+7 Alasan & Cara Bertahan Hidup Dalam Keluarga – Mampu Menghadapi Ujian Kehidupan Dimulai Dari Rumah Masing-Masing

Alasan & Sikap Bertahan Hidup Dalam Keluarga – Mampu Menghadapi Ujian Kehidupan Dimulai Dari Rumah Masing-Masing

Paguyuban terkecil di dalam hidup ini adalah keluarga. Semua anggotanya memiliki hubungan darah yang sangat dekat satu-sama lain. Kedekatan itu juga bisa terjalin dengan baik karena hubungan kekerabatan lewat tali persaudaraan, baik yang jauh maupun yang dekat. Ada pula kedekatan yang terjalin karena perjanjian kerja sama jangka pendek maupun jangka panjang. Masalah yang timbul pun datangnya cepat dan berakhirnya cepat karena diselesaikan secara kekeluargaan. Seharusnya, tidak ada problematika yang begitu pelik di dalamnya karena telah lama bersama-sama dan sudah saling mengerti satu sama lain seputar minat, kecenderungan dan kebiasaan masing-masing.

Ada keharmonisan yang terjalin secara otomatis di dalamnya. Harmonisasi ini, bisa terjalin dengan mudahnya namun ada juga yang harus melalui masa-masa sulit. Apa pun yang terjadi keluarga tetaplah satu dimana masing-masing perlu saling ikhlas menerima kelemahan dan kelebihan masing-masing. Seharusnya perbedaan pendapat yang terkadang timbul di sela-sela kebersamaan bukanlah penghalang untuk tetap akur. Perbedaan opini publik sesungguhnya hanya angin sepoi-sepoi basah yang mengundang kantuk dan kemalasan berpikir positif. Bila saja, tiap-tiap anggotanya mau bersikap rendah hati lalu berupaya untuk saling melayani satu sama lain niscaya segala perbedaan tersebut akan dilebur dalam harmonisasi kebersamaan yang kokoh di atas kebajikan dan kebenaran.

Ada berbagai macam persoalan yang timbul di dalam rumah tercinta, di antaranya adalah masalah pribadi (orang per orang), masalah antar sesama anggota di dalam keluarga dan antara anggota keluarga kita dengan keluarga lainnya. Sesungguhnya, hal-hal semacam ini dapat diatasi bila masing-masing pihak menghadapinya dengan kepala dingin. Rasa toleransi diperlukan juga untuk memahami seberapa buruk situasi yang dihadapi, apakah ini menyangkut hal-hal fundamental atau berkaitan dengan ujian kehidupan yang memang sudah seharusnya di alami oleh tiap-tiap orang yang hidup di dunia ini. Tentu saja yang namanya ujian kehidupan yang disengaja ada batas-batasnya (termasuk batas waktu). Sedang yang sifatnya tidak disengaja, biarlah terjadi begitu saja untuk memantapkan sisi emosional kepribadian masing-masing.

Ada beberapa kecenderungan manusia dalam hidup ini ketika menghadapi kemelut kehidupan. Ada yang menjalaninya dengan cara menghadapi gejolak tersebut apa adanya. Pula ada yang menghadapinya dengan cara melarikan diri dari persoalan yang sedang dihadapi. Menurut anda, apa yang lebih baik menghadapi atau melarikan diri dari pergumulan hidup yang ada di depan mata? Tentu saja, semuanya ini tergantung dari situasi dan kondisi yang dialami oleh tiap-tiap orang. Baiklah kita mulai belajar mempertimbangkan segala sesuatu sebagai orang dewasa yang telah beranjak dari rasa manja yang lebay. Tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan karena selalu ada kesempatan untuk memikirkannya berulang-ulang sehingga diperoleh suatu yang tidak hanya menguntungkan satu-dua orang melainkan bila perlu tidak ada yang dirugikan sama sekali lewat keputusan tersebut.

