Harga Dibalik Kemewahan Menyengsarakan Rakyat – Orang Yang Tidak Kaya Akan Terbunuh Dalam Bencana Global Warming

Harga Mahal Dibalik Kemewahan Kapitalis Menyengsarakan Rakyat - Orang Yang Miskin Akan Terbunuh Dalam Bencana Global Warming

Manusia telah ditawan oleh keinginannya sehingga hawa nafsunya itulah yang membakar bahkan menghanguskan orang lain dan tanpa disadarinya diri sendiripun akan terbakar oleh hal tersebut. Saat keinginan kita akan materi melebihi batas terlebih ketika dukungan uang di tangan sudah full maka ada kecenderungan untuk menggunakannya tanpa memperhatikan batasan. Keadaan ini jelas beresiko bagi kehidupan manusia yang lainnya. Mereka yang melakukannya memang tidak akan menyadari hal tersebut tetapi orang-orang yang berada di luar sistem dan jauh dari kehidupan para kapitalis akan mengecap akibat fatal secara bertahap.

Uang adalah win-win solution di dunia ini, persis seperti bentuk dan rupanya yakni hanya ada dua gendang yang dibawa olehnya kebaikan dan keburukan. Tetapi sebenarnya ungkapan ini lebih halus dari kenyataan yang sebenarnya adalah ia selalu membawa dampak membangun dan dampak merusak dimanapun dan kapanpun ia hadir. Jadi, bisa dikatakan bahwa kertas ajaib ini membawa dampak ganda sekali tebas. Sayang, selama ini orang-orang hanya menyaksikan dan meng-ia-kan kebaikan yang dibawanya namun melupakan kerusakan dibalik nikmatnya dunia.

Mari ambil saja satu contoh kecil, anda punya uang seribu di kantong. Datang ke warung untuk membeli permen sebanyak 3 buah. Permen pertama dibuka lalu kulitnya dibuang di pinggir jalan, yang kedua juga dibuka lalu kulitnya dibuka di halaman depan, demikian juga yang ketiga dibuka lalu kulitnya anda buang di dalam kamar sendiri. Tahukah kalian bahwa dibalik kenikmatan perman yang dikonsumsi tersebut selalu meninggalkan sampah yang mengotori lingkungan sekitar? Bila permen seribu saja bisa mengotori lingkungan terlebih lagi kenikmatan dunia yang harganya lebih dari Rp. 1000,-

Pertanyaan kami kali ini adalah? Sudah mengertikah anda bagaimana dunia ini berjalan? Materi yang anda nikmati tidak lagi seperti pedang bermata dua melainkan lebih seumpama “anda membuang kentut tetapi hidung orang lain yang merasakan baunya“. Pahamilah bahwa dibalik kenikmatan yang anda rasakan selalu ada orang yang dikorbankan yang merasakan semua akibat dari keindahan sepihak tersebut. Ini memang tidak terjadi secara langsung sehingga tidak dapat disaksikan oleh mata kepala sendiri. Kejadiannya terputus-putus antara orang yang satu dengan yang lainnya dimana semuanya itu bermanifestasi pada satu rangkaian peristiwa, yaitu global warming.

Kalangan borjuis yang menggilai kenikmatan dunia

Orang-orang kelas atas sangat duniawi dan merasa tidak hidup (kurang semangat) tanpa semua kenikmatan itu. Mereka terus menginginkan kemajuan dan kemajuan padahal mereka tidak tahu atau lebih tepatnya pura-pura tidak tahu bahwa keadaan tersebut akan memicu terjadinya bencana kedepannya. Karena kehidupan mereka syarat dengan konspirasi maka jiwa dan kepribadian merekapun lebih dekat kepada materi sehingga kebahagiaannya sangat tergantung dengan kebahagiaan indra. Dari sinilah asal sifat mereka yang sangat materialis dimana mereka enggan menerima segala sesuatu apa adanya melainkan cenderung menginginkan lebih dari itu. Bila manusia hanya dikuasai oleh indranya maka sehebat apapun dunia ini menghiburnya akan tetap merasa kurang. Simak teman, Kebahagiaan sejati.

