7 Cara Membuat Tahun Baru Bermakna

Cara Membuat Tahun Baru Bermakna

Banyak hal yang senantiasa baru atau terbarukan di dalam hidup ini. Hanya saja terkadang manusia mengalaminya namun kurang mampu memaknai peristiwa tersebut. Seolah dialah pribadi yang belum melakukan apa-apa namun sesujgguhnya telah memperbuatnya. Atau bisa juga merasa belum melakukan apa-apa, namun sebenarnya telah melakukannya, hanya saja diartikan dengan cara yang berbeda. Sadar atau tidak, pemahaman kita sangat menentukan cara pandang dan cara menanggapi serta cara kerja kita selama hidup di dunia ini. Semakin luas wawasan maka tambah positif sudut pandang menilai sesuatu, tambah cerdas respon yang diberikan dan tambah bijak menyelesaikan pekerjaan.

Sama halnya seperti saat tahun baru telah tiba. Semua yang anda lakukan di awal kalender baru sangat tergantung dengan seberapa mengertikan kita tentang “hari-hari tersebut.” Selama hidupnya, tiap-tiap manusia selalu berusaha bertindak berdasarkan apa yang paling benar menurut pemahamannya sendiri. Memilih sikap terbaik yang perlu diekspresikan saat berhubungan dengan sesama, baik yang dekat maupun yang jauh. Kebiasaan yang kental di awal tahun adalah berkumpul bersama keluarga tercinta (walau kadang bergejolak). Momen yang pas sekali dengan waktu liburan sehingga lebih banyak waktu yang dihabiskan bareng-bareng dan tentunya yang tidak dapat dipungkiri adalah sambil menikmati “sesajian varian yang meresahkan lidah.”

Apakah liburan kali ini hanya sekedar lebih banyak menikmati goyangan belaka? Entah itu goyangan mata, telinga, lidah, hidung dan kulit? Semua aktivitas tersebut memang begitu kental namun sifatnya sementara saja. Anda perlu mengonsumsinya lagi dan lagi agar kenikmatannya dapat bertahan lama. Tetapi, resikonya karena terlalu sering dinikmati, bisa-bisa menjadi bosan sendiri bahkan berujung pada efek samping berganda terhadap tubuh (lebih dikenal sebagai penyakit metabolisme). Oleh karena itu, jangan hanya fokus menikmati hidup mengawali tahun ini, melainkan dedikasikan juga waktu untuk fokus kepada Tuhan (dalam doa, firman dan bernyanyi memuji-Nya) serta mengasihi sesama secara adil dalam setiap pelajaran (pendidikan) dan pekerjaan yang ditekuni.

Kiat menjalani tahun baru yang bermakna positif untuk kebaikan hidup

Bukan main pengeluaran yang dibelanjakan seseorang untuk menyabut hari tersebut, sudahkah semuanya itu mendatangkan makna positif dalam kehidupan kita masing-masing? Atau jangan-jangan semua pemborosan dan kemeriahan tersebut, hanya berlalu begitu saja dalam kekosongan yang tiada berakhir? Sudah sepantasnya, kita mulai memandang segala sesuatu secara luas dengan membuka wawasan mencari sesuatu yang bisa ditingkatkan. Hanya saja bukan untuk mengungguli sesama tetapi semata-mata demi perkembangan kepribadian masing-masing.

Di satu sisi, kita membutuhkan kemajuan, yakni perkembangan kepribadian. Akan tetapi, sikap terlalu memforsir kekuatan untuk merasakan, menemukan dan mewujudkan kemajuan di bidang materi yang kebablasan justru membahayakan diri sendiri. Kekuatan yang kita miliki dapat diarahkan kemana saja terlebih ketika menguasai sumber daya sentral yang lebih banyak dari rata-rata manusia (uang, emas dan lain-lain). Terlalu mengutamakan kemajuan materi di awal pergantian tahun malahan mengancam kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Wujud dari keserakahan oknum konglomerat kelas atas terhadap gemerlapan duniawi hanya mendorong sistem lingkungan terpuruk dan jatuh lalu bertransformasi menjadi bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Oleh karena itu, makna tahun baru kali ini, kurang kami fokuskan pada hal-hal duniawi yang terdapat di sekitar kita. Melainkan lebih fokus kepada sesuatu yang sudah ada di dalam diri masing-masing namun belum dikembangkan secara maksimal. Berikut akan kami jelaskan cara memaknai pergantian tahu sebaik-baiknya.

