Tidak Menggantungkan Diri Kepada Orang, Jangan Melandaskan Iman Kepada Manusia, Sesama Tidak Perlu Diteladani Berlebihan, Hanya Manusia Biasa Saja Tetapi Cerdaslah

Tidak Menggantungkan Diri Kepada Orang, Jangan Melandaskan Iman Kepada Manusia, Sesama Tidak Perlu Diteladani Berlebihan, Hanya Manusia Biasa Saja Tetapi Cerdaslah

Sempat terbesit dalam pikiran kami, mengapa manusia dilahirkan secara individu (kecuali kembar siam)? Sedangkan hewan lain dilharikan secara masal (2 atau lebih sekaligus)? Ini bisa saja karena manusia hanya memiliki dua puting, seperti hewan lainnya yang hanya memiliki 2 atau tiga puting (sapi, kerbau dan lain sebagainya). Atau bisa juga ini adalah pelajaran penting bagi kita untuk bersikap individualis dalam hal-hal tertentu. Apapun itu kita mesti bersyukur sebab jika seorang Ibu melahirkan delapan bayi sekaligus maka bukankah bumi ini akan lebih cepat penuh sesak dalam beberapa abad ke depan?

Manusia dilahirkan secara individu

Jumlah satu anak setiap kelahiran telah membantu mengendalikan populasi manusia di bumi ini. Setiap orang tua (ayah dan ibu, dua orang) mampu mengontrol siapa-siapa saja keturunan selanjutnya yang kelak akan menggantikan posisi mereka. Ini sangatlah ideal sebab kehidupan manusiapun diawal-awal dibangun dari sikap individualis. Barulah ketika seseorang mulai bisa berinteraksi dan berkomunikasi kepada sesamanya maka kehidupannya akan dilatih untuk bersosial. Keadaan ini turut membentuk/ menciptakan rasa sosial diantara masyarakat sehingga ada kebersamaan.

Setiap orang harus hidup bersama orang lain

Rasa kebersamaan memang sangatlah penting bagi kehidupan kita. Ini semata-mata agar ada yang mengingatkan kita kalau-kalau masih kurang peduli atau sikap cenderung berelebihan atau menghalangi kecenderungan menjadi jahat. Terlebih lagi yang kita butuhkan dari kehidupan bersosial adalah ujian kehidupan yang menyertainya. Jikalau anda mampu memandang peristiwa tersebut dalam persepsi iman sehingga menjadi pikiran positif maka lama kelamaan, sadar atau tidak keadaan itu akan melatih mental, kepribadian dan otak anda menjadi lebih baik.

Kebersamaan dapat menciptakan kebahagiaan tersendiri di dalam hati. Keadaan ini timbul karena kita saling melengkapi dan memberi warna yang berbeda dalam setiap pergaulan yang dijalani. Ada orang yang pengasihan, ada orang yang suka melucu, ada yang suka lebay, ada yang mampu melihat detail suatu peristiwa, ada yang menyaksikan sesuatu yang baik dari sebuah kesalahan dan lain sebagainya. Pada intinya, perbedaan di dalam kebersamaan membuat kita bahagia karena rasa (sikap: perilaku dan perkataan) yang diberikan setiap orang berbeda-beda. Inilah namanya pelangi yang sesungguhnya.

Bukan berarti saat sendiri tidak bahagia (individualis)

Dibalik semuanya itu, harus kami akui juga bahwa terkadang dalam hidup ini hanya seorang diri saja. Ada 24 jam waktu dalam sehari, apakah anda menghabiskan waktu selama itu bersama orang lain. Tentu saja tidak! Oleh karena itu, ada saatnya kita membutuhkan waktu sendiri sehingga disanalah sikap individualis itu mulai muncul ke permukaan. Jika anda bahagia secara sosial (saat bersama orang lain) maka andapun harusnya berbahagia secara individu.

Individu dan sosialis seperti cahaya yang menyisakan sisi gelap dan terang dalam kehidupan kita, Anda harus menemukan keseimbangan antara keduanya lalu gunakanlah pada waktu (moment) yang tepat. Saat berinteraksi dengan sesama maka jadilah orang yang bahagia, lega dan damai dalam setiap hubungan yang dimiliki. Tetap saat sedang sendiri maka jadilah orang yang menggantungkan kebahagiaan dan kelegaan juga kedamaian itu kepada diri sendiri.

Jikalau saat sendiri saja anda bisa merasakan kebahagiaan, kelegaan dan kedamaian (K3) maka terlebih lagi ketika sedang berbaur dengan orang lain. Artinya, (2) kemampuan berbaur dengan sesama dan (1) memanajemen pola pikir adalah cara terbaik untuk mencapai K3. Penguasaan terhadap kedua hal ini dapat mendorong anda untuk memiliki pikiran yang selalu positif dan stabil disegala waktu bahkan ditengah kesesakan sekalipun. Oleh karena itu, latihlah kemampuan ini mulai dari sekarang.

Cara bahagia, damai dan lega hati ini saat sedang sendiri

Untuk mengembangkan kemampuan memanajeman pola pikir yang pertama-tama anda butuhkan adalah (1) kemampuan untuk berkonsentrasi dan fokus pada sesuatu. Cara sederhana untuk melatih hal ini adalah dengan berdoa. Saat anda mampu berkonsentrasi dalam doa sekalipun situasi diluar diri kita tidak stabil maka itulah yang menjadi indikator perkembangan kemampuan berkonsentrasi. Simak, Cara fokus dalam situasi yang kacau. Yang anda butuhkan lagi adalah (2) kemampuan untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Ini adalah kesanggupan seseorang untuk menerima dan menyetujuai suatu penderitaan memasuki kehidupannya. Setelah itu, (3) buatlah pikiranmu terlena oleh hal-hal sorgawi.

