+10 Alasan Hawa Nafsu Tidak Salah – Bukan Salah Keinginan Saat Kita Terpuruk Karenanya

Alasan Hawa Nafsu Tidak Salah – Bukan Salah Keinginan Saat Kita Terpuruk Karenanya

Kebiasaan setiap manusia, lebih jeli melihat kesalahan orang lain dibandingkan dengan kesalahan sendiri. Sebab matanya telah terfokus kepada kehidupan seseorang tanpa terlebih dahulu memandang diri sendiri sebagai pribadi yang juga ada salah dan dosanya. Kebiasaan kita memahami situasi secara terburu-buru membuat sudut pandang semakin negatif. Perlu kehati-hatian dan belas kasihan selama menjalani hidup di dunia ini, agar saat kita melihat kesalahan orang lain tidak langsung menghakimi. Melainkan menyadari bahwa kita pun dahulu pernah demikian (sama-sama berdosa) hanya saja bentuk dan konteksnya berbeda-beda. Kekuatan belas kasihan justru tidak sampai membuat kita tega menghakimi orang yang bersalah melainkan memohonkan agar Tuhan menunjukkan dan menganugerahkan pintu pertobatan baginya.

Sama halnya ketika kita melihat diri sendiri, saat ada sesuatu yang khilaf malahan yang dipersalahkan adalah sifat-sifat ini dan itu. Padahal secara bawaan semua manusia juga memiliki sifat-sifat tersebut di dalam dirinya sejak dari masa kecilnya. Lalu mengapa hanya kita saja yang bermasalah dengan sifat-sifat itu? Kita perlu meneliti lebih dalam lagi, dimana salahnya? Apa yang menjadi akar persoalannya? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi persoalan tersebut. Kita perlu memahami bahwa ada sesuatu yang dianugerahkan Pencipta untuk menangani persoalan semacam ini. Sebab sesungguhnya segala solusi dari masalah yang kita hadapi terdapat di dalam di sendiri atau di sekitar kehidupan sehari-hari. Yang perlu dilakukan adalah lebih tenang, lebih fokus kepad Tuhan dan lebih banyak berbuat baik.

Hawa nafsu bukanlah masalah yang bisa timbul-tenggelam begitu saja. Sebab jika pun ada yang pantas dipersalahkan di dalam kehidupan ini, itu adalah diri sendiri: pilihan yang diambil, keputusan yang ditetapkan dan jalan yang ditempuh. Kelalaian yang terdapat di dalam setiap sikap kita bukan disebabkan oleh sifat-sifat manusiawi. Sebab semua sifat-sifat yang ada, pada dasarnya bermanfaat bagi keberlangsungan hidup di bumi ini. Hanya saja, kita masih belum mampu mengendalikannya sehingga digunakan secara berlebihan (misalnya foya-foya) dan terlalu sedikit (misal tidak berani di malam hari). Semuanya itu baik untuk menambah pengalaman hidup agar kedepannya kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam bersikap.

Faktor penyebab hawa nafsu tidak salah

Keinginan adalah adalah dorongan untuk melakukan, mencapai, memiliki dan menyukai sesuatu sebatas di dalam hati saja. Rasa ingin yang terus berkembang bisa jadi diwujudkan pula dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui sikap maupun lewat berbagai media penyaluran kasih lainnya. Keinginan yang sudah menjadi kenyataan pasti mendatangkan kebahagiaan walau hanya sesaat. Akan tetapi, bagaimana jadinya ketika hasrat di dalam hati tidak kunjung terwujud? Pada posisi inilah manusia sering terjebak dalam pilihan, keputusan dan jalan hidup yang kurang tepat yang tidak hanya menyeret dirinya ke dalam kesesakan hidup, orang lain dan lingkungan sekitar pun turut dijebloskan dalam masalah.

