10 Cara Menegur Sesama – Nasehet (Teguran) Yang Baik Dimulai Dari Sikap Sendiri

Memberi nasehat mudah, Tetapi menjadi penasehat bijak Butuh lebih banyak pengalaman dan lebih banyak belajar!

Ada banyak kejanggalan yang terjadi selama kita menjalani hidup di tengah dunia yang fana ini. Hal tersbut bisa timbul oleh karena direncanakan seseorang (bisa jadi diri sendiri). Pula dapat timbul karena faktor ketidaksengajaan, tanpa direncanakan sebelumnya. Dalam setiap kejanggalan yang terjadi, biasanya bisa jadi didiamkan begitu saja, walau tidak bisa dipungkiri juga terkadang terjadi gejolak yang jauh lebih besar lagi. Dalam situasi semacam ini, yang sangat diperlukan adalah kesabaran dan kemampuan menahan diri sehingga kita tidak mudah terlarut dalam buruknya situasi di sekitar. Melainkan, kita tetap fokus pada sisi positif aktivitas yang bermanfaat, misalnya bekerja, belajar dan fokus kepada Tuhan. Hal-hal positif inilah yang membuat pendirian kita teguh dan tidak mudah goyah karena pengaruh zaman yang keras.

Haraplah diketahui bahwa lingkungan di sekitar kita tidak stabil sebab apa yang hendak dilakukan orang lain tidak terprediksi. Kita bukanlah peramal yang dapat memperkirakan sesuatu yang dapat mengantisipasi sebelum hal-hal tertentu terjadi. Melainkan setiap manusia selalu berupaya untuk mencoba menyesuaikan diri terhadap potensial apa pun yang dihadapi, entah itu positif atau negatif. Ketika apa yang terjadi merupakan sesuatu yang lebih besar, sesuatu di luar kapasitas kita sebagai masyarakat biasa (orang awam). Yang perlu dilakukan adalah memanggil pihak yang berwenang agar turut membantu menangani kejadian tersebut. Misalnya saja, dalam pertengkaran yang menimbulkan kerusuhan, panggillah Kepolisian; dalam besarnya kobaran api kebakaran, panggilah Pemadan Kebakaran. Demikian juga saat kita menderita penyakit yang tak sembuh-sembuh diobati sendiri, datanglah ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Pengertian

Lantas bagaimana jadinya ketika peristiwa yang terjadi tersebut masih dalam kontrol dan tidak sampai membuat gaduh? Di tengah gejolak yang terjadi tersebut, perlu juga kita perhatikan banyak hal, jangan asal bertindak agar tidak salah langkah. Walau ada salah-salahnya, semoga hal tersebut tidak berasal dari dalam diri kita melainkan sesuatu yang muncul dari pihak lain yang sedang berupaya untuk melemahkan sesuatu dengan sikap yang acuh tak acuh. Apa pun bentuk persoalan yang sedang bergulir di sekitar, berhati-hatilah sebelum memberikan teguran. Menurut kami, menegur adalah suatu upaya untuk memberi saran kepada seseorang demi hari esok yang jauh lebih baik. Jadi teguran ditujukan untuk memperbaiki masa depan dan bukan demi mengungkit masa lalu.

Kiat-kiat menegur (menasehati) yang baik dan benar

Cara Menegur Sesama Manusia – Nasehet (Teguran) Yang Baik Dimulai Dari Sikap Sendiri

Nasihat yang baik diberikan dengan tujuan yang baik pula. Biasanya saat kita hendak menyampaikan sesuatu, perlu mempertimbangkan banyak faktor. Kesemua faktor tersebut akan turut mempengaruhi kebermanfaatan yang dirasakan. Atau bisa juga apa yang kita perbuat hanya berujung menyakiti diri sendiri. Semua keadaan buruk tersebut perlu siap kita hadapi, apa pun ceritanya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan mudah sebab beberapa hal dalam hidup kita memang cukup rumit. Sehingga lebih baik dibiarkan saja sambil tetap fokuskan hidup pada hal-hal positif (fokus Tuhan, pekerjaan, pelajaran). Berikut ini akan akami jelaskan beberapa cara menasihati orang yang kebetulan salah sedang sampai besar.

