Gejolak Sosial · Kepribadian · Santai

17 Bahaya Ego Yang Berlebihan – Sifat Egois Yang Terlalu Tinggi Tidak Baik Bagi Kehidupan Manusia

Dampak Negatif Ego Yang Berlebihan - Menyendiri Terus Tidak Baik Bagi Kehidupan Manusia

Ego adalah sebuah perasaan yang menganggap diri sebagai pusat dan puncak dari segala sesuatu. Ini adalah sifat yang sangat manusiawi sebab nyatalah bagi kita bahwa setiap orang dilahirkan sendiri-sendiri (kecuali anak kembar) dan dihakimi di akhirat kelak, juga secara sendiri-sendiri. Sekalipun demikian, Tuhan tidak membolehkan bahkan bisa dikatakan tidak membiarkan kita sendiri, seperti yang termuat dalam firman-Nya (Kejadian 2:18a) TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Jadi sudah tak terbantahkan lagi bahwa kebiasaan menyendiri terlalu lama tanpa alasan yang pasti akan membuat kita semakin jauh dari jalan kebenaran.

Bisa dikatakan bahwa sifat yang egosentris identik dengan perilaku menganggap diri sendiri sebaga sesuatu yang seperti tuan – raja – tuhan. Kalau boleh dikatakan bahwa mereka menganggap diri sendiri tidak pernah salah oleh karena itu enggan meminta maaf, menganggap dirinya lebih penting dari yang lain. Sama seperti seseorang yang berebut mendahulukan diri sendiri sembari menyikuk orang lain. Orang-orang yang tidak mengenal masalah atau lebih tepatnya selalu menolak untuk menanggung salib pergumulan hidup. Mereka begitu mendewakan materi dan kenyamanan di semua lini kehidupan adalah segalanya.

Ada apa dengan materi dan kenyamanan? Dua hal ini adalah baik adanya, sejauh mata memandang tidak ada yang salah dengan hal-hal duniawi ini. Kami juga pengguna materi dan sesekali menikmati kenyamanan. Akan tetapi mereka yang memiliki ego tinggi sangat ketergantungan dengan dunia luar untuk memuaskan dirinya. Tanpa adanya aspek-aspek eksternal maka hatinya tidak bahagia. Ini sangat dipengaruhi oleh fokus berpikir dalam segala waktu yang dilalui. Sebab mereka sangat ingin diakui/ dihargai/ dihormati/ dipuji oleh orang lain. Mereka lebih fokus tentang bagaimana sikap orang lain memperlakukan dirinya dan bukannya malah fokus untuk melakukan yang baik (berbagi kasih) kepada sesama.

Manusia dengan ego tinggi cenderung menuntut orang lain untuk melakukan ini dan itu, padahal dia sendiri tidak pernah melakukannya. Hawa nafsunya yang tinggi untuk diakui oleh orang lain tidak dibarengi dengan usaha untuk melakukan yang terbaik bagi sesama. Tidak bisa diajak kerja sama dalam tim karena kebiasaannya yang selalu “show power”, dengan bangga menunjukkan kelebihannya di hadapan sesama sembari sesekali menyindir anggota tim yang lainnya. Cenderung gila hormat dan menuntut orang lain untuk memperlakukan dirinya lebih baik sedangkan dia sendiri tidak pernah menghargai sesamanya.

Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang sangat cocok kepada mereka yang egois (Matius 7:12) “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Ini adalah sebuah tantangan kepada setiap kita manusia. Bila anda hendak dihargai maka hargailah orang lain, bila anda hendak diperlakukan dengan baik maka perlakukanlah orang lain dengan baik terlebih dahulu. Jika anda ingin dimaafkan oleh Tuhan maka terlebih dahulu maafkanlah orang-orang yang berbuat salah kepadamu. Ketika hendak hidup dalam berbahagia maka bahagiakanlah juga sesamamu dengan apa yang kamu miliki/ potensi/ bakat/ sumber daya semampunya.

