Apa Yang Mereka Inginkan, Mengapa Melakukan Itu? Pertanyaan Paling Tidak Jelas

Apa Yang Mereka Inginkan, Mengapa Melakukan Itu? Pertanyaan Paling Tidak Jelas

Sungguh dunia ini tidak bisa kita tebak, entah soal ini atau soal itu, siapa yang bisa memahami semuanya itu? Mungkinkah itu mereka atau kami? Adakah semuanya ini mengarah kepada hal-hal yang baik atau buruk? Spekulasi pun terus mengalir deras. Jika ini bisa dikendalikan mungkin akan berujung kepada hal-hal yang baik. Akan tetapi, bila keadaan tersebut mulai merong-rong rasa tenang sehingga muncullah kecemasan, kegelisahan yang berujung stres. Bisa-bisa keadaan kita semakin memburuk karena terseret dalam rancangan si jahat. Tepat saat kita kehilangan pengendalian diri, sungut-sungut mulai kentara dan amukan amarah membabi buta: itulah awal dari kekalahan sejati.

Pemenang sejati adalah mereka yang hatinya selalu bersukacita tenteram

Kami tidak tahu, bagaimana dengan anda, tetapi kami sendiri mendefenisikan kemenangan dengan sukacita dan ketenteraman hati. Coba perhatikan para pemenang yang berhasil menduduki tempat pertama dalam suatu pertandingan. Reaksi pertamanya pastilah kesenangan hati yang memuncak lalu menyatu dengan rasa lega. Jadi, mereka yang sukacitanya penuh berarti  memiliki jiwa pemenang di dalam dirinya. Jadi, berdasarkan konsep inilah kami menyimpulkan bahwa kemenangan sejati telah dimiliki oleh orang yang mampu menyemangati dirinya sendiri di saat situasi sedang genting. Sehingga seburuk apa pun keadaannya, tetap dilalui dengan sukacita penuh.

Fenomena masalah yang menimbulkan gejolak dalam jiwa

Rupa-rupa peristiwa di sekitar kita memang sangat unik. Apa yang kita hadapi mungkin berbeda dari apa yang dihadapi oleh kawan di sisi kanan dan kiri. Tapi, apa pun itu, yang terpenting adalah apa makna positif yang dapat kita petik lewat semua peristiwa tersebut? Adakah kita dapat menangkap bahagianya atau adakah kita mampu menikmati kesesakan yang menyertainya? Atau jangan-jangan kita malah yang paling menderita atas semua peristiwa tersebut. Sadarilah bahwa awal kesengsaraan kita saat menghadapi pergumulan hidup adalah saat soal-soal tersebut mampu melenyapkan ketenteraman hati. Kemudian secara drastis mendatangkan kekalutan hati yang menimbulkan kegelisahan yang mendorong sikap kian menyimpang dari kebenaran. Jangan sampai hal semacam ini terjadi dalam kehidupan kita.

Apa itu dilakukan karena iri hati?

Lantas, ketika suatu peristiwa terjadi, kadang-kala muncullah berbagai pertanyaan yang kemungkinan besar tidak akan pernah terjawab. Dari antara seribu satu macam yang ditanyakan, ada yang berkata demikian, “Mengapa mereka melakukan ini? Apa yang mereka inginkan?” Mungkin ada orang bijak berkata, “silahkan tanyakan langsung ke orangnya!” Karena besarnya rasa segan, kita pun mulai menerka-nerka, “jangan-jangan semuanya ini dilakukan karena besarnya kedengkian di dalam hati. Suatu kekuatan yang banyak dipengaruhi oleh kesombongan yang telah menukik tajam terlebih dahulu. Sesuatu yang dibangga-banggakan akan pupus menjadi kedengkian saat ada sesuatu yang lebih baik dan lebih besar daripada itu.

Apakah hal tersebut dilakukan karena uang dan jabatan?

Dalam hempasan pencobaan hidup yang kerap kali menghempaskan sukacita. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi cukup realistis adalah “apa yang mereka inginkan? Mengapa mereka melakukannya?” Tentulah mulai banyak jawaban yang bermunculan dari dalam hati, entah itu berasal dari diri sendiri atau berasal dari orang-orang di sekitar kita. Salah satunya mungkin berkata bahwa keadaan tersebut terjadi karena mereka menginginkan permasur yang banyak dan jabatan yang elite. Nafsu terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi bisa saja membakar hati sehingga standar kebenaran pun hangus kehilangan kekuatannya. Bila keadaan ini terus berlanjut maka kejahatan pun akan dilegalkan demi mewujudkan apa-apa saja hal duniawi yang diimpikannya.

Apakah ini semacam didikan?