    1. Sikap tidak jauh dari kasih kepada Tuhan dan sesama.

      Dunia ini butuh kelembutan, mulailah itu dari diri sendiri. Sayang, manusia pada dasarnya memiliki sifat yang kasar dan keras. Terlebih ketika pergumulan hidup semakin meningkat dan lebih sering. Pada posisi ini temperamen bisa sangat labil sehingga mudah kesal lalu marah tidak jelas.

      Beruntunglah ada Tuhan yang selalu berjaga-jaga atas kehidupan kita. Dialah pengawas hati yang membuat kita tetap terkendali dan jauh dari berbagai potensi buruk. Sebab saat hati selalu tertuju kepada-Nya, pikiran akan dibersihkan dari berbagai hal yang buruk. Kasihilah Tuhan dengan hidup seturut firman-Nya yaitu kebenaran sejati. Tujukan hati kepada-Nya dengan senantiasa berdoa, membaca/ mendengar firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya. Semua aktivitas ini akan membantu mendekatkan kita dengan Sang Pencipta. Jadi, kebiasaan fokus kepada Allah akan menggiring kita dalam kelembutan sikap dengan tingkat kesadaran tinggi.

      Selain mencintai Allah, kita pun perlu mengimbanginya dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sebuah sikap yang didasari atas ketulusan hati untuk berkorban sehingga diekspresikan dengan luwes. Kita mengasihi sesama bukan karena menginginkan sesuatu darinya, melainkan kita berbuat baik karena sudah terlebih dahulu merasakan kebaikan Tuhan seumur hidup. Jadi, bagikan segala bentuk kebaikan berupa hadiah kepada orang lain tanpa mengharapkan apa-apa. Saksikanlah, Kebaikan perlu efektif dan efisien.

      Apa jadinya kalau kita suka menegur orang tetapi sikap sendiri belum mampu mengasihi sesama seperti diri sendiri? Tentulah nasihat yang kita bawakan akan menjadi bahan ledekan orang lain. Akan tetapi, mereka yang ikhlas dan kuat hatinya akan tetap mengatakan apa yang benar sekali pun ditanggapi miring.

    2. Sikap tidak jauh dari peraturan yang berlaku.

      Jika kita mau menasehati seseorang tetapi diri sendiri melakukan kesalahan yang sama, kemungkinan orang tersebut akan punya banyak alibi untuk menentang teguran yang kita utarakan. Namun di atas semuanya itu, mana ada manusia yang benar-benar bersih sempurna dalam mentaati segala sesuatu. Jadi kalau memang orang lain salah dan kita pun salah maka saling menasehatilah. Itu bukanlah sebuah kesempatan untuk dipersoalkan melainkan kesempatan untuk berbaik hati.

      Pada dasarnya dalam hidup ini, sikap kita adalah nasehat bagi orang lain. Lewat kesantunan yang kita ekspresikan, orang lain pun yang awalnya enggan berlaku ramah, bisa saja termotivasi untuk mulai belajar bersikap ramah. Jadi, proses tiru-meniru antara sesama manusia selalu terjadi bahkan tanpa kita sadari. Sebab tiap-tiap orang adalah imitator handal, kebaikan kita pun mungkin saja mereka tiru. Artinya “sikap baik yang kita tunjukkan bisa menjadi penasehat tanpa menasehati.”

    3. Tujuan menegur.

      Memiliki motivasi positif adalah penting untuk memperlancar proses menasehati yang kadang mengundang suasana hati negatif.

      • Bukan demi uang.