Faktor penyebab bertahan hidup di dalam keluarga sendiri

Perbedaan bukanlah masalah besar asalkan tidak dibesar-besarkan. Yang terpenting bukanlah siapa yang menang atau kalah tetapi bagaimana caranya agar damai sejahtera itu tetap ada. Bila kita fokus kepada kenyamanan pribadi yang dapat dicicipi maka kandas sudah rasa toleransi terhadap semua godaan yang datang. Akan tetapi, saat mampu memandang kepada Tuhan niscaya ada kelegaan hati yang melatih kita untuk sabar, ikhlas dan rendah hati menghadapi semuanya itu. Asalkan saja hidup ini tidak dipenuhi oleh egoisme dan arogansi, alhasil semua masalah bisa dilalui dengan sukacita. Menjalani persoalan pelik saat kita terlalu muda dan belum mampu mandiri, sebaiiknya bertahan saja dahulu di dalam keluarga sekali pun rasanya menggelikan sekaligus memilukan. Berikut ini akan kami ungkapkan berbagai alasan mengapa rumah kita adalah tempat bertahan hidup terbaik.

  1. Masih ada cinta kasih.

    Seburuk-buruknya keadaan kita, masih ada cinta kasih di dalam keluarga. Sekali pun ini sudah agak memudar dan kini telah bercampur dengan rasa sakit akibat adanya ujian kehidupan. Tetap saja rasa cinta itu masih nyata melalui berbagai-bagai pemberian ini-itu dari orang tua. Sekali pun harus dipahami bahwa dalam keadaan ini pun kita berpotensi besar untuk diuji karena ketidakadilan yang terkadang dijadikan sebagai bahan untuk mencobai kita agar semakin dewasa menjalani hari.

  2. Belum memiliki penghasilan tetap.

    Saat kita belum memiliki pekerjaan tetap, masih dalam status sekolah atau kuliah. Atau bisa juga, masih dalam status pengangguran (sudah tamat kuliah tapi belum mendapatkan pekerjaan). Di kala seperti ini, memaksakan diri sekali pun mustahil untuk dapat hidup mandiri di luar sana. Sebab, zaman sekarang uang diperlukan kemana pun pergi dan apa pun yang dibutuhkan? Alat tukar ini memang sangatlah sederhana, kertas tipis yang hampir tidak memiliki berat (kecuali uang anda segepok). Akan tetapi, saat tidak memiliki uang, apa-apa yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh. Jika kebutuhan saja tidak bisa tercukupi, bagaimana kita bisa survive (bertahan) melanjutkan hidup? Jadi, di tengah beratnya pergumulan hidup, berusahalah untuk terus bertahan di dalam keluarga masing-masing sebab di sanalah kebutuhan sehari-hari tercukupi.

  3. Kita masih punya hak-hak di dalam keluarga.

    Keluarga sebagai tempat kita dibesarkan merupakan tempat pertama saat seorang anak beroleh hak-haknya secara cuma-cuma dari orang tua. Ayah dan Ibu pun telah memiliki hak khusus dari tempat kerja yang menerangkan tentang tunjangan ini dan tunjangan itu. Sekali pun demikian, kadang kala belanja untuk anak malah lebih besar dari nilai tunjangan yang diperoleh. Bukankah semuanya ini dilakukan karena cinta kasih yang besar dari orang tua? Jadi, belajarlah bertahan di dalam lingkungan rumah tangga masing-masing sebab di sanalah kita masih  beroleh hak-hak untuk tetap hidup.

    Di atas semuanya itu, ingatlah bahwa dimana ada hak di situ ada kewajiban. Jangan hanya doyan menuntut hak tetapi selesaikan jugalah tanggung jawab yang wajib anda lakukan. Orang yang diberi lebih kepadanya pun akan dituntut lebih.

  4. Cobaan pertama-tama yang mendatangi kita berasal dari dalam keluarga – sudah terbiasa dengan ujian kehidupan.

    Keluarga adalah tempat yang cocok untuk bertahan hidup selama masih belum mampu mandiri. Di dalamnya, kita pun bisa saling menyesuaikan diri satu sama lain sehingga ada kesan menjadi biasa saja saat diperhadapkan dalam situasi yang serba salah. Melakukan apa yang baik bisa dimulai dengan ramah tamah. Kita bisa belajar ramah kepada orang-orang terdekat terlebih dahulu. Menerima dengan ikhlas segala respon yang mereka berikan sekali pun itu terkesan kurang enak di hati tetapi tetap dilakukan secara terus-menerus. Sebab dari dalam rumah sendirilah kita belajar untuk tetap tekun berbuat baik sekali pun orang lain kurang menanggapi. Sebab pada dasarnya, setiap aktivitas yang baik dapat mendatangkan kebahagiaan tersendiri di dalam hati , terserah orang lain meresponnya secara positif atau negatif.

