7 Makna Bahtera Nuh, Tanggung Jawab Memelihara Semua Ciptaan

Makna Bahtera Nuh, Tanggung Jawab Memelihara Semua Ciptaan

Segala hal yang didokumentasikan (tercatat) dalam Kitab Suci memiliki beberapa fungsi, dua diantaranya adalah menyatakan kejadian yang pernah terjadi (sejarah) dan sebagai suatu perumpamaan yang memiliki makna yang dalam bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Jadi, Alkitab dipenuhi oleh berbagai ilustrasi yang maknanya harus dicari, digali dan dikembangkan oleh manusia itu sendiri menurut pemahamannya masing-masing.

Kisah tentang nabi Nuh yang tetap setia kepada Tuhan sedangkan orang-orang disekitarnya (masyarakat – sebangsanya) sangat berlaku fasik saat itu. Kejahatan manusia di zamannya memang sangat banyak dan besar jumlahnya. Mereka jahat karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu untuk membunuh sesamanya (kanibalisme) melainkan alam sekitarnyapun turut luluh lantak sehingga tanah-tanah menjadi tandus dan kekeringan di mana-mana. Keserakahan telah menguasai kehidupan manusia kala itu sehingga segala maksud hatinya adalah jahat di mata Tuhan. Hanya Nabi Nuh sajalah yang mendapat kasih karunia Tuhan karena berlaku benar dan tak bercala (Kejadian pasal 6).

Dari sejarah di masa lalu itu, kita dapat mempelajari beberapa hal. Manusia dengan anugrah kecerdasan yang diberikan kepadanya memiliki hawa nafsu yang tidak terbatas. Keinginan yang disertai dengan kecerdasan akan menghasilkan sesuatu yang disebut sebagai ketamakan. Ciri khas sifat ini adalah TIDAK PERNAH PUAS atas apa yang telah diperoleh dan dimiliki, merasa tidak pernah berkecukupan. maunya tambah lagi dan lagi. Sifat semacam inilah yang cenderung menjebak masyarakat terdahulu dalam eksploitasi yang berlebihan sehingga berujung pada kerusakan ekosistem lingkungan hayati. Pada akhirnya, banjir bandang (bahkan lebih besar lagi)  terjadi  yang memusnahkan seluruh kehidupan yang ada di muka bumi.

Manusia yang sudah dikuasai oleh keserakahan tidak hanya menghancurkan kehidpan hayati (lingkungan sekitarnya) tumbuhan hijau, berbagai jenis hewan dan bumipun turut menderita (sekarat) karenanya. Bahkan sesama manusia juga dikorbankan agar keinginan yang sesat itu terwujud. Kerusakan yang besar ini telah mengganggu keseimbangan alam sehingga memicu terjadinya bencana global. Artinya, pemanasan global tidak hanya terjadi di zaman sekarang melainkan ini adalah rentetan peristiwa yang telah terjadi sejak dahulu kala sehingga memicu bencana alam untuk mengembalikan keseimbangan yang telah terganggu.

Makna bahtera Nuh dalam kehidupan manusia

Ada makna yang sangat baik untuk dipelajari dari deretan sejarah yang mengkisahkan tentang nabi Nuh dan bahteranya yang begitu besar sehingga menopang kehidupan seluruh makhluk yang ada dizamannya. Berikut beberapa hal positif yang dapat kita pelajari dari kisah tersebut.

  1. Kejahatan manusia dimulai dari hawa nafsunya yang berlebihan.

    Tahukah anda mengapa manusia jahat saat membunuh binatang tetapi saat hewan berburu mangsa ia tetap benar? Alasan pertamanya adalah hewan tidak bisa menimbang-nimbang dan berpikir, tidak mampu menganalisis, tidak sanggup menyediakan makannya sendiri. Oleh karena itu, ia berhak berjuang mengambil sesuatu yang ada didepannya saat perutnya lapar agar dikenyangkan.

    Sedangkan manusia, bisa berpikir, menimbang dan menganalisis namun selalu saja mengembil lebih banyak dari apa yang ia butuhkan. Perilaku mengambil sebanyak-banyaknya dan menimbun sebanyak-banyaknya inilah yang disebut sebagai ketamakan.

  2. Manusia yang tamak memicu bencana alam.

    Hawa nafsu manusia telah membahayakan dirinya sendiri. Alam sekitar kita, tepatnya hutan adalah penyeimbang aktivitas manusia yang terus-menerus menghancurkan segala sesuatu. Manusia mengkonsumsi tetapi tumbuhan hijaulah yang menumbuhkan & membangun semuanya itu. Bila manusia begitu serakah niscaya tanaman yang memproduksi oksigen dan kebutuhan manusia akan hilang. Saat jumlah konsumen (manusia) lebih tinggi daripada jumlah produsen (tanaman) terganggulah keseimbangan lingkungan yang memicu bencana, misalnya kekeringan, kelaparan, kanibalisme dan lain sebagainya

  3. Kejahatan manusia merusak seluruh ciptaan.

    Perhatikan ayat ini yang mencerminkan betapa jahatnya manusia di zaman dahulu.
    (Kejadian 4:23-24) Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.”

