+10 Kebocoran Uang Negara Yang Membuat Indonesia Tetap Miskin – Jutaan Dolar Dibawa Lari Setiap Tahun Dari Indonesia Sehingga Utang Luar Negeri Terus Bertambah

Kebocoran Uang Negara Yang Membuat Indonesia Tetap Miskin – Jutaan Dolar Dibawa Lari Setiap Tahun Dari Indonesia Sehingga Utang Luar Negeri Terus Bertambah

Indonesia adalah negara yang makmur karena kaya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. Tanah, air dan udara diatasnya menghasilkan kekayaan yang tidak dapat dinilai dengan uang sebab pemanfaatan yang ramah lingkungan akan membuat negeri ini terus menghasilkan dan makmur sepanjang masa (sepanjang zaman). Tetapi bila eksploitasi sumber daya yang ada dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan aspek lingkungan alhasil negeri ini akan menjadi tandus “bak padang gurun”.

Sekalipun, negeri ini termasuk negara terkaya dalam hal sumber daya namun tetap saja melarat alias warga miskin lebih banyak dari orang kaya. Salah sat penyebab utama dari keadaan ini adalah manajemen sumber daya yang dianut oleh pemerintah. Indonesia jelas tidak mampu menjadi negara kapitalis sebab mata uang Indonesia tidak dikendalikan oleh rupiah melainkan dolar. Bila negara lain (misal Amerika) adalah kapitalis hal ini sangat dimungkinkan sebab pemerintahnya memiliki uang/ dolar sedangkan swasta memiliki pengetahuan, teknologi dan alat produksi.

Sudah seharusnya kemakmuran menjadi milik seluruh lapisan masyarakat sebab sebagai negeri yang menganut paham kedaulatan rakyat. Hal ini sangat dimungkinkan. Kekuasaan saja (politik) dari raykat, untuk rakyat dan oleh rakyat maka sudah semestinya sistem perekonomian kitapun menganut paham kerakyatan. Artinya, kedaulatan rakyat tidak hanya terjadi secara politis melainkan juga secara ekonomi, sosial, budaya dan dalam semua lini kehidupan bermasyarakat.

Kami melihat bahwa negeri ini mampu menghasilkan sendiri apa yang kita butuhkan. Barang-barang (hasil alam, produk setengah jadi, barang produksi dan jasa) yang dihasilkan oleh bumi ini sudah mencukupi kebutuhan masyarakat. Sekalipun masih ada hal-hal yang kita impor dari luar namun tetap saja jumlah uang di tangan masyarakat masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka (primer, sekunder dan tersier) sehari-hari. Ini dikarenakan oleh ketidakadilan dan kurangnya pemerataan kepada seluruh kalangan masyarakat juga oleh sesuatu yang disebut dengan kebocoran.

Bias pemanfaatan uang negara yang membuat Indonesia terus menerus berutang

Teorinya begini teman: “kita meminjam dolar (bahasa halusnya, kasarnya mengutang) dari negara-negara yang manajemen keuangannya lebih ramping, terampil dan anti KKN”. Katakanlah ini sebagai modal. Jika pemerintah adalah pedagang yang cerdik tapi tulus maka sudah seharusnya ada surplus dibalik proses perdagangan yang berlangsung dari hari ke hari setiap tahun. Tetapi, coba lihat apa yang terjadi sekarang? Bukannya dapat untung, yang ada malah rugi terus kita dan ini dibuktikan dengan terus membengkaknya utang negara kepada pihak asing.

Kami sendiri, pusing tujuh keliling karena bingung. Satu saja pertanyaan kami di sini: “apakah oknum pemerintah itu bodoh? Mereka jadi pedagang tetapi tidak pernah untung”. Biar kami beritahu di daerah sini ada beberapa pedagang yang hanya tamatan SMA bahkan ada juga yang belum pernah sekolah sebelumnya tetapi mereka untung dan tetap bertahan sampai sekarang. Pertanyaan saya lagi adalah “para pemimpin bangsa ini, pendidikannya sudah sampai mana ya…. ? Mengapa negeri ini terus ngutang dari tahun ke tahun? Padahal hampir semua yang kita butuhkan sudah disediakan oleh alam. Jadi saya yang idiot atau pemerintah yang ……

Pengalahgunaan APBN yang semakin mengecilkan Indonesia di mata dunia

Sudah seharusnya uang negara ditujukan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat luas. Ini uang bukan cuma milik pemerintah dan konco-konconya tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, baiklah kita bersama-sama meninjau aspek pengeluaran yang boros sehingga membuat ibu pertiwi tetap miskin setelah lebih dari 71 tahun merdeka. Analisis yang kami lakukan disini bersifat ilustrasi/ perumpamaan yang belum tentu sesuai dengan kenyataannya alias “cuma ilmu tebak-tebakan“. 😀 Berikut selengkapnya.