Berikut ini akan kami berikan penjelasan tentang alasan mengapa keinginan tidak pernah salah

  1. Semua orang juga punya hasrat.

    Jelaslah bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah menginginkan sesuatu. Jangankan manusia, hewan-hewan saja memiliki keinginan. Jadi, ketika kita melakukan dosa karena mengingini sesuatu yang salah. Salahkanlah diri sendiri atas kejadian tersebut sebab kitalah yang kurang cermat ketika diperhadapkan dengn berbagai pilihan hidup. Pemula memilih dengan terburu-buru, orang cerdas memilih dengan hati-hati, sedang mereka yang bijak memilih dengan kepala dingin.

  2. Hawa nafsu bisa juga bermanfaat lho teman.

    Apa bila kita pandai mengendalikan diri dengan menarik-ulurkan keinginan duniawi, maka dapat diarahkan untuk mendatangkan manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Mengetahui kapan kita diperbolehkan untuk mengingini sesuatu agar timbullah harapan. Kekuatan harapan ini, bisa menjadi salah satu penyemangat yang membuat cadangan energi hati yang memotivasi diri lebih besar dari sebelumnya. Mereka jadi semangat memuji-muji Tuhan, belajar dan bekerja.

    Sayang duniawi, sifatnya fluktuatif dan tidak selalu pasti dapat terwujud. Untunglah terdapat sisi keinginan sorgawi yang selalu siap sedia memberikan kebahagiaan dengan murah hati kepada siapa pun yang fokus kepada-Nya. Tentu saja kepuasan sorgawi bukanlah suatu pelarian melainkan sebagai penyempurna sukacita di dalam hati. Biar bagaimana pun perlu juga membatasi hawa nafsu duniawi yang kadang terlalu banyak, besar dan tinggi. Milikilah hasrat yang wajar akan hal-hal duniawi agar jangan sampai kemauan tersebut menyebabkan kegalauan mendalam karena tidak kunjung tercapai.

  3. Niat kita menjadi salah karena kadarnya terlalu rendah.

    Saat nafsu kita rendah sebelum melakukan hal-hal baik, pastilah usaha yang dilakukan demi mewujudkannya juga terkesan minimun. Padahal kita mampu melakukan semuanya itu tetapi karena niatnya kecil, usahanya pun terkesan setengah-setengah. Ujung-ujungnya tidak melakukan kebaikan dan tidak memperoleh manfaat apa-apa dari kisah tersebut. Rasa minder dan kurang percaya diri dapat turut memperpendek semangat juang setiap kerja keras yang telah dirintis dari awal. Tetapi setidak-tidaknya, ini bisa menjadi pelajaran berharga agar dilain waktu lebih keras kemauannya untuk meraih berbagai kebaikan yang tersebar di sekitar kita.

    Contoh dari sikap ini adalah saat beramah tamah. Saat niat kita kecil untuk ramah maka melakukannya pun tidak sepenuh hati. Kita enggan berkorban lebih dalam menyebarkan kata-kata positif hanya karena minder dan takut tidak diresponi orang lain. Lirik juga, Khasiat keinginan yang terkendali.

  4. Keinginan menjadi buruk karena berlebih-lebihan.

    Normalnya, seberapa besarkah kadar hawa nafsu yang harus dimiliki oleh tiap-tiap orang? Kami sendiri tidak dapat memastikan sampai berapa persen kadar dengan efek terbaik. Tetapi, tiap-tiap orang harus mencobanya sendiri. Lewat pengalaman try & error lama kelamaan akan mendidik kita memiliki hasrat dengan kadar yang biasa-biasa saja. Sebab kalau berlebihan bisa-bisa merusak tatanan lingkungan menjadi lebih buruk, misalnya lewat sifat foya-foya dan serakah.

    Kita perlu mengenali diri sendiri, seberapa kuat dan seberapa mampu usaha yang dilakukan untuk mencapai sesuatu. Terutama bila hasrat tersebut berhubungan erat dengan materi. Lebih baik dari awal jujur kepada diri sendiri, kalau tidak mampu: katakan tidak mampu, kalau sanggup: katakan sanggup.” Jangan ada gengsi di antara kita, sebab lebih damai hidup mereka yang suka menyangkal dirinya.

