Anak · Gejolak Sosial · Kecerdasan Manusia · Keluarga · Pernah Muda

10 Cara Mendidik Anak Agar Patuh Pada Orang Tua – Bahaya Mengarahkan Ketakutan Anak Agar Taat Kepada Ortu Melainkan Arahkan Untuk Segan Dengan Peraturan Itu Sendiri

Cara Mendidik Anak Untuk Patuh Kepada Orang Tua – Bahaya Mengarahkan Ketakutan Anak Agar Taat Kepada Ortu Melainkan Arahkan Untuk Segan Dengan Peraturan Itu Sendiri

Taat adalah (1) senantiasa tunduk (kepada Tuhan, pemerintah, dan sebagainya); patuh; (2) tidak berlaku curang; setia; (3) saleh; kuat beribadah. Sedangkan patuh adalah suka menurut (perintah dan sebagainya); taat (pada perintah, aturan, dan sebagainya); berdisiplin (KBBI Offline). Merupakan sikap yang setia untuk menekuni sesuatu. Sikap ini tidak bisa dibeli dengan uang, perak ataupun emas. Melainkan hanya dapat dilatih dan dibimbing dalam lingkup sistem yang menjunjung tinggi kebersamaan. Tanpa tunduk kepada sebuah sistem maka manusia akan benar-benar menjadi pribadi yang bebas layaknya kebebasan binatang di alam rimba sana dimana segala sesuatu adalah sah, asal anda memiliki kekuatan dan sumber daya untuk meraihnya.

Tanpa sistem yang baik maka kemungkinan besar akan terjadi strata sosial yang jauh berbeda antara yang kuat dan yang lemah, antara yang pintar dan yang bodoh, antara yang kaya dan yang miskin dan lain sebagainya. Perbedaan yang sangat jauh dan tidak seimbang ini jugalah yang sering sekali menyebabkan kecemburuan sosial yang menyebabkan timbulnya sifat membangkan (tidak taat aturan) sehingga sewaktu-waktu dapat beresiko menyebabkan konflik horizontal di dalam masyarakat.

Ketaatan dimulai dari keluarga

Jangan suka menyendiri, setiap orang harus hidup dalam sistem atau lebih populernya dalam suatu organisasi. Komunitas yang paling sederhana di dunia ini adalah “keluarga“. Setiap dari kita harus menjalin hubungan yang baik dari dalam keluarga. Disinilah peran orang tua membangun sikap patuh bagi seluruh anak-anaknya. Selain itu patut juga dipahami agar buah hati anda tidak takut kepada ayah dan bunda melainkan segan dengan peraturan yang telah di tetapkan.

Memindahkan kepatuhan bukan kepada manusia melainkan kepada peraturan

Setiap orang tua perlu memulai untuk mengarahkan buah hatinya agar taat dengan keputusan yang telah disepakati bersama. Tidak mudah untuk mengajari mereka, lebih tepatnya tidak semudah mengkomunikasikan sesuatu kepada orang yang dewasa. Diperlukan bahasa yang sederhana dan tetap menarik untuk di dengarkan anak anda. Mulailah dari hal-hal yang biasa ia lakukan sehari-hari, misalnya saat bangun, makan, mandi, ke sekolah, pulang sekolah, hendak tidur dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, lebih mudah mengajari anak untuk patuh pada rutinitas yang biasa dilakukannya setiap hari. Sebab kebiasaan mudah di ingat sedangkan yang digunakan pada waktu-waktu tertentu saja justru lebih mudah dilupakan. Oleh sebab itu, buatlah beberapa aturan pada hal-hal yang biasa dilakukannya. Misalnya, apa yang perlu dilakukan saat baru bangun tidur (misal merapikan tempat tidur), saat hendak makan (misal menyuci tangan), saat berangkat kesokolah (misal berpakaian dengan rapi dan pamitan) dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Harap berhati-hati dalam menetapkan suatu peraturan, pastikan itu dibuat bersama-sama dengan anak anda. Ingatlah untuk mengatur hal-hal yang wajar saja, hindari mengatur hal-hal yang sifatnya terlalu berlebihan untuk menjaga kebebasan berekspresi. Sadarilah bahwa peraturan yang terlalu banyak justru beresiko membuat buah hati anda tidak mampu mengekpresikan diri dan menjadi diri sendiri. Sebaliknya, tanpa peraturan di dalam keluarga, maka kebebasan keterlaluan akan mencelakakannya, kapan lagi belajar taat kalau tidak dimulai dari rumah sendiri?

