10 Penyebab Beredarnya Barang Yang Bermutu Rendah (Misal Kadaluarsa) – Mata Rantai Peredaran Produk Tidak Berkualitas Di Pasaran

Produk kurang berkualitas
tidak akan beredar luas.
Bila pemerintah di hulu dan hilir berawas-awas

Hidup tidak pernah lepas dari aktivitas membeli. Setiap orang yang memiliki uang pasti pernah membeli sesuatu, entah itu demi kebutuhan dirinya, orang lain maupun demi keperluan bersama. Bukan hanya para pekerja yang mempunyai uang, anak kecil sekali pun dapat memperolehnya dari orang tua. Tidak hanya soal barang yang memiliki wujud saja yang dapat diperjual-belikan. Tetapi hal-hal yang tidak berwujud berupa pelayanan sesaat saja yang bukan untuk dimiliki melainkan digunakan untuk sesaat saja. Pelayanan semacam ini lebih dikenal dengan sebutan jasa. Baik barang maupun jasa, selalu kita perlukan dalam berbagai memen yang dijalani seorang diri maupun saat bersama teman, sahabat, rekan kerja dan keluarga sendiri.

Ada dua teori tentang popularitas dan kelarisan suatu hasil produksi  di mata masyarakat, yaitu (1) semakin lama suatu produk dipajang semakin turun popularitas/ kelarisannya di tengah masyarakat. Tetapi kadang juga, (2) semakin lama suatu pordak dipajang semakin populer/ laris keberadaannya di tengah masyarakat. Kira-kira, anda lebih percaya teori yang mana? Masalah sesungguhnya di dalam diri tiap-tiap orang bukanlah kedua teori di atas melainkan terletak dari dasar seseorang membeli sesuatu. Bila pelanggan membeli sesuatu karena membutuhkannya maka kebanyakan spekulasi tidak ada yang dapat menjelaskannya. Akan tetapi bila seseorang membeli sesuatu karena menginginkannya niscaya akan lebih banyak pertimbangan yang dilakukan. Pertimbangan yang banyak inilah yang memberi kesempatan semakin besar berlakunya teori-teori di atas termasuk teori ekonomi. Yang sehubungan.

Ada banyak produk yang beredar luas di dalam masyarakat, baik yang dibuat secara pribadi (tidak untuk diperjual-belikan) dan yang diproduki untuk kelompok tertentu (kalangan sendiri) maupun yang dikomersialkan secara luas. Akan tetapi, mungkinkah barang dan jasa tersebut terbeli semuanya? Pasti ada beberapa yang laris-manis dan ada juga yang perputarannya lambat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula prodak yang kebanyakan tidak laku atau sebagian tidak terbeli oleh karena berbagai faktor. Lantas bagaimana cara penanganan, pemberdayaan dan pemrosesan dari hal-hal yang tidak diminati lagi oleh siapa pun juga? Atau jangan-jangan pemerintah ingin sengaja tutup mata terhadap hal-hal tersebut.

Mata rantai yang membuat produk tidak berkualitas sampai di tangan masyarakat – Alasan mengapa barang kurang bermutu sampai di tangan konsumen?

Pada awalnya, semua produk yang dihasilkan berkualitas adanya. Akan tetapi, seiring waktu berlalu, kualitas tersebut kian hari kian menurun terlebih ketika masa kadaluarsanya telah lewat.  Namun di sisi lain ada juga barang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan yang memang tidak memenuhi standar-standar yang ditetapkan oleh lembaga tertentu.  Hal-hal tersebut akan terus-menerus terjadi sebab pengawasan dari pihak pemerintah masih kurang adekuat. Apalagi sistem ekonomi yang dianut adalah kapitlis dimana persaingan sangat gencar terjadi. Oknun yang menghalalkan segala cara bisa saja melakukan permainannya, konspirasi licik di tempat-tempat yang tidak populer dan kurang terpantau oleh publik dan pemerintah. Berikut akan kami jelaskan faktor penyebab beredarnya prodak berkualitas buruk di antara rakyat.

