+7 Cara Bersyukur Yang Salah Tidak Baik Untuk Dijadikan Gaya Hidup Bahagia

Cara Bersyukur Yang Salah Tidak Baik Untuk Dijadikan Gaya Hidup Agar Menjadi Bahagia

Bersyukur adalah berterima kasih; mengucapkan syukur (KBBI OFFLINE). Merupakan sebuah rasa yang memberi nilai lebih tinggi terhadap keadaan yang dialami saat ini (kenyataan yang lebih baik daripada ekspektasi). Banyak orang senang melakukannya karena setelah memperkatakannya di dalam hati sendiri maka mulailah timbul rasa senang karena mengalami sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan sebelumnya.  Bukan saja sekedar rasa senang melainkan hatipun menjadi bahagia saat melakukannya.

Seperti yang kami sampaikan sebelumnya bahwa bahagia tidaknya kita di dunia ini sangat tergantung dari sudut pandang yang kita gunakan dalam memandang kehidupan. Semakin cerdas seseorang maka semakin baik persepsinya namun lama kelamaan cenderung mengarah kepada sikap yang egosentris. Oleh karena itu, ada baiknya jikalau persepsi kita tidak dilandaskan pada diri sendiri melainkan berdasarkan pada cara pandang Tuhan dan firman-Nya. Simak, Sudut pandang positif untuk berbahagia.

Tidak ada yang salah dengan aktivitas mengucap syukur, malahan kamipun menyarankan agar anda melakukannya lebih sering alias selalu. Secara tidak langsung aktivitas ini menghubungakan kita dengan Yang Maha Kuasa, terlepas dari landasan apa yang kita gunakan untuk senantiasa bersyukur. Bila kita mendasari perkataan ini dari sudut pandang sendiri maka mekarnya (munculnya/ keluarnya) akan bersamaan dengan sesuatu yang tidak baik yaitu “ego” sendiri. Bila hal ini terus berlanjut maka kata-kata yang mensyukuri sesuatu akan berubah menjadi kesombongan.

Rasa syukur dan kebahagiaan hati

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

Mengucap syukur itu hanya bisa dilakukan sekali-sekali, kami sendiri memperkatakannya hanya dua kali sehari saja (saat doa malam dan pagi). Tetapi kita butuh kebahagiaan selalu (setiap waktu). Terus-menerus melakukannya juga justru melelahkan sebab harus berpikir sejenak untuk mengawalinya pada sudut pandang yang baik. Oleh karena itu, kami meyakinkan anda bahwa bersyukur itu penting tetapi untuk membuat hati selalu bahagia maka bernyanyilah memuji dan memuliakan Tuhan dalam setiap kesempatan yang ada, baik dengan menggunakan (a) alat musik, (b) menari, (c) bersuara dan sekalipun itu (d) di dalam hati saja. Baca juga, Tips bernyanyi di dalam hati.

Cara bersyukur yang salah yang sering dipraktekkan oleh beberapa orang

Yang kami maksukan disini adalah tujuan dan landasan anda harus benar saat melakukannya. Jikalau kedua awalan ini tidak dilakukan dengan semestinya maka ada kemungkinan berujung kepada iri hati dan kesombongan. Oleh sebab itu, perhatikan beberapa contoh yang kami ajukan berikut ini.