        Menasehati seseorang demi uang memang tidak masalah. Akan tetapi masalah selanjutnya yang akan muncul adalah, bagaimana kalau orang tersebut tidak memiliki apa-apa? Tidak ada sesuatu yang dapat kita harapkan darinya sebab keadaannya memang tidak mendukung adanya pendanaan yang memadai. Menasehati orang lain demi uang membuat kita membatasi diri untuk menasehati orang dengan kapasitas keuangan lemah. Sekali pun kita mau membantu menegegur sesama tetapi tidak dilakukan dengan ikhlas. Saat hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka mulailah timbul sungut-sungut yang memusingkan diri sendiri.

      • Bukan demi popularitas.

        Menasehati seseorang demi popularitas, bisa membuat kita memaksakan kehendak. Mencari-cari cara, bagaimana agar teguran yang kita sampaikan berterima dengan orang tersebut. Pada posisi inilah, penyuka popularitas cenderung menghalalkan segala daya upayanya, bagaimana caranya agar orang tersebut menyetujuinya lalu mau mengubah diri. Padahal selama kita hidup di dunia ini, segala sesuatu tidak mungkin berjalan sempurna sesuai yang kita harapkan.

      • Menegur demi kebenaran.

        Apa yang lebih penting dari kebenaran? Hanya orang yang lebih mementingkan uang dan jabatan sajalah yang mengesampingkan hal-hal yang benar. Jika anda menegur sesuatu agar berjalan sesuai aturan yang benar, silahkan saja. Hanya saja, perhatikan momen dan kesempatan yang ada. Ingat yang kita kehendaki adalah sesuatu berubah dari biasanya. Tentu ada orang-orang yang berkopeten untuk mengubahnya, mungkin mereka adalah orang yang tepat untuk didekati. Kalau berterima bagus tapi tidak berterima, ikhlaskan saja. Yang terpenting kita sudah menyampaikannya.

    4. Lepaskan diri dari kesombongan.

      Seorang penegur yang baik, banyak memberikan saran dan kritikyang menekan sekaligus membangun. Jadi, nasihat yang biasa diberikan ada dalam dua gelombang, satu yang buruk dan satunya lagi yang baik. Orang yang rendah hati mampu menyeimbangkan penyampaian antar keduanya. Dimana keburukan ada untuk memperjelas kebaikan. Kita perlu mengumpulkan dan mengutarakan contoh-contoh yang buruk sedang setelah itu, kita pun bisa menegaskan bahwa jalan yang baik jauh lebih bagus untuk ditempuh.

      Biasanya, penegur yang sombong hanya menonjolkan sisi buruknya saja. Seolah-olah si terduga sangat bersalah atas keadaan tersebut. Nasihat yang hanya mempersalahkan sesama tidak lagi bertujuan positif melainkan sekedar melemahkan mental bahkan menjatuhkan orang lain. Jika anda mengalami hal semacam ini, bersabarlah sampai si pencemooh itu berlalu.

    5. Apa-apa saja hal yang tidak perlu dinasehati?

      Ada beberapa peristiwa di sekitar kita yang memang sengaja ditimbulkan oleh seseorang/ sekelompok orang. Sifat-sifat buruk orang-orang tersebut tidak perlu kita tegur bahkan tidak perlu dipedulikan. Sebab orang-orang tersebut memang sengaja diutus untuk mengajacaukan pikiran dan pembunuhan karakter. Berikut selengkapnya akan kami tampilkan beberapa pihak yang tidak perlu kita nasehati.

      • Yang tidak penting dinasehati: yang lebih tua dari kita.

        Saat usia kita masih muda sedang prag-orang tertentu berada dalam usia yang lebih tua, kita perlu membiasakan diri sebagai pengikut belaka. Berharap saja Roh Kudus menghinggapi kehidupannya sehingga mata batinnya dicelikkan terhadap kesalahan yang telah diperbuat/ diputuskan. Selama kita masih bisa hidup, mencari nafkah dan terus hidup maka selama itulah kita ikut saja. Akan tetapi, saat mereka mulai melanggar aturan yang mereka buat sendiri, kita perlu bersuara, setidaknya di media sosial.