    Cobaan pertama selama hidup, diperoleh di dalam keluarga. Mungkin tantangan tersebut sering sekali terjadi sebab jarak yang sangat dekat di dalam satu rumah lebih besar potensinya menimbulkan gesekan/ gojolak sosial. Akan tetapi, karena hampir setiap hari terjadi maka lama-lama kita menjadi terbiasa. Masalah-masalah kecil yang dapat kita atasi di dalam rumah memampukan kita untuk lebih siap menghadapi tantangan yang lebih besar dari lingkungan sekitar, lingkungan sekolah dan lingkungan kerja. Godaan kecil yang telah terjadi mengajarkan kita untuk membiasakan diri sehingga mampu menikmati setiap momen tersebut. Kita menikmati penderitaan karena mampu memahamI dengan benar, apa faedah dari setiap tekanan tersebut. Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan membenci lawan-lawan di sekitar. Melainkan tetaplah cerdik akrab penuh kasih dengan mereka.

  5. Lebih mudah memaafkan kesalahan yang terjadi.

    Kebersamaan di dalam rumah membuat kita saling dekat satu-sama lain. Kekuatan dari kedekatan tersebut membuat hampir tidak ada jarak antara satu dan lainnya. Terlebih ketika dihubung-hubungkan dengan waktu yang diabiskan bersama selama bertahun-tahun. Keadaan ini membuat saat ada masalah, kita langsung menanyakannya. Kita pun sudah paham kapan waktunya ujian kehidupan terjadi sehingga tidak perlu cerewet apalagi ngambek. Melainkan mengikuti semuanya itu, meminimalisir dampaknya dan memaafkan pihak-pihak yang terlibat. Sebab di dalam rumah tidak boleh ada dendam. Sedikit saja kebencian bersarang di dalam hati maka cueknya itu kelihatan dan ketahuan banget. Terasa mengganjal sekali keadaan tersebut karena kita selalu berhadap-hadapan dengan musuh yang dibenci. Oleh karena itu, jalan memaafkan harus ditempuh agar hati tenteram menjalani sisa waktu di dunia ini.

    Perselisihan itu bisa dikatakan sering terjadi. Mungkin semat juga saling tidak cakapan bahkan cek-cok mulut satu sama lain. Tentu keadaan ini tidak enakan jika dibiarkan terus-menerus sehingga langsung dimaafkan/ memaafkannya. Seringnya terjadi gesekan dan banyaknya situasi yang dimaafkan membuat kita terbiasa dengan hal positif tersebut. Semua sifat-sifat baik yang murah memberi dan meminta maaf ini adalah persiapan mantap untuk menghadapi tantangan dan lawan yang lebih besar di luar sana. Keadaan inilah yang secara tidak langsung membuat kita pantas bertahan hidup di antara orang tua dan saudara sendiri yang menjadi sukarelawan/ trainer untuk melatih kecerdasan emosional, kesehatan mental dan kepribadian.

  6. Lebih mudah menyelesaikan masalah yang timbul.

    Keluarga semacam dasar yang baik untuk belajar segala sesuatu tentang masalah dalam kehidupan di dunia fana. Memang pada umumnya, gejolak yang timbul sifatnya kecil alias lebih sederhana. Namun berawal dari yang keccil-kecil inilah kita memahami bagaimana baiknya sikap saat menghadapi pergumulan hidup yang lebih besar. Penyelesaiannya tentu cukup ringan sebab kedekatan demi kedekatan telah mengajarkan kita untuk selalu saling mengerti satu sama lain.

    Hadirnya persoalan hidup di dalam keluarga, tidak ada yang tidak mampu diselesaikan. Asalkan kita tidak saling mengejar egoisme dan arogansi masing-masing maka penyelesaiannya akan terwujud pula, cepat atau lambat. Menghadapi cobaan tersebut tentu menggunakan hati yang mau mengasihi dengan tulus tanpa menuntut balasan apa-apa. Ujian sosial yang terjadi pun bisa dimaklumi dengan rendah hati, tetap sabar dan ikhlas dijalani. Sebab rasa cinta yang besar membuat kita tidak mau marah-marah, apalagi sampai melakukan kekerasan verbal maupun fisik.

