10 Cara Bergantung Kepada Tuhan – Bersandar Sepenuhnya Kepada Allah Kita

Cara Bergantung Kepada Tuhan – Bersandar Sepenuhnya Kepada Allah Kita

Bergantung adalah (1) bersangkut atau berkait pada sesuatu yang lebih tinggi; (2) berpegang; (3) menyandarkan diri (kepada); (4) terikat pada (kekuasaan, kemauan, keadaan, atau hal lain); terpulang kepada (KBBI Offline). Merupakan tindakan mempasrahkan hidup kepada sesuatu yang lebih kuat dari diri ini. Bila kita sama-sama kuat dengan seseorang kepada siapa menggantungkan diri maka sebaiknya tidak perlu melakukannya lagi. Akan tetapi, saat kita sadar bahwa ada entitas yang lebih kuat dan dahsyat dibandingkan dengan kehidupan sendiri maka dalam hal semacam inilah kita menggantungkan diri.

Perumpamaan tentang bergantung kepada Allah

Mari sedikit belajar tentang dedaunan yang ada disekitar kita? Bukankah mereka juga makhluk hidup sama seperti kita? Coba amati baik-baik dedaunan yang anda miliki sehari-hari, bukankah mereka lebar dan besar (beberapa ada yang lebar sekali – daun talas) Sekalipun mereka banyak dan lebar juga tebal, tetapi coba perhatikan tangkai daun yang dimilikinya, bukan kah mereka fokus pada satu bagian tertentu saja untuk bergelantungan pada dahan/ ranting/ batang tanaman? Begitulah seharusnya manusia, hanya bergantung kepada Allah saja.

Bergantung kepada dunia tidak sanggup memenuhi semua keinginan manusia : BUMI HANCUR

Tidak ada yang salah dengan dunia ini. Semua sumber daya dan gemerlapan dunia (positif) yang ada didalamnya adalah baik untuk kehidupan manusia itu sendiri. Semua kebaikan yang ada di bumi ini dicitrakan lewat indra sehingga materi identik dengan kebahagiaan indra. Jadi, sebenarnya apa yang kita nikmati, segala sesuatu yang ada di bumi ini hanya sebatas menyenangkan indra saja. Artinya, seberapa besapun uang anda, manfaatnya hanya dirasakan oleh ke lima indra saja (mata, telinga, pengecap, hidung dan kulit)

Sehebat-hebatnya dunia ini, kesenangan yang diberikannya hanya berlaku untuk sesaat saja, yakni 3-5 detik saja, 3-5 menit saja, 3-5 jam saja, 3-5 hari saja, 3-5 minggu saja, 3-5 bulan saja, 3-5 tahun saja dan setelah rasanya akan menjadi biasa saja. Misalnya saat anda di puji seseorang (telinga), senangnya 3-5 detik saja. Ketika sedang menggunakan parfum (hidung), rasa senangnya 3-5 menit saja. Saat sedang mengkonsumsi makanan (lidah, hidung, mata), kesenangannya 3-5 menit saja. Saat membeli baju baru (kulit, mata), senangnya hanya 3-5 hari saja. Ketika menonton televisi: sinetron/ film (telinga, mata), kesenangannya hanya 3-5 jam saja. Sesaat setelah membeli gadget baru (mata, telinga, kulit), senangnya 3-5 bulan saja. Perhatikan, Kebahagiaan semu dalam hidup manusia.

Bila untuk membahagiakan hati, kita hanya fokus pada kenikmatan duniawi maka kesannya yang HANYA SESAAT membuat manusia TIDAK PERNAH PUAS. Kenyataan seperti ini memang SUDAH SEHARUSNYA terjadi. Sebab apa yang diberikan indra hanyalah “roro gasa-gasa” (sesuatu yang membuat anda terlena untuk sementara) sedangkan hati butuh kebahagiaan yang sifatnya terus-menerus. Kebahagiaan yang kontinuitas (terus-menerus) inilah yang dibutuhkan oleh hati anda, kami dan semua orang yang ada di bumi.

Terlalu fokus untuk membahagiakan hati lewat kesenangan indra justru akan membuat kita over dosis dan tingkat pencemaran lingkungan semakin tinggi. Terlalu sering terpapar (mengkonsumsi) materi dapat membuat (1) ketergantungan, (2) kelelahan, (3) rumah sakit, (4) panti rehabilitasi, (5) rumah sakit jiwa hingga (6) kematian. Bahkan beberapa orang yang menginginkannya dengan (7) cara-cara yang tak wajar (perbuatan menyimpang misalnya mencuri) akan (8) masuk bui (penjara). Pada akhirnya, konsumsi (penggunaan) materi yang sifatnya terus menerus & tak terbatas akan (9) memboroskan sumber daya yang tersedia. Akibatnya kemampuan bumi memproduksi sesuatu (materi – misal bahan pangan) tidak sebanding dengan jumlah konsumsi manusia (produksi < konsumsi) membuat (10) harga barang melambung tinggi sekaligus (11) krisis pangan. Selain itu pemborosan sumber daya juga mengakibatkan (12) pencemaran lingkungan hingga memicu bencana Alam.

