7 Kebiasaan Belanja Yang Buruk

Jangan biarkan emosi yang tidak stabil menguasai anda sebelum & saat berbelanja. Belilah sesuatu dengan logika benar, Niscaya barang yang terbeli terasa istimewa karena dibutuhkan dan tak ada yang disia-siakan

Tiap-tiap orang di dunia ini membutuhkan orang lainnya untuk tetap hidup. Nuansa membutuhkan tersebut, lebih cenderung menciptakan rasa kebersamaan yang semakin lama semakin solid. Dalam ikatan yang erat inilah terjadi berbagai-bagai gejolak yang jika dipahami secara posiit akan menuntun tiap hati kepada kedewasaan yang mandiri lagi bijak. Sesungguhnya tanpa kehadiran orang lain di sekitar, tidak ada yang namanya perkembangan jika tidak ada orang lain di sekitar kita. Demikianlah kita perlu bersyukur terhadap siapa pun yang ada di sekeliling kehidupan ini, entah itu kaum keluarga sendiri, saudara, sahabat rekan kerja, tetangga, rekan belajar dan lain sebagainya. Merekalah yang membuat anda lebih kuat (mental) dan semakin terlatih (fisik, emosional-intelektual) dalam melakukan berbagai hal.  

 Salah satu tandanya bahwa sampai detik ini kita masih membutukan orang lain sekali pun tidak mengenalnya adalah lewat berbagai proses jual-beli yang dilakukan. Relasi cepat akan segera terbentuk dalam segala transaksi yang dilakukan. Sekali pun kita melakukannya di depan smartphone/ laptop, bukan berarti kita bertransaksi dengan robot. Tetapi, robot tersebut semata-mata hanya penghubung antar muka saja. Peran pengendali robot mandiri otomatis hanya melaksanakan seleksi tahap awal berdasarkan data-data dan pembanding standar. Sesungguhnya, dibaliknya atau setelahnya ada manusia yang berperan sebagai operator/ admin untuk melakukan beberapa seleksi yang lebih rinci.

Baik belanja online (tidak langsung) maupun belanja offline (langsung ke tokonya) adalah sama-sama bagus. Tipe pembeli yang suka online, terlalu sibuk atau terlalu payah untuk menggerakkan kaki berolahraga di depan umum atau jangan-jangan mereka adalah pemalu. Mereka hanya mau menunggu segala sesuatu diantarkan kehadapannya. Sedang di sisi lain, ada pula yang suka membeli sesuatu secara langsung, orang-orang yang aktif, memiliki fisik yang kuat dan bukan pemalu walau tidak terlalu berani. Dimanakah diri anda di antara semua kapasitas manusia yang kami tuliskan tersebut? Kami harap yang merasa diri negatif bisa segera merubah diri dan yang merasa diri positif, silahkan dilanjutkan.

kebiasaan belanja yang buruk

Pola budaya belanja yang kurang baik

Semu orang juga belanja…. Hanya sesuatu yang non organik saja yang tidak membutuhkan sesuatu bagi dirinya sendiri yang diperoleh dari lingkungannya. Berbelanja adalah suatu pertanda positif yang menunjukkan bahwa kita masih manusia biasa yang saling membutuhkan satu sama lain. Sayang, kebiasaan ini bisa-bisa berubah menjadi buruk karena dasar atau sudut pandang yang digunakan saat melakukannya terkesan miring. Sebab segala pondasi yang dibangun di atas kemiringan, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semuanya itu ambruk secara perlahan tetapi pasti. Berikut akan kami jelaskan beberapa contoh kebiasaan membeli sesuatu yang terkesan jauh dari kebaikan.

1. Belanja atas dasar keinginan lebay (membeli hal-hal yang tak berguna).

Siapa yang tahu, “apakah keinginan anda lebay atau tidak?” Biasanya segala sesuatu yang berlebihan sifatnya berada di luar “apa yang dibutuhkan?” Sesuatu yang tidak masuk dalam daftar kebutuhan tetapi kita bela-belain untuk membelinya sekali pun harganya mahal tetapi tetap di akuisisi. Akan tetapi biasanya apa yang telah diperoleh dari proses ini tidak akan membawa faedah apa-apa dalam kehidupan pembelinya.

Mungkin orang-orang ini memiliki banyak uang kali ya…. Mereka membeli secara tak terkontrol atau lebih tepatnya tergoda rayuan oknum marketing bermulut licin. Rasa-rasanya ketika sales itu ada di sekitar kita, penting sekali barang tersebut. Akan tetapi dia pergi, semua fantasi karena pujian yang terucap olehnya menjadi buyar. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, hati menjadi tidak tenang bercampur gelisah dan penyesalan. Barang yang telah dibelanjakannya pun menjadi tidak guna, dibuang-buang di sudut rumah.

