+10 Kebiasaan Yang Membuat Gila – Tanpa Tuhan Kecerdasan Menggila – Semakin Pintar Semakin Meragukan Allah

Kebiasaan Yang Membuat Gila - Tanpa Tuhan Kecerdasan Menggila – Semakin Pintar Semakin Meragukan Allah

Seorang teman kami bercerita tentang kehidupannya.  Sama seperti orang lain mendapat banyak berkat sekaligus penderitaan. Menjadi orang yang cerdas memang baik menurut beberapa orang. Bisa mengatakan sesuatu yang baik tentang orang lain. Membuat sesama menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup. Mampu bersikap sepadan dengan situasi yang sedang dihadapi. Melakukan hal-hal sederhana yang sekedar memberi solusi terhadap situasi yang sedang dihadapi. Menemukan ide-ide baru untuk dikembangkan. Melakukan pembaharuan dalam hal-hal yang dianggap kurang tepat benarnya. Membawa sesuatu yang sepertinya berat menjadi lebih ringan. Dan masih banyak hal lain dalam dunia ini yang nyatanya baik untuk dilakukan bersama.

Walau bisa melakukan hal baik memang benarlah bahwa apa yang diberikan sama dengan apa yang diambil sehingga kepunyaan kita tetap sama alias impas, berkat setara dengan tantangan yang dihadapi. Tantangan yang diberikan kepada kita sulit tetapi hal tersebut seolah menjadi ide-ide untuk mengembangkan cara berpikir tentang dunia ini. Tetapi saat anda tidak mampu memandang masalah ini lebih positif, alhasil hidup ini tidak akan berlangsung dengan baik sebab pikiran negatif (seperti iri hati, dendam, kebencian dan lain-lain) hanya membuat beban yang ditanggung semakin berat bahkan berjalanpun tidak bisa apalagi berkreasi.

Kelebihan yang kita miliki sudah seharusnya diseimbangkan dengan kekurangan agar kita bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Sebab saat ada terlalu banyak plus-plus tetapi anda tidak memiliki sesuatu sebagai kelemahan yang menyeimbangkannya maka ada kecenderungan tinggi hati meradang yang memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri sehingga mereka pantas “dijatahin kecil dan tidak diperhatikan/ diabaikan.” Sikap arogan semacam ini cenderung membuat seseorang untuk bersikap tidak adil alias kurang mendukung kesetaraan.

Harus ada keseimbangan antara memusatkan pikiran kepada Tuhan (individualis) dengan berbuat baik kepada sesama (sosialis)

Saat kita berkomitmen untuk mengikut jalan Tuhan melakukan kebenaran maka hal tersebut sudah cukup untuk membawa kedamaian, kebahagiaan dan kelegaan di dalam hati. Selalu menujukan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian di segala waktu untuk mendatangkan kedamaian, kelegaan dan kebahagiaan. Tapi, ingatlah untuk menyeimbangkan hal ini, jangan hanya melulu fokus kepada Tuhan saja selama seharian melainkan bagikan jugalah kasih kepada sesama dalam kesempatan yang ada. Jika hanya memusatkan pikiran kepada Tuhan terus-menerus niscaya hal ini akan membuat anda menjadi individualis. Tetapi saat andapun turut memberi kebaikan kepada sesama maka sikap sosialis ini akan menjadi penyeimbang agar anda tidak menjadi seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri.

Saat kita memusatkan pikiran kepada Tuhan maka kita fokus kepada diri sendiri. Sedangkan saat kita berbagi kasih kepada sesama maka pikiran ini fokus kepada orang lain. Kedua hal ini harus ada di dalam diri anda sehingga membentuk kepribadian yang benar-benar kuat (karena pikiran tertuju kepada Tuhan) sekaligus lembut dalam bersikap (hidup yang tertuju kepada orang lain). Jika hanya memiliki sikap sosialis saja niscaya anda akan menjadi orang lain dan menjadi korban penipuan oleh orang lain. Tetapi hanya menjadi individualis membuat diri ini tidak peduli lagi dengan orang lain bahkan ada kecenderungan mengabaikan lalu menindas sesama demi kepentingan pribadi.