Bergantung kepada Tuhan dan diri sendiri itu sejati

Kebahagiaan Sejati & Fokus Pikiran Positif

Menggantungkan kebahagiaan hanya kepada hal-hal duniawi yang ada di sekitar kita, menyebabkan instabilitas sehingga beresiko merusak suasana hati. Saat kita hanya berharap agar orang lain memberikan & melakukan kebaikan kepada diri ini, alhasil keadaan tersebut membuat suasana hati menjadi acak-acakan. Sebab harus dipahami bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar sifatnya sangat fluktuatif, tidak pasti dan tidak stabil. Keadaan inilah yang beresiko menggiring kehidupan anda kepada kepuasan hati yang rasanya gantung/ tanggung. Jadi berharap dan menunggu sampai anda menerima kebaikan dari sesama barulah bahagia adalah penantian yang melelahkan. Ini membuat anda cenderung harap-harap cemas, penuh keraguaan dan ketidakpastian sehingga membuat anda merasa lelah sendiri dalam kesia-siaan.

Mengharapkan dan menunggu orang lain untuk memberikan kebaikan kepada kita sama dengan mengharapkan kenikmatan duniawi sesaat tetap ada/ tetap dikonsumsi. Ini dikarenakan oleh hati manusia butuh sesuatu yang sifatnya kontinu (terus-menerus) keberadaannya. Padahal kebiasaan mengkonsumsi materi secara kontinu berdampak negatif terhadap kesehatan fisik, mental dan sosial (lihat di atas). Manusia dengan segala kecerdasan yang dititipkan Tuhan, tidak pernah terpuaskan. Hanya ada dua hal yang benar-benar memuaskan hati manusia itu, yakni dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Juga dengan senantiasa beraktivitas/ bekerja sembari memberi manfaat (berbagi kasih) kepada sesama manusia lainnya. Tips lagi, Cara bahagia yang sejati.

Cara bersandar kepada Allah dalam segala situasi

Tidak mudah untuk bersandar kepada Tuhan sebab sekalipun Ia besar dan dahsyat, tetap saja tidak dapat diamati oleh mata kepala ini. Itulah ada tertulis : (Ibrani 11:1) Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Jadi, posisi bergantung kepada Tuhan hanya dapat anda lakukan jikalau kita benar-benar telah percaya kepada Allah. Sebelum iman anda tumbuh di tanah yang baik maka selama itu pula keyakinan kita kepada Allah terasa rapuh:

Ada pengetahuan baru – jadi ragu,

Masalah dikit – iman goyah,

Kenikmatan duniawi di depan mata – iman melemah,

Berikut yang kami maksudkan cara bergantung kepada Allah dalam segala waktu yang dilalui.

  1. Ambil prinsip untuk berkomitmen.

    Anda perlu memiliki tekad yang bulat untuk bergantung terus kepada Tuhan. Tetapi bagaimana anda bisa mengetahui isi hatinya Tuhan jikalau tidak pernah membaca firman-Nya, tidak beribadah bersama, tidak datang dalam perkumpulan dan lain sebagainya. Bila dasar keyakinan anda kuat maka sekalipun ada godaan yang datang dari dalam maupun dari luar, tetap mempertahankannya sampai akhir.

    Ketahui juga bahwa saat kita bersandar kepada-Nya saja, sama artinya dengan mempasrahkan seluruh kehidupan dalam kehendak-Nya/ dalam rencana-Nya, artinya sikap kita sehari-haripun tidak jauh-jauh dari firman-Nya.

  2. Fokus Tuhan.

    Bergantung kepada Tuhan sama dengan fokus kepada-Nya dalam segala situasi dan kesempatan yang tersedia. Dalam setiap hari yang dilalui, tentukanlah waktu yang baik dimana anda membaca firman (selalu). Pada waktu-waktu tertentu silahkan jalin komunikasi yang baik dalam doa kepada Tuhan. Aktivitas ini bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun keadaan anda tapi hindari terus mengulang-ngulang doa. Bernyanyilah untuk memuji namanya di segala waktu yang ada. Aktivitas ini bisa di ulang-ulang sebab memuliakan, mengagungkan & membesarkan nama Allah sifatnya terus-menerus.