      • Yang tidak penting dinasehati: pengacau yang berada di tengah-tengah orang dewasa.

        Perhatikanlah situasi di sekitar tempat orang tersebut melakukan kesalahan. Jika di sana ada orang dewasa tetapi tenang-tenang saja maka kita pun yang masih muda tenang-tenang saja. Orang dewasa itu saja tidak mau tau/ tidak mau ambil urusan; mengapa pula kita yang masih lebih muda ini menasehati si kawan tersebut? Seolah kita melangkahi orang dewasa yang berada di sekitar situ bila kita menegur duluan.

      • Yang tidak penting ditegur: ujian kehidupan terhadap kita.

        Cobaan hidup yang ditimpakan kepada kita tidak perlu dinaseati. Selama keberadaan mereka tidak merugikan secara fisik dan materi maka selama itu pula, kita bisa tenang, belajar tabah, mengendalikan diri, memangkas emosi, merendahkan diri dan tetap bahagia mengikuti semuanya itu. Akan tetapi, saat apa yang mereka lakukan mulai merugikan secara materil dan fisik; pihak Kepolisian sudah bisa memproses kasus tersebut. Jika bisa direkam, rekamlah dan bila dapat divideokan, videokanlah.

      • Yang tidak penting dinasehati: kekhilafan.

        Kakhilafan kecil yang mendatangi kita, bukanlah sebuah beban yang sangat besar untuk ditanggung. Selama kita tidak rugi besar lewat kekhilafan tersebut maka selama itu pula, tidak perlu dipersoalkan. Biasanya orang yang tahu diri akan sadar sendiri dengan hal-hal tersebut. Lagipula anak sekolahan pun tahu persis bahwa itu salah, apalagi rekan kerja yang sudah lulus kuliah. Seiring waktu berlalu pastilah dia bisa mengubah dirinya.

      • Yang tidak penting dikomentari: orang tidak dikenal.

        Saat di media sosial, kita bisa menyukai dan mengomentari siapa pun, baik orang tersebut kita kenal mau pun tidak dikenal. Bahkan teman-teman Facebook sendiri pun tidak kenal semuanya apalagi media sosial yang lainnya. Sedangkan di dunia nyata, agak segan juga memberi nasehat kepada seseorang yang jelas-jelas belum kita kenal, mungkin namanya saja pun tidak tahu. Jadi, sebaiknya tidak perlu terlalu berani memberi saran kepada orang baru.

      • Yang tidak penting dinasehati: orang di luar profesi/ kelompok kita.

        Ada banyak kesalahan yang terjadi di sekitar tetapi tidak semuanya berhubungan dengan kehidupan pribadi. Oleh karena itu, tegurlah apa-apa yang ada hubungannya dengan diri sendiri. Perhatikan juga profesi orang tersebut, moga-moga dia dapat teguran dari tempat kerjanya. Orang  dari kelompok lain, sebaiknya tidak usah digubris tetapi cukup doakan di dalam hati saja. Harapkan agar mereka segera dibuka mata hatinya sehingga bertobat dari dosa-dosanya.
    6. Siap diabaikan.

      (Matius 11:16-17) Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.

      Penegur yang diabaikan merupakan suatu pola kebiasaan yang tidak hanya terjadi di zaman sekarang melainkan telah berlangsung dari dahulu kala. Itulah semacam kodrat yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka yang mengehendaki perubahan besar dalam suatu sistem bermasyarakat. Sikap acuh tak acuh ini bukan berarti bahwa mereka tidak mendengarkan apa-apa. Sesungguhnya mereka tetap melihat dan menyimaknya. Bahkan mereka pun melakukannya secara perlahan-lahan hanya saja tidak langsung saat itu juga. Mungkin lebih banyak waktu tunggu bisa menyadarkan mereka terhadap kesalahan tersebut.