Kami sendiri mengakui bahwa tidak banyak waktu yang dimiliki untuk berhubungan dengan orang lain sebab lebih banyak waktu kami habis di depan komputer laptop untuk menulis. Mojok terus di depan leptop jelas membuat diri ini menjadi seorang yang individualis. Oleh karena itu, kami berusaha mengimbanginya dengan senantiasa ramah kepada siapapun juga. Ini memang sangat sederhana tetapi hal tersebutlah yang mengikis rasa egois di dalam hati. Sekalipun dalam hidup bersosial banyak rasa sakit dan masalah ditemui namun bila semuanya itu dilihat dari sudut pandang iman (persepsi positif) niscaya akan dilalui dengan penuh damai, selalu lega dan tetap bahagia.

Tidak lupa untuk memikul salib dalam segala aktvitas yang dijalani

Dunia ini penuh ujian, tekanan penderitaan bisa saja menghampirimu. Saat hal tersebut mendatangimu maka (1) jadilah cerdas, (2) selesaikan masalah dengan pikiran terbuka dan (3) selalu koreksi diri sendiri. (4) Terima semua itu apa adanya dan ingatlah bahwa (5) rasa sakit adalah ilusi berpikir. Selama tiga tahun kami menanggung rasa ini dan diakhir tahun ketiga kami telah berhasil mengabaikannya sehingga mengalihkan energi (mengalihkan konsentrasi) dari rasa sakit ke pada pikiran yang selalu tertuju kepada Tuhan secara otomatis. Bila kami butuh 3 tahun untuk mengalihkan insting rasa sakit kepada pikiran yang selalu fokus kepada Tuhan maka waktu yang anda butuhkan bisa lebih lama atau lebih cepat.

Selalu menyangkal diri agar tidak menyangkal Tuhan

Karena hal-hal yang kami lakukan, ada-ada saja dalam pikiran ini KEINGINAN UNTUK MENYOMBONGKAN DIRI. Bahkan saking sombongnya kamipun pernah berkata “benarkan ada Tuhan?” Betapa sesatnya pikiran semacam ini yang merupakan wujud dari keangkuhan manusia. Inilah sebenarnya yang harus diatasi oleh semua orang cerdas yang ada di dunia. Karena besarnya pekerjaan yang dilakukannya maka iapu menganggap bahwa dirinya sendiri adalah tuhan. Bukankah ini adalah sikap yang paling tidak tahu diri sedunia? Masakan anda kembali menentang orang yang telah menganugrahkan keistimewaan itu kepadamu?

Makanya, kamipun tidak heran lagi, mengapa banyak orang-orang pintar (mungkin ada di sekitar kita) yang tidak percaya kepada Tuhan alias mereka memilih untuk menjadi atheis. Ada banyak profesor yang atheis karena saking hebatnya penemuannya itu, beruntunglah kita bahwa Albert Einstein adalah seorang yang percaya kepada Tuhan. Satu-satunya cara sebagai pemilik intelektual agar tiadak meniadakan dan menentang Tuhan dalam hidupnya adalah dengan selalu MENYANGKAL DIRI. Ini adalah aktivitas yang akan menurunkan, melemahkan bahkan menghancurkan segala tinggi hati dalam kehidupan kita. Semakin cerdas seseorang maka semakin sering ia menyangkal diri, semakin banyak kelebihan maka semakin banyak menyangkal diri.

Sikap (perkataan dan perilaku) yang bisa membuat anda menjadi gila

Gila adalah (1) sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal); (2) tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal); (3) terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat); (4) terlanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang); (5) tidak masuk akal (KBBI Ofline). Kegilaan adalah kelemahan, tekanan dan kekacauan pola pikir yang berujung pada memburuknya respon (ekspresi) seseorang terhadap rangsangan yang muncul. Bila anda membiasakan diri pada hal-hal yang buruk maka kehidupan inipun akan mengarah kepada hal-hal yang semakin lemah dari hari ke hari. Berikut ini adalah hal-hal yang beresiko membuat kita menggila.

  1. Ketergantungan (terlalu candu) kepada sesuatu – Kecewa.

    Berhati-hatilah dengan ketergantungan yang anda miliki. Ini bisa menjadi batu sandungan sekaligus menjadi sumber kelemahan dalam kehidupan anda. Saat anda begitu candu untuk melakukan sesuatu maka pas hal tersebut tidak ada: pikiran jadi stres, kesal kepada semua hal, marah-marah tidak jelas kepada orang lain, tidak mau makan, depresi hingga menggila, yakni melakukan hal-hal yang bagi orang awam aneh (gila mencari sensasi berlebihan).