Ada kecenderungan, mereka yang hidup dalam keegoisan lebih dekat dengan sifat yang perfeksionis: tidak mentolerir dan tidak memaklumi kekhilafan (ketelodoran di depan umum bukan karena dosa). Bila itu dilakukan oleh orang lain maka mereka akan tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi ketika hal tersebut dilakukan oleh diri sendiri maka rasa malunya besar sekali bahkan “sampai mau mati rasanya”. Ini terjadi karena mereka terlalu fokus pada kekhilafan yang dilakukan dan bukannya malah menyegarkan pikiran dengan senantiasa berdoa, mengucapkan firman dan bernyanyi dengan rendah hati memuliakan nama Tuhan.

Dampak buruk akibat sifat egois yang terlalu tinggi/ berlebihan dan tidak terkendali.

Egois tinggi adalah pertanda orang yang tidak pernah disakiti. Sekalipun mereka merasakan sakitnya hidup ini namun hal itu selalu dibawa pelarian kepada materi, hal-hal duniawi bahkan hal yang jahat sekalipun (merokok, mabuk-mabukan, nge-drugs, free seks) akan dijadikan sarana hiburan untuk melepaskan bebannya (katanya, padahal besoknya pasti balik lagi tuh rasa sakitnya). Hal-hal duniawi memang dapat menahan rasa sakit itu tetapi hanya sesaat saja. Lalu anda menggunakannya lagi >> efeknya hilang >> makai lagi >> manfaatnya sesaat hilang >> dan seterusnya. Pada akhirnya semua itu akan membuatmu ketergantungan, candu bahkan over dosis yang pada akhirnya menemui ajal sendiri atau net-netnya masuk panti rehabilitasi.

Mari menata ulang penghiburan hati disaat stres lalu merefresh otak dalam doa, firman dan nyanyian pujian kepada Tuhan. Temukanlah titik kenikmatan dan kedamaian saat menekuni hal ini. Pada suatu waktu kelak anda akan kecanduan untuk selalu memusatkan pikiran kepada Tuhan sehingga kadang terjadi secara otomatis. Candu untuk senantiasa fokus dalam doa, firman dan nyanyian pujian membuat kita tenggelam di dalam hadirat Tuhan. Jadi sekarang, pilih yang mana, kecanduan terhadap materi dan pengakuan dari dunia ini atau menjadi candu memikirkan Tuhan dalam doa, firman dan puji-pujian.

Berikut ini beberapa hal bahaya sikap hati yang syarat dengan egoisme.

  1. Jauh dari rasa kebersamaan.

    Tahukah anda bahwa kebersamaan itu ajaib? Ada banyak hal-hal unik yang spesial terjadi disana sekalipun tidak dapat dipungkiri ada suka dan dukanya. Asalkan kebersamaan yang kita jalin dilandaskan untuk tujuan yang benar. Bisakah anda merasakannya? Kami sudah merasakannya, temukan sendiri hal itu teman….

  2. Lebih fokus untuk meraih pengakuan/ pujian/ penghargaan/ penghormatan dari sesama.

    Orang yang begitu keakuan, menekuni hal tersebut bukan tanpa tujuan melainkan semua ego yang rumit itu diekspresikan semata-mata demi pengakuan/ pujian/ penghargaan/ penghormatan dari orang lain. Bila tujuannya saja sudah tidak suci lagi (tidak tulus) maka ada kecenderungan kedepannyapun akan menjadi lebih buruk lagi bahkan hal-hal yang jahat akan dilegalkan demi tercapainya niatan itu.

  3. Suka membanding-bandingkan manusia.

    Terlalu fokus terhadap lingkungan adalah tidak baik bagi kesehatan mental. Salah satu akibat jika kita terlalu fokus ke luar diri ini adalah kebiasaan/ kesukaan/ hobi membanding-bandingkan si A dan si B dan yang lainnya. Sadarilah bahwa sikap yang semacam ini akan menurunkan salah satu penyakit hati dalam diri anda yaitu kecemburuaan alias iri hati. Lagipula kebiasaan ini membuat hati jauh dari kebahagiaan.