  3. Berbagi dalam kebersamaan.

    Jangan sia-siakan kesempatan saat bersama dengan orang lain. Kebersamaan tersebut adalah sebuah peluang untuk menyatakan kasih Allah. Apapun, dimanapun dan bagaimanapun keadaan anda, upayakanlah untuk senantiasa berbagi kasih kepada orang lain pada moment yang tepat. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya beramah tamah (senyum, sapa, sentuh, terimakasih, maaf, tolong, menjadi pendengar yang baik), jujur, setia, konsisten, memberi perhatian dan kebaikan lainnya.

  4. Miliki persepsi positif.

    Sudut pandang semacam ini hanya diperoleh setelah anda belajar tentang Tuhan dan firman-Nya, bagaimana Ia memutar dunia ini sesuai dengan kecenderungan manusia. Sudut pandang yang anda gunakan yang selalu berlandaskan apa yang termuat dalam Kitab Suci akan membuat kita mampu menanggapi segala yang buruk menjadi lebih positif dalam kehidupan ini.

    • Miliki tujuan Tuhan.

      Inilah yang sangat menentukan berhasil tidaknya anda bergantung kepada Tuhan. Bila tujuaan kita seiras dengan tujuan-Nya dalam kehidupan ini, niscaya langkah kaki sekalipun berat namun semakin dekat pada kekekalan. Hindari pemikiran yang egois dan menganggap bahwa hanya kitalah yang berhak diselamatkan melainkan keselamatan adalah milik setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jangan berpikir bahwa Allah hanya menyayangi manusia saja tetapi makhluk-makhluk kecil dan rendah dipelihara hidupnya, terlebih lagi kepada kita yang hanya manusia biasa saja. Ingat-ingatlah firman, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

    • Hidup bersandar dalam rencana Tuhan.

      Rencana Tuhan tidak semudah rencana manusia, namun yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Sebab Tuhan tidak pernah menginginkan ciptaannya untuk dimusnahkan, sekalipun itu hanyalah satu spesies dari anggota habitat ekosistem yang masih tersisa. Baik anda maupun orang lain adalah sama-sama disayangi Tuhan. Bila terjadi serangan antar suku/ antar bangsa/ antar agama maka itu dikarenakan oleh hawa nafsu manusia yang terlalu tinggi terhadap sesuatu. Saat anda

    • Menilai masalah sebagai kesempatan untuk berkembang.

      Memandang masalah secara positif jelas tidaklah mudah. Anda membutuhkan pengetahuan dan wawasan yang lebih lengkap tentang segala proses-proses alamiah yang harus terjadi dalam dunia ini. Menganggap persoalan hidup sebagai pembangkit selera makan agar lebih bersemangat menjalani hari, adalah awal yang baik untuk menerima kenyataan apa adanya sembari mencari solusi buat semuanya itu.

  5. Hidup sederhana.

    Bila anda berkata bahwa saat ini berkomitmen untuk bergantung kepada Tuhan tetapi hidup dalam kenyamanan dan kemewahan duniawi, itu tidak sejalan. Sebab kenyamanan dan kemewahan duniawi lebih dekat kepada menikmati hidup dimana yang paling menonjol disini adalah penggunaan materi – uang secara besar-besaran. Jadi kesannya adalah, anda tidak sedang bergantung kepada Tuhan melainkan sedang berusaha menggantungkan kebahagiaan kepada materi/ uang yang dimiliki.

  6. Tidak berlindung di balik materi.

    Apapun yang anda alami hindari menyandarkan harapan pada besarnya uang yang dimiliki. Berusahalah semampunya dan jangan biarkan uang berkata-kata untuk memuluskan perjalanan hidup anda maupun perjalanan hidup keluarga sendiri. Hindari memanfaatkan materi untuk tujuan-tujuan sempit.

  7. Tidak berlindung di balik relasi.

    Relasi bukanlah solusi dari semua masalah yang ada. Cobalah untuk bertahan sendiri dengan kemampuan yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Gunakanlah relasi anda dalam posisi yang benar, hindari menggunakannya untuk melegalkan faktor KKN.

  8. Tidak berlindung di balik kekuatan sendiri – kekuasaan.

    Andalkan kekuatan sendiri saat menghadapi pergumulan hidup tetapi pertama-tama serahkan/ pasrahkanlah seluruh kehidupan anda pada rencana-Nya saja dalam doa-doa yang dipanjatkan sewajarnya (tidak baik doa bertele-tele). Setelah itu lakukanlah apa-apa saja yang menurut pemahaman sendiri adalah baik.