      Adalah lebih baik, mereka seperti anak yang mengatakan tidak ketika orang tuanya menegur tetapi menyesalinya lalu ujung-ujungnya dilakukan juga. Seperti perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus.

      (Matius 21:30-31) Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.”

      Oleh karena itu, perlu kesabaran ekstra saat kita hidup menjadi penasehat yang benar. Sebuah tindakan yang merupakan pilihan hidup yang ditempuh dengan niat yang tulus. Sanggup menanggung derita yang menyertainya namun tidak fokus terhadap masalah tersebut melainkan terus, menulis, fokus kepada Tuhan, belajar, bekerja dan lain sebagainya.

      Yang perlu kita perhatikan sebagai penasihat yang baik adalah “tidak terlalu peduli dengan hasilnya.” Selama kita tidak memiliki kewenangan tertulis untuk menjalankan atau mengubah sesuatu dalam sebuah sistem. Selama itulah kita hanya berperan memberikan masukan tanpa memaksakan. Yang perlu kita lakukan adalah tindakan persuasif yang intens, memberi penjelasan dan menjelaskan lebih banyak agar tiap-tiap orang memahami teguran yang kita maksudkan. Sentuhan dan serangan ke otak manusia jauh lebih baik daripada sentuhan dan serangan terhadap fisik/ tubuh/ otot.

    7. Perhatikan momen yang tepat.

      Penasihat yang baik, tahu momen yang tepat untuk menasehati. Mereka tidak melakukannya dengan terburu-buru melainkan dengan penuh perhitungan sehingga dapat disampaikan tanpa melukai hati seseorang. Penyampaian teguran juga sangat ditentukan oleh pemilihan kata yang digunakan. Menghindari kata-kata yang keras melainkan lebih baik menggunakan bahasa penympaian yang lembut, bila perlu sambil tersenyum ramah. Momen yang tepat ini adalah kesempatan dimana suasana hati seseorang lagi baik-baiknya, istilahnya lagi happy (senang). Biasanya teguran yang keras pun bila disampaikan pada momen semacam ini akan berterima walau menemui kesulitan di awal-awal.

    8. Tahapan menegur.

      (Matius 18:15-17) “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

      Berdasarkan firman di atas, kita dapat merangkai beberapa tahap/ level untuk memberi teguran kepada seseorang. Berikut akan kami paparkan sebisanya.

      • Menegur secara empat mata.

        Tuhan Yesus Kristus memang dahsyat. Dia telah menyiapkan prosedur tersendiri untuk momen semacam ini. Menasehati orang secara empat mata adalah cara-cara pertama dan utama dalam hal tegur-menegur sesama. Seperti yang dilakukan orang tua kepada anaknya, menasehatinya di dalam kamar. Jika kawan tersebut adalah rekan kerja, amat-amatilah kapan waktunya sedang sendiri maka tgorlah pada tempo tersebut.

      • Menegur di dalam keluarga (dengan disertai rekan kerja lainnya).

        Lakukanlah apa yang pantas untuk diperbincangkan dengan mengajak keluarga sekalian. Membicarakan masalah tertentu dalam forum keluarga karena setelah ditegur empat mata, si kawan tersebut tidak meresponnya. Padahal tenggat waktu untuk memperbaiki diri hampir satu bulan berlalu tapi belum ada perubahan.

        Jenis teguran semacam ini merupakan suatu bentuk kebiasaan memanggil teman-teman yang sependapat, bareng-bareng mendatangi sikawan tersebut pada momen yang tepat. Bermaksud membicarakan sesuatu tentang kesalahan yang pernah diperbuatnya. Tentu mereka bergerombol bukan nntuk menghakiminya melainkan sekedar memperkuat pernyataan bahwa dia perlmu memperbaiki dirinya.

      • Menegur di antara masyarakat.

