10 Manfaat Berkomentar: Bertanya, Memberi Saran & Kritik Tidaklah Buruk Tapi Kesempatan Untuk Berkembang

Kata-kata merupakan ekspresi perasaan yang dapat menjadi kekuatan untuk menghibur, menguatkan, membangun bahkan bisa melemahkan sampai menghancurkan kehidupan. Memang masih banyak cara komunikasi lainnya yang dapat menyampaikan, apa yang kita kehendaki. Kita ambil saja beberapa contoh, misalnya adalah gambar-gambar atau simbol-simbol tertentu seperti markah jalan. Bisa dengan bahasa tubuh alias bahasa isyarat seperti saat seseorang berpidato atau berbicara dengan mimik dan gerakan badan yang unik. Biasanya, gambar, tanda-tanda tertentu dan bahasa isyarat bisa diartikan lain-lain oleh tiap-tiap orang. Tetapi, lewat penyampaian kata-kata, baik secara tertulis maupun secara lisan, rata-rata pendengar bisa memahaminya dengan baik. Kecuali bila hal tersebut berkaitan dengan pengetahuan khusus untuk akademisi di bidang tertentu saja.

Tiap-tiap orang bisa di nilai dari kata-katanya. Yang pengetahuannya sudah lumayan, bisa merasa lega karena kata-kata sudah agak baik dan lancar dalam berkomunikasi. Sedang bagi yang masih muda, tidak perlu terlalu khawatir dengan tutur kata dan gaya bahasa yang masih agak kacau, namanya juga orang muda, itu wajar saja. Asalkan anda tetap berusah untuk berlatih membangun daya tangkap, rutin bertutur kata, terus menulis dan belajar memperkuat selektivitas. Niscaya keahlian komunikasi akan berubah baik secara berangsur-angsur. Hanya saja, sabarlah menantikan semuanya itu, sebab tidak ada jalur cepat untuk menjadi seorang ahli yang dewasa, terlebih untuk menjadi bijaksana butuh pengorbanan.Hindari mengorbakan sesuatu yang terbatas, janganlah sampai mengorbankan apa yang tidak ada. Melainkan korbankanlah apa yang anda ketahui terus-menerus ada, semisalnya sikap (perbuatan termasuk perkataan saat berkomunikasi).

Bagus juga rasanya kalau kita mampu mengungkapkan pendapat sendiri tentang suatu tulisan atau suatu peristiwa. Dengan demikian akan tampak dengan jelas, kemana sebenarnya fokus kita terarah  Sebab biasanya, dalam satu rangkaian kisah, mustahil semuanya kita komentari. Dari sinilah akan nampak bagaimana kepribadian seseorang, apakah dia punya masalah kepribadian negatif yang masih belum bisa di atasi atau mungkinkah dia memiliki dendam dengan orang ini atau benci terhadap kelompok itu? Sadar atau tidak, kita bisa mempelajari “siapakah aku dan bagaimanakah kepribadianku?” Dengan mengotak-atik dan membaca ulang berbagai opini yang dikeluarkan dari perbendaharaan hati, baik lisan maupun tulisan. Biasanya, bila anda seorang penulis yang sudah mendaftar di akun tertentu maka segala opini yang disampaikan pasti bisa dilihat dan dibaca ulang dari sejarahnya (histori). Simak juga kawan, “Dampak negatif menulis, menjadi penulis kepribadiannya turut dibaca orang lain.”

Pengertian

Komentar adalah opini seseorang setelah menyaksikan sesuatu, baik yang berasal dari konten manual (karya tangan/ kejadian langsung), abstrak (karya tangan dan elektronik) maupun digital (karya digital online). Karya manual bisa berupa diskusi, rapat, catatan, karangan, memo, lukisan, musik, drama dan peristiwa lainnya yang langsung disaksikan tanpa dihubungkan dengan stop kontak atau baterai. Lalu karya seni abstrak contohnya adalah buku, film, sinetron, lukisan, gambar, musik, patung dan lain sebagainya yang memang dihasilkan oleh seniman tetapi telah dibantu penyediaannya oleh mesin elektronika. Sedangkan mesin digital online adalah media sosial, blog, website, vlog dan berbagai situs lainnya di internet yang bisa diajak komunikasi dua arah (bahkan multikomunikan).

Faedah berkomentar: mengajukan pertanyaan, saran, kritik, apresiasi dan lain-lain

Kami masih ingat dulu sekali saat kami masih muda, duduk di bangku SMA dengan merasa bodoh terus-menerus tanpa berbuat apa-apa menerima segala yang di ajarkan Guru apa adanya. Memiliki ketertarikan khusus terhadap mata pelajaran biologi walau niilai tidak juara. Namun pendalam di bidang tersebut membuat diri ini bertanya-tanya tentang banyak hal. Ketertarikan ini sesungguhnya sangat berhubungan dengan kebiasaan kami dalam acara kerohanian muda-mudi untuk bertanya tentang ini dan itu soal kekristenan. Berikut akan kami ajukan beberapa manfaat yang dirasakan sendiri dari aktivitas menyampaikan pendapat.

