Khilaf-Jahatnya Orang Lain Adalah Ujian Bagi Kita, Perbedaan Khilaf Dengan Jahat

Masalah tidak butuh pemenang, tetapi butuh cerdik beradaptasi di tengah jeleknya situasi sambil tetap tulus berbuat baik kepada yang lainnya.

Pusing-pusing kepala memikirkan orang-orang di sekitar kita. Mereka seperti beban yang kadang-kadang manis untuk dipikul. Tetapi tak jarang, mereka adalah penindih yang lebih pahit dari nira. Semuanya ini tidak tergantung dari bagaimana sikap mereka ke kita, entah baik atau buruk, yang penting tidak melanggar peraturan di dalam masyarakat awam. Di sinilah kebijaksanaan kita dibutuhkan, bukan untuk mencari siapa yang menang melainkan semata-mata untuk berimprovisasi menyesuaikan diri dengan situasi. Orang yang sudah lihai menikmati keadaan seburuk apa pun itu, akan mampu tetap berputar dalam lingkaran kebahagiaan di tengah carut-marut yang bergulir.

Yang terpenting adalah sikon di dalam rumah hati baik, walau kerap kali kekecewaan memburuk menusuk dada.

Selalu sadari bahwa yang terpenting dalam kehiduipan ini adalah suasana hati. Bila suasana hati selalu berasa positif: itulah sorga dunia, sebab di dalamnya ada kepuasan, kebahagiaan, kedamaian, kelegaan, ketenangan dan ketenteraman hati. Ada beberapa orang yang mencoba mencari “hati rasa positif” tersebut dengan berbagai cara, tetapi mereka tidak menemukannya. Sebab, ini bukan sesuatu yang bisa dibeli oleh uang: kerajaan sorga tersebut hanya bisa dibeli lewat penderitaan. Dimana “penderitaan termanis adalah saat kita tetap rajin penuh semangat berbuat baik sedang orang lain cuek-cuek saja.” Kebaikan yang bertepuk sebelah tangan, itulah yang sesungguhnya lambat laun memampukan kita menyesuaikan diri sampai “hati berasa positif di tengah situasi yang kurang mendukung.”

Menjadi orang kristen bukan hanya sekedar percaya kepada Yesus Kristus tetapi turut mengikuti jalan hidupnya.

Tentu saja, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memiliki “jiwa yang selalu berasa positif di tengah pergolakan zaman yang fluktuatif?” Jelaslah bahwa ini bukan jalan yang mudah dan instan untuk dilalui. Setidak-tidaknya, kita membutuhkan waktu selama bertahun-tahun untuk mampu mencicipinya diumur yang sudah matang. Oleh karena itu, mulailah belajar dari sekarang untuk menjalani dan menghidupi syarat-syarat mengikut Yesus Kristus. Pertama-tama adalah siap-sedia untuk berkorban menderita memikul beratnya beban hidup yang bisa datang dari mana saja. Kedua adalah selalu siap sedia merendahkan diri di bawah kaki Tuhan sebab kita bukanlah apa-apa sampai kapan pun. Dan ketiga adalah mengikut jalan yang benar, yaitu mengasihi Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama manusia layaknya diri sendiri (adil).

Musuh utama adalah diri sendiri, kalahkan itu maka lawan-lawan lainnya akan mampu dijadikan sebagai kawan.

Salah satu dari syarat mengikut Tuhan Yesus Kristus adalah “memikul salib,” bagian ini berhubungan erat dengan khilaf-jahatnya orang lain yang adalah ujian bagi kita. Kita perlu memahami bahwa hidup bukan hanya soal enak-manisnya saja, di balik itu ada pula pahit getirnya. Dalam kepahitan hidup inilah, kita diajak untuk belajar mengabaikan bahkan melupakan hal-hal yang menyangkut tentang itu. Tetapi, kita tidak boleh membenci orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pada posisi inilah segala ego dan arogan yang tertanam di dalam hati akan dihancurkan. Mereka yang mampu mengalahkan dirinya sendiri akan sanggup menanggung semua penderitaan yang menghimpitnya. Baik itu berasal dari dalam diri sendiri, dari orang-orang di sekitarnya maupun dari sistem serta lingkungan sekitar. Kalahnya kita dengan korban perasaan dapat diikhlaskan karena terlebih dahulu telah mengalahkan ego sendiri yang biasanya suka melebih-lebihkan/ menimbulkan rasa bangga.

