7 Keterbatasan Dunia Memuaskan Hati, Tidak Menggantungkan Diri Pada Yang Tak Pasti – Fluktuasi Ujian Kehidupan Mengajari Kita Bergantung Kepada Allah Saja

Keterbatasan Dunia Memuaskan Hati, Tidak Menggantungkan Diri Pada Yang Tak Pasti – Fluktuasi Ujian Kehidupan Mengajari Kita Bergantung Kepada Allah Saja

Apakah candu dalam hidup anda? Yang membuatmu terlena hari lepas hari? Kepada siapa kebahagiaan anda bergantung? Apa anda punya kesusahan tersendiri dalam kehidupan ini? Sadarilah bahwa selama kita hidup di dunia maka selama itu pula terjadi yang namanya fluktuasi kehidupan. Hari-hari yang kita jalani serba tidak pasti dengan begitu kita hanya menggantungkan setiap waktu yang dijalani kepada Tuhan saja. Inilah yang sejak zaman purba kala disampaikan Tuhan kepada kita agar diri ini tidak terjebak dalam kekuatan duniawi yang rasanya, kelihatan dan kedengaran waw, luar biasa, sebab semuanya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyertaan Tuhan dalam setiap hari yang dijalani.

Kenikmatan duniawi memuaskan indra sesaat saja

Dunia dengan segala kegemilangannya memang sangat memukau indra manusia. Sebaiknya apa yang menarik menurut indra jangan sampai merusak suasana hati. Hal-hal duniawi hanya mempengaruhi indra anda, jangan masukkan hal-hal sepele yang hanya menyenangkan indra ke dalam hati sehingga suasana di dalam sana turut menjadi kacau balau dan penuh dengan ketidakpastian. Sadarilah bahwa semua yang anda lihat, dengar, rasakan, baui dan dikecap lewat indra adalah hal-hal sementara yang akan segera berlalu dengan mudahnya. Sadarilah bahwa apa yang anda terima saat ini suatu saat nanti akan diambil pula daripadamu. Jadi untuk apa mengkhawatirkan dunia ini?

Kenikmatan dunia dengan segala gemerlap yang ada di dalamnya, hanyalah sebatas itu saja, rasanya 3 detik, 3 menit, 3 jam, 3 hari, 3 bulan dan maksimal 3 tahun. Ia hanya menyenangkan mata, telinga, lidah, hidung dan kulit. Pada dasarnya semuanya itu hanya sesaat saja, jika ingin merasakannya lagi maka beli lalu konsumsi lagi. Pada saatnya nanti, terlalu sering menikmati materi beresiko membuat diri ini sakit (fisik), kehilangan rasa bahkan miskin juga. Oleh karena itu, batas-batasilah penggunaannya anda tidak sampai berpenyakit karena konsumsi berlebihan. Kehilangan rasa biasanya saat materi dinikmati tidak lagi dirasakan karena mengkonsumsinya terlalu lebay. Semua yang berlebihan biasanya cepat menimbulkan kebosanan. Bila terus beli ini dan beli itu, apa tidak jatuh miskin?

Ketergantungan pujian merelakan diri di tangan orang lain

Jika anda adalah seorang yang sering dipuja-puji oleh orang lain, berhati-hatilah dengan hal tersebut sebab keadaan ini beresiko membuat terlena hingga mematikan potensi kreatif yang sudah ada sebelumnya di dalam diri ini. Pujian itu seperti narkoba, saat anda terpapar beberapa kali, hati ini cenderung menginginkannya lagi dan lagi. Jika hawa nafsu tidak bisa ditahan maka sifat menggilai pujian akan mendorong seseorang untuk mencari-cari sensasi negatif agar pujian itupun datang lagi dan lagi. Semakin ketergantungan dengan pujian, semakin mudah orang lain mengendalikan kehidupan ini.

Mengharapkan imbalan-penghargaan di balik kebaikan, pahalnya di sorga nol

Bila sering mendapat penghargaan dan penghormatan dari orang lain, berhati-hatilah menanggapi semuanya itu. Bila niat anda dalam melakukan segala sesuatu agar dihargai dan dihormati orang berarti ketulusan tidak ada dalam hati. Berharap sesuatu dibalik kebaikan yang kita lakukan sama saja dengan menolkan untung kita di sorga kelak sebab apa yang diberikan sama dengan apa yang diterima (semacam barter). Sebab apa yang kita berikan sudah terbalaskan selama hidup di dunia. Jika anda ingin menimbun harta di sorga maka berilah sesuatu, tebarkan kasih, lakukan kebaikan dan jadilah bermanfaat tanpa berharap apa-apa dari semuanya itu.