Ingat untuk tidak langsung marah saat terjadi pelanggaran melainkan tegur seperti biasa dan beri toleransi yang agak longgar. Buah hati anda bukan robot yang jika diperintahkan A selalu melakukan A, diperintahkan B selalu melakukan B dan seterusnya. Sadarilah bahwa khilaf itu manusiawi, kami juga mau memberi kesaksian bahwa dahulu diri ini adalah pembuat masalah yang rawan sekali malu-maluin di depan umum. Mungkin beberapa teman sekolah kami masih mengikat ulah kami dahulu. Oleh karena itu, jika anak anda melakukan kesalahan di depan umum, jangan menambah tekanannya dengan marah-marah padanya melainkan biarkan saja sehingga ia bisa belaja sesuatu dari kekhilafan itu.

Mengarahkan keseganan anak kepada peraturan bukan menakut-nakutinya agar patuh kepada orang tua

Setiap orang tua yang baik tidak berusaha untuk menakut-nakuti anak-anaknya agar patuh kepadanya melainkan berusaha mengalihkan kepatuhan itu dari dirinya kepada peraturan. Kebanyakan orang menganggap dirinya adalah “aturan yang berjalan” sehingga apapun yang dikehendaki dan dikatakannya harus senantiasa diikuti oleh orang lain termasuk oleh darah dagingnya sendiri. Sifat semacam inilah yang membuat seseorang cenderung memaksakan kehendak sehingga dikit-dikit udah ceng dan langsung marah-marah dengan sesamanya. Padahal ini sama seja menganggap diri kita sebagai “pusat dari segala sesuatu” alias “raja bin ajaib” (untuk masyarakat primitif)” alias “meninggikan dan menganggap diri sebagai tuhan”. Simak juga, Tips & trik mengatasi rasa takut berlebihan.

Hindari mengarahkan kepatuhan buah hati anda kepada diri sendiri (orang tua) sebab ini adalah salah satu bentuk kesombongan. Berusahalah agar buah hati anda tidak takut kepada orang tuanya melainkan jadilah sahabat yang baik bagi mereka. Kemudian arahkanlah ketakutan dan rasa segan mereka kepada peraturan, Kitab Suci (tokoh dalam Kitab Suci atau Allah sendiri yang hadir dimana-mana), bisa juga pada undang-undang yang telah disahkan oleh lembaga tertentu baik dalam bidang keagamaan maupun dalam bernegara.

Anda (Ayah dan Bunda) tidak selalu hadir disisi/ disamping mereka. Mustahil ortu berkesempatan mengawasi anaknya 24 jam nonstop: ini sama saja dengan sikap yang over protektif. Jika orang tua mengarahkan anak untuk takut kepada mereka (Bapa-Ibunya) maka kemungkinan besar ketika kedua ortunya tidak ada didekat/ disekitarnya, dia cenderung membangkang/ melanggar aturan. Inilah dampak kedua saat kita tampil sebagai “aturan yang berjalan”. Akan tetapi, lain ceritanya saat rasa segan anak langsung kita arahkan kepada peraturan yang dimaksud, niscaya selama dia masih ingat dengan hal tersebut maka selama itu pula sikapnya “tetap memengang teguh” aturan yang dimaksud.

Bahaya mengarahkan ketakutan anak kepada orang tua

Hindari menjadi Ayah dan Bunda yang ditaktor sebab yang sedang dididik adalah anak manusia bukan anak hewan (anjing atau kucing dan yang lainnya). Berikut beberapa dampak buruk ketika para ortu lebih gemar mengarahkan ketakutan si kecil kepada orang tua.

  • Cenderung menciptakan ketakutan dalam hati si anak hingga mengalami gangguan mental.
  • Si buah hati hanya mentaati peraturan saat orang tuanya ada di dekat/ disekitarnya. Bila ortunya pergi maka “Selamat jalan aturan!“.
  • Ada kemungkinan mereka akan meniru perilaku tersebut dan melampiaskan dendam yang sama kelak atau kepada orang-orang disekitarnya.
  • Dampak negatif yang terakhir adalah ketakutan yang diciptakan cenderung menghalanginya untuk berkespresi menemukan dirinya sendiri.

Cara membuat anak menjadi patuh ke pada orang tua

Ketidaktaatan/ ketidakpatuhan adalah manusiawi, jika darah daging anda pernah melakukannya maka hal tersebut merupakan kesempatan baik untuk mulai melatihnya dalam lingkaran kepatuhan yang sudah tersedia di sekitar anda. Berikut beberapa hal yang bermanfaat untuk membuat anak menjadi lebih patuh kepada Ayah dan Bunda.