1. Keinginan untuk kaya-raya, hidup super nyaman dan terhormat.

Pengusaha yang gelap mata terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi , tidak dapat menahan  dirinya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Dia merasa bahwa uang yang banyak dapat mengisi kehampaan yang kerap kali menyelingi langkah kakinya. Lantas semua keinginan tersebut membuat seseorang berpikiran kacau. Mereka-rekakan segala sesuatu di dalam hatinya, semata-mata membuat diri terasa hebat dengan menginjak orang lain.

Nafsu manusia terhadap harta yang berlimpah-limph semakin kentara karena merasa bahwa ia bisa terus-menerus belanja sampai kapan pun. Padahal kurang memahami bahwa belanja terus-menerus dapat mengurangi minat kepada barang dan jasa itu sendiri. Jika keadaan ini terus berlanjut maka akan menjadi jenuh terhadap barang dan jasa tersebut sehingga menginginkan sesuatu yang lebih lagi.

Hasrat pengusaha terhadap penghargaan dan pujian bisa saja membengkak sehingga mendorongnya untuk mengesahkan apa yang ilegal. Demi rating dan popularitas merek yang digunakan, membayar lebih tinggi kepada pengelola even agar perusahaannya lebih diutamakan untuk diperkenalkan kepada khalayak luas. Semua biaya tersebut akan ditanggungkan kepada pelanggan secara bertahap. Ini akan menjadi kesempatan untuk beroleh ide licik yang mengorbankan konsumen.

2. Kurangnya rasa kebersamaan.

Namanya juga sistem ekonomi multikapitalis dimana masing-masing pengusaha harus saling bersaing dan saling mengungguli satu sama lain agar prodaknya semakin meroket sedang yang lainnya terjun bebas. Tentu dibutuhkan pembiayaan yang lebih besar untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Semua beban tersebut secara berangsur-angsur akan ditanggungkan kepada konsumen lewat berbagai tipu muslihat.

Rendahnya rasa persaudaraan di dalam hati para pengusaha cenderung membuatnya sebagai raja tega. Demi mewujudkan keinginannya tega menipu pelanggan. Tidak ada rasa mengasihi sesama seperti diri sendiri karena memilih untuk memanfaatkan kelemahan rakyat kecil untuk mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Rendahnya tanggung jawab perusahaan terhadap produk yang dihasilkan membuatnya semakin memungkinkan untuk menghasilkan produk gagal. Mungkin ini akan tetap diedarkan ke pelosok-pelosok dimana pengetahuan manusianya minimalis atau didaur ulang menjadi yang lain.

Perusahaan yang tidak memiliki rasa kebersamaan akan menganggap dirinya sebagai subjek sedang para konsumen adalah objek yang pantas dicoba-coba. Pengusaha kurang peduli dengan nasib pelanggan yang sakit-sakitan atau meregang nyawa karena saudara laki-lakinya adalah uang & harta benda sedang saudara perempuannya adalah pujian & penghargaan.

3. Keadaan ekonomi sedang lesu.

Resesi ekonomi bisa membuat perusahaan swasta tidak dapat bertahan bahkan ambruk (bangkrut). Sebab tiap-tiap produk tidak dibeli setiap hari oleh konsumen (kecuali sembako). Bahkan beberapa di antaranya hanya dibeli sekali dalam lima tahun (misalnya produk elektronik). Oleh karena itu, pastilah perusahaan tersebut dibantu pemerintah dengan memberikan suntikan dana berdasarkan perjanjian tertentu dan jumlah karyawan yang aktif bekerja. Jarang sekali perusahaan swasta yang dapat bertahan dalam resesi ekonomi tanpa diberi suntikan dana oleh pemerintah.

Saat keadaan usahanya sedang sepi-sepinya, mulailah mereka-rekakan cara picik untuk mengantisipasi biaya produksi agar kerugian yang diderita sifatnya minimal. Salah satu caranya adalah dengan mendaur ulang barang dan mempermurah harganya sehingga tampak baru dan laku dijual dipasaran.