  1. Mengembangkan keberanian.

    Pertama sekali mengajukan pertanyaan, muncullah kebimbangan di dalam hati: tanya-nggak ya, tanya-nggak ya, tanya-nggak ya…. Konflik batin semacam ini biasalah saat pertama-tama. Rasa segan itu positif pada tempatnya tetapi kalau keterlaluan juga jelas itu namanya sikap malu yang lebay. Asalkan memiliki pertanyaan yang logis, beranikanlah diri, selagi masih ada kesempatan. Jika fokus kepada kebimbangan maka tidak akan kelar sehingga jam pelajaran pun berlalu begitu saja. Oleh karena itu, fokus pada hal yang hendak ditanyakan dan jangan biarkan hati membahas hal-hal yang malah membingungkan (kebimbangan).

  2. Mengurangi kebiasaan gugup.

    Bertanya pertama-tama pasti ada kesan gugupnya, walau orang lain tidak mengamatinya namun kita merasakan hal tersbut bergetar dari kaki hingga ke bibir. Sadarilah bahwa hal tersebut hanya berlangsung di awal saja, semakin sering berdiri mengajukan pendapat atau saran maka semakin ditepis rasa gugup tersebut. Jadilah penanya yang rutin sehingga rasa gemetaran tersebut akan lenyap dengan sendirinya. Tentu saja, semuanya itu butuh waktu yang idak instan dan berbeda-beda untuk tiap orang.

  3. Menggali pengetahuan.

    Untuk menjadi komentator yang baik, butuh pengetahuan yang memadai. Setidaknya kita tahu dasar-dasar dari pengetahuan menurut bidang masing-masing. Hal-hal yang bertentangan dengan dasar-dasar tersebutlahyang perlu dipertanyakan. Dahulu juga kami saat semasih di bangku sekolah; yang selalu dipertanyakan adalah inkonsistensi dari ilmu pengetahuan yang diterima. Ketidaksesuaian antara satu unsur dan yang lainnya atau ketidak cocokan antara ini dan itu padahal masih dalam sistem yang sama, perlu dipertanyakan.

  4. Mengembangkan kesabaran.

    Pernah dulu ketika kami tidak sabar dan tidak memerhatikan arahan dari moderator, malah dibentak dan disuruh kembali ke belakang. Itu adalah kecorobohan yang paling memalukan seumur hidup. Setelah itu, kami mulai belajar menjadi penanya yang sabar. Termasuk dalam hal ini adalah sabar menunggu pertanyaan orang lain dijawab, barulah mengajukan tangan ke atas.

    Bisa saja dalam beberapa momen, kita perlu panjang sabar melupakan apa yang hendak ditanyakan sebab muncul beberapa faktor pengganggu yang membuat situasi terdistorsi. Sehingga agak canggung rasanya untuk kembali memberikan saran maupun kritik.

  5. Mengembangkan kosa kata.

    Baik berkomentar di dunia nyata maupun di dunia maya, sama-sama membawa keuntungan bagi kemajuan tata bahasa lisan/ tulisan. Tentu saja, pola-pola pengembangan di dunia maya sangat jauh berbeda di dunia nyata. Biasanya apa yang diungkapkan secara “tulisan” lebih bebas penyampaiannya. Misalnya saja saat menggunakan kata, bisa disingkat-singkat. Bahkan ungkapan kata-kata pun bisa diwakili oleh animasi atau emotikon.

    Beda banget rasanya mengomentari status sesama di dunia maya dengan berkomentar dalam forum/ rapat/ diskusi yang dilakukan di dunia nyata. Tidak boleh langsung saja asal bicara ceplas-ceplos. Semuanya harus dipikirkan baik-baikdan menunggu kesempatan yang diberikan oleh moderator. Tentulah perlu didahului dan diakhiri oleh sapaan (misalnya “selamat pagi, terimakasih” dan lain-lain.

  6. Mengembangkan sudut pandang.

    Biasanya sudut pandang yang dimiliki oleh seseorang berhubungan erat dengan caranya menilai suatu situasi. Kekuatan analisisnya akan diarahkan kemana dan sebagai apa? Ada sudut pandang masa lalu, masa depan, objek, subjek, orang ketiga, pelaku, korban, masyarakat, karyawan, pemimpin dan lain sebagainya.

    Semakin berkembang seseorang maka semkin fleksibel sudut pandang yang diambilnya. Sebab bisa saja sebuah cerita atau kisah mengandung unsur-unsur baik dan jahat. Ketrika orang tersebut lebih mengomentari sisi jahatnya berarti kehidupan yang dijalaninya lebih berat kepada kejahatan. Akan tetapi, mereka yang mampu melindungi dirinya menjadi fleksibel untuk menarik sudut pandang yang lebih elegan.

  7. Menemukan pola pikir positif.

    Cara berpikir positif tidak dipelajari dari bangku sekolah maupun kuliah. Sebab positif tidaknya pikiran sangat tergantung dengan apa yang sedang dan selalu kita bahas-bahas di dalam hati. Bahas-bahaslah perkara rohani dan puja-pujilah Tuhan niscaya kehidupan ini akan cenderung mengarah ke hal-hal positif.