  7. Sekejam-kejamnya harimau tidak pernah membunuh anaknya sendiri.

    Ini adalah teori jaminan hidup selama kita berada di dalam rumah tangga masing-masing. Sekali pun orang tua menguji anda, hal tersebut semata-mata demi kebaikan sendiri, yaitu agar semakin dewasa dan bijak menjalani hari demi hari. Jadi, seberat-beratnya masalah dan kesesakan yang ditimbulkan oleh kaum keluarga sendiri, itu tidak sampai bertujuan untuk mengurangi hak-hak seseorang atau melenyapkan hidup seseorang.

    Kesesakan yang ditimbulkan oleh orang-orang terdekat kita sifatnya sederhana dan mampu ditanggung sendiri. Sebab orang-orang yang menguji melakukan hal tersebut karena cinta dan demi tujuan-tujuan yang baik. Kita haraplah semua itu demi kebaikan bersama dan bukan karena alasan yang aneh bin enek. Sekali pun alasan kita diuji tergolong nyeleneh, tetap saja hal tersebut tidaklah melebihi kemampuan kita. Tidak mungkin sampai hancur kecuali kita menghncurkan diri sendiri (bunuh diri). Mustahil sampai berdarah-darah sebab kriminalitas semacam ini bisa diadukan secara hukum, baik kepada pihak Kepolisiaan maupun kepada Komisi Perlindungan Anak.

Sikap bertahan hidup dimulai dari dalam keluarga sendiri

Benar-benar sesak hati ini saat kita tinggal satu atap dengan para penguji sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, semua rasa pahit itu akan berangsur-angsur mereda. Bahkan ketika kita mampu menemukan aktivitas positif yang cocok bagi diri sendiri maka  deritanya akan lenyap ditelan oleh kesibukan yang ditekuni. Tentu saja, keadaan “terbiasa” ini bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dengan mudah. Melainkan semuanya butuh pengorbanan. Jauhkanlah sikap demi harga diri atau demi penghormatan sebab nafsu terhadap kemuliaan hanya akan menjadi penghalang yang memperlambat kemampuan menyesuaikan diri. Berikut akan kami berikan beberapa kiat alias cara untuk bertahan hidup di lingkungan yang penuh dengan orang-orang terdekat.

  1. Fokus kepada Tuhan.

    Kita bisa saja disebukkan oleh berbagai-bagai aktivitas yang padat merapat tetapi sadarilah bahwa semuanya itu pasti ada akhirnya. Akan tetapi, aktivitas fokus kepada Sang Pencipta sifatnya tak terbatas. Jika anda benar-benar ingin menguji dan meningkatkan keceredasan yang dimiliki maka tetap tujukanlah hati kepada Tuhan di sela-sela aktivitas sehari-hari yang ditempuh. Kekuatan dari aktivitas multitasking tersebut membuat kita mampu menghasilkan kedamaian, kepuasan, kebahagiaan dan ketenteraman hati sendiri.

  2. Pertahankan kebaikanmu sekali pun kebaikan anggota keluarga lainnya memudar.

    Kebaikan hati kita adalah alat yang menunjukkan betapa bersihnya setiap tujuan yang hendak diraih, yaitu beberapa tujuan duniawi dan tentunya demi sorga. Bila kita tidak baik maka otomatis sifat-sifat jahatlah yang akan keluar. Sebab dalam dunia ini, sikap hanya diekspresikan dalam dua sisi mata uang, kalau bukan baik – jahat. Tidak ada yang namanya tengah-tengah, tidak ada es campur dan tidak ada campur sari. Melainkan tiap-tiap orang harus tegas menentukan pilihan hidupnya, ke arah yang benar atau yang salah.

    Hidup adalah pilihan, anda mau ikut-ikutan ke hal-hal yang buruk atau mau merendahkan diri dan berkorban mengikuti hal-hal yang baik? Tentukan pilihanmu dari sekarang!

  3. Selalu merendahkan diri.

    Semakin kuat rasa sombong di dalam diri sendiri maka tambah nyata sakitnya cobaan yang ditujukan kepada kita. Sebab rasa angkuh membuat keberadaan kita begitu rapuh dan mudah sekali terjatuh oleh hal-hal kecil yang berlangsung di sekitar. Oleh karena itu, rasakan sifat-sifat tinggi hati tersebut, ketika mulai kentara mendengung di dalam pikiran, maka langsung menyangkal diri untuk merendahkannya. Semakin banyak rasa angkuh yang muncul maka makin sering pula kita menginjak diri sendiri.