4. Pengawasan dari pemerintah di hulu.

Di zaman multikapitalis, hampir tidak bisa dibedakan yang mana pemerintah dan yang mana pihak swasta. Sebab keduanya punya tujuan yang sama, yaitu hendak menyembunyikan kebenaran sambil memanen kekayaan. Oleh karena kerja sama tersebut, yang satu merahasiakan kesalahan yang lain dan ytang lain tidak menuntut pelanggaran yang satu. Kekompakan ini justru mempermudah konspirasi di dalam masyarakat sehingga semakin banyak rakyat jelata yang dirugikan.

Pemerintah perlulah melakukan pengawasan di saat suatu produk sedang diproses dalam pabrik. Bila perlu menempatkan tenaga ahli yang ditugaskan khusus diperusahaan swasta tertentu sekedar memastikan tidak ada keanehan atau kejanggalan yang berpotensi merugikan masyarakat. Juga termasuk memastikan bahwa prosedur yang dilakukan telah sesuai dengan standar-standar yang adekuat. Apabila fungsi pengawasan kurang dilakukan atau sekali pun dilakukan tetapi telah dikongkalingkong oleh siasat busuk (disogok). Alhasil produk jelek tersebut akan tetap beredar yang tujuannya juga sekaligus melemahkan masyarakat.

5. Distributor yang menginginkan uang masuk lebih besar.

Hidup di dunia ini tidak hanya butuh logika melainkan juga butuh hati yang mau mengasihi. Tanpa hati yang penuh kasih maka pelaku usaha hanya memikirkan dan mengutamakan keuntungannya tanpa memperhatikan tanggung jawab moral terhadap barang yang diedarkannya. Oknum distributor akan dengan senang hati memperjual-belikan produk yang dititipkan dengan beberapa uang cas/ uang jalan/ uang makan. Mereka akan mengutamakan pengiriman berbagai barang yang memberinya lebih banyak uang pelicin.

Biasanya produk usang sangat murah saat pedagang membelinya dari distributor. Namun ketika merek hendak menjualnya lagi, laba yang diperoleh malah lebih banyak dari jejualan lainnya.

6. Pedagang besar yang menginginkan keuntungan lebih.

Siapakah pedagang yang tidak mau omset yamg besar tetapi biaya yang dikeluarkan selama proses penjualan tergolong kecil? Keuntungan yang lebih besar membuat para pedagang tersebut semakin giat melakukan penjualan bahkan sampai memperkenalkannya langsung kepada orang-oang baru.

Pada umumnya barang yang sudah usang tapi telah di daur ulang/ dicantik-cantikkan memiliki bobot harga beli yang lebih rendah. Keadaan ini membuat pengusaha tidak perlu khawatir berlebih, ketika barang tidak laku, tidak banyak yang akan merugi. Jika barang kualitas rendah tersebut terbeli maka untungnya pun berlipat. Jadi, jelaslah bahwa mereka tidak bisa menolak produk absurd tersebut karena tidak ada beban besar mengumpulkannya malahan panennya ganda.

7. Pedagang kecil/ eceran/ kaki lima yang menginginkan keuntungan banyak.

Untuk menjadi seorang pedagang, dibutuhkan yang namanya tanggung jawab moral. Masyarakat telah memberikan apa yang terbaik yang dimilikinya, yaitu uang dengan jumlah tertentu, masakan anda memberinya barang yang telah kadaluarsa/ rusak ringan? Itu namanya tidak adil dan anda akan menuai murka karena kebiasaan tersebut.

Semua pedagang, dari atas ke bawah pikirannya hanya memikirkan keuntungan. Sekarang masalahnya adalah apakah mereka adalah orang yang peduli terhadap nasib pelanggannya atau tidak? Jika mereka tidak mau tahu tentang kehidupan orang lain maka produk yang tidak berkualitas sekali pun akan tetap diedarkan demi menyambung laba sebanyak-banyaknya.

8. Keengganan menarik produk gagal di pasaran.

Tidak semua produk yang baru dihasilkan dapat diterima dengan gembira oleh masyarakat. Beberapa barang dan jasa tertentu yang mungkin saja dianggap baru oleh produsen menjadi tidak terbeli dan tidak penting di mata konsumen. Prodak semacam ini, sebaiknya langsung ditarik peredarannya oleh distributor. Tentulah ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan perusahan yang awalnya memperjual-belikannya. Di sinilah dibutuhkan kepedulian para pengembang untuk melayani dengan hati.