Alihkan konsentrasi bila hati mulai neko-neko (berharap secara berlebihan)

Sekalipun demikian, kami menyadari bahwa melakukan kebaikan tanpa mengehendaki apa-apa terlalu malaikat sebab berharap itu manusiawi. Sekalipun demikian berusahalah untuk tidak terus-menerus membahas-bahas harapan anda di masa depan. Melainkan daripada membahas sesuatu yang tidak jelas, alangkah lebih baik jikalau anda bernyanyi memuji-muji Tuhan, pahalanya di sorga jelas lho dan hatipun tetap bahagia menjalani hari.

Keinginan = harapan = ketergantungan = kekecewaan

Harapan yang terlalu besar juga tidak baik. Ini biasanya disebabkan oleh karena hawa nafsu yang semakin tinggi. Masing-masing orang harus mengendalikan hawa nafsunya dalam kadar yang netral. Ketidakmampuan menekan keinginan akan semakin memperbesar peran orang lain dan lingkungan sekitar untuk mempengaruhi kita. Terlebih ketika, hal tersebut tidak terwujud, pastilah rasa kecewanya sebesar hawa nafsu yang menyertainya. Sadarilah bahwa semakin tinggi harapan maka semakin tinggi pula kekecewaan yang mungkiin kelak akan dialami.

Hidup itu terus berjalan dalam flutuasi

Saat berharap kepada orang lain maka kita menggantungkan hidup di tangan manusia. Padahal kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Seperti mengendaki sesuatu dari sesama yang hidupnya juga fluktuatif, jadi apa yang diberikannya juga pastilah fluktuatif. Terkadang keadaan yang naik-turun inilah yang sering sekali membuat kita tertekan, stres hingga depresi. Tetapi mereka yang bisa menjaga konsistensi kebahagiaan di dalam hatinya pastilah bisa melalui semuanya itu.

Keterbatasan/ kelemahan/ kekurangan dunia untuk memberi kepuasan kepada manusia

Pahamilah bahwa segala sesuatu yang datang dan berasal dari dunia ini sifatnya tidak konsisten. Mulai dari kenikmatan duniawi, penghargaan, pujian, penghormatan dan popularitas.Semua ini memang jelas manfaatnya, bisa membuat kita candu, terlena hingga berbahagi. Tetapi seperti yang telah kami katakan sebelumnya bahwa ini hanya sesaat saja, 3 detik, 3 menit, 3 jam, 3 hari, 3 bulan, 3 tahun dan lain-lain. Selain itu, keberadaannya juga kadang ada dan kadang tidak ada, terkadang baik dan terkadang buruk, terkadang tinggi dan terkadang rendah. Artinya, segala hal di dunia ini sifatnya sebagai berikut:

  1. Sesaat saja,

    Misalnya saat anda di pujia orang, pasti senangnya 3 detik aja toh…. Saat mengkonsumsi cemilan yang gurih, pasti rasanya 3 menit aja ya…. Ketika memiliki baju baru, pasti senangnya cuma 3 jam pertama, setelah itu biasa saja…. Ketika memiliki barang elektronik pasti senangnya 3 bulan setelah itu biasa saja…. Dan lain sebagainya. Semewah apapun suatu materi, nikmatnya sesaat saja.

  2. Tidak boleh terlalu sering dikonsumsi (lebay berlebihan),

    Misalnya saat makan, paling net-net 3 kali sehari. Membeli cemilan, paling net-net 1 – 2 kali sehari, lebih daripada itu beresiko menimbulkan penyakit. Misalnya saat kita sedang menonton televisi, hati agak tenang pada dua jam pertama setelah itu mulailah bokong sakit, kaki keram, terus ke toilet dan sebaiknya break/ istrahat dahulu. Kami sendiri, apapun yang dikonsumsi/ dinikmati di dunia ini, lakukanlah itu perlahan saja agar rasanya tetap awet dan tidak cepat bosan. Justru ketika kita terlalu sering mengkonsumsi dan menyerap sesuatu maka ada resiko kehilangan rasa (jenuh).

  3. Adanya tidak pasti bahkan kadang memberikan efek sebalinya.

    Misalnya hari ini seseorang menghargai anda, apakah besok ia melakukan hal yang sama? Mustahil jugalah bisa rekan memuja-muji anda di segala waktu karena diapun ada pekerjaan lain. Bahkan terkadang dalam hidup ini kita mendapat perlakuan yang tidak baik juga dari orang-orang yang selama ini memperhatikan, menghargai dan memuji kita. Bila tidak ada kesabaran niscaya masalah jadi runyam.