  4. Siap menghadapi ujian bahkan menjadi terbiasa.

    Kekuatan ujian kehidupan bisa saja membuat kita lebih baik tetapi dapat pula menggiring diri ini dalam keterpurukan. Semuanya itu tergantung dari respon kita terhadap berbagai persoalan yang timbul. Sadarilah bahwa rata-rata soal kehidupan bukan menghancurkan kita secara fisik melainkan menggiling hati secara emosional sehingga mental pun tertekan. Untuk menghindari tekanan mental yang berlebihan terhadap masalah, berupayalah untuk terbiasa dan tetap positif saat hal-hal tersebut mendatangi anda.

    Ingatlah bahwa ujian kehidupan paling mendasar yang dapat kita hadapi adalah tantangan komunikasi. Jika anda bisa berpikiran positif maka pengabaian, ejekan dan sikap mempermainkan pembicaraan dapat ditanggung dengan sukacita. Tentu saja situasi semacam ini, diawali dari sikap hati yang ikhlas dan kemampuan membiasakan diri terhadap kesesakan yang timbul dari dalam keluarga sendiri.

    Hadapilah pergumulan hidup dengan sukacita karena mengerti tentang manfaat di balik semuanya itu. Ketika anda mampu merasakan manfaatnya yang semakin lama semakin nyata maka kita pun akan menanggungnya dengan rela hati. Akan tetapi, ujian kehidupan yang dapat mengacaukan anda adalah pertanda bahwa kita masih belum lolos tahapan yang diujikan. Mereka yang sudah mampu beradaptasi dengan ujiannya dapat tetap ramah, tenang dan bahagia menjalani semuanya itu.

  5. Tidak ketergantungan dengan kenikmatan apa pun.

    Keinginan kita yang terlalu agresif terhadap hal-hal duniawi membuat orang lain dapat dengan mudah mengendalikan bahkan mempermain-mainkan diri ini. Candu terhadap kenikmatan duniawi membuat kemampuan defensif menurun karena kita dilemahkan oleh keinginan yang belum tentu bisa dipenuhi semuanya. Kekuatan untuk memutuskan berbagai rantai rasa candu terhadap kenikmatan akan memantapkan langkah kita untuk bertahan di tengah kerasnya hidup ini. Berupayalah untuk menikmati hidup secara fluktuatif dan jadilah konsumen yang sederhana.

  6. Melepaskan rasa candu dari kemuliaan duniawi.

    Menjadi orang yang terhormat dan dihargai dimana-mana memang rasa-rasanya cukup membanggakan. Akan tetapi, mencicipi kemuliaan duniawi yang timbul bisa saja membuat seseorang ketergantungan akan hal tersebut. Ciri utama sikap candu terhadap kemuliaan adalah gila hormat dan pas tidak dihormati, hati menjadi kesal. Salah satu cara terbaik untuk menepis rasa ini adalah dengan berupaya menghargai dan menghormati orang lain terlebih dahulu. Pada akhirnya, kita akan bergantung pada kebaikan yang dilakukan sendiri dan bukan pada sesuatu yang diberikan orang lain.

  7. Ikhlas menjalani hari.

    Berupayalah untuk menerima kenyataan yang terjadi walau pun hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Terkecuali jika hal tersebut berhubungan dengan hak-hak yang dimiliki. Kekuatan untuk mengubah sesuatu tidak bisa dipaksakan sebab akan menimbulkan banyak gesekan terhadap orang-orang dekat maupun yang jauh. Oleh karena itu, rela hatilah menghadapi kenyataan hidup terkecuali jika ada yang hendak melakukan kejahatan di hadapanmu: tentu baik untuk memberikan teguran tetapi tidak dipakasan sama sekali, sekedar mengingatkan saja.

