7 Alasan Menerima Uang Dari Capres/ Caleg/ Cagub/ DLL, Boleh Tidak Menerima Bantuan Dari Peserta Pemilu Yang Sedang Berkompetisi

Masakan kita memilih yang salah? Itu bentuk kebodohan/ pura-pura tidak tahu? Pilihlah yang menurut anda layak. Hindari memililih yang buruk di antara yang baik. Kalau tidak ada yang baik, golput juga sah.

Perhelatan pemilu merupakan rutinitas politik yang selalu diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Ini adalah kesempatan bagi oknum tertentu untuk bergabung dalam kancah politik nasional maupun lokal yang sangat menantang namun keuntungan yang didapatkan juga berlimpah dirasakan oleh mereka yang memenanginya. Seharusnya ini menjadi ajang pencarian potensi politik yang merupakan salah satu kemudi untuk mengarahkan masyarakat akan ke arah mana nantinya. Namun yang namanya perlombaan: “perjuangan boleh sama tetapi tetap saja ada yang menang dan ada yang kalah.” Lantas, ada beberapa oknum yang tidak ikhlas menerima kenyataan tersebut, dari sinilah mulai timbul yang namanya masalah.

Orang yang menyogok berarti tidak siap menghadapi kerasnya hidup, bagaimana mau jadi pejabat?

Seharusnya, orang-orang yang tidak dapat ikhlas menjalani hidup, tidak boleh jadi politikus. Biar bagaimana pun sifat positif ini perlu dimiliki oleh calon pemimpin eksekutif maupun calon pemimpin legislatif. Sebab orang yang tidak bisa ikhlas, lebih cenderung menjadi otoriter, bertindak sesuka hatinya dan enggan tunduk terhadap peraturan juga hobi melakukan pelanggaran walau dilakukan diam-diam. Belum jadi apa-apa tapi sudah jadi makelar yang menyebarkan uang panas kemana-mana. Terlebih lagi klau sudah terpilih kelak, bakalan jadi koruptor kelas hiu yang melancarkan aksi busuk di mana-mana. Oleh karena itu, cerdaslah namun tetap tulus berbuat baik saat menanggapi para calon anggota legislatif tersebutr.

Sikap cerdik tapi tulus menanggapi anggota caleg/ capres/ cagub dan lainnya, yang suka politik uang

Sikap cerdik yang kami maksudkan adalah suatu cara khusus untuk menanggapi peristiwa yang berlangsung di sekitar dengan mengedepankan logika. Berpikirlah sebelum memilih dan merenunglah sebelum memberi tanggapan. Hindari perilaku seperti orang yang tidak berpengalaman kecuali kalau kita memang sama sekali belum tahu apa-apa soal itu. Karena kita sudah tahu bahwa korupsi yang dilakukannya kelak akan lebih besar dari yang diberikannya, Tanggapi saja dengan santai. Tidak perlu main kasar (verbal) dengan menasihatinya atau adu argumen mempermalukannya demi menentang apa yang sedang digelutinya. Juga tidak bagus rasanya bila sampai terbawa emosi sehingga mengabaikannya begitu saja. Melainkan, kita juga harus tulus berbuat baik terhadapnya dimulai dari memberi tanggapan yang ramah.

alasan menerima uang dari capres, caleg, cagub, dll, boleh tidak menerima bantuan dari peserta pemilu yang sedang berkompetisi

Bolehkah kita menerima uang suap (salam tempel) dari calon pejabat eksekutif maupun legislatif di masa pemilu

Uang adalah masalah dilematis yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sebagai alat tukar, fungsinya sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan. Akan tetapi, bisa juga dimanfaatkan sebagai alat melancarkan kepentingan pribadi maupun kelompok. Artinya, dengan memanfaatkan kertas ajaib yang melimpah maka seseorang dimungkinkan untuk mengontrol kehidupannya sendiri dan juga mengontrol setiap aktvitas orang lain semau-maunya dia. Kecenderungan manusia untuk memanfaatkan rupiah demi melancarkan keinginannya hanya menciptakan benih-benih materialistik di antara rakyat. Ketika tokoh-tokoh penting menjadikan materi segalanya, situasi masyarakat akan berangsur-angsur digiring dalam kekacauan. Berikut ini akan kami jelaskan, apakah kita boleh menerima uang suap dari calon anggota legislatif, presiden, gubernur, walikota, bupati, kades (kepala desa) dan wakil-wakilnya.  