Siapa pun bisa jadi sombong, tetaplah jadikan mereka rekan

Orang sombong itu memang jahat. Siapa pun yang menyombongkan dirinya, kemungkinan besar akan dijauhi. Akan tetapi, tidak demikian dengan orang yang siap sedia menanggung deritanya. Hubungan dengan orang tersebut tetap dijaga baik, tidak membalas kejahatan ganti kejahatannya, melainkan melakukan kebaikan kepadanya dimulai dari yang kecil-kecil. Tetap berkawan dengan mereka, ramah memberi tanggapan dan santun dalam bersikap. Sadarilah bahwa lama-kelamaan (tidak ada yang tahu sampai berapa bulan atau tahun) pastilah keangkuhannya tersebut akan terkikis bahkan hilang pula. Inilah kekuatan utama dari kebaikan hati yang dapat mengkikis sifat-sifat jahat, perlahan tapi pasti.

Siapa pun bisa berubah mendengki, tetaplah berkawan dengan mereka

Orang yang suka iri hati termasuk jahat, tetapi orang bijak tetap berkawan akrab dengan mereka. Mungkin rasa irinya kepada seseorang diungkapkan lewat kata-kata kepada kita. Atau bisa saja, yang menjadi sasaran keburukannya adalah diri sendiri. Memang rasanya kurang nyaman beraktivitas bersama orang-orang tersebut, tetapi mereka yang bijak berupaya tetap rendah hati, ikhlas dan senyum mungil untuk bertahan. Tidak ada yang perlu ditakutkan saat bersama-sama dengan orang jahat. Asalkan saja penjahat tersebut masih mematuhi aturan ytang berlaku di dalam masyarakat. Walau kadang-kadang dia menimbulkan gangguan ketenangan namun kita memandangnya positif sebagai kesempatan untuk berkembang memajukan level fokus ke arah yang lebih tajam.

Siapa pun bisa tiba-tiba membenci, tetaplah kasihi mereka

Siapakah di antara kita yang tidak memiliki pembenci? Orang yang kurang cerdas akan menghadapi kebencian dengan kebencian sehingga terciptalah lingkaran benci yang memuakkan dan tidak pernah berakhir. Sebab masing-masing mempertahankan egonya dan bertahan dalam rasa bangga yang tinggi (arogan). Jika, keadaan terus begini maka tidak ada damai di dalam hati sendiri. Setiap kali bertemu dengan orang tersebut, pikiran berkecamuk menjadi tidak tenang. Rasa-rasanya kita ingin segera pergi dari sana atau dia yang harusnya keluar dari sana. Saat kita kemana-mana pun, hati menjadi sungguh jauh dari rasa tenang dan merasa tidak aman. Namun mereka yang mau hidup tenteram akan mengalah dengan merendahkan hati untuk membiarkan musuh-musuhnya menang. Juga tetap berbagi kasih kepada lawannya lewat hal-hal sederhana yang ada dalam dirinya.

Teman sendiri mengendap-endap menipu, tetapi tetaplah nyata-nyata berbagi kasih.

Bagi anda yang pertama-tama mencicipi betapa jahatnya rekan sendiri, pasti merasa risih dan langung memutuskan ikatan pertemanan/ persahabatan dengannya. Membencinya sangat, karena telah menjadi musuh dalam selimut yang dengan sengaja merong-rong kehidupan kita. Rasa kesal yang cenderung menjauhi teman tersebut memang wajar bagi seorang pemula. Akan tetapi, mereka yang sudah belajar memahami pahit-getirnya hidup akan memaklumi semuanya itu. Sekali pun di awal-awal begitu berat, tetap saja mereka ingin kembali menerimanya sebagai teman. Sekali pun demikian, bukan berarti menjadi tidak waspada sama sekali. Melainkan tetap tulus berbuat baik kepada mantan musuh namun cerdik mengantisipasi kalau-kalau mereka berbuat curang/ menjebak.

Mereka yang cerdik, dapat bersikap cantik, saat musuh sedang mengamuk.