Kemelut yang hilang timbul seperti pudarnya cahaya di sore hari dan pudarnya malam di pagi hari terus bergonta-ganti. Kita bertanya-tanya, mengapa hal-hal tersebut terjadi, apa yang diinginkannya? Tentu saja ini adalah sesuatu yang normal selama kita hidup di bumi. Manusia adalah makhluk terlemah di seluruh alam semesta sehingga diciptakan terakhir sebagai anak bungsu Allah. Perlu selalu diuji agar tidak terus manja sehingga lama-kelamaan menjadi pribadi yang mandiri. Tidak ada yang menginginkan apa-apa dalam kemelut tersebut tetapi semua itu bertujuan untuk mendewasakan kita. Memang rasanya sakit bahkan perihnya seperti teriris-iris; orang sering mengatakan “sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Di saat-saat seperti ini, tidak ada yang lebih dibutuhkan selain keikhlasan, kesabaran dan kerendahan hati sembari tetap fokus kepada Tuhan juga tidak lupa mengasihi sesama.

Jangan-jangan ini hanya sekedar anomali zaman

Apa motivasi mereka melaku semuanya itu? Niatan yang kira-kira membuat mereka mampu melukai hati atau jangan-jangan kita sajalah yang merasa GR karena peristiwa tersebut? Mungkin juga orang-orang tersebut tidak memiliki niat apa-apa saat melakukannya. Itu bisa saja sebuah tindakan yang tidak disengaja melainkan hanya sebuah kekhilafan yang bisa dimaklumi. Suatu anomali zaman yang dipicu oleh perbedaan antar manusia. Bisa saja pemahaman, sudut pandang dan prinsipnyalah yang menimbulkan berbagai pertentangan tersebut. Anomali semacam ini sebenarnya merupakan hal-hal recehan yang tidak perlu ditanggapi terlalu dalam dan terlalu serius. Apa pun pendapat kita mungkin tidak dianggap penting sebab kita mengungkapkan kebenaran yang merenggut kemewahan dan kebanggaan orang lain. Masalah tersebut seolah tak ada ujung pangkalnya dimana pengaruhnya minimal tapi kita kena batunya.

Fokus pada masalah dan terhadap sesama manusia beresiko membuat stres

Ada banyak persoalan yang bisa saja timbul-tenggelam dalam setiap hari-hari yang dilalui. Ada sebagian yang dapat kita mengerti namun sebagian lainnya tidak dapat kita pahami. Bila kita terus-menerus terpaku pada pertanyaan “mengapa hal ini-itu terjadi dan apa yang diinginkannya?” Ini menunjukkan kecenderungan bahwa kita terlalu fokus pada masalah dan terlalu fokus pada orang lain. Kita pun tidak akan pernah keluar dari masalah tersebut, malahan persoalannya semakin bertambah besar dan semakin rumit. Justru yang terjadi adalah hidup semakin terhimpit dan tertekan karenanya. Himpitan kesesakan hati semakin nyata karena pikiran menjadi stres berat dan jiwa pun merana karenanya.

Kesimpulan

Pertanyaan tentang “mengapa” dan “apa” saat menghadapi suatu persoalan jelas merupakan hal yang lumrah. Kami dan mungkin saja semua orang hampir bisa menjawab teka-teki tersebut sesuka hati. Namun pertanyaan yang sama dan serupa terus muncul dari dalam hati secara berulang-ulang sehingga kita pun terlena sedang waktu terus berjalan. Situasi teersebut membuat kita terus berkutat pada hal yang sama sampai karatan, banyak waktu berlalu sia-sia karenanya. Terlalu fokus kepada masalah yang dihadapi dan terhadap keberadaan pengganggu beresiko semakin menyesakkan hati. Semangat hidup yang awalnya berapi api bisa saja memudar seiring bertambahnya usia yang tidak muda lagi. Hati pun kian tidak tenang dan semakin gelisah menghadapi semunya itu. Terlebih-lebih sikap kita yang mulai keluar jalur mencari pelampiasan masalah.

Hati kita memang selalu haus dengan berbagai macam jawaban atas pertanyaan yang kita buat sendiri. Saat kita meladeni berbagai prasangka yang timbul maka besar kecenderungan opini yang diberikan terjebak dalam spekulasi yang belum tentu mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan sekitar. Semua pertanyaan yang tidak penting tersebut memperberat pikiran dan menimbulkan sakit kepala hingga membuat kita kelihatan lebih tua karena semangat muda yang telah memudar. Daripada terlena dalam spekulasi nyeleneh lebih baik menyibukkan diri untuk fokus kepada Tuhan, belajar sesuai minat dan bekerja seturut potensi yang dimiliki. Terkadang kita tidak perlu menjawab berbagai pertanyaan kontroversial yang muncul dari dasar jiwa. Lebih baik sibukkan diri dengan aktivitas positif yang bermanfaat bagi kemuliaan nama Tuhan dan berguna bagi sesama manusia!

Salam, Ada hal-hal penting
yang harus dibahas.
Ada hal yang tidak penting
yang tidak perlu digubris.
Jadilah pemilih yang berawas-awas
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.