1. Menerima hadiah berarti merusak prinsip pemilu yang demokratis.

Prinsip pemilu luber jurdil terdiri dari langsung, bebas, rahasia, jujur dan adil. Tentu saat kita menerima uang panas dari para calon pejabat tinggi tersebut telah melanggar prinisp kejujuran. Kita tidak lagi mempertimbangkannya dengan hati nurani yang bersih sebab telah terpengaruh oleh merah-birunya lembaran rupiah. Kita sendirilah yang secara diam-diam mengotori proses demokrasi yang sedang berlangsung dengan menyetujui praktek politik uang secara sembunyi-sembunyi.

2. Mengambilnya berarti kita sama rakusnya dengan dia.

Sadar atau tidak, kertas pahlawan tersebut sebenarnya terlalu fana untuk dijadikan sebagai pemuas yang tidak halal. Sebab biar bagaimana pun, uang panas ya tetap uang panas. Terlebih ketika kita sudah tahu seluk-beluk asalnya tetapi masih diterima juga. Kecuali kita tidak tahu apa-apa dan hati pun tidak merasa bersalah karenanya. Jadi menyimpan fulus dari hasil politik uang sama saja dengan menyimpan penjahat dikantong sendiri. Orang yang memberikannya serakah terhadap kekuasaan sedang kita pun serakah memakai uang tersebut: jadi sama saja toh, layaknya kakek – nenek. Lagipula kejahatan kecil dan kejahatan besar akan sama-sama dinilai sebagai dosa.

3. Menerimanya berarti menyetujui adanya calon pejabat tinggi yang kurang ikhlas menjalani hidup.

Dalam suatu pertandingan, ada yang namanya menang dan kalah. Tetapi, orang yang hobi membagikan uang sogok tidak ikhlas menerima kenyataan tersebut. Bagaimana ini, masakan kita membiarkan orang yang tidak ikhlas, berdiri di depan memimpin perubahan? Yang terjadi malah oknum tersebut terlena menghitung uang seludupan yang kelak dihasilkannya sehingga tanggung jawab pun terbengkalai. Orang-orang ini, motivasinya dari awal adalah kaya, terhormat dan terpuji. Bagaimana mungkin kita bisa menyetujui oknum yang tidak punya hati mengotak-atik aturan yang berlaku?

4. Menerimanya berarti ikut membiarkan masuknya calon pejabat negara yang suka menghalalkan segala cara.

Sebagai masyarakat, kita jangan bodoh-bodoh amatlah. Sekali pun pendidikan kita kurang afdol dan pekerjaan tidak jelas namun jangan berperilaku seperti orang yang tidak bisa menghargai kebenaran yang selama ini dibela-belain. Memang, kalau ditimbang secara logika sempit, apalah kita; hanya satu orang idealis di antara ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan masyarakat di luar sana. Sepertinya, walau kita tidak memberi suara, pemilu tetap menghasilkan pemenang.

Dalam pemilu yang dilaksanakan, masyarakat adalah penilai sekaligus pengawas untuk kebaikan dirinya sendiri selama lima tahun ke depan. Kita sudah paham bahwa orang yang baru awal-awal saja sudah penggelapan di sana-sini, pastilah kalau kelak terpilih nanti, kelakuannya lebih buruk dari itu. Memberikan kekuasaan kepada oknum penyuka hal-hal ilegal justru akan mendorong timbulnya instabilitas politik-ekonomi, baik lokal atau bisa sampai skala nasional.

5. Menerima uangnya berarti ikut ambil bagian dalam konspirasi yang kelak akan dilakukan oknum pejabat tersebut.

Hindari memandang kebenaran itu kecil dan tidak akan ada pengaruh apa-apa saat kita sesekali tidak mentaatinya. Sadarilah bahwa justru ada banyak orang yang jatuh karena terlalu menyepelekan tindakan yang ditempuhnya. Sebab bisa saja kebiasaan kecil yang menyalahi aturan dapat mengantarkan kita pada pelanggaran fatal.

Saat kita menyetujui seseorang untuk memangku suatu jabatan padahal sudah tahu betapa besar uang politik yang dikeluarkannya untuk mengangkat nama. Berarti kita paham bagaimana cara orang tersebut bekerja kelak. Tetapi karena terlalu naif, mau-mau saja melegalkan keberadaannya dengan memilihnya pula. Saat menyadari sedang mencoblos orang yang jelas-jelas korup pada langkah pertama, berarti kita juga paham bahwa kedepannya nanti si kawan tersebut akan membawa kebiasaan korupnya. Jika kelak orang tersebut menang lalu memimpin di depan, setiap kejahatannya turut kita setujui sebab tangan inilah yang dahulu mendukung dan mendudukkannya sebagai pejabat.