  1. Jalani apa adanya mengikuti arus zaman.

    Kita hanyalah setitik debu yang senantiasa berterbangan menurut laju angin yang berhembus di atas bumi. Tidak bisa berbuat banyak bahkan tidak mampu berbuat apa-apa di tengah hembusan angin zaman ini. Yang bisa dilakukan hanyalah sekedar menyesuaikan diri dengan pergolakan yang sedang terjadi sambil terus sibuk fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja sesuai keahlian/ potensi masing-masing.

    Kita akan terbawa oleh arus zaman ini jika tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang benar, yaitu fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya. Jika anda mengusahakan yang baik maka hal tersebut selalu berhubungan dengan kemauan untuk berkorban bagi sesama di tengah sibuknya mempelajari dan mengerjakan sesuatu.

    Inti dari pembicaraan ini adalah “aktivitas positiflah yang menjauhkan kita dari segala tindakan yang buruk.” Atau bisa juga dikatakan bahwa “kegiatan yang kita lakukanlah yang membuat kita tetap waras.” Sehingga kita mampu bersikap kritis dan selektif dalam menentukan pilihan. Tidak mudah terpengaruh oleh angin buruk yang melintasi zaman. Melainkan mampu bersikap dewasa dengan mengikuti apa yang baiknya saja. Sedang segala potensi negatifnya lebih baik ditinggalkan.

  2. Jalani bersama keluarga.

    Sudah sepatutnya jika kita mampu belajar kompak di dalam keluarga sendiri. Kekompakan bukan untuk melakukan yang jahat tetapi semata-mata demi kebaikan tiap-tiap anggotanya. Kebersamaan itu kitanya dapat terus dipertahankan karena masing-masing menempuh jalur yang benar. Namun, kebersamaan tersebut akan menghambar dan berubah buruk karena dimanfaatkan demi melegalkan hal-hal yang salah.

    tidak ada tali yang lain, selain dari tali kebenaran yang dapat mengikat seluruh anggota keluarga dalam rasa kebersamaan yang berkelanjutan. Jika ikatan kebersamaan didandan di atas tipu-menipu (manipulasi) maka cenderung banyak gejolak yang timbul. Butuh lebih banyak kerendahan hati, keikhlasan dan pengorbanan untuk menerima kenyataan tersebut.

    Utamakanlah untuk melalui tahun yang baru bersama keluarga. Menjalaninya dengan sahabat dan teman/ rekan kerja juga termasuk bagian dari upaya menjalin kebersamaan. Hanya saja, perlu dibatas-batasi teman yang hanya ada di sekitar kita. Tidak perlu panggil orang satu kampung hanya demi sesuatu yang akan segera berlalu. Salah-salah tanggap, malah dianggap orang pamer, foya-foya dan serakah.

  3. Belanjakan sesuatu semampunya.

    Uang bukanlah indikator kebahagiaan sebab rasa bahagia ada di dalam hati. Sedangkan uang adalah materi fana yang berseliweran di sekitar kita. Tetapi, bukan berarti kita tidak butuh uang. Melainkan yang kami maksudkan di sini adalah batasi diri untuk memenuhi keinginan namun penuilah kebutuhan anda sehari-hari.

    Tidak perlu sesuatu yang mewah untuk menikmati momen tahun baru. Bukan dalam arti tidak merayakannya sama sekali. Tetapi nikmati momen tersebut menurut kesanggupan saja. Tentulah kesederhanaan adalah pemicu timbulnya rasa syukur yang sangat mendalam. Karena diawal kalender baru masih diberikan kesempatan untuk menikmati semuanya itu dengan wajar bersama orang-orang yang kita cintai.

  4. Belajar dari masa lalu untuk masa depan yang lebih berarti.

    Ini mungkin saja pola kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa dari kita. Mereka membahas-bahas di dalam hatinya apa yang telah dilalui dan dirasakannya selama satu tahun belakangan. Kemudian mengoreksi setiap kesalahan yang diperbuatnya maupun yang diperbuat oleh orang lain. Membuat daftar kesalahan tersebut dan merancang cara mengatasinya di waktu yang akan datang. Sehingga momen refleksi tersebut menjadi pedoman untuk memperbaiki hari esok yang diupayakan seminimal mungkin melakukan kesalahan yang sama.