  8. Tinggal di antara musang berbulu domba membuatmu cerdas.

    Orang yang suka mengerjaimu ada di dekatmu tetapi kamu tidak berbuat apa-apa. Malah yang dilakukan adalah berupaya untuk berbagi kebaikan kepadanya. Kebaikan yang sederhana dan mudah dibagikan adalah doa dan ramah-tamah. Mereka yang mampu hidup menyesuaikan diri di antara musang berbulu domba adalah bijak. Tetapi, diharap agar dapat jaga diri sehingga tidak terpengaruh lalu ikut-ikutan dengan kebiasaan buruk musang berbulu domba tersebut. Latihlah sikap cerdik dan tulus agar diekspresikan dengan luwes dan mampu menikmati gejolak yang menyertainya.

  9. Jangan terlalu mengatur dan memaksakan kehendak.

    Jika posisi kita sebagai anak yang sedang diuji di dalam keluarga, hindari terlalu memaksakan peraturan ini-itu di dalam rumah. Terkecuali jika hal tersebut sangat dekat dan sangat mempengaruhi aktivitas yang digeluti atau yang berlaku di dalam kamar sendiri. Ungkapkanlah apa yang ada dalam hati tetapi biarkan orang tua menentukan apakah itu bagus untuk diterapkan atau tidak.

  10. Anda perlu ramah-tamah dengan tetangga di sekitar.

    Sesibuk apa pun kita menjalani hari, pasti pada momen tertentu diperhadapkan dengan keramaian tetangga sebelah. Bertoleransilah dengan kekuatan penuh sebab keberadaan tetangga, seburuk apa pun itu pasti bermanfaat untuk mempertebal kekebalan emosional kita. Entah mereka baik atau tidak, tetaplah berusaha ramah saat berpapasan dengan mereka. Ini adalah wujud kebaikan hati demi menepis sikap individualisme yang negatif.

  11. Hati-hati dengan keinginan

    Inginkanlah apa pun di dunia ini tetapi jangan memaksakan diri dan anggota keluarga lainnya untuk mewujudkan hal tersebut. Nafsu positif bisa jadi penyemangat tetapi memaksakan keinginan agar dikabulkan orang lain adalah awal dari kebobrokan moral.

  12. Hindari mengejar keunggulan.

    Yang namanya kelebihan, keunggulan, kehebatan dan pengakuan sifatnya sesaat saja. Rasa senang yang ditimbulkan oleh hal-hal tersebut pun sifatnya sesaat saja. Akan tetapi, kebahagiaan abadi akan otomatis terwujud saat kita mengejar aktivitas positif : fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja sembari mengasihi sesama di sela-sela semuanya itu.

  13. Hati-hati dengan kegelisahan hatimu.

    Tujuan utama dari setiap ujian kehidupan yang kita alami tidak lain adalah demi menghapuskan segala bentuk ketenangan di dalam hati sendiri. Saat merasa bahwa hati ini mulai gelisah tak menentu, sadarilah bahwa peristiwa yang sedang dijalani saat itu telah sukses 50% menjatuhkan. Jikalau ini terus berlanjut menghasilkan sikap yang amburadul maka kita jelas telah gagal mengantisipasi situasi yang sedang berlangsung. Ada kalanya, kita lebih baik keluar dari situasi buruk tersebut namun terbiasa dengan hal-hal itu lebih dianjurkan. Orang yang terbiasa dengan situasi buruk bukan berarti mengikuti alur peristiwa tersebut melainkan mampu mengalihkan konsentrasi sehingga sibuk pada hal-hal positif yang dikerjakan.

  14. Hati-hati dengan fitnah terhadap kebaikan.

    s!aat kita menghadapi cobaan hidup di dalam keluarga sendiri, berupayalah untuk tidak terbuai dengan berbagai spekulasi negatif yang cenderung merusak hubungan baik dengan orang lain dan mengganggu kesehatan fisik. Oleh karena itu, apa pun prasangka buruk yang timbul dari dalam hati, jika hal tersebut menjauhkan kita dari keluarga atau dari berbagai hal-hal yang bermanfaat (+) lainnya: jangan mempercayai prasangka tersebut. Berupayalah menetapkan hati untuk tidak membenci hal-hal baik sekali pun menurut informasi yang di dapatkan telah terjadi kejahatan/ kegagalan/ kesalahan. Waspadalah terhadap segala sesuatu tetapi jangan sampai membenci/ sentimen dengan orang ini atau itu. Melainkan bersikaplah biasa saja menghadapi naik-turunnya kehidupan. Simak juga, Ada orang yang sengaja memfitnah hal-hal yang baik, waspadalah!