  9. Tidak berlebihan – selalu santai – menyangkal diri.

    Sikap yang berlebihan adalah sesuatu yang mubazir. Biasa saja dalam menanggapi segala sesuatu. Jadilah orang yang sikapnya saat senang dan susah, saat sedih dan gembira, saat bersuka dan berduka adalah sama saja dimana orang lain hampir tidak bisa membedakan hal tersebut.

    Saat anda merasa terlalu senang, sadarilah bahwa potensi keluarnya kesombongan di saat itu sangatlah besar. Oleh karena itu menyangkal diri sendiri adalah baik.
    Demikian juga ketika baru saja melakukan kebaikan kepada seseorang, pasti ada keluar rasa bangga, sangkallah diri sendiri kawan.
    Juga sewaktu dipuja-puji seseorang/ beberapa orang, bila perasaan mulai berdecak kagum, sangkal diri lagi.
    Kenali suasana kehidupan anda dimana rasa tinggi hati itu mulai memuncak melebihi di atas kepala anda.

    Sudah tahukan caranya? Katakan dalam hati sendiri tentang hal-hal berikut ini
    Kami hanya orang tidak berguna, kami tidak pantas menerima semua ini. Engkaulah yang berkarya atas kehidupan kami ya Tuhan.”
    Kami ini orang yang penuh dengan kelemahan. Manusia yang tidak ada artinya. Tuhanlah yang mengizinkan semua ini terjadi dalam kehidupan kita.”
    Cuma sampah saja kami ini. Debu tanah yang tidak berguna. Tuhanlah yang menyatakan kebaikannya kepada semua orang.”
    Kami hanyalah orang yang hina, dipandang sebelah mata. Engkaulah yang berkehendak untuk segala yang terjadi ya Tuhan.”

  10. Miliki etos kerja yang baik.

    Bila anda percaya kepada Tuhan dan bergantung kepada-Nya saja, bukan berarti pekerjaanmu duduk-duduk saja sambil menunggu berkat Tuhan turun dari sorga. Perilaku semacam ini jelas tidaklah baik sebab Tuhan memberkati lewat pekerjaan yang kita tekuni sehari-hari.

    • Sabar.

      Merupakan atmosfir kehidupan manusia. Ada saatnya dalam kehidupan ini dimana kita perlu menunggu, berlapang dada, menguatkan hati dan bertahan.

    • Kerja keras.

      Bekerjalah dengan sungguh-sungguh sesuai talenta yang dimiliki.

    • Tekun.

      Lakukanlah kebaikan dalam hidup anda secara terus-menerus sampai memberikan hasil yang terbaik.

    • Displin.

      Taatilah peraturan yang berlaku dimanapun anda ditempatkan.

    • Konsisten.

      Miliki prinsip yang tetap, tidak mudah diombang-ambingkan, jangan mudah digoyahkan dan hindari sikap yang terbuai oleh situasi sehingga melupakan tekad/ tujuan yang dimiliki.

    • Budayakan.

      Ketekunan dan konsistensi yang telah diuji oleh waktu dan diuji oleh situasi juga telah diuji oleh sesama akan menjadi budaya yang dibawa kemana-mana dan terjadi secara otomatis.

Ada banyak hal di dunia ini yang memberi daya tarik tersendiri sebab biar bagaimanapun indra ini telah melekat dalam tubuh kita dan terhubung ke hati/ pikiran masing-masing. Jangan terlalu fokus pada indra sebab organ-orang tersebut hanya menyaksikan apa yang tampak di luar sedang yang di dalam tersembunyi olehnya. Selalu aktifkan pikiran anda sehingga hatimu peka terhadap peristiwa yang terjadi. Bila hatimu peka maka kenikmatan indra yang menggoda dan merayu-rayu itu tidak akan bisa menipu, melemahkan, menjatuhkan ataupun mengubahmu. Akan tetapi, jikalau hati ini lemah, berbagai pesona duniawi yang menghampiri akan menjadi batu sandungan terhadap tujuan hidupmu dari awal.

Saat kita mengambil keputusan untuk bersandar kepada Tuhan berarti mempasrahkan seluruh kehidupan kepada kehendak-Nya, apa yang Dia rencanakan itulah yang terjadi dalam kehidupan ini. Bergantung kepada Tuhan tidak hanya berlangsung saat susah dan genting saja melainkan disaat senang & bahagiapun jangan lupa untuk selalu terhubung dengan-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Tetapi jangan juga salah kaprah, saat semua kita serahkan kepada Tuhan lalu diam-diam saja menunggu penyataan-Nya, ini kuranglah tepat. Melainkan aspek usaha, perjuangan dan pengorbanan kita haruslah kentara. Sebab dari aktivitas/ pergerakan/ pekerjaan yang dilakukan, disanalah berkat-berkat Tuhan mengalir.

Salam, ketergantungan yang penuh!

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s