    Sadar atau tidak, aktivitas mempelajari masa lalu untuk menemukan refleksi demi masa depan yang lebih baik; adalah sangat dianjurkan untuk dilakukan lebih sering. Jangan hanya melakukannya di akhir tahun saja melainkan lakukanlah kapan pun anda merasa mulai merasa kehilangan prinsip, integritas, tujuan hidup dan semangat memperjuangkan kebenaran.

  5. Milikilah hati yang baru.

    Karena terburu oleh suasana baru, bukan berarti semuanya harus baru. Hidup kita tidak perlu berubah baru semuanya dengan membeli berbagai perabotan dan aksesoris serba baru. Melainkan semampunya saja, asalkan kita bisa menyanggupinya maka perbaharuilah apa yang perlu saja.

    Kita bisa saja membuat banyak hal di sekitar menjadi baru lagi sekedar penyegaran indra agar yang lama tetap mempesona. Tetapi, sadarilah bahwa rasa senang karena aneka warna-warni dan lekak-lekuk yang menyenangkan indra hanya bertahan beberapa saat saja. Akhir bulan januari rasanya pasti mulai menguap bahkan menjadi biasa saja seperti hari-hari sebelumnya.

    Tahukah anda bahwa di dalam kehidupan ini, ada sesuatu yang dapat selalu kita perbaharui? Itulah “hati/ pikiran” masing-masing. Bagaimana cara membuat hati selalu baru? Caranya dengan (a) mengucap syukur dan mengembalikan seluruh kehidupan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. (b) melupakan masa lalu yang meninggalkan kesan buruk, (c) memaafkan dan melupakan kesalahan yang dilakukan sesama. Juga dalam hal ini, (d) menyambut hari dengan ceria sambil meneber kebaikan kepada siapa pun yang dimungkinkan (di mulai dari ramah-tamah).

    Manusia yang mampu melupakan keburukan di hari-hari yang telah berlalu akan menyambut hari ini sebagai sebuah lembaran baru yang siap diisi (oleh pihak lain) dan mengisinya (oleh diri sendiri) dengan melakukan hal-hal positif.

  6. Atasi masalah yang menyertainya.

    Perlu dipahami bahwa di tahun yang baru sekali pun, masalah tidak akan pernah berhenti untuk menghampiri kita. Itulah takdir setiap umat manusia yang hidup di bumi ini. Akan tetapi, orang yang berupaya menjaga hati dan hidupnya selalu baru akan menghadapi semuanya itu. Akan tetapi, mereka tidak fokus terhadap persoalan hidup yang sewaktu-waktu bisa timbul tanpa persiapan. Melainkan mereka lebih memilih untuk menujukan pikiran hanya kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta bisa juga dengan mempelajari sesuatu dan mengerjakan sesuatu sambil-sambil berbagi kebaikan kepada sesama.

  7. Hindari budaya kotornya.

    Pernah ada orang yang menganggap bahwa pergantian tahun adalah momen yang hanya ada sesekali saja sehingga harus dinikmati semaksimal mungkin. Lantas mereka menjalani semunya itu dengan cara melegalkan hal-hal yang salah, misalnya mengonsumsi miras, narkoba, melakukan seks bebas dan lain sebagainya. Sadarilah bahwa apa yang ilegal bukan kebetulan dilarang. Semua pelarangan tersebut bertujuan untuk menghindarkan kita dari efek samping fatal akibat praktek ilegal: baik secara fisik maupun mental.

Kesimpulan

Budaya yang paling lumrah di tahun baru adalah “merefleksikan kehidupan yang pernah kita jalani dulu untuk dimanfaatkan memperbaiki jalan-jalan yang akan kita lalui ke depan.” Sesungguhnya momen bercermin dari masa lalu tersebut tidak hanya dilakukan sekali setahun saja. Melainkan sering-seringlah melakukannya, kapan pun hal tersebut diperlukan, terutama saat “kita merasa kehilangan arah dan pudarnya motivasi hidup. Buatlah hatimu selalu baru, janganhanya tahunnya saja yang baru. Dengan cara melupakan suramnya hari-hari yang telah lalu dan menyambut hari ini dengan hati yang baru. Hati yang siap untuk berbuat yang benar, siap untuk merendah, siap untuk diuji, siap untuk menyisihkan kecanduan akan hal-hal duniawi dan hati yang selalu ikhlas menyambut hari. Ingatlah, kita bisa mempelajari masa lalu tetapi tinggalkan keburukannya namun keruklah sisi baiknya.

Salam, Pandanglah masa lalu
Tetapi jangan fokus pada sisi negatifnya
Fokuslah pada sisi positifnya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.