    Sebisa mungkin candulah terhadap sesuatu yang notabene bisa dikendalikan oleh anda sendiri. Hindari menjadi candu terhadap sesuatu yang hanya bisa dikendalikan orang lain sebab kecanduan semacam ini akan menggiring anda untuk berada dibawah kendali sesamamu.

    Daripada candu kepada dunia luar, lingkungan dan orang-orang disekitar, alangkah lebih baik jikalau anda hanya candu untuk senantiasa bernyanyi memuji dan memuliakan nama Allah kita. Anda bisa juga candu untuk berbuat baik kepada sesama dimulai dari hal-hal kecil, misalnya dengan beramah tamah (senyum, sapa, sentuh, terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik), tidak lupa juga untuk memiliki sifat-sifat yang baik disegala waktu (ikhlas, jujur, tekun, konsisten) dan lain sebagainya.

  2. Prasangka buruk (suudzon – kecurigaan berlebihan).

    Saat kita terus berprasangka buruk maka akan timbul keraguan, kecurigaan, kekuatiran dan ketakutan dari dalam diri ini. Bila keadaannya terus berlanjut maka ada kecenderungan untuk membuat mental ini melemah sehingga tekanan sedikit saja langsung membuat kita stres, depresi bahkan menggila. Sebaiknya, kesusahan untuk sehari cukuplah untuk sehari saja sebab hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Bila anda selalu saja suudzon terhadap masa depan, kapan pikiran ini menjadi lurus?

  3. Iri hati yang tidak berakhir berujung cemburu.

    Saat pikiran anda kosong maka beresiko menuntunmu pada kebiasaan untuk membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Berawal dari membanding-bandingkan lalu menjadi iri hati kemudian menjadi pecemburu dan akhirnya melakukan perbuatan yang aneh-aneh hingga orang lain menganggap, “gila ni orang!

  4. Menjadi sombong.

    Orang yang tinggi hati tingkat stresnya tinggi sebab apa yang dibahas-bahasnya adalah bagaimana caranya agar dirinya terus disanjung, dipuji, dihargai, dihormati dan dipopulerkan oleh orang lain. Atau bisa juga yang ada dalam pikirannya adalah, “bagaimana caranya agar saya lebih baik dari si anu?” Keadaan ini cenderung menggiring seseorang untuk melakukan hal-hal yang lebay. Bila tujuannya tidak tercapai maka mulailah si kawan stres, depresi hingga menjadi gila juga.

  5. Tidak mau kalah (mengalah).

    Dalam kehidupan kami mengalah adalah budaya sebab kehidupan ini tidak melulu bercerita tentang pertandingan yang menghasilkan pemenang dan pecundang. Melainkan mengalah terkadang lebih mendatangkan kedamaian, kelegaan dan kebahagiaan. Saat ada niat untuk tidak mau mengalah maka kehidupan kitapun cenderung banyak bertentangan dengan banyak orang. Perlawanan semacam ini walau hanya terjadi lewat mulut bahkan sekalipun hal tersebut terjadi lewat media sosial. Tidak mampu menyatakan diri untuk mengalah adalah beban tekanannya sangat tinggi, baik dari dalam mapun dari luar. Bahkan juga bisa berujung pada depresi dan kegilaan juga.

  6. Tidak menerima kenyataan yang terjadi.

    Kenyataan adalah kebenaran yang harus anda terima. Tanpa kemampuan ini maka ada kecenderungan hati ini terus melawan pada situasi dan orang-orang yang sedang kita hadapi. Jika hati saja sudah melawan maka ada kemungkinan perilaku dan perkataan kitapun akan turut menentang orang-orang tersebut. Pikiran yang menolak ini dan itu cenderung akan mengubah kita menjadi tidak stabil dan menggila terhadap lingkungan sekitar (termasuk orang-orang didalamnya).

  7. Pornografi di internet dan media sosial.

    Ini juga akan membuat orang jadi gila sebab “matamu adalah jendela hatimu.” Saat diri ini terus-menerus (rutin) melihat sesuatu maka saat itu juga semakin besar kemungkinan bagi kita untuk mempraktekkannya. Bukankah ini akan menjadi berbahaya? Terlebih bagi kita yang masih lajang ini, bisa-bisa pelariannya aneh, entah itu ke hewan, ke saudara sendiri, jadi lesbian, gay (homoseksual), biseksual (suka pria dan wanita), transgender dan lain sebagainya (yang ini benar-benar gila).