  5. Dikendalikan oleh kekecewaan.

    Siapakah orang yang tidak pernah kecewa di dunia ini? Camkanlah bahwa semua orang telah, sedang dan akan menghadapi kekecewaan. Bila kita terpaku pada rasa kecewa yang menghantam tiba-tiba, alhasil diri ini terpuruk dalam kegalauan yang panjang dan menyesakkan jiwa. Seorang pemula akan meratapi kekecewaannya, orang cerdas akan mencari pelarian dan pelampiasan. Sedangkan mereka yang bijak memetik segenggam makna dari peristiwa tersebut, tetap melanjutkan hidupnya dan memulai hawa nafsu yang baru.

    Saat suatu hawa nafsu tidak terwujud, masih banyak hal positif lainnya yang menunggu untuk dicapai. Tidak masalah jika anda mau mencobanya lagi, sampai benar-benar kapok dan tau rasanya tersakiti. Kami juga dahulu demikian, mencoba menggapai sesuatu sampai benar-benar malu-maluin, mengulangnya berulang kali hingga terinjak-injak. Tetapi, itu adalah pengalaman yang sungguh indah sehingga mengantarkan kami untuk berhenti menginginkan hal-hal duniawi melainkan lebih fokus ke arah sorga.

  6. Dikotori oleh kesombongan.

    Ini menunjukkan bahwa kita menginginkan sesuatu semata-mata agar terlihat lebih unggul lagi hebat dari sesama manusia. Kemauan hati tidak lagi murni saat sedang membahas-bahas upaya pencapaian masa depan yang gilang-gemilang. Kemauan yang arogan memang termasuk salah satu hal yang membuat kita tetap semangat dalam menjalani hidup sekali pun rintangan berat menghadang.

    Sayang, nafsu yang arogan juga beresiko membutakan mata hati sehingga seseorang tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. keangkuhan ini jugalah yang beresiko tinggi menyeret kita dalam masalah yang lebih besar.

  7. Dinodai oleh iri hati.

    Hawa nafsu yang tidak murni demi kebenaran membuatnya mengarah kepada perbuatan yang keji walau dilakukan secara diam-diam. Iri hati bisa saja menjadi energi pendorong agar kita memiliki ini dan itu. Karena dengki melihat barang-barang orang lain, kita pun ikut-ikutan membeli yang sama bila perlu yang lebih mahal lagi. Ada hasrat untuk memenangkan perlombaan kekayaan yang terjadi secara sembunyi-sembunyi yang malah membuat kehidupan kita terkesan mubazir. Sebab membeli barang ini-itu tetapi ujung-ujungnya tidak digunakan. Memang pemborosan semacam ini tidak berpengaruh banyak bagi yang keuangannya tebal; akan tetapi jelas beresiko merusak lingkungan.

  8. Dicemari oleh kebencian.

    Saat mengingini sesuatu ternyata gagal meroket. Lantas kita pun mulai mencari-cari soal untuk menemukan biang kerok dari persoalan yang dihadapi. Setelah mengetahui latar belakang orangnya, langsung naik pitam membenci orang tersebut. Kita pun menyimpan sakit hati tersebut menjadi dendam yang sewaktu-waktu siap dilepaskan dalam bentuk amarah dan kekerasan. Dendam yang semakin lama dipendam makin sulit pula untuk diikhlaskan karena terus-menerus diingat.

    Dalam hidup ini berupayalah untuk melupakan masa lalu yang suram. Itu hanya membuat langkah kaki semakin berat dan sulit untuk mengukir kebaikan. Dendam adalah kantong racun yang sewaktu-waktu dapat mengacau-balaukan kehidupan kita: buanglah itu sebelum hal-hal yang buruk tersebut menghampiri.

  9. Hasrat yang gosong karena jahatnya.

    Kita sudah tahu bahwa itu salah tetapi masih saja menginginkannya. Sikap tegar tengkuk semacam ini hanya akan memperbanyak masalah dalam kehidupan kita. Hidup ini sudah cukup bermasalah, jangan ditambah-tambah lagi dengan melakukan aksi kejahatan demi memenuhi hasrat sesaat.