Bahagia yang salah
Bahagia yang salah
  1. Ketika saya bangun di pagi hari, saya harus bahagia karena ada orang-orang di dunia ini yang tidak memiliki tempat tinggal atau listrik yang layak.
  2. Saat bepergian ke kantor saya harus bahagia untuk diri sendiri karena ada orang-orang yang melakukan perjalanan dari satu sudut ke sudut lain kota untuk mencapai kantor melalui berbagai media transportasi. Mereka menghancurkan diri mereka sendiri dalam kerumunan yang bepergian dalam mode transportasi umum.
  3. Setelah sampai di kantor saya harus bahagia dengan diri sendiri karena ada kecelakaan yang terjadi setiap hari dimana orang kehilangan nyawa karena kecelakaan saat bepergian.
  4. Saya harus senang bekerja di perusahaan karena ada jutaan orang yang tidak memiliki pekerjaan, tidak ada manajer atau atasan yang mendukung, orang-orang terbebani dengan banyak pekerjaan, politik di tempat kerja, tidak ada pertumbuhan karir dan jam kerja yang molor.
  5. Saya harus senang dengan keuangan karena ada orang yang tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari untuk diri sendiri atau keluarga; Ada orang yang tidak menabung untuk keamanan dari ketidakpastian masa depan, orang-orang yang telah kehilangan uang dari kerusakan.
  6. Saat membaca koran, saya seharusnya senang dengan pemerintahan kita karena ada pemerintah di seluruh dunia yang telah gagal bayar dan tidak memiliki dana untuk masyarakat, jadi mereka mengenakan pajak tambahan untuk masyarakat atas pemasukan tersebut. Di sana pemerintah memanfaatkan manusia untuk berkuasa atas mereka.
  7. Saat sampai di rumah, saya harus bahagia dengan keluarga saya karena ada orang-orang yatim piatu dan tidak peduli dan mencintai mereka, anggota keluarga saling berkelahi dan saling menyalahgunakan, tidak ada dukungan moral dari anggota keluarga.
  8. Saya harus bahagia hidup di masyarakat karena ada negara dimana ada perkelahian dan ketegangan sosial antar masyarakat dan ada kerusakan harmonis. Orang sakit diperlakukan karena ras, kasta dan budaya. Nilai-nilai kemanusiaan diabaikan karena pola pikir masyarakat yang bias.

    Oh my heart – CMIIW 😀

Berikut ini beberapa persepsi bersyukur yang tidak baik untuk dipraktekkan sehari-hari

Kami heran dengan orang-orang di dunia ini, “haruskah anda merendahkan orang lain untuk membuat dirimu bahagia?” atau lebih tepatnya “haruskan anda menginjak orang lain agar hatimu menjadi lebih berbahagia?”. Tinggalkanlah kebiasaan buruk semacam ini sebab bukannya malah membuat pikiran positif melainkan justru syarat dengan tinggi hati. Ucapan syukurmu sebaikanya hanya antara anda dan Tuhanmu. Hindari menarik orang lain, membandingkan penderitaannya dengan penderitaanmu agar kamu bahagia karena ternyata dia lebih rendah/ lebih hina/ lebih memalukan dibanding kamu. Berikut ini persepsi rasa syukur yang tidak baik karena terkesan angkuh karena senang melihat orang lain susah.

  1. Melandaskan kebahagiaan kita dengan membandingkan masa lalu yang buruk dan masa sekarang yang lebih baik (sejahtera).

    Ada beberapa orang mengucapkan terimakasih kepada Tuhan karena ia membandingkan kehidupannya di masa lalu yang lebih parah keadaannya dengan kesejahteraan yang telah di cicipi sekarang ini. Keadaan ini jelas sangat baik karena dihasilkan dari ide yang brilian). Namun perlu ada beberapa penyesuaian agar kedepannya lebih berkembang lagi.

    Masalahnya sekarang adalah bagaimana jikalau masa lalu kita lebih baik daripada keadaan yang sekarang? Bukankah ini sama saja dengan mengharapkan sesuatu yang lebih baik namun yang terjadi sesuatu yang kurang memuaskan sehingga membuat hati menjadi kecewa.

  2. Mendasarkan rasa syukur kita berdasarkan janji (seseorang/ kelompok/ sistem) masa depan yang lebih membahagiakan.

    Kita memiliki pengharapan untuk masa depan yang lebih baik. Bahkan beberapa orang sangat yakin dengan masa depannya karena dari awal sudah di jamin (dijanjikan) oleh seseorang (orang tuanya) atau bisa juga oleh sekelompok orang dan oleh kekuatan sistem.

    Bersyukur dengan cara seperti ini beresiko mengalami ketidakbahagiaan terlebih ketika apa yang terjadi kelak tidak sesuai dengan yang dijanjikan (tidak ada seorangpun yang dapat menjamin masa depannya).

