10 Kelemahan Menulis Kehidupan Pribadi – Bisa Bahaya Dijadikan Alat Untuk Menyerang Anda


Penulis pemula
menceritakan dirinya.
Penulis profesional
menceritakan dunianya
!

Salah satu aktivitas yang tidak pernah habis untuk dilakukan adalah menulis. Siapa saja bisa melakukannya, dari tingkat pendidikan terendah sampai tertinggi merupakan kandidat penulis dalam ragam variasi menurut bidang masing-masing. Tidak mudah untuk tetap menekuni aktivitas ini; memang kalau hanya menyalin atau merangkum saja, itu tergolong ringan untuk dilakukan. Akan tetapi, saat apa yang kita lakukan diciptakan/ dikarang, dibangun dan dikembangkan berdasarkan ide yang dikumpulkan dengan tekun dari angin sepoi-sepoi yang bergejolak di sekitar. Akan terasa sukar untuk pertama kalinya namun jika dilatih terus dan terus, mudah mudahan dapat membuat tulisan yang terstruktur di hari berikutnya.

Sadar atau tidak, aktivitas menulis merupakan suatu cara menggali potensial positif yang terpendam di dalam lubuk hati kita. Kutub positif tentu saja telah bergabung dengan kutub negatif kehidupan di dalam pikiran masing-masing. Saat kita menulis secara sadar dengan menggunakan akal sehat sebagai alat ukur dan bahan bakarnya adalah ide-ide berkualitas. Semua aktivitas yang padat merapat tersebut bisa kita gali dari dalam pikiran pribadi lepas pribadi. Tentulah yang namanya menyusun tulisan sendiri dimulai dari yang recehan terlebih dahulu. Kami dahulu, pertama kali mengarang adalah puisi dan beberapa tentang kata-kata bijak tentang motivasi kehidupan.

Dahulu, kami tidak menulis diari atau jurnal kehidupan pribadi sebab kami adalah anak rumahan dengan jangkauan aktivitas terjauh tidak lebih dari dua kilometer dari rumah.. Sebab tempat tinggal berada di pedesaan sehingga tidak ada taman kota, perpustakaan, atau tempat rekreasi lainnya di sekitar. Sekali pun datang ke pusat kota kabupaten, kurang ramai dan kuran banyak tempat rekreasi yang dapat dikunjungi secara gratis. Jadi, wilayah yang kami ketahui hanyalah rumah, hutan dan sekolah. Lagi pula, kami mulai termotivasi untuk menulis sewaktu SMA dan termotivasi  juga oleh orang tua kami yang memiliki peninggalan diari sendiri walau orangnya sudah tiada. Jadi, salah satu peninggalan abadi di dunia ini adalah tulisan: oleh sebab itu menulislah dari sekarang.

Pengertian

Menulis tentang kehidupan pribadi cukup terbatas bagi orang yang memiliki pengalaman yang terbatas pula. Akan tetapi, ada banyak literatur yang bisa kita baca di sekitar sehingga membantu memperkaya pengetahuan untuk menulis sesuatu. Misalnya saja dengan membaca buku, majalah, berita, blog, website dan berbagai situs lainnya di dunia maya, bukankah semuanya itu gratis adanya? Jadi buka wawasan dengan tidak hanya berkutak pada aktivitas harian melainkan turut pula menghubungkannya dengan kesehatan, pergaulan, pendidikan, pekerjaan, rekreasi, masyarakat, bernegara dan lain sebagainya. Semakin bercabang wawasan kita maka semakin berkembanglah tulisan yang dapat dirangkaikan menjadi sebuah kisah yang logis, fantastis, imajinatif dan romantis (tergantung dari bidang yang digeluti).

Defenisi – Menulis tentang kehidupan pribadi adalah menceritakan pengalaman yang dialami dari hari ke hari di atas kertas (manual maupun elektronik). Pengalaman dalam hal ini bisa sangat luas, mulai dari kegiatan yang dilakukan, mimpi yang diperoleh, buku yang dipelajari, blog yang dibaca dan masalah yang dihadapi.

