Generalisasi Manusia Yang Baik & Kurang Tepat – Hindari Menyamaratakan Sesama Pada Hal-Hal Negatif Yang Memiskinkan Kebaikan Hati

Generalisasi Manusia Yang Baik & Kurang Tepat - Hindari Menyamaratakan Sesama Pada Hal-Hal Negatif Yang Memiskinkan Kebaikan Hati

Hidup sendiri mungkin saja lebih mudah tetapi hidup bersama orang lain merupakan sesuatu yang menantang. Di satu sisi, kita mendapatkan beberapa kemudahan namun di sisi lain kita malah dipersulit. Artinya, dalam hidup ini senantiasa ada dua rasa berbeda yang datang dan berusaha untuk mempengaruhi pandangan kita terhadap sesama. Apakah itu, berkaitan dengan hal-hal yang baik atau buruk, Mungkinkah itu pantas diperhatikan atau tidak. Dapatkah itu dijadikan sebagai bahan pelajaran hidup atau lebih baik dilupakan saja. Semua hal-hal yang berhubungan dengan situasi di lingkungan sekitar, sifatnya tidaklah stabil, ada fase naik dan turunnya. Pada saat seperti itulah, kita dituntut untuk selalu konsisten di tengah perbedaan yang muncul.

Penilaian dan sikap selalu sejalan. Saat pandangan/ persepsi/ asumsi/ opini positif maka sikap kita pun (perkataan & perbuatan) turut positif, bahkan suasana hati pun ikut-ikutan positif. Sebab segala sesuatu dalam hidup kita terhubung adanya.

Kata-kata bijak motivasi kehidupan

Harap dipahami sekaliannya, agar dalam hidup ini kita selalu berhati-hati dalam hal menyamaratakan penilaian dan sikap terhadap sesama. Pada satu sisi, sifat ini memang baik agar selalu mengekspresikan sikap dan keputusan yang adil terhadap semua orang yang ada di sekitar. Namun di sisi lain, saat kita mengeneralisasi pandangan yang agak miring kepada beberapa orang maka akan keluarlah sikap yang buruk terhadap mereka. Artinya, gunakanlah cara pandang dan cara bersikap yang suka mengeneralisasi sesama dalam hal-hal baik saja. Tetapi, berupayalah untuk tidak menilai sekelompok orang kurang baik hanya karena segelintir manusia di dalamnya berlaku kurang hati-hati.

Masih ada harapan sebab masih banyak gandum di antara lalang. Berupayalah untuk tidak menilai sekelompok orang kurang baik hanya karena segelintir manusia di dalamnya berlaku kurang hati-hati.

Kata-kata bijak motivasi kehidupan

Jangan terburu-buru menilai orang lain, sebab sudut pandang negatif memperburuk suasana hati

Penilaian kita yang mengeneralkan  seseorang dalam kategori  minus merupakan suatu awal yang membuat keyakinan kurang tepat sehingga harapan baik gugur terhadapnya. Bahkan keadaan ini, bisa-bisa berujung kepada sesuatu yang lebih rumit dari yang pernah terbayangkan sebelumnya. Bila apa yang diyakini sudah berubah maka selanjutnya akan turut memengaruhi sikap yang diekspresikan. Kata-kata kita jadi tidak ramah kepada seseorang dan perilaku pun terkesan sepele karena telah melabelinya dengan etiket miring. Padahal, kalau dipikirkan baik-baik, bukan dialah yang melakukan semuanya itu. Melainkan dia hanya kebetulan ada di sana/ berdomisili di tempat sama/ berkumpul pada lokasi yang sama. Tindakan semacam ini termasuk dalam keputusan yang terlalu terburu-buru bahkan terkesan ceroboh menilai seseorang. Saat kita berpikiran negatif terhadap seseorang, suasana hati bisa memburuk. Daripada memikirkan hal-hal negatif, lebih baik fokus bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan, belajar sesuai minat dan bekerja sesuai potensi sehingga suasana hati kembali membaik.

Apakah yang dimaksud dengan sikap mengeneraliisasikan?

