Sikap 100% Dipengaruhi Oleh Pikiran – Setiap Hari Adalah Baru, Hindari Menghakimi Sesama Sebab Perkataan dan Perilaku Tidak Jauh Dari Isi Otak Anda

Sikap adalah (1) tokoh atau bentuk tubuh; (2) cara berdiri (tegak, teratur, atau dipersiapkan untuk bertindak); kuda-kuda (tentang pencak dan sebagainya); (3) perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan; (4) perilaku; gerak-gerik (KBBI Offline). Merupakan perilaku, perkataan dan ekspresi yang keluar dari dalam diri manusia. Ini adalah hal yang berbeda-beda untuk setiap pribadi. Seperti kata pepatah, “sikap boleh sama tetapi niat hati yang berkilah siapa yang tahu?”. Pikiran adalah (1) hasil berpikir (memikirkan); (2) akal; ingatan; (3) akal (dalam arti daya upaya); (4) angan-angan; gagasan; (5) niat; maksud (KBBI Luring). Merupakan hasil analisis situasi baik sekarang, masa lalu dan masa depan. Kekuatan terbesar manusia tidak terletak dari otot, tulang dan darahnya melainkan daya ledak terbesar itu adanya di dalam otak manusia. Artinya, maju-mundur, susah-senang, sakit-bahagianya kehidupan ini sangat tergantung dari isi hatimu, “dengan apa kamu mengisi dan memenuhi kepalamu?”. Mari kami berikan sedikit perumpamaan. Si Budi adalah orang yang suka beramah-tamah kepada banyak orang bahkan kepada semua orang. Tetapi ada satu keanehan yang dirasakannya dan selalu menjadi pertanyaan di dalam hati sampai saat itu. Sepertinya dia bisa merasakan dirinya begitu lembut ramah-tamahnya kepada orang-orang yang baru dikenal. Tetapi kepada mereka yang sudah lama dikenal dan menjadi teman-temannya, dia merasakan keramahannya terasa berat untuk keluar dan kalaupun itu keluar maka diucapkannya secara terpaksa. Dia terus menimbang-nimbang dalam hati sebab sebelumnya dari rumah ia telah mengambil komitmen untuk menyamaratakan setiap sikapnya baik kepada orang baru maupun kepada orang yang lama. Bisakah anda membaca situasi yang dihadapi oleh sikawan itu? (1) Kebaikannya seperti mengalir kepada orang-orang yang baru dan (2) kebaikannya seperti tertahan di tenggorokan kepada orang-orang lama. Apa sebenarnya yang terjadi disini? Atau lebih tepatnya, apakah anda juga merasakan hal yang sama? Saat baru-baru pertama maka hubungan kita dengan orang lain menjadi sangat hangat dan begitu akrab. Akan tetapi lama kelamaan, semuanya menjadi dingin bahkan sekarang menjadi diam-diaman satu sama lain. Mengapa kebaikan kita hangat dan akrab ketika masih baru? Apakah saat ini anda sebagai pasangan suami istri merasakan begitu sayang satu sama lain sebab ini baru tahun pertama pernikahan? Ada kawan baru di kantor dan kitapun meresponnya dengan begitu ramah dan santun sebab dia barulah seminggu menempati meja dan kursi itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah “karena selama itu kita belum menghakiminya, belum mengenal kelamahannya, belum bertemu dengan sisi gelap dari kehidupannya, belum mempetak-petakkan dan mengkelompokkannya di dalam pikiran dan diapun belum pernah melakukan kesalahan kepada kita maupun kepada orang lain sejauh ini. Pikiran manusia memang liar dan suka menghakimi orang lain. Tetapi ketika masih baru-baru pertama ada kecenderungan masih belum kenal betul dengan pribadi yang ada di depan kita. Lagipula dia masih belum menyakiti diri ini maupun orang yang dekat dengan kita sehingga pikiran tetap positif terhadap sikawan. Ini seumpama ketika anda masih memiliki barang baru dibeli, yang diawal-awal tidak ada cacat bahkan tergorespun tidak sehingga hati begitu terpesona melihatnya. Saat kita belum menghakimi orang di dalam hati dan belum mengelompokkannya (ini orang jahat, ini orang baik, ini orang keras, ini orang tidak sopan dan lain sebagainya) maka selama itu pulalah kita bisa menyambut kehadirannya dengan ramah dan hangat. Mengapa kasih kita memudar dan layu ketika sudah lama berkawan? Mungkinkah saat ini anda sebagai pasangan sehidup semati merasakan waktu begitu lapuk karena tahun-tahun pertama pernikahan telah lama berlalu? Atau jangan-jangan ada teman kantor yang kita respon secara kasar karena sikapnya akhir-akhir ini yang kurang mengena di hati? Mengapa keadaan ini terus terjadi dalam kesehariaan anda. Bahkan ada sisi lain dalam hati ini yang berkata-kata bahwa “sudah muak dengan semua yang terjadi” dan ingin rasanya meninggalkan dan resign dari hadapannya. Pada dasarnya, ketika hati kita telah menghakimi seseorang maka ada kecenderungan untuk memetak-metakkannya lalu