10 Perbedaan Perang Zaman Dahulu dan Sekarang – Berperang Melawan Diri Sendiri Bukan Orang Lain

Perbedaan Perang Zaman Dahulu dan Sekarang - Berperang Melawan Diri Sendiri Bukan Orang Lain

Mengapa perang bisa terjadi? Salah satu penyabab yang paling umung dari kisah-kisah perselisihan antara manusia adalah perbedaan. Bila suatu makhluk yang hanyalah manusia biasa yang hina dan tidak lebih dari sebutir debu diantara luasnya alam semesta, mulai memandang rendah sesamanya bahkan sampai menghakimi (juga mencaci maki – merendahkan) menurut pandangannya sendiri. Sadarilah bahwa sikap menghakimi identik dengan perasaan sok sempurna. Rasa inilah yang mendorong seseorang untuk melepaskan amarahnya kepada sesama (awal dari perang).

Secara teori dan kenyataan semua manusia telah berdosa dimana hatinya jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Bila kita adalah orang suci sejak dari lahir maka diri inipun tidak akan membutuhkan yang namanya agama yang menunjukkan jalan kepada sesuatu yang benar itu. Oleh karena itu, sebagai sesama pendosa tidak boleh saling menghakimi sebab kita setara di dunia ini (sama-sama manusia biasa). Harusnya ada seseorang yang posisinya lebih benar, lebih suci dan lebih tinggi derajat-nya dari diri ini untuk menjadi hakim atas seluruh umat.

Bahkan dalam sejarah Kekristenan sendiri, orang yang lebih benar dan tidak mempunyai dosa selama hidup di dunia ini adalah Yesus Kristus. Selain itupun posisi-Nya lebih tinggi dari manusia sehingga Ialah yang layak menjadi hakim di akhirat kelak. Akan tetapi sekalipun Ia adalah hakim yang adil kelak di akhir zaman yang mengadili seluruh umat manusia tetapi selama berada di bumi dahulu tidak pernah sedikitpun menghakimi manusia lainnya  karena posisinya masih sama/ setara dengan posisi manusia pada umumnya.

Lagi pula, menghakimi adalah awal dari ketidakdamaian di dalam hati. Saat kita menilai seseorang buruk maka sudah otomatis memberi cap tersebut kepadanya dimanapun dan kapanpun. Padahal setiap manusia bisa saja sudah berubah dari sifatnya di masa lalu. Lagi pula, biasanya seseorang yang salah di satu sisi pasti memiliki kebenaran di sisi lain dalam kehidupannya. Jadi, saran kami jangan fokus pada dosa seseorang melainkan fokus pada kebenaran yang masih tersisa di dalam dirinya sehingga hubungan kita dengannyapun tidak canggung dan lebih langgeng satu sama lain.

Selama kita masih hidup di dunia ini maka selama itulah masalah akan terus ada mustahil bisa membersihkan hal tersebut dari jalan-jalan yang dilalui hari lepas hari. Manusia tidak akan pernah menghargai kebaikan apabila kejahatan itu tidak ada. Mengapa banyak orang begitu takut kepada kejahatan? Karena mereka telah merasakan sendiri bagaimana sakitnya dijahatin orang lain maupun situasi. Menyadari sesuatu membuat kita enggan melakukannya kepada orang lain karena kita mengasihi mereka seperti kita mengasihi diri sendiri.

Pergumulan hidup itu selalu ada oleh karena itu terbiasalah sehingga sikap saat menghadapinya juga menjadi “biasa saja”. Ada satu pemicu yang lumrah dalam sebuah konflik yang lumrah terjadi hingga membakar segala sesuatu dan menimbulkan peperangan, yaitu “reaksi yang berlebihan”. Biasanya saat reaksi kita berlebihan maka tanggapan orang lainpun akan semakin naik levelnya bila keadaan ini terus-menerus semakin para saja maka perang tidak dapat dicegah lagi. Oleh karena itu, sedini mungkin kendalikan emosi dalam segala sesuatu, tidak semua hal di dunia ini harus dikompetisikan, terkadang membiarkan diri kalah alias mengalah lebih membawa damai di dalam hati.

Perbedaan antara perang zaman dahulu dengan zaman sekarang

Masih ingatkan, saat manusia masih belum mengenal Tuhan maka ada kecenderungan baginya untuk menirukan binatang. Memang tidak semua hal dari perilaku binatang adalah salah sebab ada juga beberapa hal yang baik dari sana. Tetapi menirukan perilaku hewan tanpa menyeleksinya terlebih dahulu “apakah ini pantas atau tidak?” adalah tidak bijak. Setelah manusia mengenal Tuhan dan belajar tentang agama lebih dalam lagi maka sejak saat itulah kita mulai selektif dan menjadikan Kitab Suci sebagai standar kehidupan masing-masing.