  4. Meletakkan kepentingan pribadi lebih tinggi dari kepentingan bersama.

    Bisa dikatakan bahwa dia menganggap bahwa dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu dan harus didahulukan sebelum orang lain. Kecemburuan, iri hati dan amarah akan meluap dari dalam dirinya jikalau keberadaannya dilangkahi oleh orang lain.

  5. Menganggap diri lebih baik dan orang lain lebih rendah.

    Aku-aku dan aku, tidak ada yang lebih baik selain saya”, demikianlah perkataan manusia yang egonya tinggi. Selalu saja merasa (entah itu fakta atau sekedar opini) lebih baik dari orang lain. Kecenderungan ini semakin kentara saja saat dia lebih berkonsentrasi memikirkan keunggulan dan kelebihan sendiri dibandingkan dengan memusatkan pikiran pada firman, doa dan nyanyian pujian.

  6. Orang lain enggan berkawan atau tidak betah berlama-lama bersamanya.

    Teman-teman pada tidak nyaman ketika mereka bersama-sama dengannya. Sebab perkataannya cenderung tidak bersahabat dan keras juga terlalu sensitif terhadap gejolak. Juga termasuk tidak bisa diajak bercanda oleh orang lain.

  7. Kurang mampu bahkan tidak mampu bekerja sama.

    Karena terlalu mengedepankan kekuatan dan kemampuan sendiri dan tanpa mengajak anggota kelompok lainnya untuk bekerja sama. Karena dia bisa dan mampu maka semua dikerjakan sendiri. Sesungguhnya bisa memberi kesempatan kepada yang lainnya untuk turut berperan serta sehingga rasa kebersamaan itu lebih kental.

  8. Cenderung “show power” dan tidak memberikan kesempatan untuk maju kepada orang lain.

    Apa perbedaan pamer dan biasa saja? Ada efek berlebihannya. Hal-hal yang lebay ini bisa muncul karena telah dikuasai oleh keangkuhan sendiri. Kesombongannya telah benar-benar berkuasa sehingga cenderung lupa diri untuk mengotrol emosi saat hendak mengatakan atau melakukan sesuatu.

  9. Maunya unggul sendiri dan bila perlu orang lain tidak diberi kesempatan.

    Mau maju sendiri, itulah yang ada dalam benak orang yang egonya tinggi. Mereka cenderung menghindari bahkan meminimalisir terjadinya tekanan lalu menikmati hidup di dalam kesendiriaan. Kesempatan emas tidak akan disia-siakan namun ini dirahasiakan dari orang lain sehingga lebih banyak peluang disana.

  10. Menganggap diri sudah benar: perfeksionis.

    Biasanya mereka yang hidup egois sangat sombong untuk mengakui kelebihan orang lain. Justru mereka berupaya untuk mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan. Mereka menganggap bahwa dirinya sudah benar dan orang lainlah yang salah. Sikap yang memandang remeh orang lain dan cenderung tidak mau menerima kesalahannya lalu menganggap bahwa diri sendirilah yang pantas dicontoh sebagai model yang sempurna.

  11. Cenderung memaksakan kehendak.

    Biasanya orang yang keakuannya tinggi ingin diikuti oleh orang lain padahal dia sendiri masih terlalu minim sepak terjangnya dan sebelumnya tidak pernah mengikuti orang lain dengan setulus hati. Mereka lebih cenderung pada sikap yang memaksakan kehendak kepada orang lain sebab merasa diri sudah benar (perfeksionis).

  12. Menertawakan kesalahan.

    Saat seseorang menjadi egois maka ada kecenderungan untuk menilai segala sesuatu secara sepihak. Ketika menurutnya seseorang telah melakukan kesalahan maka mulai muncullah sungut-sungut, ejekan dan tertawaan dari dalam mulutnya.