Dampak buruk menulis tentang kehidupan pribadi

Kelemahan Menulis Kehidupan Pribadi – Bisa Bahaya Dijadikan Alat Untuk Menyerang Anda

Segala sesuatu yang kita lakukan ada baik buruknya. Bahkan saat berjalan kaki sekali pun, kemungkinan untuk tersandung, terjatuh, tersenggol, masih ada. Oleh karena itu, pada bagian ini, kami akan memberikan masukan pribadi kepada rekan-rekan sekalian tentang dampak negatif dari aktivitas tersebut. Pada banyak kesempatan memang kegiatan corat-mencoret menyenangkan. Akan tetapi, dalam beberapa kesempatan lainnya, hal tersebut tergolong membawa kerugian kecil sampai besar. Itu terjadi bukan karena kesalahan orang lain, tetapi karena tulisan kita sendirilah yang diulas dari sudut pandang yang buruk. Oleh sebab itu, silahkan perhatikan beberapa kerugian yang mungkin kita alami akibat goresan rapi yang disusun sendiri.

  1. Rahasia terbongkar.

    Namanya juga menulis, segala yang ada di dalam hati bisa tercurah di atas kertas, mengalir seperti air yang melunakkan kehati-hatiaan. Akibatnya, apa yang seharusnya dirahasiakan justru diungkapkan secara tidak sengaja lewat karangan yang dibuat sendiri. Bagi mereka yang memiliki banyak rahasia, ini akan menjadi momok yang berdampak negatif.

    Tidak demikian dengan orang yang tidak memiliki rahasia pribadi yang disembunyikan dari orang lain. Sebab mereka mampu membuka diri secara wajar di hadapan semua orang. Sikap yang mau membuka diri inilah yang memperkecil kerugian akibat terbongkarnya rahasia, baik secara sengaja mau pun tidak disengaja.

  2. Kelemahan kita terungkap.

    Kita bisa saja terlihat kuat dari luar. Padahal di balik senyum manis itu tersembunyi sekelumit kelemahan. Memang senyuman mungil yang biasa kita tebar kepada siapa pun merupakan sala satu cara terbaik untuk menyembunyikan kekurangan diri. Akan tetapi, lewat tulisan yang kita terbitkan, orang lain bisa membaca sisi lemahnya diri ini.

    Untuk menekan dampak buruk dari terbongkarnya kelemahan kita, yang perlu dilakukan adalah jangan pernah menutup-nutupinya dengan sengaja. Ini kembali lagi kepada sitat keterbukaan yang dimulai dari diri sendiri. Jangan pernah dengan sengaja menyembunyikan betapa kurangnya kita melainkaan senantiasalah bersikap apa adanya. Hindari menyembunyikan kekurangan dengan menggunakan pakaian atau alat bantu lainnya kecuali jika alat bantu tersebut tidak mungkin dilepas karena sangat mendukung aktivitas.

  3. Kebencian kita (apa tidak kita senangi) terpapar.

    Saat membaca tulisan kita, beberapa orang fokus pada hal-hal baik yang diulas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula orang yang fokus pada hal buruknya. “Menulis adalah menceritakan diri sendiri, sekali pun ada beberapa segmen dimana kita menceritakan sesuatu yang lain.” Lama-kelamaan, apa yang dituliskan pasti juga akan mengekspresikan apa yang tidak kita sukai.

    Saran kami adalah, jadilah orang yang tidak membenci apa pun, entah itu manusia, materi (makanan, minuman, pakaian, kendaraan dan aksesoris lainnya) dan aktivitas tertentu. Jadi, perbedaan kadar kesukaan kita adalah seperti ini: kurang suka, lebih suka, sangat suka atau suka sekali. Sehingga tidak ada satu pun hal yang dibenci. Itu artinya, kita tidak sentimen terhadap apa pun di dunia ini. Mereka yang tidak memiliki kebencian di dalam dirinya merupakan generalis yang menyamaratakan semua manusia. Keadaan ini membuat orang yang mau kita jatuh, miskin kamus untuk memancing sifat sentimen dari dalam hati.