  1. Belanja mubazir dari pemerintah, legislatif (anggota dewan) dan yudikatif (penegak hukum dan pencari keadilan).

    Tahukah anda jarak antara indeks pendapatan terendah dan indeks pendapatan tertinggi di negeri gotong royong ini sangat jauh berbeda, berada pada kisaran 0,0 sekian. Itu uang untuk apa ya banyak-banyak di timbun? Lebih baik bagikan beberapa kepada masyarakat luas agar merekapun bisa membelanjakannya. Kalau uangnya di bank terus bagaimana bisa jalan ekonomi kita? Kami sendiri bergaji di bawah dua jutaan tetapi masih cukup kok. Para petinggi negara ini seolah mendapatkan gaji dan tunjangan hidup lebih besar dari semuanya itu dan kami berharap kinerja dan pengabdiannyapun lebih berharga dari apa yang kami lakukan disini (yang hanya sekedang omdo – omong doang)

  2. KKN oknum anggota dewan (legislatif).

    Anggota dewan sebagai pihak yang menyusun perencanaan terhadap APBN dapat melakukan berbagai macam bentuk penyelewengan baik dalam bentuk nepotisme, kolusi maupun korupsi. Sebelum lembaga pengawas ini bersih dari praktek kotor maka selama itu pula para pejabat masih saja sibuk dengan urusannya sendiri sampai mengabaikannya kepentingan rakyat itu sendiri.

  3. Korupsi oknum pemerintah.

    Oknum yang bekerja di pemerintahan yang sah bisa saja merupakan pengguna anggaran fiktif. Mereka dapat melampirkan daftar pengeluaran dan biaya operasional yang sebenarnya nihil. Tentu saja keadaan ini didorong oleh kerja sama yang baik antar oknum-oknum yang terlibat di dalamnya.

  4. KKN berjamaah antara oknum pemerintah kerjasama swasta.

    Ini biasanya terjadi pada proyek-proyek yang melibatkan kerja sama antara pemerintah dan swasta. Jika tuan tanahnya aja korup maka terlebih-lagi dengan mereka yang berada di luar pemerintahan yang menggunakan dana pribadi (orang lapangan – swasta). Kongka-lingkong yang merugikan negara ini menghasilkan proyek-proyek fiktif, penggelembungan dana, dengan hasil yang asal-asalan. Keadaan ini jugalah yang membuat proyek tersebut tetap ada (proyek abadi) setiap tahun.

  5. Jasa Asuransi Negara (BPJS, Jasaraharga dan yang lainnya).

    Tahukah anda bahwa asuransi negara semacam ini telah menjadi lahan subur untuk mencari uang bagi orang yang pintar-pintar? Beginilah keadaan Indonesia, orang yang tidak berpendidikan dibiarkan bertahan sedangkan mereka yang intelek-egois memiliki “lahan sendiri untuk menyusu dari ibu pertiwi”. Coba bayangkan jika ada kerja sama tersembunyi antara BPJS dan petinggi rumah sakit/ badan kesehatan lainnya. Bukankah dana yang mengalir itu tak tertahankan sehingga semakin mengerutkan APBN Indonesia?

  6. Pembayaran pajak yang mandek/ telah dikebiri.

    Pajak adalah sumber utama penghasilan negara ini. Jika pembayarannya mandek maka sudah pasti mengurangi pendapatan negara. Tetapi dilain pihak muncul juga pernyataan “bagaimana saya bisa bayar pajak, bahkan saya tidak merasa ada peran negara dalam hidup ini, saya berjuang dan itu karena kegigihan saya bukan karena peran negara”. Artinya, bagaimana mungkin kita mendapatkan respon positif dari masyarakat soal pajak jikalau penggunaannya selalu tidak jelas dan dikorupsikan oleh oknum.

    Kebocoran uang negara juga didapati dari wajib pajak yang berkongkalingkong dengan pegawai di dirjen perpajakan. KKN semacam ini membuat angka/ nilai yang dibayarkan wajib pajak lebih kecil dibandingkan dengan nilai yang seharusnya dibayarkan kepada negara. Dari sini bisa kita rasakan betapa rendahnya rasa nasionalis dari para pegawai pajak itu padahal selama ini kehidupan mereka telah dimakmurkan oleh negara tetapi masih kurang juga dan terus saja serakah.

