Pemanasan Global Bom Waktu Pemusnah Masal Yang Masif

Bagan kamu kentut, hidung saya yang bau - Pemanasan Global Bom Waktu Pemusnah Masal Yang Masif

Apakah kejadian yang paling anda takutkan di dunia ini? Orang tua yang sedang marah-marah? Nilau ulangan yang anjlok dibandingkan semester lalu? Penyakit yang tidak ada obatnya? Pencurian aset yang luar biasa? Keributan masal yang menyebabkan gelombang konflik? Jatuhnya bom nuklir di sekitar pemukiman? Atau masa depan yang tidak menentu? Setiap orang memiliki kesusahannya sendiri-sendiri. Hanya saja, kami berharap kesusahan itu tidak sampai membuatmu larut dalam kesedihan. Biarlah kesedihan kemarin dilupakan lalu sambutlah masa depan yang lebih baik.

Manusia dengan segala potensi dan kecerdasan yang dimilikinya akan digiring oleh hawa nafsunya sendiri ke dalam berbagai-bagai bentuk keterpurukan. Memang pada awalnya mereka merasa hebat sebab apa yang diusahakan membuatnya bisa menikmati gemerlapan duniawi yang syarat dengan kepuasan indra. Sayang, kebahagiaan indra itu sangat rapuh dan memiliki kecenderungan untuk menginginkan hal yang lebih lagi. Apalagi saat keadaan ini di dukung oleh keberadaan orang lain yang posisinya jauh di depan.

Manusia bersemangat mencari uang tetapi bukan demi kebenaran. Kita bekerja banting tulang tapi bukan untuk siapa-siapa. Tidak ada seorangpun dan tidak ada satupun kenikmatan duniawi yang dicari dengan tulus hati melainkan penipuan adalah hal-hal yang biasa dalam membuka suatu usaha. Semakin besar konspirasi maka semakin besar juga untung yang diperoleh dari sana. Kita telah tenggelam dalam hawa nafsu yang diciptakan sendiri sehingga hari-hari yang dilalui terasa gerah dan panas membakar diri sendiri, membakar orang lain bahkan juga membakar dunia ini. Lihatlah negeri dimana kita tinggal saat ini, semakin panas hingga hampir membakar bumi ini.

Semuanya itu karena kita egois. Tuhan telah membawa kita dalam dunia yang seimbang namun kita tidak mengerti tetapi lebih terpesona dengan gemerlapan dunia ini. Pesona kenikmatan duniawi lebih menawan dihati manusia padahal mereka tidak tahu bahwa ada harga yang mahal yang harus dibayar dari semua hal-hal yang menawan mata itu. Indra kita hanya ditipu oleh segala sesuatu yang terlihat waw padahal proses pembuatannya membutuhkan sumber daya yang besar, menghasilkan emisi karbon dan limbah lainnya. Kita telah ditipu oleh indra sahabatnya hawa nafsu sehingga mau saja menggunakan dan memanfaatkan hal tersebut secara pribadi. Coba bayangkan bila semua orang memilikinya bukankah limbah dan emisi karbon yang dihasilkan lebih banyak juga? Oleh karena itu, sebaiknya hal-hal yang mewah dan megah adalah milik publik dan bukan milik perseorangan.

Sadarilah bahwa manusia dikuasai oleh rasa cemburu antara sesamanya sehingga ketika satu orang melakukan reaksi yang berlebihan maka orang lainpun ikut-ikutan menirukan hal tersebut. Satu orang saja yang membeli di lingkungan itu maka yang lainnyapun ikut berbondong-bondong untuk memilikinya. Kita hanya keburu nafsu saja untuk mengikuti trend atau mengikuti sikap pamer orang lain namun tidak mau tahu dan tidak mau peduli, “bagaimana barang tersebut bisa ada?” Ada baiknya sebelum membeli sesuatu maka ketahuilah bahwa barang/ benda-benda tersebut diciptakan dipabrik yang selalu menghasilkan limbah beracun dalam tanah dan air juga emisi karbon dalam udara. Ini hanya proses pembuatannya saja, belum lagi emisi yang dihasilkan lewat proses operasional dan dalam hal pembuangannya nanti (saat sudah rusak dan menjadi sampah).

Baik limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan, distribusi, operasional dan saat sudah rusak (menjadi sampah) kelak. Kesemua limbah ini akan menumpuk di lingkungan, mencemari tanah, air dan udara. Bila ini tidak segera di degradasi dan dinetralisasi maka semuanya itu akan berkumpul dalam satu titik sehingga mengganggu keseimbangan alam. Inilah yang menjadi awal dari bencana dimana lebih dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming).

Pemanasan global terjadi secara bertahap dan terus menerus dari tahun ke tahun. Pada awalnya keadaan ini tidak begitu kentara bagi manusia tetapi semakin lama maka semakin terasa panasnya sehingga pada satu titik akan menimbulkan bencana yang sifatnya masif (tidak disadari kebanyakan orang), perlahan-lahan tapi berdampak luas dan menarik banyak orang (terutama masyarakat kecil – kelas menengah ke bawah) dalam pusaran kerusakan. Pada akhirnya masyarakat luaslah yang merasakan akibat emisi gas rumah kaca dari kenikmatan dunia yang di nikmati oleh kalangan atas, borjuis, kapitalis dan penguasa.

Jadi, camkan ini sebelum anda menikmati suatu kenikmatan duniawi, “ada berapa emisi dan limbah yang dihasilkan sehingga sesuatu itu dapat tersaji secara cantik & menawan di hadapan anda“. Ingat-ingatlah bahwa semua emisi itu akan menumpuk-numpuk di lingkungan sehingga mulai muncullah dampak lingkungan yang memicu bencana dan pada akhirnya akan menyengsarakan orang banyak yang tidak tahu apa-apa dan tidak punya apa-apa. Ini memang tidak otomatis terjadi begitu anda menikmati gemerlapan duniawi itu melainkan akan berlangsung secara bertahap, masif dan dalam waktu beberapa bulan bahkan beberapa Tahun kemudian. Sekarang, kita balikkan pertanyaannya, “siapakah yang membunuh manusia dan menghancurkan infrastruktur dalam bencana alam kemarain? Jawabannya adalah semua orang yang menikmati hidup secara berlebihan, boros, foya-foya, terutama kalangan atas.

Salam, Indonesia butuh dewan pengawas emisi karbon….

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s