6. Menerimanya berarti menghancurkan negeri ini secara perlahan-lahan tapi pasti.

Uang memang penting, siapakah yang tidak butuh uang? Tetapi mengoleksinya dari pencuri sama saja dengan membuat kita sebagai bagian dari komplotan para penjahat tersebut. Oknum materialistik biasanya hanya memikirkan bagaimana agar dirinya cepat kaya, terhormat dan terpuji. Keadaan inilah yang menjadi fokus pencarian seumur hidup sedangkan pekerjaan terbengkalai. Bukan sampai di situ saja, sebab posisi yang ditempatinya pun turut menjadi tambang emas dan uang tunai.

Jika orang lalim terus berkuasa maka segala rencana pembangunan untuk memajukan masyarakat, justru terbengkalai, sekali pun terlaksana, masih setengah-setengah, setengah hati menghasilkan proyek abadi yang terus menyerap anggaran. Belum lagi masalah penggelapan ini-itu seputar proyek fiktif. Bila keadaan ini terus berlanjut maka lama kelamaan negara akan merugi/ tekor dan nasib rakyat pun terbengkalai.

7. Kita tidak menyesal menolak uangnya sekali pun kelak dialah pemenangnya.

Bagi mereka yang insaf dengan pilihan yang dijatuhkan kepada oknum yang kurang tepat tetapi akhinya keluar sebagai pemenang, akan timbul secercah penyesalan. Kenyataannya sudah bisa diprediksi bahwa caleg/ capres/ cagub tersebut kelak akan menduduki jabatannya sambil diam-diam melakukan aksi manipulatif demi mengeruk keuntungan pribadi. Sebab tidak mungkin ada pengusaha yang mau dirugikan. Posisi yang strategis dalam pemerintahan akan menjadi lahan mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya meski dengan cara yang tidak halal.

Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan jika orang yang kita tahu suka politik uang, justru keluar sebagai pemenang pemilu. Sebab telah melakukan apa yang menjadi bagian kita, tidak mencoblosnya. Jika memang dia boleh menang maka itulah kehendak Tuhan, kita perlu menghadapinya dengan ikhlas. “Tidak ada rasa kecewa karena pilihan-pilihan benar yang kita tempuh, sebab kebenaran adalah sumber kepuasan, kedamaian, kelegaan dan ketenteraman hati.”

Kesimpulan

Pertanyaannya sekarang adalah “bolehkah kita menerima bantuan uang dari tim sukses capres/ caleg/ cagub/ dari peserta pemilu lainnya?” Namanya juga kertas ajaib, siapa yang tidak tertarik? Semuanya mau-mau saja! Di atas semuanya itu “hindari terlalu polos, apalagi terlalu naif.” Sebagai manusia yang bisa berpikir jauh ke depan, kita sudah tahu bagaimana jadinya tindak-tanduk sikawan yang suka suap sana – sogok sini di tempat-tempat sepi, jika nantinya menang/ menjabat. Kita tetap merasa bersalah karena kebiasaan mencoblos oknum yang jelas-jelas gemar money politics. Terlebih ketika dia berhasil memimpin, maka kesalahan yang dilakukannya akan ditimpakan beberapa oz kepada kita. Karena tidak tegas menolak yang salah, itu kelalaian kita yang menyebabkan dia dahulu terpilih.

Refleksi keidupan

Mencoblos calon presiden, gubernur walikota, bupati, kepala desa dan lain sebagainya saat pemilu berarti memberi  restu untuk memimpin selama beberapa tahun ke depan. Jika, dari awal kita merestui calon yang korup maka segala yang dilakukannya kelak (saat menjabat) telah kita setujui juga. Oleh sebab itu, pilihlah calon pemimpin/ pejabat pemerintahan yang anda tahu bersih, sehingga bebas dari rasa bersalah bila kelak si kawan menyimpang. Akan tetapi, hindari merestui orang yang sudah kita tahu menyukai politik uang: mencoblosnya berarti kita ikut setuju atas politik kotornya kelak. Sebab salah satu pendukungnya dahulu di masa pemilu adalah kita yang melakukannya dengan sadar & suka hati (mentang-mentang dapat salam tempel).

Salam, Masakan kita memilih yang salah?
Itu bentuk kebodohan/ pura-pua tidak tahu?
Pilihlah yang menurut anda layak
Hindari memililih yang buruk
di antara yang baik.
Kalau tidak ada yang baik,
golput juga sah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.