        Jika orang tersebut masih enggan untuk merubah perilakunya yang buruk, maka yang perlu dilakukan adalah menyerahkan tugas menasehatinya kepada atasan yang lebih tinggi. Agar sedapat-dapatnya atasan mengingatkannya dari depan barisan upacara untuk tidak melakukan kesalahan yang serupa di lain waktu. Cara menasehati semacam ini memiliki efek malu yang kuat jadi pertimbangkanlah baik-baik sebelum merekomendasikannya kepada atasan.

      • Jangan pedulikan lagi kesalahannya tersebut.

        Si kawan di tegur berulang-ulang tetapi tidak mau mendengarkan. Malahan yang diperbuatnya adalah kesalahan yang semakin intens terjadi. Orang yang keras kepala semacam ini, tidak perlu dibawa pusing sakit kepala, tetapi dibiarkan saja. Suatu saat nanti, pasti juga dia melakukan kesalahan fatal. Mungkin itulah kesempatannya untuk dihukum sekaligus bisa berubah dari kebiasaan buruknya.

    9. Teknik khusus saat menegur

      Memberi nasihat kepada seseorang tidaklah kaku, tetapi ada banyak pilihan yang dapat kita ambil agar apa yang kita lakukan memberi efek walau hanya 0,001% saja. Mungkin apa yang kami tuliskan pada bagian berikut ini akan menjadi referensi, silahkan kembangkan berdasarkan pengalaman masing-masing.

      • Menegur dengan mengingatkan “adanya Tuhan yang selalu mengawasi.”

        Ini adalah teguran yang paling mudah untuk dilakukan. Saat anda mengidentifikasi bahwa rekan-rekan sedang berada di zona negatif kehidupan, ingatkan saja mereka tentang kata-kata tersebut. Katakan dengan nada datar “hai, Tuhan yang di atas sedang mengawasi kalian lho….” Tentulah kata-kata ini mungkin bisa menyadarkan mereka untuk sejenak. Atau bisa juga mengatakan “halo, Tuhan melihat semuanya dari atas teman….”

      • Menegur dengan mengingatkan firman Tuhan.

        Tentulah ini perlu di dukung dengan kemampuan membaca, mempelajari, menandai dan menghafal beberapa firman Tuhan maka teguran semacam ini akan terwujud. Cari nats firman yang berhubungan dengan suatu kesalahan dan langsung menegur hal tersebut. Penemuan nats unik biasanya terjadi saat kita rutin membaca firman tiap-tiap hari. Atau bisa juga mencarinya lewat program komputer atau soft smartphone.

      • Menasihati berdasarkan peraturan.

        Bila aturan di masyarakat sudah jelas maka yang perlu dilakukan saat menasehati adalah menghubung-hubungkannya dengan aturan yang ada. Berharap saja dia mau mengubahnya, walau secara perlahan tetapi hal tersebut cukup sebagai itikat baik. Pada posisi ini kita perlu juga menjaga perasaan orang yang dinasehati. Hindari melakukannya saat di tempat ramai, tetapi selalu dahulukan teknik empat mata.

      • Menegur sambil bercengkrama dalam suasana hangat.

        Teguran yang diberikan dalam kehangatan, kita harap bisa lebih erat melekat dalam hati masing-masing orang. Sebab dalam suasana hangat, terjadi ikatan emosional antar kedua belah pihak sehingga ada kedekatan yang saling memahami. Suasana santai ini biasanya tercipta secara otomatis di dalam keluarga dimana ada kesempatan berkumpul bersama sambil menonton atau ngemil atau sedang membahas sesuatu yang menarik (game keluarga). Sambil-sambil bercengkrama, selingi juga dengan memberikan beberapa nasihat tentang sesuatu agar kedepannya lebih baik lagi.

        Suasana hangat dalam keluarga ini bisa terjadi di dalam rumah, dalam perjalanan ke suatu tempat, lokasi objek wisata (kuliner, alam, ilmu pengetahuan/ perpustakaan, sejarah dan lainnya). Atau mungkin saja sedang acara liburan pulang kampung sehingga banyak waktu yang dapat dihabiskan bersama-sama.