menggolongkannya menjadi orang-orang yang posisinya lebih rendah-buruk di dalam pikiran sendiri. Hal-hal semacam inilah yang cenderung membuat hati berat dan cenderung menjadi negatif saat menghadapi seseorang. Artinya, pikiran anda yang negatif terhadap orang lain (menghakiminya karena kegagalan di masa lalu) membuat kebaikan-kehangatan-keramahan kita tidak mengalir seolah-olah tersendat di hadapannya. Jangan menghakimi orang terus-menerus di dalam hati Perhatikan firman ini : (Matius 7:1-2) "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Apa reaksi anda ketika menyaksikan kesalahan orang lain? Apakah menghakiminya lalu mengatakan kepada teman yang disamping “biarin aja mampus tuh orang”. Atau malah turut berbelas kasih mendoakan kesadarannya, “kasihanilah dan ampuni orang ini, ya Tuhan. Semoga ia menemukan pintu pertobatan”. Terus bagaimana pula ketika anda berjumpa dengannya di lain kesempatan? Apakah masih mengingat kekhilafannya lalu lagi-lagi menghakiminya dan menggolongkan orang-orang ini sebagai orang yang buruk, jahat dan kasar? Tahukah anda bahwa ada pepatah mengatakan, “seperti apa pikiranmu maka seperti itulah kehidupanmu. Kamu adalah apa yang kamu yakini”. Jadi bagaimana mungkin sikap kita bisa baik, santun dan hangat dengan seseorang sedangkan hati ini telah menafsirkan dan menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang jahat dan kasar? Secara tidak langsung pikiran kita yang telah menghakimi seseorang turut membedakan sikap dan ekspresi yang kita tujukan kepada mereka. Bila seseorang telah bersalah maka salahlah ia saat itu juga dan bukankah sanksi itu selalu satu paket? Artinya, setiap kesalahan pasti ada akibatnya, cepat ataupun lambat. Lalu mengapa kita masih terus mengingat-ngingat kesalahan itu di hari-hari berikutnya? Sadar ataupun tidak, ingat-ingatan tentang buruknya masa lalu seseorang turut mempengaruhi cara kita mendekati, berbuat dan berkata-kata kepadanya. Oleh karena itu hindari mengingat-ngingat kesalahan orang di dalam hati agar kebaikan ini bisa keluar dengan luwes kepada orang tersebut. Hindari mengelompokkan orang dan setarakan semuanya di dalam hati agar sikap 100% konsisten Bisa dikatakan bahwa salah satu hobi manusia teranyar adalah “menghakimi orang lain (manusiawi)”. Jikalau anda terus memelihara kebiasaan ini maka ada kecenderungan untuk mengelopokkan manusia, ini orang baik, kurang baik, jahat, kasar, tidak sopan, miskin, kaya dan lain sebagainya. Padahal apa kata firman tentang hubungan baik dengan orang lain? “Kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri”. Jadi, hindari memetak-metakkan manusia melainkan perlakukanlah semuanya sama rata. Tahukah anda bahwa sikap: perilaku dan perkataan yang keluar dari dalam diri ini sangat tergantung dengan persepsi pikiran terhadap orang tersebut. Jikalau otak anda mengatakan “orang ini buruk” maka kitapun akan memperlakukannya dengan buruk. Bila otak ini menggolongkannya sebagai orang yang kasar maka perilaku dan perkataan kitapun akan menjadi kasar terhadapnya. Ketika kita otak anda merasa bahwa “orang ini jahat” maka sikap yang diekspresikan untuk menyambut orang tersebut juga kurang baik/ kurang enak di dengar orang. Kebiasaan mengingat-ngingat kesalahan masa lalu orang lain, itulah yang membuat sikap kita berbeda-beda terhadap sesama. Dari pada pikiran sibuk menghakimi seseorang lebih baik pusatkan hati dalam doa, firman dan puji-pujian kepada Tuhan. Jika anda bijak maka lupakan masa lalu, sambutlah hari ini seolah-olah anda telah dilahirkan kembali ke dunia yang baru dengan orang-orang yang baru juga. Alhasil, kitapun akan menyamaratakan sikap yang diekspresikan sehingga tetap konsisten: akrab, hangat, sopan dan ramah kepada semua orang. Selama pikiran anda positif dan tidak menghakimi orang lain di dalam hati maka selama itu pula kasih yang kita berikan selalu baru setiap hari. Salam – 100% melupakan masa lalu, 100% konsisten, 100% kasih mula-mula

Sikap adalah (1) tokoh atau bentuk tubuh; (2) cara berdiri (tegak, teratur, atau dipersiapkan untuk bertindak); kuda-kuda (tentang pencak dan sebagainya); (3) perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan; (4) perilaku; gerak-gerik (KBBI Offline). Merupakan perilaku, perkataan dan ekspresi yang keluar dari dalam diri manusia. Ini adalah hal yang berbeda-beda untuk setiap pribadi. Seperti kata pepatah, “sikap boleh sama tetapi niat hati yang berkilah siapa yang tahu?”.

