Persamaan Derajat Antara Industri dan Pertanian/ Perkebunan – Keadilan Sosial Demi Keseimbangan Alam

Persamaan Derajat Antara Industri dan Pertanian/ Perkebunan - Keadilan Sosial Demi Keseimbangan Alam

Dunia ini butuh keseimbangan. Tidak saja hanya alam semesta, kehidupan manusia: makanan, minuman (kebutuhan jasmani), kebutuhan emosional, mental dan kepribadian. Kesemua kebutuhan itu membutuhkan takaran yang berbeda-beda tetapi tetap sederajat sebab tanpa bagian yang satu maka bagian yang lain adalah kurang, lemah bahkan bisa dikatakan tidak mampu bertahan dari kerasnya hidup. Rasa seimbang (The taste of balance) tidak hanya dibutuhkan pada hal-hal alamiah melainkan dalam teknologi industri sekalipun perlu dicapai suatu titik yang tidak saling merugikan mereka sendiri (pihak-pihak yang terkait) maupun pihak lain (pihak yang ada di luar sistem).

Seperti halnya industri yang menghasilkan berbagai-bagai barang kebutuhan masyarakat yang bermanfaat dalam berbagai lini kehidupan (menurut jenisnya dan tujuan pembuatannya). Maka demikianlah juga pekerjaan di bidang pertanian dan perkebunan yang pemanfaatannya ditujukan untuk kebutuhan manusia di bidang tertentu. Kedua pemasok ini sama-sama memiliki peran penting demi keberlangsungan hidup kita. Industri yang berbasis mesin dan ilmu pengetahuan modern memproduksi berbagai barang jenis tertentu dengan kecepatan yang luar biasa. Selama masih ada bahan baku dan bahan bakar maka ia tetap berjalan. Kebanyakan industri hanya mempekerjakan sedikit saja orang/ SDM sebab teknologi komputerisasi dan robotik yang mereka miliki sudah memadai untuk memenuhi pasar tenaga kerja. Teknologi adalah pesaing terberat bagi tenaga kerja manusia dalam bursa pencarian kerja.

Lain halnya dengan pengelolaan di bidang pertanian dan perkebunan, dimana hampir 90% pekerjaan dilakukan oleh tenaga manusia. Peran teknologi biasanya hanya dititik beratkan di akhir masa tanam, yaitu dalam musim panen saja. Sebenarnya penyerapan tenaga kerja di bidang pertanian dan perkebunan sangat besar di bandingkan dengan perusahaan – industri. Tetapi lagi-lagi masalah yang sering muncul mengapa banyak tenaga kerja meninggalkan usahanya akibat pemasukan/ gaji yang minim (hanya di musim panen saja). Sedangkan industri bisa menghasilkan (memproduksi barang) setiap hari bahkan setiap waktu. Fenomena ini berdampak buruk bagi minat pekerja untuk mengelola usaha di bidang pertanian dan perkebunan.

Pengusaha yang lebih tertarik dengan uang akan meninggalkan usaha di bidang pertanian dan perkebunan lalu beralih ke teknologi industri. Keadaan ini disebut juga sebagai industrialisasi dimana orang-orang (termasuk pengusaha dan pekerja) beramai-ramai untuk membangun dan mengembangkan berbagai-bagai lahan industri yang bergerak di bidang tertentu. Jelas saja keadaan ini berdampak buruk dalam berbagai-bagai bidang kehidupan, diantaranya adalah.

  • Menggunakan sumber daya yang besar untuk membangun suatu industri (perlu menhancurkan beberapa gunung/ lahan sebagai bahan bangunan, pepohonan yang ditebang secara masal dan sumber daya alam lainnya).
  • Pembukaan lahan yang merusak dan mempersempit areal hutan.
  • Polutan (udara) dan limbah (cair atau padat) yang dihasilkan setiap waktu dalam proses produksi.

Harus dipahami betul bahwa industri (manufaktur) yang mengandalkan teknologi mesin merupakan penyumbang utama dari emisi gas rumah kaca. Produksi karbon yang mereka hasilkan setara dengan jumlah barang yang mereka produksi. Artinya, semakin banyak jumlah barang yang dihasilkan maka semakin banyak pula gas sisa hasil pembuangan (disebut juga emisi carbon). Kemudian tahukah anda bahwa polusi inilah yang secara jelas mempercepat pemanasan global dimana suhu permukaan bumi semakin meningkat drastis dari tahun ke tahun?