Apa yang membuatmu terlena dalam hidup ini? Hal-hal inilah yang tetap membuat hidup anda berada dalam jalur yang positif. Ada begitu banyak narkoba untuk pikiran di luar sana. Diantara semuanya itu, ada materi juga kenikmatan duniawi, pujian, penghargaan, penghormatan, popularitas, kemewahan dan berbagai gemerlapan hidup lainnya. Ketergantungan dengan semuanya itu hanya akan mendukakan hatimu sebab anda tidak mampu mengontrol sesama dan lingkungan sekitar sehingga hal tersebut cenderung membuat kita was-was, kuatir dan tidak stabil.

Menggantungkan kebahagiaan, kedamaian dan kelegaan kepada dunia dan orang-orang disekitarnya justru akan membuat hati ini masuk lagi dalam duka lara, kesedihan dan keterpurukan. Sebab bisa saja orang yang dahulu baik kepada kita berubah menjadi membenci, uang yang ada di tangan sudah tidak cukup lagi dinikmati sampai akhir bulan, kreativitas yang biasanya dipuja-puji orang tidak lagi keluar, teman yang dulu dekat kini berubah menjadi musuh. Bagaimana lagi anda bisa membuat pikiran terlena dalam damai, rasa lega dan tetap bahagia selalu di hati jikalau dunia ini menolakmu dan orang-orang juga menentangmu?

Memang kita butuh kenikmatan duniawi tetapi tidak baik jika terlalu berlebihan. Lagipula hal-hal semacam ini sifatnya terbatas dan tidak selalu ada. Sebaiknya jikalau kita menghibur diri sendiri dengan cara selalu beraktivitas (bekerja memberi manfaat) setidaknya bagi diri sendiri dan bila memungkinkan bagi orang lain juga (keluarga dan lainnya). Inilah candu yang kedua dalam kehidupan yang akan membuat anda terlena sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang negatif/ buruk dengan begitu perilaku jahat dan menyimpang juga akan menjauh dari perkataan dan perilaku sehari-hari.

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

Penghargaan, pujian, penghormatan, popularitas dan ide-ide kreatif tidak selalu ada. Oleh karena itu, hindari sikap yang terlalu menggantungkan kebahagiaan, kedamaian dan kelegaan hati pada hal-hal yang demikian. Melainkan fokuskan kehidupan anda kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian disegala waktu. Dalam banyak kesempatan, senantiasa bernyanyi memuliakan Allah akan memberi sensasi teresendiri jikalau anda mampu menghayati dan menikmati semua itu. Jikalau anda mampu membiasakan diri dengan aktivitas ini maka ia akan menjadi candu yang pertama yang akan membuatmu terlena di segala waktu.

Tidak melandaskan iman kepada sesama

Iman termasuk hal yang sangat individualis untuk dibahas. Pastikan anda memilih itu dari hati nurani yang paling dalam berdasarkan pertimbangan yang benar-benar logis (masuk akal). Sehingga ketika sesuatu terjadi maka keyakinan itu bisa dipertahankan seadanya. Jikalau anda tidak memilih keyakinan anda berdasarkan keputusan pribadi maka ada kecenderungan menjadi ikut-ikutan kecewa saat orang-orang yang menurut anda penting dan tokoh intelektual melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Banyak dari kita yang melihat kehidupan orang lain saat menjalani hari. Ini adalah sebuah kebiasaan yang tidak baik utnuk dipelihara. Sebab sesama manusia hanyalah manusia biasa saja yang sewaktu-waktu bisa melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati. Saat hal itu tiba, siapkah anda untuk kecewa? Atau jangan-jangan, andapun ikut-ikutan menyimpang dan meninggalkan keyakinan sendiri saat peristiwa tersebut sampai ke hadapan/ ke telinga anda?

Kita butuh sikap yang individualis untuk mempertahankan keyakinan yang dimiliki. Jangan sampai hanya karena perilaku orang tertentu yang tidak senonoh maka langsung saja ngambek dan tidak mau lagi bersekutu dengan Tuhan. Karena orang tua telah memarahi anda langsung saja tidak mau berdoa. Karena tokoh-tokoh agama yang anda kenal dekat melakukan korupsi, maka tidak lagi mau datang ke rumah Tuhan untuk beribadah. Hanya karena perbuatam oknum hamba Tuhan yang tidak fair, langsung pindah denominasi. Betapa dangkalnya keyakinan anda saat dihantam oleh cobaan hidup yang tidak langsung. Terlebih lagi ketika ujian tersebut tersebut langsung dialami sendiri.

Selama hidup di dunia ini, belajarlah untuk menggantungkan (candu) kebahagiaan, kelegaan dan kedamaian pada diri sendiri. Jika ada hal-hal duniawi dan orang-orang disekitar kita yang juga turut melakukannya, santai saja dan anggaplah itu sebagai pelengkap. Demikian juga halnya dengan keyakinan yang dimiliki, pengang prinsip sendiri dan tidak perlu menggantungkannya kepada orang lain. Sebab di sorga nanti, kita tidak dihitung satu ikat bersama orang lain melainkan mempertanggung jawabkan kehidupan yang dijalani sendiri-sendiri. Lagi, Bahaya akibat ketergantungan terhadap orang lain dan dunia.

Salam individualis & sala sosialis!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s