Peperangan adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bila sejarah telah mencatatkan hal ini dengan jelas maka lebih baik bagi kita untuk belajar sejenak tentang konflik tertinggi (puncak kompetisi paling menakutkan) yang belum tentu menghasilkan solusi bagi kehidupan. Tahukah anda bahwa rata-rata peperangan akan semakin besar seiring dengan tingginya harta kekayaan yang dimiliki? Artinya, kekayaan seseorang menjadi indikator besar kecilnya perang yang sedang berlangsung.

Biasanya hanya orang-orang kayalah yang terus saja berperang untuk mempertahankan dirinya (peperangan yang terus-menerus dan berlarut-larut). Akan tetapi saat yang bermasalah adalah orang yang tergolong sederhana sampai miskin, kemungkinan untuk timbulnya perang kecil dan sekalipun ada persoalannya sampai disitu saja dan dampaknya minimal. Jadi bisa dikatakan bahwa jumlah uang yang dimiliki seseorang semakin membuat dirinya agresif (cenderung berlebihan) mempertahankan diri bahkan berperangpun tidak masalah. Peperangan yang terbesar adalah perang antar negara/ antar kerajaan (perang negara sekutu).

Berikut ini beberapa hal yang membedakan antara perang zaman dahulu kala dengan perang zaman sekarang.

  1. Perang sebagai solusi, saat ini perang lebih dianggap sebagai bencana alam yang hanya memperparah keadaan.

    Mengapa orang di zaman dulu cenderung lebih suka berperang? Karena dalam anggapan dan pemahaman mereka peperangan adalah sebuah solusi untuk mencapai jalan kepada kedamaian. Akan tetapi, di zaman sekarang manusia sudah mengerti bahwa ini adalah bencana kemanusiaan terbesar sepanjang masa yang hanya menambah kerugiaan dan membuat semuanya menjadi lebih rumit.

  2. Pernah terjadi konflik yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia dalam jumlah yang tidak sedikit. Sekarang konflik hanya berupa silang pendapat/ perbedaan pemahaman saja.

    Jika dulu biasanya yang memicu munculnya ide untuk berperang adalah banyaknya alasan yang merugikan terjadi sebelumnya. Akan tetapi, di zaman sekarang manusia tidak lagi saling merugikan sebab semuanya sudah berada dalam keadaan makmur. Bahkan jika ada bencana yang terjadi maka bantuan yang tidak sedikit akan mengalir ke sana. Masalah yang kita alami hari-hari ke depan ini hanyalah berupa perbedaan pendapat dan pandangan hidup semata.

  3. Dahulu belum ada hukum dan sekarang hukum internasionalpun ada.

    Hukum itu penting dalam kadar yang normal (tidak bertele-tele dan mengatur hal-hal recehan). Ia bisa menjadi salah satu faktor yang mewujudkan perdamaian di suatu wilayah bahkan antar wilayah sekalipun. Semenjak adanya PBB dan hukum Internasional peperangan besar sudah mulai jarang terjadi. Bagi yang hendak mencari keadilan maka silahkan menempuh cara-cara konstitusional untuk merealisasikan hal tersebut.

  4. Dilakukan atas dasar keserakahan sedang sekarang di lakukan atas dasar kemanusiaan.

    Jaman dulu, dunia ini suram. Orang-orang yang memiliki sumber daya intelektual yang lebih memadai mencoba menguasai dan mengendalikan orang lain dengan kekuatan senjata dan kekerasan yang dimilikinya. Semuanya itu demi nama besar, wilayah, sumber daya alam dan demi uang juga. Akan tetapi peperangan di zaman sekarang lebih cenderung kepada aksi kemanusiaan, misalnya hendak menyelamatkan seseorang atau membebaskan orang lain dari kejahatan.

  5. Dahulu kekerasan dikedepankan, sekarang cara persuasif diutamakan.

    Manusia zaman dahulu orangnya keras bahkan orang tua kami sendiri mengaku bahwa kakek dan nenek (Ibu Bapanya) adala orang yang sangat otoriter dan mengedepankan kekerasan dalam mendidik anak. Jaman sekarang, manusia lebih suka mengubah orang lain dengan beradu argumen dan memberikan pendapat logis tentang sesuatu. Orang tua jaman sekarang juga lebih memberi dirinya untuk menjadi contoh yang baik bagi anak dan mengubah mereka dengan cara terus memberi nasehat (yang diulang-ulang secara berkala).