Buatlah rencana belanja anda tiap-tiap bulannya agar terhindar dari keinginan tiba-tiba yang ujung-ujungnya hanya akan memboroskan keuangan. Sekali pun anda memiliki banyak uang/ penghasilan saat ini, sadarilah bahwa ada masa dimana kita tidak lagi produktif, misalnya masa tua. Lebih baik tabunglah penghasilan anda untuk kebutuhan lainnya di masa depan.

2. Membeli untuk ditumpuk-tumpuk.

Untuk apa membeli sesuatu tetapi ternyata di rumah sudah ada banyak? Kebiasaan belanja semacam ini memang termasuk dalam kecanduan yang tidak terelakkan dan tidak disadari. Kemungkinan juga membeli dengan cara menimbun dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan yang akan terjadi. Atau bisa juga terjadi karena kebetulan harganya lebih murah ketimbang yang biasanya. Padahal, dia tidak menyadari bahwa ada kelemahan pada barang murah tersebut, yaitu hampir kadaluarsa.

Menumpuk itu berarti membeli lebih banyak dari jumlah yang seharusnya dibutuhkan. Ini salah satu pola kebiasaan yang serakah. Kemungkinan juga keadaan tersebut timbul akibat intensnya dorongan dan penipuan yang dilakukan oleh oknum marketing.

Anda perlu membuat daftar rencana belanja tiap-tiap bulan agar barang yang sudah dibeli tidak dibeli lagi. Perlu juga saling koordinasi dengan anggota keluarga lainnya, mungkin ada yang sudah punya atau hendak membeli barang kebutuhan yang sama. Manajemen perencanaan keuangan akan membantu kita menghindari pola membeli yang terkesan mubazir (boros).

3. Belanja online melulu.

Berbelanja secara online adalah sesuatu yang lumrah, hampir semua orang pernah melakukannya; kami sendiri pun pernah melakukannya. Hanya saja, masalahnya sekarang adalah “apakah kebiasaan tersebut sudah ditekuni berdasarkan keperluan? Atau jangan-jangan semuanya itu hanya dilakukan sekedar motivasi gaya-gayaan?

Online shop tidak selamanya buruk dan tidak selamanya baik. Selama apa yang kita butuhkan terjangkau untuk ditempuh, sekali pun agak jauh, maka selama itu pula berusahalah untuk datang ke toko/ ke kedai/ ke tempat/ ke lokasi tersebut. Pesan-pesan online bagusnya kalau lokasi terlalu jauh atau misalnya di luar pulau. Jadi, berusahalah menjadi orang yang fleksibel yang berbelanja menurut pola kebutuhan yang mendesak, bukan demi mempertahankan sifat-sifat yang tidak selamanya baik. Saksikan juga, Manfaat belanja di toko online.

4. Belanja untuk pamer.

Mengapa seseorang pamer? Sebab ada persaingan diam-diam yang berlangsung di antara orang per orang. Biasanya kebiasaan pamer ini timbul lewat suatu sindiran atau penghinaan yang dilemparkan sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang.

Terlebih-lebih ketika seorang yang sombong menanggapi carut-marut yang terjadi di sekelilingnya. Gangguan yang terjadi bisa membuat suasana hatinya menjadi buruk. Lantas usaha instan yang dilakukannya untuk mengusir sedih terpuruknya hati, yaitu dengan membanggakan diri dan membanggakan segala pencapaian hidupnya. Lawan-lawannya pun sangat direndahkan oleh dirinya sendiri. Semua rasa sombong itu sengaja ditimbulkannya demi menyingkirkan rasa sakit hati yang belum dibiasakan.

Alasan lain seseorang menjadi pameristik adalah karena ingin memanas-manasi seseorang atau sekelompok orang. Kebiasaan semacam ini jelas cukup menjengkelkan. Akan tetapi, orang yang rendah hati, sabar dan selalu ikhlas akan mampu menghadapinya dengan tenang penuh perhitungan.

Sadarilah bahwa pamer adalah kebiasaan yang justru mengurangi kebaikan hati. Seharusnya, hari ini anda bisa menabung segenggam kebaikan di sorga akan tetapi karena kebiasaan pamer, tabungannya pun berkurang drastis menjadi secuil saja. Sebab kebaikan yang dipamerkan, upahnya telah dituai selama di bumi dan di sorga tidak ada lagi upahmu kelak.

5. Membelanjakan uang hasil mengutang secara tak terkontrol.

Utang, saat seseorang memberikan kepada anda beberapa pinjaman, apa yang akan anda lakukan terhadap utang tersebut? Menurut kami, setiap kita harus memiliki kode etik sebelum memutuskan untuk berutang. Sebab “mengutang sama saja dengan memberikan penghasilan di masa depan kepada pihak lain.” Oleh karena itu, perhitungkanlah baik-baik sebelum mengajukan hutang.

