7 Alasan Belum Menikah – Mengapa Belum Berkeluarga, Kok Ditahan-Tahan?

alasan belum menikah

Saat usia kita sudah beranjak dewasa, pikiran mulai berkembang untuk melakukan sesuatu yang baru. Menjalin hubungan dengan orang rasanya sudah sangat banyak yang kita kenal dekat maupun dikenal jauh. Mulai dari hubungan yang biasa maupun yang penuh lika-liku. Pada dasarnya, semakin dekat dengan seseorang maka semakin bergejolak hubungan yang kita lalui bersamanya. Sebab kedakatan membuat kita mengetahui kelebihan dan kelemahan kawan lalu bagaimana caranya menghadapi semuanya itu? Pada saat seperti inilah timbul berbagai lika-liku kehidupan. Akan tetapi, lain halnya saat kita menjalin hubungan biasa atau disebut juga hubungan cepat alias instan. Jarang terjadi gejolak bahkan hampir tidak ada sesuatu yang besar, sekiranya ada, itu hanyalah soal-soal kehidupan yang bisa saja dialami oleh siapa pun.

Berbicara soal relasi dengan lawan jenis, merupakan sesuatu yang menggebu-gebu dan selalu dipikirkan oleh seseorang. Akibatnya, hidup menjadi bias terkesan amburadul karena banyak hal-hal vital yang terabaikan. Oleh karena itu, biasakanlah menjalin kedekatan di antara lawan jenis di dalam keluarga sendiri. Jikalau anda terbiasa bekerja bersama ibu (bagi anak cowok) atau bersama Ayah (bagi anak cewek) niscaya saat bersama orang lain di luar sana pun dapat dilalui dengan santai. Bekerja bareng bisa menjadi awal untuk menenangkan pikiran saat menghadapi lawan jenis.

Pada lembaga pendidikan yang kita ikuti pun, ada yang namanya kerja kelompok. Di saat seperti ini, jangan disia-siakan dengan terlalu menjaga jarak dengan orang-orang tertentu, dekat-dekatanlah dan dempet-dempetanlah tetapi upayakan pikiran selalu sadar. Fokuslah pada tugas-tugas yang sedang dikerjakan, pikirkan apa masukan atau kontribusi yang bisa anda lakukan. Atau kalau memang sedang lengang, langsung saja memuji-muji Tuhan di dalam hati agar pikiran tenang tidak neko-neko saat situasi sedang tegang. Tiada penjaga hati yang lebih kuat selain daripada Tuhan sendiri: tujukan hatimu kepada-Nya di tengah peliknya situasi maka jalan yang ditempuh tidak mudah retak oleh hawa nafsu yang sesat.

Faktor penyebab tidak menikah (berkeluarga sendiri)

Tahukah anda bahwa malaikat-malaikat tidak menikah dan Tuhan Yesus Kristus sendiri belum menikah? Jadi, bukan masalah besar saat seseorang menanyakan kepada anda, “kapan tanggalnya?” Berupayalah untuk menjadi pribadi yang selalu berpikiran positif, entah saat ini posisi sedang jomblo/ singel dan bersyukurah bagi anda yang tanggal nikahnya sudah jelas. Tantangan hidup seperti ini jangan dihadapi dengan cemas hati sebab masing-masing orang punya masanya. Bersabarlah menunggu waktunya hingga saat-saat itu tiba, jika memang ingin dipersatukan dalam satu lingkaran cincin yang sama. Akan tetapi, jika tidak mau melakukannya, jangan mencemooh yang melakukan, demikianlah sebaliknya, jika mau melakukannya, jangan mencemooh yang tidak atau yang belum mau melakukannya. Memang perlu juga disadari bahwa ini salah satu ujian kehidupan.

Berikut ini akan kami tuturkan beberapa alasan mengapa seseorang masih belum atau memilih untuk tidak menikah.

  1. Belum cukup umur.

    Umur adalah indikator yang adekuat untuk menentukan apakah seseorang sudah pantas menjalin bahtera rumah tangga. Keadaan ini juga sangat tergantung dengan kematangan organ kelamin. Menurut kami sendiri, umur 28 sampai 30 tahun adalah masa kematangan seorang pria. Pada umur tersebut organ vital sudah berkembang pesat dan lebih kuat. Bagi perempuan sendiri, organ intimnya jauh lebih muda siapnya daripada laki-laki. Selisihnya hanya satu-dua tahun lebih awal.

    Ini tidak berarti bahwa kita yang masih singel harus sudah menikah di usia 27 tahun. Ketahuilah bahwa di luar sana ada orang yang baru menikah di usia yang ke 35 tahun. Menurut kami, baru punya pasangan di usiah 40 tahun pun, tidak masalah. Sebab tahukah anda bahwa umur manusia bisa mencapai ratusan tahun?

  2. Belum memiliki pekerjaan yang menghasilkan (gaji/ nafkah).

    Sekali pun umur sudah mumpuni tetapi jika kita masih belum memiliki pekerjaan tetap, lebih baik jangan menikah dulu. Memang bisa saja menjalin cintah yang disahkan dengan sokongan dari orang tua yang kebetulan tajir. Akan tetapi, dengan demikian orang tua berhak dan mutlak dapat mengintervensi keluarga anda kelak. Kalau orang tua/ mertua tidak diikuti maka siap-siap diungkat-ungkit tentang jasa-jasanya bagi kehidupan rumah tangga kita.

  3. Belum menemukan yang cocok.

    Ada banyak ikan di laut tetapi belum tentu semuanya dapat dikonsumsi, ada banyak lelaki/ perempuan singel tetapi belum tentu mudah untuk mencari jodoh.” Jadi, butuh inspirasi dari Tuhan untuk menemukan jodoh, kalau sudah nemu langsung laporkan sama orang tua untuk meminta restu. Setelah itu selesai barulah menyusun perencanaan pernikahan yang matang.