  6. Dulu perang dianggap sebagai bakat/ potensi, sekarang potensi ini lebih diarahkan untuk olimpiade.

    Bila dahulu seseorang mahir menggunakan pedang maka itu akan menjadi senjatanya untuk berperang, seseorang yang pandai menembak akan menjadikan itu sebagai alat baginya meraih kemenangan. Sekarang bakat semacam ini tidak lagi dimanfaatkan untuk menjatuhkan orang lain secara langsung melainkan akan diasah dan diuji di arena olimpiade.

  7. Menganggap bahwa peperangan akan meningkatkan level kekuatannya. Sekarang manusia bisa memahami bahwa hanya dengan belajar dan latihan maka kemampuan kita akan semakin baik.

    Manusia zaman dahulu yakin betul bahwa saat mereka memenangkan suatu perang maka dengan demikian kekuatan dan kemampuan yang dimiliki akan semakin hebat pula. Namun, sekarang manusia sudah mengerti bahwa peperangan demi peperangan hanya menelan korban, menyebabkan kerugian dan memperbanyak janda. Lebih baiklah bagi seorang manusia untuk terus belajar dan berlatih tanpa henti untuk mengembangkan bakat/ potensi yang dimiliki.

    Salah satu hal lainnya untuk meningkatkan level kekuatan dan kecerdasan yang dimiliki adalah dengan memikul salib atas kebaikan yang kita lakukan. Sebab tidak semua kebaikan dibalaskan dengan kebaikan, terkadang dicuekin (diabaikan) bahkan dibalas juga dengan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, penghinaan dan bully lainnya. Disinilah kita menemukan tantangan yang dapat meningkatkan level kepribadian masing-masing asalkan mampu menghadapi semuanya itu dengan tegar namun tetap santun (ramah) dalam bersikap.

  8. Dulu orang menganggap bahwa mereka yang tidak hidup nyamanlah yang temperamennya buruk, sekarang cenderung tidak baik nyaman terus membuat seseorang mudah emosian.

    Orang jaman dahulu menganggap bahwa uang dan kenyamanan yang dimiliki membuat seseorang cenderung lebih tenang dan tidak mengganggu/ membuat rusuh kehidupan orang lain. Akan tetap di zaman sekarang, manusia mulai memahami bahwa terlalu dan berlama-lama dalam kenyamanan justru akan membuat kepribadian lebih rapuh sehingga hal-hal recehan akan berubah menjadi perselisihan besar.

  9. Perang adalah persaiangan. Sekarang persaingan lebih ke bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Peperangan dianggap sebagai persaingan dimana setiap pemenang berhak menguasai mereka yang kalah. Akan tetapi, sekarang orang-orang lebih menekankan persaingan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka yang memenangkan bidang ini cenderung menjadi penguasa atas pihak lainnya.

  10. Dulu adalah perang untuk mengalahkan orang lain. Saat ini ada banyak cara untuk mengalahkan seseorang.

    Dahulu manusia berperang satu sama lain untuk saling mengungguli dan membuat lawannya mengaku kalah akan kehebatan yang dimiliki. Akan tetapi zaman sekarang, ada banyak hal cara untuk mengalahkan seseorang, misalnya melalui pengadilan (resmi), pertandingan olahraga (resmi maupun jalanan), persaiangan usaha, persaingan kekayaan, persaingan kemewahan duniawi, persaingan ketenaran, persaingan teknologi dan lain-lain (perang dingin).

  11. Dahulu berperang melawan orang lain sekarang melawan diri sendiri.

    Jaman dulu manusia belum sejahtera dan saling menyakiti satu sama lain yang diperparah karena tidak adanya hukum yang mengatur kehidupan. Peperangan adalah bentuk perlawanan untuk menegakkan keadilan. Tetapi zaman sekarang manusia lebih fokus untuk melawan hawa nafsu yang sesat, kebinatangan dan kejahatan lainnya dalam dirinya sendiri. Tips menghadapi peperangan hidup.

Tanpa persaingan hidup kita mati tetapi persaingan yang berlebihan memicu peperangan. Persaingan melawan orang lain selalu ada wadah (lembaga) resmi yang mengawalnya, jika tidak maka tinggalkan itu hanya khayalan saja. Bersainglah melawan diri sendiri sebab selama kita masih ada di dunia ini maka selama itu pula berperang melawan kebodohan, kemalasan, hawa nafsu yang sesat, kebinatangan (kebencian, dendam, amarah, kekerasan) dan kejahatan lainnya.

Salam damai!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s