Bila polutan hasil pembuangan asap pabrik terus-menerus dibiarkan di udara maka ia akan menjadi tameng yang memperbesar masa jenis udara sehingga aura panas matahari bertahan lebih lama di lingkungan kita. Lagi-lagi yang dirugikan disini adalah masyarakat bawah yang tidak tahu apa-apa: mengidap berbagai macam penyakit dan hidup tidak nyaman karena suhu udara yang kepanasan. Sedangkan pihak manajemen perusahaan tertawa sambil goyang-goyang kaki di ruangan ber-AC. Inikah keadilan itu? Booming pembangunan industri tidak hanya merusak lingkungan udara melainkan juga tanah dan air disekitarnya juga turut tercemar oleh berbagai-bagai limbah bahan kimia berbahaya.

Salah satu pembersih udara (emisi karbon) yang terkuat dengan daya serap tinggi adalah tanaman pertanian dan perkebunan. Bisa dikatakan bahwa pihak industri menghasilkan emisi gas rumah kaca sedangkan tanaman hijau para petani dan pekebun menyerap emisi tersebut sehingga udara tetap bersih dan bebas dari segala jenis polutan. Artinya, kotoran yang dibuang oleh industri telah diserap penuh oleh tanaman pertanian dan perkebunan. Istilah kasarnya, “loe buang hajat gua yang bersihin“. Bukankah ini suatu simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan? Tetapi sesungguhnya disinilah masalah besar terjadi, sebab pihak industri tidak mau tahu dan tidak mau peduli dengan keadaan udara, tanah dan air sebab mereka dibakingi oleh pihak-pihak tertentu agar bisa lepas dari tanggung jawabnya.

Ketidakadilan ini semakin parah saja, tatkala para petani tidak memahami betul (kurang pengetahuan/ kurang wawasan) bahwa selama ini merekalah yang membersihkan kotoran dari perusahaan-perusahaan besar kenamaan yang dibuang di udara dalam bentuk emisi karbon. Industri yang tidak tahu diri hanya pura-pura tidak tahu saja sebab pihak pemerintahpun sepertinya membiarkan keadaan ini. Oleh karean itu, kami meminta agar mulai sekarang pihak industri tahu diri dan mau berbagi rejeki dengan para petani sebab tanaman pertanian dan perkebunanlah yang membersihkan asap-asap yang mereka buang secara bebas di udara.

Pihak industri wajib dan harus memberikan subsidi bahkan bila perlu gaji kepada para petani sebagai ganti upah karena jasa tanaman mereka yang membersihkan udara dari berbagai-bagai polutan. Tanpa tanaman pertanian dan perkebunan maka bumi ini akan menjadi semakin panas (global warming) bahkan akan mengalami berbagai proses destruksi alam karena berbagai-bagai emisi karbon yang dihasilkan oleh industri. Jadi bisa dikatakan bahwa industri tidak bisa berdiri sendiri tanpa petani dan petani juga sangat membutuhkan dukungan industri (terutama dalam hal pendanaan). Bila pendanaan pera petani berkurang maka ada resiko besar dimana mereka beramai-ramai hijrah untuk membuat industri baru atau setidak-tidaknya menjadi pekerja di salah satu perusahaan yang menggunakan mesin sehingga lahan-lahan pertanian dan perkebunan tidak terpakai bahkan turut beralih fungsi menjadi bentuk lain. Jika keadaan ini terus berlanjut maka dapat dipastikan bahwa tidak ada lagi yang membersihkan udara dari polutan sehingga pemanasan global akan semakin parah dari tahun ke tahun.

Pemerintah harus adil terhadap pihak-pihak yang terkait agar tidak ada satu pihak yang terus-menerus memberi manfaat bagi bumi ini namun tidak dihargai apa-apa. Sudah saatnya diberlakukan paham kesetaraan antara para petani dan pekerja di bidang industri. Sebab tanpa petani maka bumi ini akan rusak sedangkan tanpa industri maka roda perekonomian tidak berjalan. Oleh karena itu, ada baiknya simbiosis mutualisme ini dibeberkan kepada publik dan segera ditindaklanjuti dengan mengedepankan keadilan sosial alias kesetaraan antara semua profesi.

Salam hijaukan Indonesia!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s