  13. Tidak mengakui perbedaan.

    Karena terlalu menuntut orang lain menjadi seperti dirinya sendiri maka perbedaan sudut pandang sekecil apapun sudah menjadi masalah yang menjadi sumber perdebatan sengit diantara mereka.

  14. Yang dapat membahagiakan hatinya adalah perlakuan lingkungan sekitar

    Mereka sangat mementingkan apa yang kelihatan, cenderung tidak mau kalah dengan orang lain hingga ia benar-benar menemukan apa yang dia inginkan. Bila hawa nafsu telah menguasai seorang manusia maka tindakannya dan perkatannya dibutakan yang cenderung tidak lagi terkendali.. Kebahagiaan mereka sifatnya sementara/ sesaat saja.

  15. Mau menang sendiri dan enggan untuk dirugikan oleh orang lain.

    Terbiasa tidak bekerja sama maka dialah orang yang hendak unggul untuk unjuk gigi kepada yang lainnya. Jika dalam keadaan senang maka dia akan turut ikut serta akan tetapi ketika kesusahan menimpa kelompok maka mulailah sikawan cari aman agar bisa menemukan cela untuk menyelamatkan diri sendiri.

  16. Menentang keras paham kesetaraan dan keadilan sosial.

    Namanya juga egois, sudah barang tentu mereka yang menginginkan agar hanya dia yang maju sedangkan orang lain dijadikan dasar pijakan untuk kepentingan sempit. Telah kehilangan rasa belas kasihan sehingga cenderung menindas orang lain dengan kemampuan yang dimiliki. Ini dilakukan secara diam-diam ditempat-tempat tersembunyi.

  17. Menolak ujian kehidupan.

    Dia merasa tanpa harus diuji oleh orang lain tetap bisa hidup di dunia ini. Padahal dia tidak menyadari bahwa pemurnian hati lebih sering terjadi tanpa disadari alias otomatisasi dari kekhilafan yang dialami sehari-hari. Bagaimana mungkin kita menuntut teman sendiri yang notabene masih manusia biasa untuk selalu berlaku “yang benar-benar saja atau yang baik-baik saja”. Terkadang ketelodoran dalam pergaulanlah yang tidak sengaja menguji hati ini. Oleh karena itu jadilah kuat tapi tetapi tetap lembut dalam bersikap.

  18. Tidak menyukai rasa sakit.

    Entah karena belum terbiasa atau entah karena kurang konsisten menjalani hidup, entah karena kurang memberi toleransi. Pada dasarnya rasa sakit itu muncul karena ketidakmampuan kita untuk mengalahkan kesombongan yang ada di dalam hati. Selama keangkuhan itu belum dihancurkan maka selama itu pula ego yang berlebihan menjadi pemandangan biasa.

Egois ke luar tidak ada faedahnya sebab kita hidup dalam kebersamaan. Lebih baik hilangkan atau mulai menepis ego yang syarat dengan kenyamanan itu lalu mencicipi juga yang namanya rasa sakit. Sebab biar bagaimanapun hidup ini butuh keseimbangan, nyaman terus tidak baik dan sakit terus juga tidak baik. Lebih baik bila egosentris diwujudkan dalam pikiran semata bagi diri sendiri, itupun ditujukan untuk senantiasa memusatkan hati kepada Tuhan dalam doa, firman dan puji-pujian.

Bisa sifat yang egois telah bercampur dengan kesombongan maka dua sifat buruk ini merupakan teman sejoli yang dapat menjerumuskan kehidupan anda ke jalan yang menyimpang. Oleh karena itu, bergaul akrab bersama orang lain (dalam keluarga dan sistem), sangkal diri-rendahkan hati, terimalah semua apa adanya, hindari memaksakan kehendak, ikhlaskan diri untuk di tekan dan jadilah orang yang peduli dengan sesama disaat yang tepat (ramah tamah) dan mengabaikan hal-hal yang buruk juga disaat yang tepat (acuh tak acuh).

Salam hidup damai!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s