Semua Benda Adalah Garam Adalah Benda – Semua Unsur Berasal Dari Garam Dan Akan Kembali Menjadi Garam + Energi yang dilepaskan

Semua Benda Adalah Garam Adalah Benda - Semua Unsur Berasal Dari Garam Dan Akan Kembali Menjadi Garam + Energi yang dilepaskan

Dunia dan seluruh isinya berputar-putar dalam siklus yang seimbang satu sama lain. Perputaran ini terjadi secara alamiah dengan bantuan klorofil, garam dan sinar matahari. Klorofil terdapat pada tumbuhan hijau, garam termuat dalam air hujan dan sinar matahari selalu terbit di pagi hari. Keseimbangan antara ketiga komponen ini sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup dan seluruh umat manusia yang ada didalamnya.  Keseimbangan yang harus dicapai oleh alam adalah kecepatan menghancurkan (penggunaan sumber daya – aktivitas manusia dan hewan) setara dengan kecepatan membangun (menghasilkan sumber daya – tumbuhan hijau).

Alam ditopang oleh aktivitas klorofil, sinar matahari, air hujan (garam) yang seimbang.

Pada awalnya, alam selalu berada dalam kondisi yang seimbang dan setara. Kecepatan tumbuhan hijau menghasilkan bahan pangan sama dengan kecepatan konsumsi oleh manusia dan hewan. Ini didukung oleh stagnasi jumlah tumbuhan hijau. Klorofil dalam hal ini dibutuhkan untuk menarik air hujan (dimana salah satunya komponennya berisi garam) agar senantiasa membasahi bumi. Proses kondensasi merupakan cara utama menarik air hujan bersama garam untuk membasahi daratan. Selama curah hujan yang turun memadai maka selama itu pula tumbuhan hijau tumbuh dengan subur dan terus menghasilkan senyawa organik alias bahan pangan untuk kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Sayang sekali, seiring dengan bertambahnya jumlah manusia dimuka bumi, meningkatnya kawasan pemukiman masyarakat, tempat hiburan, rekreasi, pasar/ pajak, pertokoan/ pusat perbelanjaan, perhotelan, jalur transportasi dan lain sebagainya infrastruktur yang memadai terlebih lagi jika hawa nafsu yang serakah menguasai manusia didalamnya. Semua faktor ini akan terakumulasi menurunkan jumlah tumbuhan hijau berklorofil di daratan. Keadaan ini mengakibatkan jumlah curah hujan yang menurun drastis yang berkorelasi dengan menurunya jumlah garam yang jatuh di atas tanah. Pada akhirnya, keadaan ini memperlambat demineralisasi (1) kotoran manusia/ hewan (urin dan feses), (2) berbagai sampah (limbah) yang dihasilkannya dan (3) menghambat pertumbuhan tanaman juga. Ketiga hal inilah yang menyebabkan pencemaran lingkungan sebab kotoran makhluk hidup dan limbah mencemari tanah, air dan udara dengan mengubah tingkat keasamannya (pH air dan tanah) dan meningkatkan polutan (udara).

Tahapan pencemaran lingkungan oleh aktivias manusia yang semakin tinggi

Waktu kritis semacam ini, bila terus berlanjut maka akan terus meningkatkan degradasi lingkungan yang semakin hari semakin parah saja. Kurangnya kadar garam yang jatuh di atas tanah menyebabkan pembusukan kotoran manusia, hewan dan sampah menjadi lambat sehingga asupan pupuk tanamanpun turut berkurang. Akibatnya, pertumbuhan tumbuhan hijau berklorofil melambat padahal jumlah manusia dan hewan terus bertambah. Apabila keadaan ini tetap dibiarkan maka tanah-tanah akan menjadi tandus dan gersang bahkan semakin bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun dan juga tingkat polusi udara akan semakin besar saja. Pada akhirnya keadaan ini akan menyababkan dihasilkannya padang gurun/ padang belantara yang warnanya tidak hijau lagi melainkan menguning.

Demikianlah perjalanan siklus sumber daya yang ada di daratan hingga terdegradasi total (daratan menjadi padang gurun yang tandus) bila kandungan garam di atas tanah terus berkurang dari tahun ke tahun. Lalu kitapun bertanya-tanya, bagaimana cara perputaran garam di dalam lautan? Perlu diketahui bersama bahwa klorofil tidak hanya ada di daratan melainkan di dalam lautanpun ada klorofil yaitu yang dihasilkan oleh makhluk hidup semacam bakteri/ kuman yang dapat berfotosintesis untuk membentuk bahan organik. Bahan-bahan dalam tubuh bakteri inilah yang akan dikonsumsi oleh ikan-ikan kecil sebagai makanannya. Kemudian ikan kecil dimakan oleh ikan besar dan yang lebih besarnya lagi akan melakukan tugas yang sama (memakan) dalam perputaran siklus rantai makanan dimana posisi puncaknya ditempati oleh ikan hiu dan paus pembunuh.