Pikiran adalah (1) hasil berpikir (memikirkan); (2) akal; ingatan; (3) akal (dalam arti daya upaya); (4) angan-angan; gagasan; (5) niat; maksud (KBBI Luring). Merupakan hasil analisis situasi baik sekarang, masa lalu dan masa depan. Kekuatan terbesar manusia tidak terletak dari otot, tulang dan darahnya melainkan daya ledak terbesar itu adanya di dalam otak manusia. Artinya, maju-mundur, susah-senang, sakit-bahagianya kehidupan ini sangat tergantung dari isi hatimu, “dengan apa kamu mengisi dan memenuhi kepalamu?”.

Mari kami berikan sedikit perumpamaan.

Si Budi adalah orang yang suka beramah-tamah kepada banyak orang bahkan kepada semua orang. Tetapi ada satu keanehan yang dirasakannya dan selalu menjadi pertanyaan di dalam hati sampai saat itu. Sepertinya dia bisa merasakan dirinya begitu lembut ramah-tamahnya kepada orang-orang yang baru dikenal. Tetapi kepada mereka yang sudah lama dikenal dan menjadi teman-temannya, dia merasakan keramahannya terasa berat untuk keluar dan kalaupun itu keluar maka diucapkannya secara terpaksa. Dia terus menimbang-nimbang dalam hati sebab sebelumnya dari rumah ia telah mengambil komitmen untuk menyamaratakan setiap sikapnya baik kepada orang baru maupun kepada orang yang lama.

Bisakah anda membaca situasi yang dihadapi oleh sikawan itu? (1) Kebaikannya seperti mengalir kepada orang-orang yang baru dan (2) kebaikannya seperti tertahan di tenggorokan kepada orang-orang lama. Apa sebenarnya yang terjadi disini? Atau lebih tepatnya, apakah anda juga merasakan hal yang sama? Saat baru-baru pertama maka hubungan kita dengan orang lain menjadi sangat hangat dan begitu akrab. Akan tetapi lama kelamaan, semuanya menjadi dingin bahkan sekarang menjadi diam-diaman satu sama lain.

Mengapa kebaikan kita hangat dan akrab ketika masih baru?

Apakah saat ini anda sebagai pasangan suami istri merasakan begitu sayang satu sama lain sebab ini baru tahun pertama pernikahan? Ada kawan baru di kantor dan kitapun meresponnya dengan begitu ramah dan santun  sebab dia barulah seminggu menempati meja dan kursi itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah “karena selama itu kita belum menghakiminya, belum mengenal kelamahannya, belum bertemu dengan sisi gelap dari kehidupannya, belum mempetak-petakkan dan mengkelompokkannya di dalam pikiran dan diapun belum pernah melakukan kesalahan kepada kita maupun kepada orang lain sejauh ini.

Pikiran manusia memang liar dan suka menghakimi orang lain. Tetapi ketika masih baru-baru pertama ada kecenderungan masih belum kenal betul dengan pribadi yang ada di depan kita. Lagipula dia masih belum menyakiti diri ini maupun orang yang dekat dengan kita sehingga pikiran tetap positif terhadap sikawan. Ini seumpama ketika anda masih memiliki barang baru dibeli, yang diawal-awal tidak ada cacat bahkan tergorespun tidak sehingga hati begitu terpesona melihatnya. Saat kita belum menghakimi orang di dalam hati dan belum mengelompokkannya (ini orang jahat, ini orang baik, ini orang keras, ini orang tidak sopan dan lain sebagainya) maka selama itu pulalah kita bisa menyambut kehadirannya dengan ramah dan hangat.

Mengapa kasih kita memudar dan layu ketika sudah lama berkawan?

Mungkinkah saat ini anda sebagai pasangan sehidup semati merasakan waktu begitu lapuk karena tahun-tahun pertama pernikahan telah lama berlalu? Atau jangan-jangan ada teman kantor yang kita respon secara kasar karena sikapnya akhir-akhir ini yang kurang mengena di hati? Mengapa keadaan ini terus terjadi dalam kesehariaan anda. Bahkan ada sisi lain dalam hati ini yang berkata-kata bahwa “sudah muak dengan semua yang terjadi” dan ingin rasanya meninggalkan dan resign dari hadapannya.