Defenisi – Generalisasi adalah sikap membentuk opini/ pendapat/ simpulan/ rumusan yang bersifat umum. Persepsi yang sama rata dapat membantu pikiran untuk tetap berputar positif kepada masing-masing orang yang ada di sekitar kita. Akan tetapi, tidak jarang juga kita temukan bahwa aktivitas melabeli orang lain dilakukan dalam konteks yang buruk. Akibatnya, baru pertama bertemu dengan seseorang, kita malah terus-menerus suudzon/ berprasangka buruk kepadanya. Padahal kenyataannya tidaklah selalu seperti itu. Oleh karena itu, berhati-hatilah saat mengecap seseorang, upayakanlah cap yang kita berikan selalu bernafaskan kasih, seolah dia adalah diri kita sendiri (kebaikan yang adil kepada orang lain).

Generalisasi yang kurang baik malah membuat pikiran kotor terhadap sesama

Sikap sama rata yang kurang baik merupakan keadaan dimana kita memetak-metakkan kehidupan seseorang dalam konsep yang negatif. Ketika terjadi sesuatu yang salah maka pikiran langsung mengarah ke orang tersebut. Saat gerak-geriknya aneh sedikit, langsung saja berprasangka buruk terhadapnya. Ketika dia mendekat, kita malah risih dan hampir kesetanan entah karena apa. Semuanya ini terjadi karena kita melabeli seseorang dengan hal-hal miring sehingga sebaik apa pun sikapnya, tidak pernah kita anggap layak. Malahan yang kita pikirkan hanyalah prasangka penuh kejijikan ketika secara tidak sengaja menjalin relasi dengannya. Kita bahkan tidak bisa lagi fokus pada hal-hal positif saat berada didekatnya.

Menyamaratakan seseorang negatif, asumsi terhadapnya pun menjadi ganjil

Apa yang diajari Tuhan kepada kita saat menjalin hubungan dengan orang lain adalah selalu tentang keadilan. Saat berusaha mewujudkan pemerataan sikap kepada siapa pun, lakukanlah dalam ranah yang positif. Sebab sikap sama rata ini juga bisa dipakai untuk asumsi kurang tepat yang cenderung menjelekkan image (citra diri) seseorang. Misalnya saja, seorang pemuda masuk penjara karena mencuri, lantas saudara-saudara, orang tua dan kaum keluarganya pun kita anggap pencuri. Jelaslah bahwa pemahaman semacam ini dapat merusak persepsi kita terhadap orang tersebut. Saat kebetulan ada yang kemalingan dan kaum keluarganya ada di situ. Kita lantas menuduh di dalam hati bahwa “pasti saudara, si pencuri itulah yang mengambilnya.” Padahal asumsi tersebut kemungkinan besar salah

Samaratakan buruk seseorang membuat inisiatif baik kendur

Kekuatan generalisasi merupakan salah satu konsep dasar saat kita baru pertama sekali berkenalan dengan seseorang. Pandangan kita terhadap mereka cenderung miris tak terkatakan. Mungkin saja, dari penampilan luar, kita terlihat halus, lembut tersenyum. Akan tetapi, hati ini seolah bergejolak saat kembali menyinggung pelabelan yang kurang baik terhadapnya. Seolah kita fokus terhadap cap tertentu yang kita berikan kepada seseorang. Sesungguhnya ada tindakan yang baik yang dapat kita perbuat terhadapnya namun kita memilih untuk mengulur waktu dengan mengatakan: nantilah itu, ah besok sajalah, lusa juga boleh…. Kebaikan terhadap seseorang tertunda-tunda karena kita terlalu fokus kepada generalisasi yang dilakukan secara terselubung (di dalam hati sendiri, hanya kita yang tahu).