  3. Melakukannya dengan membandingkan kehidupan ini dengan mereka yang hidupnya terbelakang/ disabilitas.

    Masakan anda berbahagia di atas penderitaan orang lain? Kami ragu terhadap rasa syukur semacam ini sebab bisa saja niat hatinya terkesan syarat dengan ego keakuan yang menggiringnya untuk meninggikan hati di atas penderitaan orang lain. Rasa sombong yang semacam ini lama kelamaan tidak lagi membawa kedamaian melainkan lebih sering khilaf dan melakukan kesalahan di depan umum.

  4. Melakukannya dengan membandingkan kehidupan ini dengan orang-orang yang kemampuan finansialnya lebih rendah (miskin).

    Membanding-bandingkan diri kita dengan orang yang lebih miskin keadaannya bisa juga digolongkan dalam rasa bersyukur. Tapi tahukah anda bahwa aktivitas mengambil landasan berpikir semacam ini beresiko membuat hati ini agak merendahkan orang lain. Ini jelas tidak baik bagi perkembangan kepribadian di masa depan.

    Cara mensyukuri kehidupan semacam ini jelas tidaklah baik, sebab bagaimana ketika anda berpapasan dengan orang yang lebih kaya darimu, apakah masih bisa bersyukur? Atau jangan-jangan iri hati menawan kehidupan anda?

  5. Mengucapkan terimakasih karena membandingkan kehidupan kita dengan mereka yang sedang mengalami bencana alam.

    Mendoakan agar mereka yang terkena bencana diberi kekuatan dan kesabaran untuk melaluinya sembari membangun segala sesuatunya dari awal adalah baik. Tetapi bila kita memandang hal tersebut dengan sinis lalu berkata kepada teman yang disamping “disana mereka benar-benar kewalahan, kita disini harus bersyukur karena tidak mengalami hal yang sama“. Bisakah anda menjamin bahwa rasa syukur semacam ini bukanlah ungkapan kesombongan yang dihaluskan?

  6. Mengucapkan terimakasih karena orang lain lagi sial dan malah menganggap diri ini menjadi orang yang lebih beruntung.

    Ketika orang lain sedang mengalami kesialan, entah itu sedang lupa sesuatu, kecopetan, kehilangan dan lain sebagainya, apa yang anda lakukan? Mendoakannya agar dia tabah menjalaninya, memberi solusi berupa pinjaman dan jalan keluar lainnya atau malah “bersyukur karena kita tidak sial seperti mereka“. Yang pasti keadaan semacam ini tidak baik untuk disyukuri, jika tidak memberi solusi setidaknya anda memohonkan “agar mereka semakin mendekatkan diri kepada Tuhan lewat kejadian tersebut“.

  7. Memperkatakan rasa syukur karena musuh-musuh kita tersandung, berjatuhan dan tersandung oleh prinsip..

    Ini jelas menunjukkan betapa kebencian telah bersarang lama di dalam hati kita. Rasa itu masih terpendam dan menunggu waktu/ moment yang pas untuk diungkapkan. Ketika para pembenci kita mengalami kesialan maka disaat itu juga keluar kata-kata paling ditunggu-tunggu selama ini “syukurin“. Ini jelas bukanlah cara bersyukur yang berkenan kepada Tuhan sehingga bukannya mendapat berkat, melainkan beroleh dosa karenanya. Siap-siap aja dihakimi orang pada kesempatan yang lain (apa yang dituai itu yang ditabur).

Berhati-hatilah mengambil sudut pandang saat bersyukur kepada Tuhan. Jauhi kebiasaan membanding-bandingkan sebab persepsi semacam ini dapat memupuk ego di dalam hati, memicu kedengkian bahkan menyebabkan keangkuhan juga. Oleh karena itu, bersyukurlah dalam persepsi yang didasarkan pada sudut pandangnya Tuhan dan firman-Nya. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik dari dalam (mindset positif) dan semoga saja sikap sehari-hari juga menjadi berkualitas, terpimpin dan bertanggung jawab untuk kebaikan bersama.

Salam ketulusan hati!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s