    Pada dasarnya tiap-tiap orang memiliki kecocokan. Bila dalam hal komunikasi saja sudah sama-sama lancar berarti semuanya oke! Asalkan tiap-tiap orang mampu mengatasi masalahnya sendiri dan tabah menghadapi ujian sosial di dalam masyarakat. Satu lagi kebiasaan baik yang sangat dibutuhkan bagi orang yang hendak menikah adalah kemampuan mengasihi musuh. Mengapa demikian? Sebab suami-istri pun berpotensi menjadi musuh-musuhan suatu saat kelak. Akan tetapi, saat mereka sudah terbiasa mengasihi musuhnya di dalam kehidupan sehari-hari maka terlebih lagi dengan pasangan sendiri. Walau sedang perang-perangan namun semuanya bisa diselesaikan di kamar.

    Kami sendiri sampai sekarang belum menemukan seseorang yang memiliki visi yang sama (sosialis). Rata-rata manusia yang ditemui memiliki visi kapitalis. Bagi mereka mungkin sosialis itu tidak masuk akal, tapi itukan hanya visi yang masih perlu diperjuangkan! Biar bagaimana pun kita harus hidup berdasarkan aturan dan kebiasaan positif yang berlaku di masyarakat.

  4. Persiapan belum matang.

    Si kawan ini sudah cukup umur dan sudah punya pekerjaan tetap juga sudah ada calonnya, namun persiapan untuk menikah belum matang. Biasanya soal biaya ini dan itu dengan berbagai penyesuaian lainnya. Jadi, keduanya sudah saling dekat bahkan orang tua pun sudah saling bertemu. Hanya saja tinggal menunggu kelengkapan perbekalan terkumpul. Jika sudah terpenuhi perincian yang diperlukan barulah akan menentukan hari H.

  5. Menunggu pelaksanaan yang telah direncanakan.

    Jadi, teman yang satu ini diam-diam saja dari luar tetapi ternyata dia, pasangannya, keluarganya dan keluarga kekasihnya telah merencanakan semuanya dengan matang. Bahkan hari H-nya pun telah mereka atur kian. Semuanya itu hanya tinggal hitungan bulan bahkan mungkin saja hari. Proses menunggu tersebut memang sangatlah pelik sedang rasa ingin bercumbu-cumbu sudah larut berlama-lama menggerayangi otak.

    Pada saat-saat menunggu tersebut akan ada-ada saja orang yang tertegun diam dalam lamunannya. Bahkan ada yang mematung kehilangan kesadaran karena tenggelam dalam bayang-bayang mesra. Akan tetapi, mereka yang selalu ingat Tuhan akan menunggu dengan waras. Sebab hatinya selalu tertuju kepada Yang Maha Kuasa: memuji-memuliakannya dalam segala kesempatan yang mungkin.

  6. Pilihan sendiri.

    Ada yang bertanya kepada seseorang, mengapa belum menikah kawan? Dia menjawabnya dengan tegas, “semuanya itu adalah pilihan hidup saya yang ingin mengikuti jejak hidup Tuhan.” Pilihan yang dilakukan bukan demi harta di bumi melainkan demi kepunyaan sorgawa yang kekal selamanya! Hidup ini adalah pilihan, selama seseorang masih belum mau kawin, biarkan saja dirinya. Itu mungkin panggilan jiwanya, Rohlah yang mengatakan hal tersebut. Jika sewaktu-waktu dia berubah pilihan, bukankah semuanya tergantung dari keputusannya? Simak juga, Tuhanlah suamii dan/ atau istri kita.

  7. Disabilitas sejak dari lahir.

    Seseorang mengalami kekurangan sejak dari lahirnya dimana semuanya itu berhubungan erat dengan kemampuannya dalam menjalin relasi kepada orang lain. Mungkin saja organ-organ badannya masih terlihat utuh tetapi organ vitalnya masih kurang berfungsi. Oleh karena disabilitas seksual atau karena alasan disabilitas khusus lainnya maka dia bisa saja memilih untuk tidak menjalin hubungan yang lebih intim yaitu menjadi pasangan suami istri. Bukan karena tidak percaya diri tetapi karena titidnya memang tidak nyahut/ tidak merespon dalam keadaan apa pun.

Kesimpulan

Keinginan untuk kawin harus ditahan-tahan, sebab bisa-bisa kita terjebak salah paham hanya karena hawa nafsu yang liar tak terkendali. “Lebih baik jadi jomblo asal hidup benar hati pun lega. Daripada sudah nikah hidup amburadul hati pun tersiksa.

Menikah bukanlah keputusan yang dapat ditentukan satu-dua hari saja, butuh minimal 27 tahun untuk mengemukakan pilihan melakukannya. Tiap-tiap orang memiliki masanya sendiri dan tanggalnya masing-masing: nantikanlah dengan sabar sampai saat itu tiba. Kesabaran tidak pernah sia-sia untuk dijalani sebab semuanya itu akan berbuah manis. Lagi pula dalam menjalin bahtera rumah tangga akan semakin banyak badai yang dilalui. Oleh karena itu, jangan hanya mempersiapkan hal-hal fisik (tubuh yang prima & materi yang memadai) saja sebelum menikah. Melainkan dibutuhkan juga yang namanya persiapan berupa mental yang kuatagar bahtera rumah tangga yang dibentuk kelak bertahan hingga memutih rambut bahkan sampai ajal menjemput.

Salam, Berkeluarga atau tidak adalah pilihan,
Bagi yang belum: bertahanlah dalam sabar,
Tetapi yang sudah: rendah hatinya melebar
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.