Budaya konsumtif dari oknum pemilik modal/ borjuis/ kapitalis akan semakin mendorong mereka untuk bersikap serakah. Sudah punya satu, inginnya dua, sudah punya dua, inginnya tiga, sudah punya tiga, inginnya empat demikianlah seterusnya keinginan itu. Ketamakan yang menguasai kehidupannya jelas-jelas akan menjadi batu loncatan sekaligus sebagai batu sandungan bagi perjalanan kariernya. Menjadi batu loncatan karena hal tersebut membuatnya lebih semangat saat melakukan sesuatu (sekalipun itu hanya kamuflase atau terlihat di luar saja). Akan menjadi batu sandungan sebab cara-cara salah yang ditempuhnya untuk meraih hal tersebut suatu saat akan terbongkar juga.

Metode pengelolaan uang yang terpusat dalam jumlah yang melimpah-limpah di tangan satu-dua orang saja beresiko digunakan untuk pemuas hawa nafsu sesaat yang sebenarnya tidak ada ujung dan pangkalnya. Istilahnya adalah “mereka menikmati isinya sedangkan sedangkan kulitnya dicampakkan kepada orang lain“. Inilah perwujudan dari ketidakadilan yaitu pada satu titik akan mendatangkan bencana bagi yang lemah sedangkan yang kuat semakin merajalela. Tanpa sumber daya yang seimbang maka kesewenang-wenangan semacam ini akan terus terjadi hari demi hari.

Ketika keserakahan, ketidakadilan dan hawa nafsu menjadi satu

Pemanasan global telah menjadi skenario internasional. Pada dasarnya bukan skenario tetapi lebih kepada “manusia yang termakan oleh hawa nafsunya sendiri“. STOP – Berhenti berpikir bahwa semua kejadian cuaca ekstrim ini adalah perbuatan negara ini dan negara itu melainkan semuanya ini adalah akibat dari ketamakan orang Indonesia sendiri yang bergandengan tangan dengan ketidakadilan. Selanjutnya, orang-orang yang tamak tersebut akan mencari penghiburan dan kenikmatan dari gemerlapnya dunia ini. Tetapi karena mereka tidak mendasari kebahagiaannya dari dalam hati maka cenderung terus merasa kurang dan kurang, lagi dan lagi sampai ajal menjemput, tidak ada kepuasan penuh yang dirasakannya.

Efek ganda dari kenikmatan duniawi

Kenikmatan duniawi selalu berefek ganda, bahkan saat anda membeli sesuatu untuk dinikmati lidah di warung-warung kecil selalu menyisakan yang namanya sampah. Sisa sampah inilah yang kemudian akan mengotori lingkungan, baik lingkungan tanah, air dan udara. Di dalam air sampah ini akan menjadi limbah dan membunuh ikan dan makhluk hidup lainnya disana. Pada tanah limbah akan menjadi pencemar yang membunuh flora normal tanah bahkan membuatnya menjadi tandus sama sekali. Dalam udara maka sampah ini akan menjadi polutan yang mengotori sekaligus mengurangi kadar eksigen di lingkungan sekitar.

Semakin mahal kemewahan semakin tinggi pencemaran yang dihasilkannya

Kita tidak berbicara tentang kenikmatan dunia yang sederhana sekelas bombon, roti, chiki dan makanan ringan lainnya. Melainkan berbicara tentang sesuatu dalam skala besar mobil mewah (padahal penumpangnya cuma satu orang), rumah mewah (padahal penghuninya hanya dua, tiga atau empat orang), vila yang mewah, gazebo yang eksentrik nan mewah dan lain sebagainya dimana semuanya itu dimiliki secara pribadi. Coba bayangkan, harganya saja tingginya selangit apalagi sampah-sampah alias emisi yang dihasilkannya? Lalu katakan saja bahwa sikawan ini menjadi pancingan bagi sesamanya dimana orang lainpun diluar sana jadi ingin memiliki hal yang sama. Bukankah hal ini akan memberikan dampak limbah/ emisi yang cukup besar?