  1. Jadilah contoh yang baik bagi anak anda.

    Jika anda hendak membentuk anak menjadi orang yang baik maka tampillah baik didepannya, membentuk anak menjadi orang yang patuh maka taatilah aturan yang berlaku disekitar anda, mau membentuknya menjadi jahat maka marah-marahlah dihadapannya, membuat dia menjadi orang jahat maka lakukanlah kejahatan didepan matanya. Orang tua adalah model yang ideal bagi kehidupan anak di dalam suatu keluarga.

  2. Kepatuhan yang baik itu totalitas, tersistem dan berkelanjutan.

    Kita hidup di dalam kebersamaan yang tunduk kepada masing-masing sistem yang tersedia. Jangan harap buah hati anda menjadi orang yang patuh sedangkan di dalam (peraturan) umat beragama, sekolah, lalulintas, pada tempat tertentu (misalnya perpustakaan, kantor dan lainnya) suka melanggar peraturan. Ketaatan adalah sebuah totalitas: hindari sikap yang tidak seimbang, mematuhi aturan disana sedang yang disini tidak.

  3. Buatlah peraturan sendiri di dalam keluarga, bila perlu tuliskan itu agar selalu diingat.

    Untuk organisasi yang lebih besar maka peraturannya dibuat oleh orang-orang disana. Sedangkan bagi organisasi yang sederhana seperti keluarga maka buatlah aturan sendiri berdasarkan kesepakatan bersama. Tuliskan itu dengan jelas dan bila perlu letakkan di tempat yang mudah dilihat seperti di belakang pintu, di samping kaca dan lain-lain.

  4. Hindari aturan yang terlalu bertele-tele.

    Anak anda jelas saja tidak mungkin menghafal/ mengingat sekaligus kaidah-kaidah yang begitu banyak melainkan sesuaikan jumlah peraturan tersebut dengan umurnya. Bila umur semakin besar maka jumlahnya boleh meningkat. Sebaiknya hindari aturan yang bertele-tele sebab mubazir rasanya untuk menghabiskan waktu yang begitu berharga demi menjalankan aturan ini dan itu. Berikan waktu untuk berpikir, bersantai dan bermain sehingga mental dan fisik anak sama-sama berkembang.

  5. Berikan sanksi sosial yang nyata.

    Aturan yang baik ada sanksinya tetapi tidak semua peraturan memiliki sanksi yang jelas. Sebagian hukum yang berlaku hanya berupa himbauan yang tidak begitu mengikat. Tetapi untuk pelanggaran yang sifatnya fatal dan berkelanjutan, dibutuhkan sanksi sosial yang menyertainya.

    Kesalahan harus selalu dimaafkan (termasuk ketidaktaatan) tetapi sanksinya tetap ada, hanya saja biarlah itu merupakan sesuatu yang wajar.

    Tidak perlu juga bersikap berlebihan “dimana bersalah maka disitu langsung dihukum” melainkan anda dapat membicarakan tentang hal ini di saat-saat tertentu, misalnya di malam hari saat bersekutu bersama sesaat sebelum tidur/ sesudah bangun pagi. Bisa juga dengan menentukan waktu-waktu tertentu untuk melakukannya.

  6. Latih untuk segan dengan peraturan bukannya karena ketakutan karena kehadiran kita (orang tua).

    Hindari menjadi orang tua yang gila hormat sehingga mengehendaki anak harus tunduk 100% kepada orang tua. Sadarilah bahwa ini merupakan suatu kesombongan. Untuk menjadi orang tua tidak butuh pujian melainkan lakukanlah tanggung jawab itu dengan penuh keikhlasan untuk kemuliaan nama Tuhan.

    Hindari mengarahkan ketakutan anak kepada orang tua sendiri melainkan arahkanlah rasa segan itu langsung kepada aturan yang dimaksud. Sehingga sekalipun Ayah dan Bunda tidak ada disekitar si buah hati tetap mematuhi aturannya.

  7. Jadilah sahabat bagi mereka bukan seorang raja kepada bawahannya.

    Miliki komunikasi yang terbuka dengan anak, sesekali berikan waktu sejenak untuk mendengarkan kisah cerita yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak lupa juga untuk membiasakan diri menyentuh anak dengan lembut: memegang tangan, bersalaman, mengelus kepala/ punggung/ pundaknya, berpelukan dan lain sebagainya yang masih dalam batas kewajaran.

