3 Kunci Kebahagiaan – Tritunggal Menjadi Bahagia: Bersyukur, Merasa Cukup & Berpuas Diri

Target duniawi yang belum terwujud, membuat bahagianya hati tertambat.

Apa yang lebih penting dari kebahagiaan? Kalau ada yang lebih penting dari rasa ini, silahkan kejarlah itu dan rasakan sendiri apa yang anda temukan dibalik semuanya pencarian tersbut. Mungkin saja yang anda kejar adalah kesuksesan, selalu sadarilah bahwa sebelum mencapai sukses maka tidak ada ketenangan di dalam hati. Itulah masalahnya ketika kita memasang target lain selama hidup di dunia ini; saat target tersebut belum tercapai maka tidak akan ada rasa lega di dalam hati. Di sinilah akan terasa jelas kepada kita, bagaimana rasanya hidup di dalam berbagai keinginan duniawi yang dijalani: tidak ada ketenteraman hati sebelum hal-hal tersebut dapat diwujudkan.

Nafsu besar atau kecil terhadap dunia, bisa membuat semangat membahana, bila tidak terwujud akan berakhir kecewa.

Kecil-besar keinginan terhadap materi, mendorong pikiran untuk mengharapkannya di masa depan. Pada kadar yang wajar, keinginan semacam ini dapat mendatangkan semangat hidup untuk terus dan tetap hidup, sekali pun badai merintangi. Akan tetapi, lain halnya ketika besar-kecilnya keinginan kita, sangat dinanti-nantikan, seolah itu sangat penting atau lebih penting dari apa-pun. Mengingat-ingat hal tersebut memang berasa sangat baik, seolah-olah kita sudah memilikinya. Tenggelam dalam lamunan yang menciptakan kesenangannya sendiri. Akan tetapi, lain halnya ketika kita menyadari kebodohan tersebut atau secara tidak sengaja dihentakkan/ disadarkan oleh kerasnya pergumulan hidup. Tepat saat itulah pengharapan yang biasanya menyenangkan berubah menjadi kecewa yang memeras hati sampai berasa sakit.

Impian kita benar atau salah, dapat membuat hidup senang gagah, tenggelam dalam bayang-bayang lemah, yang beresiko menina-bobokan hati pun runtuh.

Salah benar jalan yang kita tempuh untuk meraih kenikmatan dan kemuliaan duniawi, pasti bisa mendatangkan kesenangan. Keinginan akan sesuatu yang enak-enak membuat kita berfantasi dalam kesenangan. Menginginkan posisi yang tinggi di dalam masyarakat, terbayang-bayang di dalam pikiran sehingga sempat juga membuat senang. Baru menginginkan saja, senangnya minta ampun, padahal tidak ada apa-apa di tangan mau pun di sekitar kita. Pada suatu waktu, kita disadarkan oleh orang lain terhadap pengharapan omong kosong tersebut. Sedang soal-soal yang timbul dalam kehidupan sehari-hari juga menyadarkan kita dari sifat GR (gede rasa) yang selalu merasa sudah memiliki semuanya itu: padahal nihil sama sekali. Lamunan kitalah yang meracuni pikiran sendiri.

Teknologi menawarkan api kecil dari pengharapan, tapi itu hanyalah mimpi penuh kesia-siaan, karena dunia ini tidak selalu menjadi kawan yang setia.

Kenikmatan dan kemuliaan duniawi memang sangat memukau indra saat disaksikan dari jauh. Ketika televisi dan media lainnya mengintimidasi kita bahwa hal tersebut bisa kita miliki asal berusaha sekeras-kerasnya, saat itulah mulai timbul api harapan kecil. Sekali pun api harapan tersebut sangat kecil tetapi tidak kunjung mati juga karena kita sangat melindungi dan memercayainya. Menyembunyikannya dari dunia dan menyimpannya di dalam lubuk hati yang paling dalam. Kadang memanas-manasi pengharapan duniawi tersebut sehingga timbullah rasa senang dalam imajinasi yang panjang. Padahal, kesemua pengharapan yang tinggi-besar tersebut hanya angin yang tidak ada faedahnya, khayalan yang lenyap dalam semalam setelah dirintangi oleh cobaan hidup. Semuanya itu mustahil bisa memberikan rasa senang yang terus-menerus sebab pendapatan duniawi (gaji saja) putus-putus dan ada waktunya berhenti (hanya terima di awal/ akhir bulan saja).