Sikap cerdik memang tidak hanya dibutuhkan untuk menghadapi mantan musuh tetapi dalam pergaulan kepada siapa pun. Saat pertama lahir, tidak ada manusia yang cerdik akan tetapi seiring berjalannya waktu, hal tersebut akan terbentuk dengan sendirinya. Kecerdikan tersebut dibangun dari proses belajar, baik melalui orang lain, lingkungan sekitar, pengalaman pribadi dan literatur yang ada (buku, blog) maupun lewat lembaga pendidikan yang tersedia (perkumpulan rohani, sekolahan, perkuliahan). Segala sesuatu tentang kepintaran berbicara mengenai cara kita mengatasi, mengantisipasi dan bila dimungkinkan mencegah hal-hal buruk mendatangi kehidupan ini. Semakin banyak masalah yang kita hadapi maka semakin intelek sikap meresponi soal-soal di hari esok.Tentu saja sifat cerdik ini perlu diimbangi dengan sikap yang tulus

Mereka yang tulus selalu berbagi kasih, sekali pun kepada musuh.

Kecerdikan tanpa ketulusan justru membuat kita sama dengan orang-orang pintar duniawi yang hanya pintar mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri sedang orang lain tak dipedulikannya. Ketulusan yang dimaksudkan Tuhan Yesus Kristus adalah kemauan untuk berbagi kepada sesama tanpa menuntut apa-apa. Sebuah niat yang suci untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri tanpa membeda-bedakan antara jenis kelamin, warna kulit, suku, ras, agama dan golongan lainnya.Tentu saja niat semacam ini perlu didasari oleh kasih yang telah lebih dahulu kita terima dari Allah. Jika kita fokus kepada orangnya saat berbagi maka lama-kelamaan kasih tersebut akan meredup. Oleh karena itu, pandanglah kepada Tuhan saat mengasihi sesama, sebab besar kasih setia-Nya yang telah kita rasakan seumur hidup.

Masalah, bukan masalah! Saat mampu dinikmati.

Jalanilah semua tantangan yang kita datangi dengan suka hati. Walau kita tahu bahwa saat ini dan kedepannya akan ada banyak kesesakan, tetapi jangan fokus pada hal-hal yang menyesakkan tersebut. Belajarlah memakluminya dengan memberikan toleransi secara wajar. Di balik derita yang dijalani, kita perlu tetap sibuk, hindari bermalas-malasan tetapi kembangkanlah bakat/ potensi yang dimiliki. Fokus kepada kemampuan yang dikuasai, habiskan waktu dalam ranah yang positif atau bisa dengan fokus kepada Tuhan, belajar sesuai minat dan melakukan pekerjaan lainnya. Lama-kelamaan derita yang terjadi secara bertubi-tubi akan mampu dinikmati sehingga tidak ada lagi rasa sakit saat semuanya itu terjadi. Sebab saat pergumulan hidup gangguan sosial terus menderu, kita menyibukkan diri pada hal positif sambil mengubah gangguan tersebut menjadi lagu-lagu kehidupan yang diikuti dengan penuh rasa syukur. Sebab kita sangat paham bahwa semuanya bermanfaat meningkatkan kecerdasan berpikir dan kemampuan mengendalikan diri menjadi lebih baik.

Gangguan sosial tidak lagi mengganggu, saat anda turut menikmatinya sambil menggubahnya untuk kemuliaan nama Tuhan dan tetap menyibukkan diri pada aktivitas positif lainnya (belajar, mengembangkan bakat, mengikuti hobi, bekerja, dan lain sebagainya).

Setarakan semua orang di dalam hati, agar pikiran positif dan kebaikan hidup selalu mengalir membawa damai.

Salah satu sifat yang sangat mendukung penyesuaian diri di tengah persembunyian orang-orang jahat adalah sifat mengeneralisasi semua orang baik. Jangan pernah sedikit pun melabeli orang ini musuh dan yang itu kawan tetapi sama-ratakan semuanya sebagai orang baik yang pantas dikawani. Menilai orang per orang adalah pekerjaan yang merepotkan bisa membuat kepala pusing. Oleh karena itu, perlakukan semua orang dengan adil, kasihi sesama seperti diri sendiri, berbagilah apa adanya kepada siapa pun. Dasarilah sikap generalisasi tersebut sebagai hadiah ucapan terimakasih kepada Sang Pencipta karena Ia telah lebih dahulu berkorban menyelamatkan kita lewat karya penebusan Yesus Kristus. Itulah jejak yang perlu kita ikuti, teladan sekaligus guru besar dalam kehidupan kita.