Jumlah garam di dalam lautan pada dasarnya stagnan dimana konsentrasi permukaan tidak sama dengan konsentrasi dasar lautan. Artinya, semakin dalam suatu lautan maka semakin salin (asin) air yang ada didasarnya. Konsentrasi bisa jadi lebih tinggi dari 3,5%. Lautan sendiri menjadi pusat utama penghasil gas metana melalui pemecahan bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prinsip ini sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pertamina untuk mendorong pemakaian dan pembuatan energi terbarukan yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Lautan adalah pusat netralisasi (penghancuran) berbagai benda (limbah dan emisi) yang menghasilkan gas metana (energi)

Segala sesuatu yang sampai ke laut akan dinetralisir cepat atau lambat terkecuali bagi makhluk hidup yang mampu menyesuaikan diri dengan keasinannya. Biasanya semua benda mati akan dilisiskan secara perlahan-lahan oleh mikroorganisme pembusuk yang keberadaannya sangat banyak di dalam lauatan, disebut sebagai fitoplankton. Kecepatan pembusukannyalah yang berbeda-beda satu sama lain. Ini tergantung dari ukuran, ketebalan, kekerasan benda dimaksud. Tentu saja benda-benda dari bahan kayu akan lebih cepat didemineralisasi dibandingkan dengan sesuatu dari bahan besi, baja, timah dan benda metal lainnya.

Sebenarnya kandungan garam tidak hanya terdiri dari natrium dan klor melainkan lebih kaya raya jumlahnya. Semua bentuk metal akan kembali menjadi garam dan semua garam bisa didekomposisi, ditransformasi dan dipadatkan menjadi metal. Bahan metal biasanya dibentuk dari beberapa kali tingkat pemurnian oleh alam. Ion-ion positif tertentu akan dikumpulkan lalu dipadatkan sehingga jadilalh metalisasi tahap 1 (kandungan ion negatif berkurang). Benda-benda padat ini kemudian berkumpul lalu dipadatkan lagi sehingga jadilah metalisasi level 2 (kandungan ion negatif semakin berkurang) demikianlah seterusnya. Salah satu yang membedakan tahan tidaknya (lama tidaknya) proses pembusukan yang dialami oleh suatu bahan metal adalah kandungan ion negatif di dalamnya. Semakin tinggi level metalisasi yang dialaminya maka semakin bersih benda tersebut dari bahan hidup (ion negatif).

Berbagai jenis sampah akan terdegradasi di dalam laut sembari melepaskan energi dalam bentuk gas metanan. Hanya saja membutuhkan waktu yang lebih cepat dibandingkan saat pembusukannya di daratan. Polutan (emisi karbon) di dalam udara juga turut dinetralisasi dalam proses penguapan air laut dan disaat turunnya hujan yang membasahi bumi lalu akan kembali lagi ke lautan. Pada dasarnya karbon di dalam lautan yang sudah dinetralkan akan di tekan lagi dan lagi hingga ke dasar lautan yang paling dalam. Jadi semua karbon baik dari hasil pembusukan benda maupun dari hasil netralisasi polutan akan menumpuk-numpuk dan tertekan di dasar lautan.

Karbon di dasar lautan inilah yang kemudian akan kembali menjadi bahan dasar pembentukan minyak bumi sehingga tidak pernah habis. Hanya saja masalah biasa yang dialami  adalah kecepatan konsumsi BBM lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan pembentukannya kembali. Keadaan inilah yang sebenarnya menimbulkan krisis energi. Akan tetapi, selama kita mampu menjaga tingkan konsumsi energi (tidak menghambur-hamburkannya) maka tanah-tanah tetap menghasilkan minyak dari generasi ke generasi.

Jadi, bisa dikatakan bahwa di dalam dunia ini segala sesuatu sifatnya berputar-putar. Dimana semua garam dengan bantuan sinar matahari akan menjadi benda dan semua benda akan mampu diubah kembali menjadi garam yang turut melepas energi (gas metana) baik melalui proses-proses lingkungan alamiah maupun secara buatan. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga keseimbangan sehingga kecepatan konsumsi dapat sebanding dengan kemampuan alam mendaur ulang dan menyusun semuanya itu kembali dari awal (yang jelas ini tidak instan). Apabila pada kenyataannya tingkat konsumsi lebih tinggi dari kecepatan alam membuat hal tersebut maka manusia perlu membuatnya sendiri dengan bantuan teknologi yang lebih efisien dalam hal waktu. Sumber daya terbarukan

Salam energi terbarukan!

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s