  7. Dana import barang luar negeri.

    Kami sampai sekarang terheran-heran lho…. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia belum memiliki perusahaan otomotif dalam negeri. Paling juga kita hanya merakit doang, sedang bahan-bahan bakunya di datangkan dari negara lain. Pantas saja Jepang makin kaya raya karena “ikut memanen di lahan yang sangat menjanjikan”, dua produk otomotifnya (honda dan yamaha) bahkan lebih lagi telah menguasai negeri ini dari ujung barat ke ujung timur. Bisa dikatakan bahwa kedua produsen ini telah memonopoli perdagangan sepeda motor di Indonesia. Lalu kita kapan dong punya merk motor sendiri? Padahal Indonesia sudah bisa buat kapal perang, itu ilmunya di-upgrade dikit biar bisa buat kapal nelayan yang lebih mutakhir, motor dan mobil juga.

    Bagi kami, import itu tidak masalah, asalkan kita memang jelas-jelas tidak mampu membuatnya. Akan tetapi kami tidak menyarankan hal ini bila ada kemungkinan (sekalipun kecil tapi bisa dipelajari) untuk menciptakan barang yang dimaksud di dalam negeri sendiri. Usaha ini juga sekaligus dilakukan untuk meningkatkan SDM orang Indonesia.

  8. Perdagangan yang dikuasai oleh swasta.

    Ini jugalah yang merupakan salah satu kelemahan pemerintah. Sudah seharusnya para pedagang dinasionalisasikan. Agar setiap untung yang mereka peroleh di miliki oleh negara (setidaknya 60% sahamnya dimiliki oleh pemerintah). Dengan demikian uang negara yang disebarkan ketangan ASN (pegawai negeri), melalui BPJS, Jasaraharja, kartu pintar dan “mega susu” lainnya tetap kembali lagi ke tangan pemerintah (setidaknya 60%). Bahkan bila perlu 100% aja sekalian agar uang tersebut bisa diputar oleh pemerintah (tidak jatuh ke tangan perusahaan asing – mungkinkah? wkwkwkkkkkk).

    Singkat cerita, “negara memberikan uang kepada rakyatnya lalu rakyat membelanjakan uangnya kepada pihak swasta. Jadi siapakah yang diuntungkan? Otomatis swasta dapat 90% sedangkan negara hanya dapat 10% saja (pajak) dari proses perdagangan (itupun kalau wajib pajaknya jujur dan tidak tipu-tipu)”.

  9. Pertambangan yang dikuasai oleh swasta.

    Ada perusahaan tambang yang menggali di tanah ibu pertiwi tetapi untungnya tidak ditujukan kepada pemerintah melainkan masuk kantong perseorangan (swasta). Sedangkan pemerintah hanya dapat beberapa persen saja. Sebaiknya sehebat-hebatnya swasta menguasai barang tambang tetap saja pemerintah harus dapat jatah 60%-70% dari total keuntungan. Itupun harus dibuktikan dengan manajemen pertambangan yang bersih dan bebas dari praktek tipu-tipu (KKN) yang merugikan negara.

  10. Pertanian dan peternakan yang dikuasai oleh swasta.

    Bila hendak mengetahui dimanakah uang berputar paling cepat? Maka jawabannya adalah dibidang pangan. Ini disebabkan karena kebutuhan pangan merupakan kebutuhan primer yang selalu diperlukan setiap waktu. Tidak masalah kalau swasta juga menguasai bidang pertanian dan peternakan kemudian pemerintah hanya dapat pajaknya saja (10% – itupun kalau mereka jujur). Alangkah lebih baik jika pengusaha kelas kakap di bidang pertanian dan peternakan harus memiliki manajemen yang jelas sehingga sahamnya dapat dikuasai 60%-70% oleh negara.

  11. Perairan yang dikuasai oleh swasta.

    Kami paling heran dengan negara ini, “bagaimana mungkin tanah, air dan udara yang harusnya dikuasai oleh negara malah dimiliki oleh swasta?”. Baru di Indonesia kejadiannya, bisnis air didominasi oleh perusahaan swasta. Sebenarnya, inilah yang menjadi akar dari permasalahan di negeri kita sebab bukankah air adalah salah satu sumber daya yang vital dimana perputarannya terjadi setiap waktu? Oleh karena itu, tidak ada titik dan koma di bidang industri air harus dikuasai oleh pemerintah untuk kepentingan orang banyak.