  4. Kesombongan kita tersebar.

    Kami masih ingat dahulu, ketika baru pertama-tama menulis di beberapa blog. Apa yang diceritakan syarat dengan kesombongan, walau tidak diungkapkan secara langsung tetapi tergambarkan lewat pemilihan kata yang kami gunakan. Bila orang lain memahami bahwa kita sombong maka lebih mudah menjatuhkan kita lewat sedikit gejolak yang merendahkan diri ini.

    Jika memang di dalam diri sendiri ada sisa-sisa keangkuhan maka hal tersebut akan dengan sengaja dipancing dan ditingkatkan oleh oknun tertentu. Lantas, secara sewaktu-waktu akan kembali dijatuhkan hingga tak bersisa. Oleh karena itu, tekanlah sifat tinggi hati dengan merendahkan diri bahkan menginjak diri sendiri di hadapan Tuhan.

  5. Kedengkian kita muncul.

    Iri hati itu selalu ada, yang menjadi masalah adalah saat keirian tersebut mengembang lalu membuat kita menjadi jahat. Orang-orang bisa membaca rasa dengki dari tulisan kita saat tidak menyukai sesuatu. Persimpangannya adalah orang yang iri hati tidak menyukai sesuatu tanpa alasan dan cenderung membencinya. Tetapi mereka yang kurang menyukai sesuatu dengan tulus hati memiliki alasan logis dan cenderung tetap berteman dengannya.

    Rasa iri hati bersamaan dengan kesombongan menciptakan sentimen negatif terhadap objek/ faktor tertentu. Keadaan ini, membuat kita mudah dikacaukan oleh gangguan tertentu yang ada hubungannya dengan sikap sentimen yang dimiliki. Oleh karena itu, berupayalah dengan keras untuk menyukai segala sesuatu. Jika ada teman yang lebih baik, silahkan ucapkan selamat, beri apresiasi dan sibukkan diri untuk berbuat baik. Juga jangan lupa menekuni aktivitas positif lainnya (fokus kepada Tuhan, berdoa dan bekerja.

  6. Dendam kita terungkap.

    Tulisan yang kita ungkap dalam rangkaian tata bahasa yang baik, secara tidak langsung (eksplisit) menggambarkan seperti apa diri ini. Bisa saja dalam beberapa sudut cerita yang kita paparkan tersembunyi sekaligus terungkaplah dendam terhadap orang-orang tertentu. Sesama manusia bisa saja memperalat informasi tersebut untuk memicu timbulnya rasa kesal dari dalam hati. Akibatnya, kita pun menjadi kurang mampu berkonsentrasi sehingga pekerjaan tidak kunjung selesai.

    Ada baiknya bila mulai saat ini, kita berupaya untuk melepaskan segala bentuk dendam dari dalam hati masing-masing. Segera maafkan segala perlakuan buruk sesama terhadap anda. Bahkan bila perlu berbuat baiklah kepada-Nya dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya ramah tamah.

  7. Fobia kita tersaji.

    Apakah anda memiliki fobia selama hari-hari yang dijalani belakangan? Jika memang memilikinya, mulailah kurangi hal-hal tersebut dengan membiasakan diri terhadap paparannya. Fobia adalah gabungan dari tiga penyakit mental, yaitu rasa takut, kecemasan dan kekuatiran. Semakin kita tidak terbiasa dengan sesuatu maka semakin mungkin hal tersebut menjadi fobia sehingga mudah digalaukan orang lain. Sebab mereka akan memaparkan kita lebih sering terhadap fobia yang dimiliki sehingga kemampuan untuk menulis menurun bahkan tidak ada lagi kare na tenggelam dalam ketakutan sendiri.

  8. Masalah yang kita hadapi beredar.

    Ketika kita menjadi penulis yang emosional, tidak mampu lagi membedakan dimana kehidupan nyata dan dimana karya seni. Penulis profesional tidak lagi melibatkan emosi yang tidak stabil dalam setiap tulisannya melainkan mampu memilah-milahnya. Walau pun demikian, mungkin ada juga kesempatan dimana dia teledor sehingga campur aduk sejoli antara hari-hari yang dijalaninya dan tulisan yang dihasilkan.