    Saat seseorang menyaksikan suatu kejadian atau membaca suatu kisah, itu terlalu panjang untuk dikomentari semuanya. Orang-orang yang berpikir positif akan berkomentar terhadap hal-hal postif sedang yang berpikir negatif akan menyetujui sisi negatifnya.

    Di satu pihak, ada juga yang namanya saran dan kritik; biasanya hal semacam ini agak menyudutkan tetapi bertujuan positif untuk perbaikan. Orang bijak yang memberikan kritik negatif akan mengimbanginya dengan solusi positif. Jadi, senegatif apa pun pendapat kita terhadap sesuatu selalu imbangi dengan menyertakan solusi positif.

  8. Melatih imajinasi – visualisasi.

    Suatu cerita atau kisah, tidak akan menjadi apa-apa dalam kehidupan kita jika tidak mampu memahaminya. Apabila kita mampu membayangkan urutan kejadiannya di dalam hati, pastilah pemahaman yang dimiliki semakin jelas saja. Jadi, kembangkanlah imajinasi pada hal-hal sastra maupun akademik. Termasuktidak membatasinya dalam hal-hal positif lainnya, jika itu memungkinkan.

    Di sisi lain, saat kita sedang mempelajari sesuatu, pastilah bayang-bayang imajinasi kembali ke belakang mengingat masa lalu yang ada hubungannya dengan apa yang sedang dipelajari. Teknik imajinasi semacam ini memang hanya terjadi kadang-kadang ketika di sana-sini terjadi inkonsistensi yang perlu dipertanyakan. Ini menunjukkan bahwa pikiran sudah berkembang, tinggal masalahnya adalah bagaimana cara mengarahkannya agar dapat menghasilkan sesuatu (berkarya).

  9. Mengungkapkan perasaan/ pemikiran.

    Sadar atau tidak, lega rasanya saat mengungkapkan perasaan sendiri. Sebuah tindakan yang cukup berani ambil resiko. Tetapi, kita bisa menjadi tenang karena telah melepaskan apa yang menjadi tuntutan hati. Dengarkanlah apa kata hati sendiri maka kehidupan akan berjalan dengan penuh damai dan tenteram. Sebab saat kata hati bertolak-tolakan karena kita melawan pesan-pesan Ilahi, niscaya yang selanjutnya akan terjadi adalah kesialan dalam setiap langkah kaki. Oleh karena itu, dengar dan pertimbangkan bahkan wujudkan apa yang dipesankan oleh suara hati sendiri: itu Roh Kudus. Bukankah semua yang disampaikannya demi kebaikan dan kebenaran?

  10. Kesempatan diuji orang lain.

    Saran dan kritik yang kita sampaikan kepada seseorang atau sekelompok orang, bisa saja berterima dengan orang tersebut. Akan tetapi, kritikan yang tidak pernah diduga sebelumnya merupakan hentakan pedas yang bisa saja menimbulkan kegaduhan hati. Mereka akan mengabaikan kita, bukan karena diri ini salah melainkan karena kebenaran yang ada bersama-sama kita cukup berat untuk dilakukan.

    Jika tanggapan orang dingin terhadap komentar kita, sadarilah bahwa itu  merupakan cobaan yang cukup berat. Hindari sikap memaksakan kehendak, tetap ikhlaskanlah segala yang terjadi, suatu saat juga nanti, hal tersebut akan diikuti. Terkecuali jikalau anda sedang berada dalam posisi mengatur atau membuat peraturan maka buatlah aturan jelas yang menyangkut hal-hal tersebut. Sebaliknya, terbiasalah tetap menjadi orang baik sekali pun orang-orang di sekitar tidak lagi baik. Sebab mata anda tertuju kepada Tuhan, itulah sumber motivasi dan semangat sejati.

Kesimpulan

Kekuatan berkomentar bukanlah sesuatu yang dapat menarik manusia ke belakang melainkan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan kita ke arah yang lebih baik. Hanya saja, jadilah komentator yang terlebih dahulu telah berpengetahuan luas tentang bahan yang hendak didiskusikan. Penguasaan bahan adalah modal utama untuk menjadi penanya yang logis. Memberi saran dan kritik kepada pihak lain memang bagus. Kritikan yang pedas negatif iringilah dengan dukungan yang hangat positif sehingga ada keberpihakan seimbang dan juga opini yang seimbang. Akan tetapi, bila cuacanya sedang buruk, siap-siap sajalah diabaikan. Tidak perlu mempersoalkan apakah hal yang disarankan sudah diterima atau apakah kritikan yang kita utarakan sudah ditindaklanjuti. Hasilnya adalah urusan mereka, yang terpenting bagi kita adalah sudah menyampaikan apa yang menjadi tuntutan hati, itu sangatlah melegakan.

Salam, Memberi pendapat sah saja,
sebab kita di negara demokrasi
Pastikan opini bertujuan
membangun kehidupanl
Walau kadang melemahkan
sertai dengan solusi positif
yang rekonstruktif
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.