Generalisasikan manusia menurut kesalahannya di masa lalu dengan demikian tidak memberinya kesempatan untuk berubah

Kita menjalin relasi dengan orang lain agar dapat bekerja sama sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Lantas kebersamaan tersebut tidak selalu berjalan lancar. Terkadang ada beberapa miss komunikasi yang menyebabkan distorsi berujung kepada kegagalan. Lantas orang yang tidak senang karena keadaan tersebut memilih untuk menyimpan dendam secara tak disengaja. Dia melabeli orang gagal sepanjang tahun bahkan mencoba menjauhinya pula. Padahal, yang namanya manusia bisa saja berubah. Mengeneralisasi seseorang berdasarkan kisah hidupnya di masa lalu sama saja dengan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berubah. Perbaikilah penilaian kita terhadapnya dan berilah kesempatan agar bisa membuktikan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, generalisasi yang buruk akan terungkap

Masa-masa dalam hidup kita tidaklah pasti. Berbagai kendala, cepat atau lambat akan datang juga. Saat bermasalah dengan seorang kenalan baik, cepat kelar masalahnya. Akan tetapi, ketika kita bersitegang dengan orang yang kita generalisasi sebagai pelaku kekejaman, mulai aneh tanggapan kita. Ada sentiman terpendam dan tersembunyi terhadapnya yang kemudian akan terungkap saat perselisihan semakin memanas. Terlebih ketika dari sudut biru, banyak orang bertepuk tangan memberi dukungan. Sedang dari sudut merah banyak yang berteri-teriak memberi sorakan. Niscaya, semua unek-unek kerdil yang selama ini dipendam terhadap orang tersebut akan dimuntahkan. Dengan memperburuk imege orang lain lewat kata-kata yang kurang seronok (tidak senang), citra diri ini pun ikut tercoreng

Samaratakan sesama dengan bijaksana

Sikap yang suka melakukan generalisasi terhadap sesama memang bagus adanya. Sebab itulah yang dipesankan Tuhan Yesus Kristus kepada kita sebagai hukum terutama yang kedua, yaitu “…. kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…. (bnd Imamat 19:18). Jadi, gunakanlah sikap yang suka mengeneralisasi manusia dalam ranah yang positif saja. Sadarilah bahwa semakin positif pandangan kita terhadap seseorang maka semakin luwes kebaikan yang kita haturkan dihadapannya. Seolah itu, lepas begitu saja karena pelabelan yang kita lekatkan kepada mereka baik adanya. Saat kebaikan (cap yang diberi) bertemu degan kebaikan (sikap kita) maka akan saling tarik-menarik, berkumpullah energi positif yang siap dilepaskan kepada siapa pun yang pantas mendapatkannya. Artinya, bisa dikatakan bahwa pandangan yang menyamaratakan semua orang dalam ranah positif akan memperkaya kebaikan hati ini.

Kesimpulan

Anggaplah semua orang itu baik, dengan demikian kebaikan hati kita akan keluar tanpa ragu terhadap mereka.

Sekali pun seseorang buruk lakunya, terkadang itu hanyalah anomali yang suatu saat nanti pasti akan membaik. Kebanyakan orang yang berlaku keji di antara rakyat hanyalah korban dari sistem yang tidak adil.

Kata-kata bijak motivasi kehidupan

Tidak perlu sibuk menilai tiap-tiap orang dalam hidup kita, melainkan tebang ratalah semuanya sebagai manusia berakhlak mulia. Sibuk menilai orang lain malah semakin membuat pikiran bias dan sikap kepada sesama pun menjadi tidak konsisten. Seberapa positif kita mengeneralisasi sesama maka sepositif itulah tiap-tiap hubungan yang kita jalin. Bukannya orang lain tidak memiliki kelemahan dan bukannya mereka tidak melakukan kesalahan tetapi salah satu ide yang memomotivasi kita untuk tetap baik adalah penilaian yang telah disamaratakan. Jadi anggap semua orang baik dan kalau pun terjadi kesalahan, itu adalah nano-nano kehidupan sebagai bahan ajar untuk menjadi lebih cerdas bahkan bijaksana. Menyamaratakan sikap akan memperkaya kebaikan kita, akan tetapi menariknya dalam ranah negatif justru akan memiskinkan kasih kepada sesama.

Salam, Generalisasi persepsi terhadap sesama,
Sikap anda pun cenderung baik kepada semua
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.