    Masalah apa pun yang kita hadapi, tidak perlu terlalu dipusingkan. Biasanya, saat kita terlalu fokus dengan persoalan, cenderung akan membuat sakit kepala. Oleh karena itu, selesaikan masalah seadanya tetapi fokuslah pada Tuhan, pelajaran dan pekerjaan yang digeluti. Fokus postif membantu membersihkan hati dari berbagai spekulasi yang tidak bermutu.

  9. Kebiasaan buruk kita terbaca.

    Kami juga biasa mengungkapkan sendiri apa yang menjadi kebiasaan buruk yang pernah dilakukan. Tapi, itukan dulu, sudah lama berlalu, pribadi yang sekarang sudah jauh berbeda dari yang dulu. Bila orang bisa membaca kebiasaan buruk yang kita lakukan secara diam-diam, mereka bisa memancing kita untuk meningkatkan kebiasaan tersebut. Akibatnya, kita terjatuh lagi dan lagi oleh kebiasaan negatif yang intensitasnya terus meningkat dari waktu ke waktu.

    Mulai dari sekarang, kita perlu berpikir panjang, untuk apa memelihara kebiasaan buruk? Baik kebiasaan buruk yang diketahui orang lain maupun yang tersembunyi hanya diketahui oleh diri sendiri. Apa pun itu, sebaiknya mulailah kurangi hal-hal tersebut. Berupayalah untuk menggantikannya dengan kebiasaan baik yang dapat mengembangkan dan membangun akhlak. Tentulah hal-hal yang baik tersebut tidak jauh-jauh dan tidak bertentangan dengan kebenaran hakiki.

  10. Sifat-sifat buruk lainnya dapat dipahami orang lewat tulisan kita.

    Ada banyak sifat buruk manusia tetapi belum tentu semuanya itu kita miliki. Berbahagialah orang yang sifat-sifat buruknya telah tereduksi secara drastis. Tetapi bagi mereka yang masih hidup dalam kemalasan negatif, prasangka buruk, sungut-sungut dan lain sebagainya. Biasanya, sifat-sifat negatif tersebut akan dimanfaatkan untuk menjebak kita sehingga sibuk sendiri dan hidup mengarah kepada hal-hal buruk tersebut.

    Jebakan untuk memancing sifat buruk keluar semata-mata untuk memusingkan kepala saja. Bila dibiarkan berlama-lama justru akan memicu stres hingga depresi. Oleh karena itu, berjuanglah untuk menekan dan meminimalisir sifat-sifat negatif tersebut agar tidak dimanfaatkan orang lain untuk melemahkan kita.

Kesimpulan

Menulis adalah tugas suci: sucikan diri dari segala keburukan sebelum menggelutinya atau siap-siap sifat burukmu terbongkar.

Tulisan yang kita karang bisa mengungkapkan jati diri kita yang sebenarnya.” Jangan takut menulis, tapi yang kami sarankan adalah “mulai belajar melepaskan diri dari kebiasaan buruk yang sering dilakoni. Sebab biar bagaimana pun, sifat-sifat kita dapat tergambarkan secara langsung (implisit) maupun tidak langsung (eksplisit) dari karya yang kita lepaskan ke publik.” Manusia memang ada-ada saja, saat disuguhkan sesuatu, tidak mau menikmati sisi positifnya melainkan menggali bagian negatifnya untuk dijadikan sebagai senjata melemahkan sesamanya. Saat kita masih menjadi penulis pemula, tidak masalah menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Akan tetapi ketika telah menjadi seorang profesional, sudah saatnya kita mengembangkan tulisan kepada hal-hal positif yang ada di sekitar. Atau setidak-tidaknya menulis kisah pendek yang berisikan tentang drama kehidupan.

Salam, Penulis pemula
menceritakan dirinya.
Penulis profesional
menceritakan dunianya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.