    10. Menegur menggunakan media sosial.

      Karena kita kurang sopan saat menasehati orang dewasa maka yang perlu kita galakkan adalah nasehat positif yang bisa disebar kepada siapa pun. Kekuatan semacam ini dapat sampai kepada siapa saja, berharap itu ditemukan oleh orang yang notabene sama umurnya alias seleting dengan orang yang dimaksud. Pada momen inilah kita juga bisa berimprovisasi dengan opsi lainnya sehingga teguran yang disampaikan ada bumbu seninya. Sekaligus dalam hal ini belajar membuat cerita atau kisah sendiri.

      • Menasihati tanpa menyebut nama.

        Sekali pun media sosial bawaannya bebas tanpa aturan khusus. Bukan berarti kita tidak peduli lagi dengan orang lain. Sebab biar bagaimana pun, kehidupan di dunia nyata selalu ada hubungannya dengan dunia maya. Setidak-tidaknya 10% aktivitas di dunia nyata tergambarkan di dalam dunia maya.

        Jadi, tegur siapa pun dengan sopan, bila perlu gunakan teknik penyamaran, seolah-olah hal tersebut bukan ditujukan kepada orang/ kelompok yang dimaksud. Melainkan ditujukan kepada pihak lainnya yang tidak ada hubungannya dengan orang di dunia nyata. Seorang seniman pastilah bisa mengambil sisi cantiknya sebuah nasihat sehingga terdengar anggun sekalipun keras.

      • Menasihati dengan perumpaan.

        Teknik semacam ini juga telah dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk memudahkan para pendengar memahami situasi yang sedang disimulasi dalam sebuah kisah yang lebih dikenal sebagai perumpamaan. Tuhan Yesus Kristus sendiri menyampaikan begitu banyak perumpamaan untuk membuat murid-muridnya dan semua orang percaya dapat lebih memahami tentang kebaikan dan kebenaran tentang kerajaan sorga

        Saat ini, kita juga bisa mengingatkan seseorang terhadap kesalahannya dengan membuat suatu perumpamaan. Biasanya pembuatan ilustrasi tersebut bisa kita peroleh contoh-contohnya dari konten internet lainnya (blog dan website rohani). Bisa juga dengan berimprovisasi membuatnya sendiri berdasarkan ide dan mimpi yang terbesit dalam benak masing-masing.

 

  1. Dan lain sebagainya, silahkan cari dan temukan sendiri aturanmu!

Kesimpulan

Ada orang yang datang tampil ke depan namun ternyata dia sengaja melakukan kesalahan semata-mata untuk memicu reaksi anda. Apa yang perlu dilakukan terhadap orang tersebut? Tentulah selama ia melakukan kesalahan anak-anak atau kesalahan bayi, kemungkinan besar dia sedang menguji kita. Akan tetapi, kalau dia sudah mulai melanggar peraturan, sistim norma dan nilai di dalam masyarakat; orang semacam itu perlu dinasihati. Harap perhatikan juga faktor-faktor lainnya sebelum bertindak, siapa tahu ada di sekitar situ orang yang lebih dewasa tetapi acuh saja. Jika orang dewasa itu saja terkesan santai menghadapinya berarti kita pun perlu melakukan hal yang sama: nyantai dan biarkan semuanya berlalu. Sebab orang tersebut sedang menguji kesabaran di dalam hati masing-masing. Ingat: “benci kejahatan orang lain dengan tidak melakukan hal yang sama dan bila dimungkinkan menegurnya tetapi tetap ramah dan santun kepada orangnya.” Anda perlu bijak memilah-milah, jangan sampai mengeneralisasi hal-hal negatif.

Salam, Memberi nasehat mudah,
Tetapi menjadi penasehat bijak
Butuh lebih banyak pengalaman
dan lebih banyak belajar
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.