    Bukankah ayat di atas menunjukkan betapa jahat dan sombongnya manusia itu? Pukulan dibalas dengan pembunuhan, satu kesalahan dibalaskan dengan tujuh puluh tujuh kali lipat. Bukankah orang-orang ini sangat lebay, “colek dikit ganas, senggol dikit tikam.”

    Manusia yang tamak akan mengeksploitasi seluruh sumber daya yang ada. Pohon-pohon ditebangi semuanya, hewan-hewan ditangkap untuk diburu, permukaan bumi dirusak oleh aktivitas pertambangan. Selain itu, persaingan antara manusia begitu rumit hingga pecah pertengkaran yang berujung pada peperangan. Orang-orang saling membunuh untuk memperebutkan apa yang diinginkan hatinya bahkan kanibalisme telah menajiskan tanah karena pembantaian dimana-mana. Semua tindakan yang jahat ini, telah menajiskan seluruh ciptaan sehingga perlu dicuci dari kekotorannya.

  4. Kepedulian Tuhan terhadap orang yang benar dan tidak bercela.

    Jika anda adalah orang yang hendak merasakan totalitas dari penyertaan Tuhan maka berlakulah benar dan tidak bercela. Tidak perlu iri hati karena membanding-bnndingkan kehidupan sendiri yang sepertinya lebih sial dibandingkan dengan orang lainnya. Bergantung dan bersandarlah kepada Tuhan sepenuhnya tanpa titik koma. Niscaya kemanapun beranjak Tuhan selalu menyertai, menjaga, melindungi dan membuat berhasil segala kehendak kita yang baik semoga sesuai dengan rencananya.

  5. Tuhan menjadikan manusia sebagai penyelamat seluruh bumi.

    Untuk menyelamatkan bumi yang sudah rusak parah, Allah tidak memerintahkan makhluk hidup lain/ spesies lain. Melainkan ia menjadikan manusia yang hidupnya benar dan tidak bercela untuk menjadi saluran kasihnya kepada seluruh (spesies) kehidupan yang ada. Hanya orang yang kebenaran dan ketulusan hatinya terujilah yang pantas untuk menyatakan kasih karunanya yang besar atas seluruh bumi.

  6. Kasih karunia Allah tidak hanya untuk manusia melainkan untuk seluruh bumi.

    Harap di ketahui, manusia jangan ke-GR-an, merasa sudah sempurna sehingga merasa hanya kitalah yang berhak atas kasih karunia Allah sedangkan makhluk hidup lainnya tidak membutuhkannya. Dari kejadian saat air bah yang besar di zaman perjanjian lama, dalam bahtera Nuh tidak hanya manusia yang dipanggil untuk selamat melainkan hewan-hewan juga, tepatnya sepasang-sepasang. Jadi, Tuhan sayang kepada seluruh ciptaan tangan-Nya. Dialah Sang Pencipta Sejati yang tidak membiarkan hasil karnya-Nya sendiri musnah begitu saja dengan mengadakan tindakan penebusan.

  7. Allah sendiri tidak berniat memunahkan satu spesiespun dari ciptaan-Nya, mengapa kita hendak memunahkan tumbuhan dan hewan demi kenyamanan dan kemewahan pribadi?

    Kita, manusia harus tahu diri, jangan karena kita lebih pintar dari makhluk hidup lainnya maka berhak menindasnya tanpa alasan dan manfaat yang jelas. Tidak hanya perikemanusiaan yang ada melainkan perikebinatangan juga dimana kita memperlakukan sesama ciptaan dengan layak. Jelaslah bahwa penyiksaan terhadap binatang tidak diperbolehkan. Cukuplah mengambil, mengejar, memburu dan membunuh apa yang dibutuhkan saja. Lebih daripada itu, biarkan hewan-hewan itu hidup liar di dalam hutan. Bisa dikatakan bahwa pemusnahan terhadap satu spesies hewan adalah dosa besar (membunuh sampai punah hingga tak bersisa).

    Jika kita layak hidup di tanah yang makmur ini maka hewan-hewan lainnyapun demikian. Jangan sampai karena keserakahan kita akan kekuasaan, kekayaan, teknologi, kenikmatan duniawi, kemewahan dan kenyamanan pribadi menjadi alasan untuk menyisihkan makhluk hidup lainnya sampai ke pinggiran bahkan hingga mereka kehilangan tempat tinggal dan tidak mampu bertahan hidup (punah).

Apa yang ada dalam bahtera nabi Nuh telah menjelaskan kepada kita bahwa Tuhan tidak hanya pengasih & penyayang kepada manusia melainkan kepada seluruh ciptaan lainnya juga. Oleh karena itu, ambil apa yang perlu saja tanpa harus menyiksanya. Mari batasi hawa nafsu berlebihan, buang keserakahan dan perilaku yang menyiksa kehidupan spesies lain yang ada di sekitar kita sebab seluruh yang ada di bumi ini adalah ciptaan Tuhan dan Ia yang maha besar, maha mulia dan maha perkasa itu, sayang terhadap semua makhluk.

Salam jagalah kelestarian lingkungan sekitar!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s