    Untuk apa melakukan kefasikan yang jikalau ada faedahnya, pasti hanya sesaat saja. Ingat-ingatlah sorga tempat yang tenteram dan penuh sukacita abadi (bukan sesaat saja). Hindari berlama-lama dekat dengan kejahatan. Bencilah dan jauhi kejahatan seseorang tetapi jangan menjauhi orangnya.

  10. Keinginan yang bersifat memaksa-maksa.

    Di dalam dunia ini ada yang namanya perbedaan pendapat. Sedang pendapat itu sendiri sangat bergantung kepada niat hati masing-masing orang. Saat kita berpapasan dengan orang yang berbeda opininya dari diri ini, berusahalah untuk mendengarkan argumennya. Lalu jangan sungkan mengungkapkan opini pribadi. Sekali pun tidak ditanggapi dengan hangat, lega perasaan ini saat apa yang kita ingini diketahui orang lain. Namun, untuk mewujudkannya tetap tidak perlu dipaksakan melainkan biarkanlah peraturan yang berlaku, itu yang kita ikuti.

    Dalam beberapa kesempatan juga, kita kadang bersitegang dengan orang yang lebih dewasa. Sekali pun kita benar tetap saja kita menuruti kehendaknya. Tidak perlu memaksakan kehendak agar pendapat kita segera diterima. Mungkin saja mereka masih butuh waktu untuk memahaminya. Kalau pun mereka tidak mau memenuhinya, tiap-tiap orang kan ada zamannya. Saat mereka berjaya, biarkan bertindak seturut kemauannya. Suatu saat zaman generasi kita juga akan bangkit, di situlah kita press kebenaran sejati. Jadi, hormatilah orang yang lebih dewasa.

  11. Keinginan yang sifatnya terburu-buru.

    Kita butuh kepala dingin untuk menentukan pilihan apakah sesuatu itu baik untuk diri sendiri atau bisa berujung dalam jurang kehancuran. Saat kita hanya mengikuti gelombang hawa nafsu sampai terseret oleh arus situasi maka kehidupan ini akan terombang-ambingkan oleh pengaruh pihak lain. Oleh karena itu, pertimbangkanlah baik-baik sebelum menginginkan sesuatu. Pastikanlah bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan firman dan tidak bertentangan dengan hukum juga akal sehat. Maksud hati yang dipikirkan matang-matang dapat menghasilkan sesuatu yang positif, sekali pun ada efek samping sifatnya minimalis dan dapat ditanggung dengan rendah hati.

  12. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Kehendak yang dimiliki oleh tiap-tiap orang adalah suatu anugerah yang dapat mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Hanya, masalahnya sekarang adalah apakah keinginan tersebut sudah benar-benar teruji? Sebab hawa nafsu kita selalu berhubungan dan/ atau bersinggungan dengan kemauan orang lain. Apa yang terlalu bias pasti akan tersisih dan ditinggalkan orang, sedangkan kehendak positif akan selalu diminati dan memiliki banyak penggemar. Jadi, di dalam masyarakat tidak ada yang namanya niat jahat terkecuali bila sistem (organisasi) dengan sengaja memelihara kejahatan. Sebab setiap penjahat pastilah masuk bui. Artinya, kentalnya rasa kebersamaan di antara manusia secara otomatis menolkan berbagai hal negatif. Kalangan minoritas yang masih mungkin memiliki keinginan buruk adalah orang yang masih belum dewasa fisik dan mentalnya. Inilah tantangan bagi orang dewasa untuk mendidik mereka dimulai dangan memberi contoh yang baik.

Salam, Bukan salah nafsu
bila manusia menjadi jahat.
Tetapi, diri sendirilah yang salah:
pilihan, keputusan & jalan hidup yang ditempuh.
Perbaiki hal-hal tersebut,
maka hidup pun kembali bermutu
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.