Integrasi sistem perdagangan adalah penting, mulai dari hulu sampai ke hilir. Suatu struktur perdagangan yang dikelola oleh pihak terpercaya yang bekerja bukan demi kepentingan pribadinya atau kepentingan kelompoknya. Melainkan semata-mata demi kepentingan masyarakat luas. Jika perdagangan terintegrasi dalam satu payung negara Indonesia (sosialisme), fokus pengusaha tidak lagi memikirkan untung dan rugi sebab semua orang adalah keluargaku/ saudaraku. Potensi beredarnya produk baru yang gagal pun tidak akan berlama-lama di pasar besar maupun di pasar kecil.

9. Pengawasan dari pemerintah di hilir.

Pegawai pemerintah ada banyak, tenaga ahlinya juga banyak, mengapa tidak ditempatkan di pos-pos yang langsung berhubungan dengan kehidupan masyarakat? Salah satu pos tersebut adalah pasar, swalayan, mall dan lain sebagainya. Ini tidak bertujuan untuk mengintervensi melainkan sekedar melihat, mencatat lalu melaporkannya. Pengawasan lapangan ini juga merupakan salah satu cara untuk membuat pegawainya tetap sibuk bekerja. Sebab dimana ada pekerjaan disitu kecerdasan dikembangkan.

10. Masyarakat yang penghasilannya pas-pasan.

Pada akhirnya yang menjadi korban dari praktek manipulasi produk cacat adalah masyarakat luas dengan pengetahuan rendah. Mereka memiliki kemampuan membeli rendah sehingga lebih memilih produk murah sekali pun berkualitas buruk. Mereka tidak paham tentang kualitas, yang dipikirkan hanyalah bertahan hidup dan terus hidup. Kemungkinan besar barang lusuh tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga melemahnya kepintaran.

11. Cara-cara yang sering digunakan oknum pengusaha licik.

Apa saja usaha para konglomerat produk untuk membuat dagangannya tetap lancar sekali pun ada beberapa yang tidak sesuai dengan standar kesehatan? Berikut akan kami bahas beberapa usaha licik tersebut.

  • Menarik produk baru yang gagal di pasaran kemudian mereka-ulangnya menjadi barang kebutuhan lainnya yang lebih murah.
  • Mendaur ulang barang yang kadaluarsa untuk dijual kembali de\ngan merek yang sama.
  • Memproses barang kadaluarsa untuk dijadikan produk merek lain dengan harga lebih murah.
  • Menjual barang lapuk ke pelosok dimana masyarakatnya berwawasan sempit.
  • Memanfaatkan barang rusak menjadi bantuan yang telah dibungkus ulang.

Kesimpulan

Produk kurang berkualitas adalah barang dan jasa yang tidak memenuhi standar tertentu yang ditetapkan oleh lembaga tertentu (biasanya pemerintah dan ada juga swasta) namun memiliki harga yang terkesan miring dari biasanya.

Defenisi

Saat para pengusaha dipaksa untuk bertahan sendiri, besar kemungkinan akan memanfaatkan teknologi dan kepintarannya untuk melakukan berbagai aksi manipulasi yang menimbulkan kerugian sepihak. Adalah lebih baik untuk menasionalisasikan perusahaan swasta tersebut, bukankan selama ini badan usaha tersebut mendapatkan suntikan dana dari pemerintah? Semakin banyak oknum swasta di negeri ini maka semakin besar kemungkinan beredarnya barang dan jasa yang kurang berkualitas. Diperlukan pengawasan khusus dari pemerintah untuk memutus mata rantainya, baik di hulu maupun di hilir. Agar rakyat memperoleh informasi yang tepat sekaligus sebagai jaminan bahwa barang dan jasa yang digunakan telah sesuai dengan mutu standar.

Salam, Produk kurang berkualitas
tidak akan beredar luas.
Bila negara di hulu dan hilir berawas-awas
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.