  15. Yang terpenting adalah bertahan hidup.

    Kemampuan untuk tetap sintas merupakan bakat yang sangat dibutuhkan di dalam kehidupan ini. Orang yang mampu bertahan hidup berarti mampu mempertahankan kebaikan hatinya. Mereka sanggup mempertahankan sikap tetap konsisten positif saat mengembangkan kemampuan/ bakat/ potensinya. Memandang bahwa ujian kehidupan adalah cara terbaik untuk menjadi cerdas bahkan bijak dalam menjalani hidup. Tidak penting baginya untuk menikmati hal-hal duniawi yang berkelas dan mewah melainkan hidup sederhana saja sudah cukup. Tidak peduli dirinya dengan penghormatan yang diberikan orang lain tetapi tetap berusaha untuk menghormati dan menghargai orang lain sesuai dengan kesanggupannya. Mereka yang mampu bertahan hidup di dunia ini adalah yang tetap berhasil menyelesaikan setiap tanggung jawab yang diembankan kepadanya. Lirik juga kawan, Hidup kita lebih berharga dari kenikmatan dan kemuliaan yang dicicipi sehari-hari.

  16. Kalau mati-matilah.

    Jangan takut mati kawanku. Cobaan hidup yang sedang anda geluti bukanlah sesuatu yang membuat kita hancur lebur. Melainkan semuanya itu hanyalah bantingan biasa yang sakitnya dapat kita tanggung masing-masing. Tidak ada ujian kehidupan yang sampai membuat nyawa melayang atau terluka parah. Terkecuali jika hal-hal buruk tersebut terjadi akibat kesalahan yang dilakukan sendiri. Ketakutan dan kekuatiran hanya akan menambah-nambah beban hidup sehingga langkah kaki menjadi terlalu berat. Jadi, tabah, ikhlas dan terbiasalah menerima setiap tekanan tersebut agar tidak sampai berubah menjadi rasa takut (Selengkapnya bacalah tulisan kami sebelumnya/ sebelum tulisan ini/ provious post).

  17. Hadapi ujian sosial secara terbuka tetapi jangan fokus kepada masalah yang ditimbulkannya.

    Ujian kehidupan yang kita hadapi bukanlah bertujuan untuk menghancurkan kita terkecuali kita sendiri yang mengobrak-abrik hidup ini karena stres hingga depresi berat. Semakin menyusahkan soal-soal yang ada di sekitar kita, makin pilu hati dibuatnya sehingga besar tekanan stres yang dirasakan. Oleh karena itu, selalu pastikan untuk memiliki kesibukan sendiri dalam menghabiskan waktu. Pastikanlah bahwa hal-hal tersebut positif dan dapat membangun hal-hal tertentu dalam hidup ini. Referensi umum untuk menemukan hal positif tersebut adalah fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja. Ini memang cuma terdengar tiga hal tetapi bila anda dapat mengembangkannya maka akan menemukan banyak hal positif lainnya yang merupakan pecahan dari ketiganya.

Kesimpulan

Saat kita masih belum mandiri, tidak mungkin melalang buana menembus berbagai medan. Kita terpaksa, eh. bukan terpaksa tetapi harus bertahan hidup di dalam keluarga sendiri. Ada banyak manfaat plus-plus yang didapatkan saat kita mau dengan rela hati diuji oleh orang-orang terdekat. Salah satunya adalah eratnya rasa kebersamaan di tengah kepahitan hati: orang yang kurang mampu defensif membuat rasa kebersamaan tersebut semakin longgar. Akan tetapi mereka yang cerdik tetap tulus hatinya akan tetap memiliki hubungan dekat yang baik dengan para pengujinya. Mampu bertahan tetap santun ramah di tengah-tengah sikap acuh tak acuh yang menempel di sudut-sudut rumah merupakan buah-buah nyata dari kebijaksanaan seseorang. Sadarilah bahwa kebenaran, kewaspadaan, ketulusan, kesabaran, keikhlasan kerendahan hati, kebajikan dan tenggang rasa (toleransi) selalu menjadi andalan untuk membangun vitalitas hidup (kemampuan sintas) dari waktu ke waktu.

Salam, Kuat bertahan dari rumah,
Kemana-mana pun akan tetap tabah
Bertahan hidup yang baik
selalu mengedepankan kasih yang cerdik
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.