  12. Orang Indonesia yang tidak cinta tanah air dan tidak cinta produk dalam negeri.

    Memang masih ada-ada saja orang Indonesia yang lebih cinta produk luar negeri yang katanya, bergengsi, bermerek, berkualitas dan lain sebagainya. Disini, kami tidak meyakinkan anda untuk tidak menyukai orang luar negeri tetapi lebih kepada produk yang mereka hasilkan. Kita bekawaan dan kasih kepada semua orang tetapi cintailah produk-produk dalam negeri. Bila kita berbicara lebih dalam lagi maka ada kenyataan pahit yang didapatkan bahwa orang-orang tajirlah (kaya raya) yang lebih suka dengan produk luar sekaligus lebih suka juga jalan-jalan (travelling) ke luar negeri.

    Kita tidak sentimen dengan orang asing tetapi selama produk tersebut dibuat oleh saudara sebangsa-setanah air maka gunakanlah itu dahulu teman. Membeli prodak kita sama dengan memajukan pengusaha lokal sama dengan memutar ekonomi sama dengan Indonesia bakal menjadi negara yang lebih baik kedepannya.

Kesimpulan

Kita belum sadar juga bahwa Indonesia sebenarnya adalah negara yang kaya raya. Betapa baiknya ibu pertiwi, semua diberikannya, semua sudah ada, semua yang terbaik, semua telah tersedia dan semuanya itu untuk kepentingan bersama. Kami yakin setiap orang di negeri ini mau maju tetapi janganlah juga menempuh hal itu sendiri-sendiri (perseorangan) dengan mendirikan perusahaan swasta demi kepentingannya dan kelompoknya. Sudah seharusnya sumber daya vital di negeri kita dikuasai oleh pemerintah. Sebaiknya, industri yang lain-lainnya juga demikian, yaitu setidaknya pemerintah memiliki saham 60%-70% demi mensejahterakan seluruh masyarakat.

Janganlah menjadi egois lalu menabung, oh tidak lagi, melainkan menimbun untuk diri sendiri. Hindari memiliki sifat “premanisme” untuk minta jatah. Hanya dikasih salam tempel yang gak ada harganya saja (jauh di bawah kewajiban yang seharusnya jika peraturannya ditegakkan) udah klepek-klepek. Kemudian memberikan izin sebebas-bebasnya kepada swasta untuk memanen di negeri ini. Lihatlah akibatnya, jutaan dolar uang kita datangkan dari luar negeri dan jutaan dolar juga uang tersebut di bawa lari entah berantah oleh oknum swasta. Sehingga pemerintah nombok/ ngutang terus dari tahun ke tahun. Saking ironisnya utang Indonesia, anak yang baru lahirpun sudah membawa beban utang itu. Jika hendak menjadi negara yang benar-benar berdaulat, adil dan makmur maka langkah pertama adalah mulai mengurangi jumlah utang-utang itu.

Pemerintah tidak hanya butuh cerdas melainkan juga harus mampu bekerja dengan hati. Artinya, kalau kerja itu tidak hanya untuk cari uang saja melainkan juga untuk memberi arti – membawa faedah bagi kehidupan umat manusia. Dari tahun ke tahun, mengapa kita ngutang terus, rasa-rasanya makin membengkak aja tuh utang luar negeri. Oleh karena itu, ada baiknya juga jika setiap orang di negeri ini “belajar dari kesalahan di masa lalu“. Kami harap kedepannya pemerintah lebih bijak dalam mengelola sumber daya yang ada, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Negara adidaya kelas satu, Amerika saja presidennya begitu nasionalis untuk menjaga sumber daya tetap di dalam demi kesejahteraan warganya. Bila negara adikuasa saja tahu betapa pentingnya mencintai negerinya sendiri terlebih lagi dengan Indonesia yang masih dianggap sepele dan jauh di bawah negara-negara barat.

Salam nasionalisasikan perusahaan swasta!

Iklan

One comment

  1. […] Korupsi telah memiskinkan banyak negara di dunia. Para petingginya yang tamak dan gila uang cenderung menganggap bahwa ini adalah semacam dewa baginya. Kerakusan akan uang telah menggiring kehidupan manusia untuk menjadi seorang individualis. Dihatinya tidak ada lagi kebenaran dan cenderung memilih untuk melintasi jalur-jalur instan untuk mencapai sesuatu dimana salah satunya adalah dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Simak, Penyelewengan uang negara. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s