  8. Dendam kepada musuh-musuh kita.

    Dendam adalah sebuah batu sandungan untuk mencintai lebih banyak orang. Dari pengalaman kami, dendam inilah yang menjadi indikator pertama lepasnya rasa sakit. Artinya, saat anda mampu menghilangkan dendam kepada musuh dari dalam hati maka tepat saat itu juga rasa sakit akan meninggalkanmu. Jadi, jika saat ini hati anda terus tersakiti karena perlakuan orang lain maka koreksi diri sendiri lalu tekan dan hilangkan dendam itu niscaya ini akan menjadi awal kebebasanmu dari sakit hati.

  9. Penipu ulung.

    Seulung apapun anda menyumbat/ mengumpat/ menyembunyikan kebenaran tetap saja suatu saat nanti semua penghalang/ sumbatan/ tabir itu akan disingkirkan pada waktunya. Hanya masalah waktu saja dan kebenaran akan menjadi terang yang benderang yang diateriakkan dari atas sotoh rumah. Menjadi seorang penipu tidak mudah sebab ini masalah gali lobang dan tutup lobang atau lebih tepatnya tipuan yang satu ditutupi dengan kebohongan yang lain. Sadar atau tidak, usaha semacam ini akan membuat anda stres oleh karena mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Jika hal ini terus berlanjut yang diikuti dengan semakin bertambahnya kebohongan dan semakin banyaknya orang yang ditipu niscaya akan mendorong timbulnya depresi bahkan menjadi gila dan akhirnya mengakhiri hidup karena rasa malu.

  10. Saat kita tidak berbaur dengan sesama.

    Sikap individualis adalah ancaman pertama dalam kehidupan kita. Bukan tidak boleh untuk berlaku individualis tetapi selalu seimbangkan ini dengan mengembangkan cara menyalurkan kepedulian kepada sesama. Saat terlalu mementingkan diri sendiri maka ada kecenderungan untuk mengabaikan orang lain dan menghindari pergaulan. Padahal di dalam pergaulan sehari-hari ada ujian yang terjadi (secara tidak sengaja) untuk memperkuat mental kita. Tetapi saat mental anda lemah maka gangguan kecil saja akan membuatmu menjadi gila, membabi buta lalu melakukan hal-hal yang tidak pantas untuk dibicarakan di depan umum.

  11. Tidak percaya kepada Tuhan.

    Kami bahkan tidak habis pikir bagaimana otak yang cerdas ini akan menjerumuskan kami dalam berbagai-bagai kegilaan. Mulai dari pornografi, seks bebas, narkoba ilegal dan kejahatan lainnya. Tapi beruntunglah kami, pintarnya diri ini sudah diikat oleh Tuhan Yesus sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi gila. Hanya saat fokus kepada Tuhanlah maka pikiran ini akan kembali dimurnikan.

Tuhan adalah pengawas yang maha hadir dengan ketajaman mata sejuta megapixel. Jika anda percaya bahwa Tuhan itu ada maka sudah otomatis dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisi anda, selalu timbul rasa segan, waspada dan malu dari dalam dada untuk melakukan hal-hal jahat. Akan tetapi saat anda tidak percaya Tuhan maka bukan saja  ditempat terang anda berdosa bahkan lebih parah lagi ketika anda sembunyi-sembunyi secara rahasia maka dosa itu lebih banyak lagi.

Kita menggila bila kebiasaan buruk terus dipelihara hari demi hari. Mungkin kebiasaan ini tidak diketahui orang lain tapi ketahuilah bahwa “isi pikiranmu berkontribusi langsung terhadap lisan dan perilaku sehari-hari”. Kekacauan pertama yang memicu keadaan ini berawal dari dalam pikiran sendiri. Semakin cerdik anda memanajemen mindset sendiri maka semakin jauh inti kehidupan (hati) anda dari berbagai macam hal yang negatif. Upayakan untuk selalu memiliki pikiran yang positif dengan melakukan aktivitas yang baik hari lepas hari (belajar, menekuni hobi dan bekerja) atau setidak-tidaknya selalu arahkan pikiran untuk memuji dan memuliakan Allah kita.

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

Salam, tetap enjoy di segala waktu!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s