Pada dasarnya, ketika hati kita telah menghakimi seseorang maka ada kecenderungan untuk memetak-metakkannya lalu menggolongkannya menjadi orang-orang yang posisinya lebih rendah-buruk di dalam pikiran sendiri. Hal-hal semacam inilah yang cenderung membuat hati berat dan cenderung menjadi negatif saat menghadapi seseorang. Artinya, pikiran anda yang negatif terhadap orang lain (menghakiminya karena kegagalan di masa lalu) membuat kebaikan-kehangatan-keramahan kita tidak mengalir seolah-olah tersendat di hadapannya.

Jangan menghakimi orang terus-menerus di dalam hati

Perhatikan firman ini : (Matius 7:1-2) “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Apa reaksi anda ketika menyaksikan kesalahan orang lain? Apakah menghakiminya lalu mengatakan kepada teman yang disamping “biarin aja mampus tuh orang”. Atau malah turut berbelas kasih mendoakan kesadarannya, “kasihanilah dan ampuni orang ini, ya Tuhan. Semoga ia menemukan pintu pertobatan”. Terus bagaimana pula ketika anda berjumpa dengannya di lain kesempatan? Apakah masih mengingat kekhilafannya lalu lagi-lagi menghakiminya dan menggolongkan orang-orang ini sebagai orang yang buruk, jahat dan kasar?

Tahukah anda bahwa ada pepatah mengatakan, “seperti apa pikiranmu maka seperti itulah kehidupanmu. Kamu adalah apa yang kamu yakini”. Jadi bagaimana mungkin sikap kita bisa baik, santun dan hangat dengan seseorang sedangkan hati ini telah menafsirkan dan menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang jahat dan kasar? Secara tidak langsung pikiran kita yang telah menghakimi seseorang turut membedakan sikap dan ekspresi yang kita tujukan kepada mereka.

Bila seseorang telah bersalah maka salahlah ia saat itu juga dan bukankah sanksi itu selalu satu paket? Artinya, setiap kesalahan pasti ada akibatnya, cepat ataupun lambat. Lalu mengapa kita masih terus mengingat-ngingat kesalahan itu di hari-hari berikutnya? Sadar ataupun tidak, ingat-ingatan tentang buruknya masa lalu seseorang turut mempengaruhi cara kita mendekati, berbuat dan berkata-kata kepadanya. Oleh karena itu hindari mengingat-ngingat kesalahan orang di dalam hati agar kebaikan ini bisa keluar dengan luwes kepada orang tersebut.

Hindari mengelompokkan orang dan setarakan semuanya di dalam hati agar sikap 100% konsisten

Bisa dikatakan bahwa salah satu hobi manusia teranyar adalah “menghakimi orang lain (manusiawi)”. Jikalau anda terus memelihara kebiasaan ini maka ada kecenderungan untuk mengelopokkan manusia, ini orang baik, kurang baik, jahat, kasar, tidak sopan, miskin, kaya dan lain sebagainya. Padahal apa kata firman tentang hubungan baik dengan orang lain? “Kasihilah sesamamu manusia seperti diri sendiri”. Jadi, hindari memetak-metakkan manusia melainkan perlakukanlah semuanya sama rata.

Tahukah anda bahwa sikap: perilaku dan perkataan yang keluar dari dalam diri ini sangat tergantung dengan persepsi pikiran terhadap orang tersebut. Jikalau otak anda mengatakan “orang ini buruk” maka kitapun akan memperlakukannya dengan buruk. Bila otak ini menggolongkannya sebagai orang yang kasar maka perilaku dan perkataan kitapun akan menjadi kasar terhadapnya. Ketika kita otak anda merasa bahwa “orang ini jahat” maka sikap yang diekspresikan untuk menyambut orang tersebut juga kurang baik/ kurang enak di dengar orang.

Kebiasaan mengingat-ngingat kesalahan masa lalu orang lain, itulah yang membuat sikap kita berbeda-beda terhadap sesama. Dari pada pikiran sibuk menghakimi seseorang lebih baik pusatkan hati dalam doa, firman dan puji-pujian kepada Tuhan. Jika anda bijak maka lupakan masa lalu, sambutlah hari ini seolah-olah anda telah dilahirkan kembali ke dunia yang baru dengan orang-orang yang baru juga. Alhasil, kitapun akan menyamaratakan sikap yang diekspresikan sehingga tetap konsisten: akrab, hangat, sopan dan ramah kepada semua orang. Selama pikiran anda positif dan tidak menghakimi orang lain di dalam hati maka selama itu pula kasih yang kita berikan selalu baru setiap hari.

Salam – 100% melupakan masa lalu, 100% konsisten, 100% kasih mula-mula

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s