesalahan orang lain di masa lalu melainkan fokus pada apa kesalahan sendiri yang berpengaruh terhadap memburuknya hidup. Bila sudah ditemukan lalu mulailah catat semuanya itu, kemudian ingat-ingat daftarnya agar di masa depan kekhilafan semacam itu tidak dilakukan lagi.

Terima kenyataan bahwa kita sempat GR, terlalu mengincar hal-hal besar kelas pesiar. Sebab ketidakikhlasan membuat sifat jahat berkembang seperti kanker.

Saat menelaah kehidupan masa muda yang telah berlalu secara baik-baik. Kita akan menemukan bahwa pada berbagai segmen kehidupan, kita lebih peduli terhadap karya seni karangan manusia karena menawarkan kenikmatan dan kemuliaan duniawi bintang lima. Memang nyata nikmatnya, saat pertama gede rasa (GR) berkembang di dalam pikiran ini. Akan tetapi lama-kelamaan sifat yang kege-eran tersebut mulai tidak masuk akal lalu meredup yang digantikan oleh realitas yang memahitkan hati. Tepat saat kita mulai tidak mau ikhlas menerima kenyataanb, tepat saat itulah situasi mental dalam keadaan labil. Distorsi sepele saja yang terjadi di luar sana bisa membuat sakit hati. Kekhilafan orang lain turut membuat kita pusing, masalah semakin bertumpuk-tumpuk. Kepala mulai meledak sebab amarah tak tertahankan lagi. Pada posisi inilah, manusia yang GR terjatuh karena persoalan yang diciptakannya sendiri.

Sumber-sumber yang mengawali sifat-sifat GR.

Gede rasa adalah suatu sifat yang timbul dari tingginya ekspektasi terhadap masa depan. Pada awalnya, ekspektasi yang di atas angin tersebut terbentuk lewat pengaruh yang dibawa oleh media lokal, nasional maupun internasional. Serta turut pula terbius oleh puji-pujian yang dihaturkan oleh sesama terhadap keunggulan kita. Mereka yang masih muda dan belum berpengalaman juga tidak paham apa-apa soal pahit-getirnya kehidupan yang harus dijalani oleh tiap-tiap manusia. Akan dengan mudah terhasut oleh pengaruh zaman yang datang dari delapan penjuru mata angin. Oleh karena itu, berhati-hatilah menanggapi berbagai informasi yang datang, baik yang dimuat oleh media cetak, elektronik dan online; termasuk saat menanggapi pujian dari sesama manusia.

Kege-eran akan mengawali/ memicu sifat-sifat buruk lainnya.

Terlalu fokus terhadap satu-dua jenis karya seni bisa mengacaukan keadaan kita. Ketahuilah bahwa karena terlalu gede rasa, kita menjadi kepedeaan saat bersikap kepada siapa pun. `Pengharapan selangit yang ditawarkan dunia merupaan salah satu  daya tarik yang mendorong kita untuk terus berusaha keras hingga terkesan lebay. Akan tetapi, kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi akanberlarut-larutmenyusahkan hati. Keadaan ini semakin dipertegas oleh banyaknya kesalahan yang kita lakukan sendiri. Ditambah lagi oleh tingkat kepuasan diri yang menurun drastis, membuat emosi menjadi temperamen menanggapi berbagai gesekan kecil yang terjadi. Pujian dari orang-orang yang sengaja menjebak kita dapat menimbulkan sifat sombong sehingga turut membuat sikap semakin aburadul tidak jelas.

Para pemuda, hindari fokus dengan rancangan manusia tetapi fokuslah kepada rencana Sang Pencipta.

Oleh karena itu, bagi teman-teman kami yang masih muda-mudi, jangan terlalu fokus kepada karya tangan buatan manusia yang disebut sebagai cerpen, novel, film, sinetron, film pendek (FTV) dan lain sebagainya. Kisah-kisah yang mereka angkat ke ruang keluarga memang mirip-mirip dengan apa yang kita jalani sehari-hari. Tetapi, bukan dalam arti bahwa nasib kita akan sama dengan aktor/ aktris tersebut. Demikian juga saat datang pujian dari sesama, jangan langsung tinggi hati yang beresiko menarik keluar sifat menjadi tidak karu-karuan. Bisa saja sikap hati (pikiran) dan sikap hidup(perkataan dan perbuatan) lebih kepada tidak tahu diri karena percaya diri yang terlalu tinggi. Kita akan terjebak dalam kesalahan sendiri dan hubungan acak-acakan dengan sesama yang membuat hidup semakin tidak tenang.

Pengertian

Sifat yang GR adalah kelebihan muatan percaya diri yang membuat seseorang menjadi sombong sampai tidak tahu diri. Biasanya keadaan ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk karena dukungan dari media tertentu dan sesama manusia yang turut mengompori. Karya seni yang dihasilkan manusia adalah sebuah candu yang beresiko tinggi membuat kita terlena memimpikan kebesaran dan kemegahan duniawi serta berbagai layanan bintang lima lainnya. Padahal semuanya itu, hanya terjadi di balik kamera yang berbeda jauh dari dunia nyata. Semakin fokus hidup terhadap media-media yang adamakin terusir kedamaian dan ketenteraman dari dalam hati sendiri. Sedang sifat mulai menjahat sebagai balasan atas kenyataan pahit yang lebih banyak tidak sesuai dengan yang diharapkan.Cara-cara utama untuk mengatasi sifat-sifat GR adalah tetap fokus kepada Tuhan& rencana-Nya,mengasihi sesama, ikhlas menjalani hidup, rendah hati bersikap, siap menjalani derasnya pencobaan dan berupaya untuk tidak candu terhadap materi serta kemuliaan duniawi apa pun.

Kiat singkat mengatasi rasa GR adalah

(1) tetap fokus kepada Tuhan & rencana-Nya,
(2) mengasihi sesama,
(3) ikhlas menjalani hidup,
(4) rendah hati bersikap,
(5) siap menjalani derasnya pencobaan dan
(6) berupaya untuk tidak candu terhadap materi duniawi serta
(7) menghindari kegilaan terhadap kemuliaan duniawi apa pun.

Kesimpulan

Gede rasa disebabkan oleh kurangnya pengalaman: terlalu asyik sampai terlena menyaksikan media karya seni fiktif hasil manipulasi dan pujian-pujian yang menjebak. Seorang pemula tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada di bawah pengaruh orang lain yang dengan sengaja memancing dan memupuk sifat-sifat yang kege-eran tersebut. Keadaan ini bisa membuat hati menyombong lalu sikap memburuk. Sebab pada momen-momen tertentu, muncul kesan percaya diri berlebihan sehingga cenderung tidak tahu diri (over acting). Sebelum kita menghancurkan diri karena banyaknya kesalahan yang kita buat sendiri, sebaiknya mulai koreksi hati & sikap serta alihkan fokus dari karya seni rancangan manusia kepada rencana & rancangan Tuhan, yaitu kebenaran hakiki. Adakah yang lebih menenteramkan jiwa selain memuji dan memuliakan Tuhan seutuhnya serta adakah yang lebih mendamaikan hidup selain mengasihi sesama dalam kesetaraan (seadil-adilnya)?

Salam, Gede rasa itu biasa,
Orang yang sadar
merendahkan hati.
Orang yang terlena
meningikan diri.
Fokus pada karya manusia
membuat tidak tau diri.
Fokus kebenaran hakiki
damai & tenteram sehari-hari
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.