    Hindari sikap yang menganggap dan menempatkan diri lebih tinggi dari si buah hati melainkan rendahkan hati lalu jadilah sahabat yang dekat di hati mereka. Tidak perlu bersikap diktaktor sebab zaman kerajaan dan budaya primitif sudah lama berlalu.

  8. Biasakan untuk tidak mudah marah melainkan bersabarlah lebih banyak karena anak anda masih belajar.

    Marah itu baik asalkan jangan sampai “sedikit-sedikit marah”. Melainkan kedepankan kesabaran saat anda menghadapi situasi yang sulit bersama anak. Ingatlah bahwa seberapa sabar anda hari ini kelak akan ditiru olehnya. Saat situasi memburuk dan keinginan untuk marah-marah itu mulai muncul maka silahkan melakukan.

    • Tarik nafas sedalam-dalamnya dan berusahalah untuk bernafas seperti biasa.
    • Hindari ketegangan di otot dengan membiarkan badan rileks/ santai saja.
    • Silahkan merefresh/ menyegarkan pikiran dengan mengembalikan semuanya itu dalam rasa bersyukur yang penuh kerendahan hati.
    • Bila amarah tetap memuncak maka hancurkan kesombongan itu dengan cara mengatakan “saya pantas mendapatkannya, hinakan saya yang hanya sampah yang tidak berguna ini di hadapan-Mu, ya Tuhan….”.
    • Bicaralah baik-baik dari hati ke hati lalu mulailah menjelaskan semuanya itu.
    • Memberi penjelasan tentang beratnya sanksi yang akan ditanggung kelak.
    • Penjelasannya juga dapat berupa sebab-akibat.
    • Bisa juga menghubung-hubungkan antara dunia dan akhirat.
    • Pada dasarnya, daripada anda marah-marah tidak jelas maka lebih baik menjelaskan kepada anak tentang ini dan itu sehingga dia lebih mengerti. Harap juga diketahui bahwa pengertian si kecil tidak sama dengan pengertian orang tua. Ada kalanya perlu diingatkan berulang-ulang atau salah berulang-ulang barulah mereka mengerti.
    • Di atas semuanya itu, ada kalanya juga setiap orang tua hanya perlu berdiam diri sambil menghubungkan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian sehingga pikiran di bersihkan dari segala sifat kebinatangan (kebencian/ kesal, dendam, amarah dan kekerasan).
  9. Beri kesempatan untuk bersosialisasi, berteman dan bermain.

    Memang ada waktunya untuk belajar dan menyendiri tetapi ada juga waktunya untuk bersosialisasi bersama orang lain/ teman-teman. Tidak baik jikalau anak terus menerus menyendiri melainkan berikan waktu juga untuk bermain dan berkumpul dengan teman sebayanya. Sadar atau tidak saat kita bersama orang lain maka ada aturan khusus yang tidak tertulis yang diterapkan oleh masing-masing orang. Demikian juga saat bersama ada kemungkinan bagi mereka untuk saling mengingatkan satu sama lain tentang hal-hal tertentu.

  10. Tahukah anda bahwa terkadang Tuhan menguji para orang tua melalui sikap anak yang tidak mematuhi hal ini dan itu.

    Hidup ini penuh ujian, karena itu jalani saja dan terima apa adanya. Kadang Tuhanpun bisa menguji kita lewat sikap buah hati yang tidak bisa diatur. Sadarilah bahwa ujian kehidupan semacam ini turut melatih kesabaran untuk tetap bersikap tenang dalam situasi yang buruk sekalipun. Jika di dalam keluarga anda dapat menjadi orang yang tabah niscaya di luar lingkungan sekitarpun, kita mampu menjadi orang yang tegar tapi lembut dalam menghadapi segala sesuatu.

Membuat anak menjadi patuh bukanlah perkara yang mudah. Ini terutama disebabkan karena mereka lahir bodoh. Cara mendidik yang kita terapkanlah yang menentukan maju-mundurnya kecerdasan intelektual, emosional dan juga spiritual. Tanpa pendidikan yang baik maka mereka akan kehilangan kemanusiawiaanya yang positif dan lebih cenderung pada kemanusiaan yang negatif. Oleh karena itu, mulailah mendidik anak dari sekarang sehingga lebih sabar, kuat, santun, cerdas dan bijak dalam mengarungi jalan kehidupan di dunia yang sementara ini.

Salam santun tapi tegar…..

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s