Perhatikan keseimbangan alam lewat semua kenikmatan duniawi itu

Sekali lagi kami perlu mengingatkan anda tentang tugas kita yang harus mampu menjaga keseimbangan ditengah gejolak dunia yang terus-menerus terjadi dari tahun ke tahun. Untuk itu diperlukan adanya suatu aktivitas pelepasan energi (proses konsumsi) yang sebanding dengan jumlah yang diserap kembali oleh lingkungan (hutan dan tumbuhan hijau). Setiap kali kita mengkonsumsi sesuatu maka energi (kalor-panas) bersamaan dengan polutan akan dilepaskan dilingkungan sekitar. Polutan inilah yang akan menambah masa jenis udara sehingga membuatnya lebih berat akibatnya panas matahari dapat bertahan lebih lama bahkan di malam haripun akan terasa gerah.

Harga mahal yang harus dibayar dibalik kemewahan dan kenikmatan duniawi oleh kaum borjuis

Konsumsi sumber daya yang berlebihan berbanding lurus dengan jumlah emisi karbon yang dibuang ke luar. Disaat seperti inilah orang-orang yang masih belum sejahtera secara finansial akan dibuat tidak nyaman hidupnya. Mereka tidak memiliki AC di rumah sehingga baik panas maupun malam tetap terasa gerah. Ada yang tinggal di dataran rendah dan bantaran kali sehingga saat banjir tiba barang-barangnya tidak terselamatkan. Rumah mereka ada diperbukitan, ketika longsor tiba maka tidak ada satupun yang terselamatkan kecuali nyawa sendiri. Mereka hidup di pinggiran kota, tidak punya rumah dan hanya seorang gelandangan sehingga saat gelombang panas menerjang nyawapun melayang. Sedang lihatlah kaum borjuis/ kapitalis/ pemilik modal di luar sana, memiliki kendaraan mewah yang di bawa seorang diri saja kemana-mana, mereka duduk enak di rumah-rumah yang besar, megah, bertembok tebal, berpagar tinggi, ber-AC, berkolam renang dan lain sebagainya kemewahan yang ada. Sarana, prasaran dan fasilitas yang mereka gunakanlah yang menjadi penyebab dari pemanasan global. Dari peristiwa ini dapat diketahui bahwa rakyat jelata yang tidak punya apa-apa dan tidak punya cukup uanglah yang dikorbankan lewat bencana ini.

Sampai kapan ketidakadilan ini terus berlangsung? Satu orang yang menikmati gemerlapan dunia tetapi orang lain yang menderita untuk menghapus kotorannya dari belakang. Ketamakan, ketidakadilan dan hawa nafsu kitalah yang mencelakakan negeri ini dan semua makluk yang ada di dalamnya (termasuk mansuai itu sendiri). Sebelum anda berhenti mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi maka selama itulah kepuasan di dalam hati akan terasa hampa, seolah-olah masih ada yang kurang.

Salam, keadilan sosial satu-satunya cara membuat dunia lebih baik!

Iklan

2 comments

  1. […] Keadaan ini semakin diperparah dengan pembalakan liar sehingga terus saja terjadi bencana (banjir, tanah longsor, banjir bandang, keracunan air, hujan yang tidak penah turun lagi, kekeringan bahkan fuso). Pada akhirnya semua kemajuan di bidang teknologi akan meningkatkan pencemaran lingkungan yang terjadi sehingga mendatangkan kiamat lebih cepat, terutama bagi kalangan bawah (rakyat jelata) yang tidak punya apa-apa. Simak, Pemanasan global membunuh masyarakat luas […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s