Salah satu etika berhutang yang baik adalah hindari mengutang hanya demi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau hanya soal memenuhi kebutuhan pokok, berusahalah untuk memperolehnya dari meminta, baik lewat kaum keluarga sendiri maupun dengan orang-orang di sekitar. Akan tetapi, pinjamlah beberapa uang untuk kebutuhan membeli faktor produksi aktif yang potensial. Berutanglah demi sebuah investasi, misalnya saat membeli tanah, modal buat usaha dan lain sebagainya. Ketahuilah juga, Cara-cara berhutang yang sehat.

Terbebanlah saat memiliki utang agar itu bisa digunakan secara hati-hati untuk sesuatu yang lebih bernilai dan terus-menerus ada.

6. Belanja untuk melarikan diri dari masalah.

Memang untuk sesaat saja, membelanjakan uang membuat hati senang. Jika anda mengeksploitasi kesenangan terebut secara berlebihan maka akan muncullah pola belanja yang agak melenceng dari batas kewajaran. Tidak ada lagi kendali atas diri sendiri, apa saja yang dilihat bagus akan diembatnya. Pada tahapan inilah yang namanya penyimpangan semakin besar kemungkinan akan terjadi.

Terlebih ketika uang besar di tangan niscaya apa pun yang terpikirkan olehnya akan diraih seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Bahkan hal-hal salah pun turut dibeli, misalnya rokok, miras, narkoba dan termasuk seks bebas. Oleh karena itu, saat sedang dirundung masalah, berupayalah untuk menerima kenyataan apa adanya, tanpa titik koma dan tanpa alasan/ protes. Hadapi dengan lapang dada, penuh kerendahan hati dan tetaplah berbuat baik dalam satiap kesempatan yang mungkin.

Sebelum berbelanja, sebaiknya perbaikilah terlebih dahulu suasana hati. Emosi yang sedang tidak stabil, biasanya membuat logika melemah. Sehingga saat membeli sesuatu tidak berpikir terlebih dahulu. Apa saja yang timbul dari dalam hati akan diambil padahal belum tentu dibutuhkan. Oleh karena itu, sebelum berbelanja redam emosi yang meledak-ledak agar pikiran selalu sadar sebelum bertindak.

Berusahalah semaksimal mungkin untuk berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang-orang yang berhubungan dengan perkara tersebut. Sehingga sekali pun timbul stres, derajatnya akan lebih rendah dan mampu diatasi sendiri. Tujukan hati kepada Tuhan untuk menyegarkan pikiran yang kusut. Selain itu, tetaplah sibuk melakukan pekerjaan sesuai keahlian dan menempuh pendidikan sesuai minat.

7. Membeli berdasarkan harga.

Biasanya orang yang belanja berdasarkan harga, sangat memperhatikan gengsinya. Mungkin dia merasa ada orang yang ingin menyainginya, padahal tidak ada siapa-siapa di sekelilingnya. Kemungkinan lainnya adalah karena merasa harga dirinya lebih tinggi dari orang lain sehingga berlangganan dengan barang yang harus berkelas.

Padahal sesungguhnya, barang berkelas dan biasa tidak ada bedanya. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada bentuk dan warnanya saja. Akan tetapi, harga keduanya sangat jauh berbeda. Lantas, orang yang merasa kaya-raya gengsi ganda akan membeli dan lebih puas dengan yang harganya lebih tinggi. Keadaan inilah yang cenderung lebih banyak memutar uang hanya di antara kalangan atas saja (minimnya keadilan sosial/ kesetaraan).

Seperti saat kita membeli film, ada yang kualitas dvdrip dan yang satu bluray; padahal keduanya sama-sama film dan jelas gambarnya. Orang kaya akan membanggakan dirinya sebab dapat membeli film berkualitas tinggi (bluray). Ia pun memandang rendah mereka yang membeli dengan kualitas rendah (dvdrip). Lantas kebanggaannya itulah yang menciptakan rasa senang dalam hatinya.

Kesimpulan

Semua orang juga belanja. Kitalah yang sakit karena menjadikan belanja adalah segala yang dibutuhkan dalam hidup ini. Pandangan semacam ini jelas berlebihan sehingga mendorong kebiasaan berbelanja yang berlebihan pula. Mereka yang terjebak dalam kepuasan membelanjakan uangnya, tidak akan pernah lagi meninggalkan apalagi melupakan kebiasaan tersbut. Sedang semua aktivitas yang ditekuni secara berlebihan berpotensi besar merugikan orang lain, diri sendiri dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, berusahalah untuk meluruskan pikiran sebelum berbelanja. Pembelanja yang waras memiliki kecenderungan membeli ini-itu secara terkendali dan lebih berat ke arah positif.

Salam, Jangan biarkan emosi yang tidak stabil
menguasai anda sebelum & saat berbelanja.
Belilah sesuatu dengan logika benar,
Niscaya barang yang terbeli terasa istimewa

karena semua dibutuhkan tak sia-sia!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.