Kejar dan lakulanlah apa saja yang selalu ada, lakukanlah apa yang baik dan benar di mana-mana, sebab dunia dengan segala yang ada akan berakhir hampa.

Sadar atau tidak, seberapa pun umur anda saat ini, yang namanya kebahagiaan yang berlaku terus-menerus sangatlah dibutuhkan. Akan tetapi, ketika mengait-ngaitkan rasa bahagia itu dengan kenikmatan besar dan kemuliaan tinggi: ketahuilah bahwa rasa bahagiamu akan segera terputus lalu terhentak menjadi rasa sakit. Oleh karena itu, jagalah rasa pikiran tetap berkomitmen terhadap hal-hal sederhana yang selalu ada dan selalu bisa dilakukan dari waktu ke waktu. Sebab tanpa pikiran yang selalu aktif maka ada kecenderungan untuk bangkitnya keinginan akan materi yang tinggi-besar. Sekalipun, di sisimu sudah ada banyak uang dan jabatan yang bisa membeli rasa senang, sadarilah bahwa itu hanya sesaat saja. Lagi pula selalu dan terlalu sering menikmati hal-hal duniawi tersebut, semakin cepat kebosanan meradang. Oleh sebab itu, jangan jadikan apa pun yang ada di dunia ini sebagai satu-satunya sumber kesenangan. Sadarilah juga bahwa di sisi lain ada kebenaran yang menjadi sumber kebahagiaan.

Bijak-bijaklah memadukan tujuan-tujuan duniawi dengan sorgawi, tegakkan kebenaran hakiki di tengah gemerlapan duniawi.

Sadar atau tidak, satu-satunya yang selalu ada dan akan terus ada adalah aktivitas melakukan yang baik dan benar dari waktu ke waktu. Sebab harta benda bisa terbakar dan membusuk. Sedang nama besar bisa usang, pindah jabatan dan lenyap pada waktunya. Akan tetapi, mengasihi Tuhan dengan benar seutuhnya dan mengasihi sesama dengan adil baik merupakan sebuah panggilan hidup yang akan terus ada dari masa ke masa, selama kita hidup di dunia ini. Bahkan setelah berpulang ke pangkuan Bapa di sorga,hal-hal baik dan benar yang dahulu kita perjuangkan akan dituai pada masanya. Jadi, orang yang bijak mampu memadukan antara pencarian duniawi dan pencarian sorgawi dalam kehidupannya. Artinya, dalam pencarian duniawi yang dilakukannya selalu dilandaskan dengan aturan kebenaran hakiki. Serta di tengah pencarian duniawi tersebut turut pula dicari kebenaran hakiki. Agar materi duniawi bisa terhubung dengan baik terhadap kebenaran hakiki, yang dibutuhkan adalah bersyukur, merasa cukup dan berpuas diri.

1. Merasa puas dengan pencapaian yang diraih

Mustahil juga bagi kita, orang-orang duniawi untuk meninggalkan perkara dunia. Akan tetapi, baiklah kita dalam pencarian tersebut mengedepankan cara-cara yang benar. Di dalam dunia yang fana, sebesar apakah materi yang kita inginkan? Lalu setinggi apakah jabatan yang kita impikan? Sadarilah selalu bahwa ketika hal-hal yang kita iming-imingi tersebut belum tercapai maka tidak ada rasa tenang di dalam hati. Pikiran terus berputar kencang: bagaimana caranya untuk memiliki atau menduduki ini dan itu, ujung-ujungnya berubah gelisah! Bila ini terus terjadi, tidak akan ada sisa-sisa kebahagiaan di dalam hati karena pikiran bercabang-cabang meremukkan akal sehat. Akan tetapi, saat kita merasa puas dengan segala pencapaian yang telah diperoleh, tepat saat itulah hati menjadi tenang dan bahagia. Sedang di segala waktu yang dimungkinkan kita selalu berupaya memuji-muji Tuhan di dalam hati (bisa juga berdoa, membaca firman). Serta selalu berupaya berbagi kasih kepada sesama manusia.

Inginkan apa saja yang baik tetapi jangan fokus kepada hal-hal yang masih jauh tersebut melainkan fokuslah pada hidup aktif positif dan berpuas diri dengan apa yang telah diraih.

2. Merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki

Tidak mungkin kita meninggalkan sama sekali berbagai pencarian terhadap hal-hal duniawi sebab tubuh ini pun membutuhkannya. Kita perlu juga yang namanya usaha untuk menggapai apa yang dicita-citakan oleh hati sendiri. Menggunakan segala potensi yang dimiliki agar mampu meraih hidup yang lebih baik. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa fokus terus terhadap asa yang diiming-imingi. Melainkan usahakan semampunya tetapi seumur hidup fokuslah kepada kebenaran. Pencapaian yang tinggi dan besar di dalam dunia ini tidak menjamin kebahagiaan terus-menerus melainkan terbatas saja. Daripada tertawan dalam angan-angan hebat tetapi rasanya putus-putus, lebih baik merasa cukuplah dengan segala hal yang telah diraih sampai saat ini. Apa yang kita inginkan bukan untuk dipikirkan, apalagi dibahas-bahas di dalam hati. Melainkan berjuanglah semaksimal mungkin tetapi tidak mengharapkan apa pun sebab pikiran terus fokus untuk melakukan yang baik (berbagi ke sesama) dan benar (memuliakan Tuhan). Jika memang itu rezeki, maka biarlah datang sendiri; jika tidak pun, tidak ada sungut-sungut sebab kita sudah merasa cukup dengan apa yangtelah diperoleh hingga kini.

Inginkan apapun yang menurut anda baik tetapi hindari membahasnya terlalu sering secara berulang-ulang. Tetapi bahas-bahaslah kebenaran: apa yang berkenan di mata Tuhan dan baik di hadapan sesama.

Perjuangkan harapanmu semaksimal mungkin tetapi merasa cukuplah seburuk apa pun hasilnya.

3. Bersyukur dalam setiap langkah kaki

Dunia dengan segala penawaran yang ada di dalamnya telah menggoda hati kita sehingga ikut pula mencari rupiah agar mampu menawar sesuatu. Mewujudkan tujuan-tujuan duniawi adalah aktivitas keseharian kita. Tetapi, bukan berarti kita meninggalkan kebenaran hakiki di rumah. Melainkan kita selalu membawa-Nya beserta di dalam hati masing-masing. Bersyukurlah untuk semua tujuan yang dapat tercapai: itu tandanya kita selalu terhubung dengan Sang Pencipta. Memuji-muji nama-Nya sambil melakukan suatu pekerjaan lalu ketika semuanya beres, langsung bersyukur di dalam hati. Sebab Tuhan membuatnya lancar, sekali pun ada hambatan, tidak menjadi halangan. Berterimakasih karena dari berbagai aspek dan ada pula orang yang mendukung bahkan cuaca pun mendukungnya. Perkaya sudut pandang tentang rasa syukur asalkan tidak membandingkan diri sendiri dengan merendahkan capaian orang lain.

Inginkan apa saja yang mungkin untuk dimiliki secara benar tetapi bersyukur kapan saja setiap menerima kebaikan (baik dari sistem maupun dari sesama manusia).

Kesimpulan

Kebahagiaan hati adalah segalanya, mengasihi Tuhan seutuhnya dan sesama seperti diri sendiri (adil) adalah yang utama. Tetapi, bukan berarti kita harus mengabaikan berbagai keinginan duniawi dengan segala pencariannya. Melainkan carilah apa pun yang menurut kita baik dan pantas diperjuangkan. Saat apa yang kita capai tidak seperti yang diharapkan. Jangan gelisah hati melainkan merasa puaslah dengan apa yang sudah dicapai hingga detik ini. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menggapai cita & asa. Saat raihan kita tidak sesuai target, hindari bersungut-sungut melainkan merasa cukuplah dengan apa yang sudah diraih. Berjalanlah menapaki kaki ke mana pun hati tertuju. Ketika tujuan kita sudah tercapai walau masih banyak yang belum.Jangan menyesali diri tetapi bersyukurlah buat setiap tujuan yang telah terpenuhi: entah itu kecil atau besar. Sebab jalan hidup kita terlalu sia-sia jika hanya memikirkan materi namun dedikasikan jugalah hidup untuk mengasihi Allah secara utuh dan mengasihi sesama manusia dengan adil.

Salam, Merasa cukup,
merasa puas
dan bersyukurlah.
Agar semua itu,
sepahit apa pun
dapat mendatangkan
kebahagiaan yang anggun
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.