  4. Tidak akan pernah menyentuh hati.

    Sadarilah bahwa sebaik-baiknya materi hal tersebut tidak akan pernah menyentuh sisi emosional dalam dirimu. Paling-paling indralah yang akan dipuaskan tetapi sebatas itu saja. Rasa senang yang ditimbulkannya hanya berasal dari luar dan tidak langsung bersentuhan dengan hati anda. Oleh karena itu sebagus apapun kualitas materi tidak akan mampu membuat hati ini tergugah (tersentuh).

    Hal-hal yang bisa memberi kepuasan emosional adalah hubungan yang baik dengan Tuhan, hubungan yang baik dengan sesama dan perjuangan (pahit-manis, suka-duka) mengarungi kehidupan selama dunia ini.

  5. Nilai nominalnya yang semakin mahal.

    Sepertinya, uang yang kita miliki semakin rendah nilainya sebab barang-barang kebutuhan yang dibeli semakin meningkat harganya. Lagipula bila kita terlalu menggantungkan kebahagiaan pada trend, mustahil mampu mengimbangi pergerakannya yang semakin memuncak dari waktu ke waktu, terkecuali jikalau anda memiliki sumber pendanaan besar yang tidak pernah kering.

  6. Mutahil bumi ini mampu mefasilitasi semua harapan dan keinginan untuk memuaskan anda.

    Manusia dengan kecerdasannya memiliki keinginan yang macam-macam, cita-cita yang beranekaragam, kreasi yang aneh-aneh. Tidak semua yang kita inginkan adalah penting dan tidak semua yang penting itu sejalan dengan hawa nafsu ini. Oleh karena itu, jangan terlalu berharap materi di dunia ini memuaskan hatimu. Melainkan bertindaklah lalu arahkah keluar semua hawa nafsu itu pada karya-karya yang dihasilkan. Jika anda memang punya banyak ide namun tidak dapat direalisasikan maka setidaknya dokumentasikanlah ide-ide tersebut. Jika itu tidak berguna sekarang, mungkin saja di masa depan akan lebih dianggap oleh generasi berikutnya.

  7. Menimbulkan efek ganda (ada baik buruknya).

    Saat mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa, pastikan bahwa melakukannya untuk keperluan seadanya saja. Sebab membeli barang dan jasa dalam jumlah yang melebihi kebutuhan cenderung menyebabkan pemborosan sumber daya sekaligus menyisakan sampah bagi lingkungan. Keadaan ini cenderung membuat kehidupan kita mengganggu keseimbangan alam, merusak lingkungan dan menyebabkan bencana alam sehingga kerugian materi dan korban jiwa dimana-mana.

Biar bagaimanapun juga, keberadaan materi sifatnya fluktuatif. Jika bukan saat ini naik turunnya maka mungkin 5 atau 10 tahun ke depan akan anda rasakan juga. Artinya, suatu saat kelak setiap orang akan diperhadapkan dengan fluktuasi materi  dalam kehidupannya sehari-hari. Jika keingnan terlalu tinggi, harapan terlalu besar dan hidup terlalu candu terhadap dunia dengan segala gemerlapan yang ada didalamnya niscaya ada resiko hati terluka/ tersakiti oleh semuanya itu.

Jika anda cerdas bahkan bijak, buatlah diri ini tidak terlalu ketergantungan dengan materi dan hal-hal duniawi lainnya. Agar fluktuasi (ketidakpastian) yang diberikannya tidak mengganggu kebahagiaan, kelegaan dan kedamaian di dalam hati dengan cara “menerima segala sesuatu apa adanya.” Baik bagi kita untuk senantiasa beraktivitas memberi manfaat (berbagi kasih) kepada sesama lewat pekerjaan yang dilakukan dan bakat yang dimiliki (lewat perkataan dan perilaku saat bersama/ bergaul dengan orang lain). Alangkah lebih baik jikalau anda juga candu kepada Tuhan saja. Sebab kapanpun, dimanapun dan apapun yang sedang anda lakukan, dekatkanlah dirimu dan panggillah nama-Nya, pujialah Dia, tujukan doa-doa anda kepada-Nya dan baca-bacalah firman yang dititipkan-Nya. Niscaya hati selalu bahagia, penuh kelegaan dan hidup inipun damailah.

Salam perjuangan!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s