Kesimpulan

Apa perbedaan khilaf dengan jahat?

Tiap-tiap orang di dunia ini pernah melakukan kesalahan. Kami sendiri pun sudah melakukannyan dan mungkin akan terus melakukannya, tanpa disadari alias tanpa sengaja. Kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja disebut juga sebagai kekhilafan. Ini adalah salah satu pertanda bahwa kita hanyalah manusia biasa. Kekhilafan sangat manusiawi, tetapi kesalahan yang disengaja, jelas sebagai kejahatan. Suatu kesalahan yang dilakukan sekali pun suara hati mengingatkan dan menegur kita, bahkan orang lain pun sudah turut memperingatkan; disebut sebagai kejahatan. Bukti nyata yang sangat terstruktur dari suatu kejahatan adalah merencanakan perbuatan keji tersebut sebelum dilakukan. Sedangkan yang namanya kekhilafan bersifat spontanitas/ terjadi begitu saja.

Jahat adalah kesalahan yang masih saja dilakukan sekali pun suara hati memperingatkan dan orang lain juga telah mengingatkan. Biasanya direncanakan {dibahas-bahas dalam hati) sebelum dilakukan. Sedangkan khilaf adalah ketelodoran yang terjadi tanpa sengaja. Iri hati, kesombongan, gangguan sosial bisa tergolong sebagai kekhilafan yang manusiawi karena terjadi tanpa disengajai. Akan tetapi, iri hati, kesombongan dan gangguan sosial yang dilakukan secara terencana dimana sebelum-sebelumnya dibahas-bahas dalam pikiran, merupakan kesalahan yang berujung menjadi kejahatan. Berhati-hatilah dalam bersikap, jangan pernah sengaja berbuat jahat. Sebab hal tersebut hanya akan mendatangkan ketidaktentraman jiwa seumur hidup.

Siapa dan bagaimana menentukan seseorang khilaf atau jahat?

Perlu dipahami baik-baik bahwa tidak ada orang lain yang mengetahui apakah seseorang sedang berbuat jahat atau khilaf. Hanya satu dua pribadi yang mengetahuinya, yakni orang itu sendiri dan Tuhannya. Di sisi lain, dalam dunia hukum, tidak ada yang namanya kekhilafan, sebab semua kesalahan akan dianggap sebagai sebuah kejahatan yang akan diganjar dengan hukuman yang setimpal. Selama sebuah pelanggaran  telah diatur secara jelas oleh undang-undang, selama itu pula, pelanggaran yang terjadi atas hal tersebut jahat adanya. Ini terjadi karena tidak ada tolak ukur kongkrit yang membedakan antara perbuatan melanggar yang disengaja atau pun yang tidak disengaja.

Kekhilafan yang wajar secara tidak langsung menjadi ujian bagi tiap-tiap manusia. sudahkan anda menerima setiap persoalan yang terjadi dengan sukacita?

Tidak perlu mempersoalkan apakah seseorang khilaf atau jahat kepada kita. Melainkan ambillah kesempatan itu untuk menguji diri sendiri: sudah sejauh mana kemampuan kita untuk cerdik bertahan menghadapi lawan sambil tetap mengasihi mereka dengan setulus hati. Terima ikhlas rasa sakit yang diberikan sesama sebab itu adalah kebaikan pahit yang dapat melatih mental menjadi lebih dewasa dan semakin lihai mengendalikan diri dari waktu ke waktu. Berkawanlah kepada semua orang, anggap mereka adalah orang-orang baik sama seperti diri sendiri. Orang percaya bisa mengasihi penjahat sekali pun, sebab kita tidak memandang ke orangnya, melainkan fokus kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu menyatakan cinta-Nya yang teramat besar dalam kehidupan kita.

Hindari sikap saling menguji dengan berbuat jahat kepada orang lain. Tetapi, biarlah sikap menguji sesama muncul karena kekhilafan yang tidak disengaja. Melainkan sistemlah (organisasi) yang secara sengaja menguji kita sebab sistem punya aturan dan aturan itu diketahui oleh semua orang.

Salam, Kesalahan disengaja jahat adanya.
Khilaf adalah kesalahan yang tidak disengaja,
bisa jadi ujian yang menyucikan hati.
Musuh-musuh yang terkendali
melatih kita menjadi dewasa lagi & lagi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.