8 Alasan Mengapa Tuhan Tidak Perlu Dibela – Daripada Membela Allah dan Ajaran-Nya (Agama) Lebih Baik Pastikan Pikiran, Perkataan dan Perbuatanmu Sudah Tepat Benar

Alasan Mengapa Tuhan Tidak Perlu Dibela - Daripada Membela Allah dan Ajaran-Nya (Agama) Lebih Baik Pastikan Pikiran, Perkataan dan Perbuatanmu Sudah Tepat Benar

Kristen Sejati – Tuhan adalah  (1) sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya; (2) sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan. Allah adalah nama Tuhan dalam bahasa Arab; pencipta alam semesta yg mahasempurna; Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh orang yang beriman (KBBI Offline). Merupakan entitas yang mengisi seluruh alam semesta sebab Dialah yang maha hadir di segala waktu sepanjang masa.

Dialah yang menciptakan kita yang kecil bahkan saking rendahnya hanya sebagai debu diantara seluruh alam semesta yang diciptakannya. Manusia itu hina dan tidak ada artinya di mata Tuhan. Sungguh, sebaik apapun kondisi kita saat ini, tidak akan pernah bisa menggapai Surga-Nya jikalau bukan karena Dia sendiri yang mengehendaki hal tersebut. Hanya kemurahan hatinyalah yang membuat kehidupan kita menjadi lebih baik dari hari ke hari sehingga dimampukan untuk menggapai Surga-Nya.

Manusia selalu diuji dalam berbagai bentuk agar kelihatan “apakah dia murni, mungkin sekedar ikut-ikutan, jangan-jangan munafik atau jahat?”.

Sebelumnya, apa alasan Allah membuang kita (lebih tepatnya nenek moyang manusia: Adam dan Hawa) dari tempat terindah di bumi dan dari pusat kenyamanan dunia dimana semua sudah tersedia disana, yaitu Taman Eden? Ini dilakukannya tidak lain untuk menguji dan memurnikan hati manusia yang syarat dengan hawa nafsu yang sesat dan kecemburuan. Demikianlah dunia ini adalah dapur peleburan, tempat menguji niat dan ketulusan hati setiap dari kita. Jadi, jangan pernah berharap duduk dengan nyaman dan terlelap dengan tenang setiap detik di dunia ini. Hanya ketentraman dan kedamaian hatilah yang dapat anda temukan disini sebab mustahil mampu mengendalikan semua orang yang berada disekitar anda.

Tahukah anda bahwa Allah bisa saja mengkondisikan Adam dan Hawa saat itu untuk menjadi patuh dan taat 100% kepada perintah-Nya? Ia bisa saja mengsiagakan malaikat-malaikat-Nya disekitar nenek moyang kita sehingga ular si iblis itu tidak menggoda mereka. Namun, apa yang terjadi? Dia membiarkan manusia dicobai/ diuji oleh iblis sehingga nampaklah bagaimana jahatnya hati manusia itu. Jadi, jika Adam dan Hawa saja yang berada langsung di bawah pengawasan Tuhan di Taman Eden dapat diuji oleh iblis maka terlebih lagi kita yang masih hidup di dunia yang fana ini.

Dunia dengan segala yang ada didalamnya adalah dapur peleburan untuk (1) membuat pedang yang tangguh, (2) untuk memisahkan perak dan besi dari emas, (3) untuk membentuk sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi Penciptanya maupun bagi sesama. Tidak mungkin menghindar dari proses pemurnian dan pembentukan ini sebab kita sudah di dalamnya. Yang mungkin terjadi adalah (a) menundanya atau malah (b) menimbunnya hingga terakumulasi pada suatu waktu dalam bentuk yang tidak bias dan waw…. Pada akhirnya ujian kehidupan yang kita alami hari lepas hari akan menentukan apakah anda adalah orang yang benar-benar murni, atau hanya sekedar ikut-ikutan, mungkinkah munafik, atau memang jahat adanya.

Penyakit para pelayan dan hamba Allah zaman sekarang

(Matius 23:11-15) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.  [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Tahukah anda bahwa penyakit para imam dan orang farisi di jaman dahulu kala adalah “tidak tulus”. Mereka menekuni ajaran agamanya, semata-mata demi uang, penghormatan, penghargaan, pujian dan ketenaran di mata masyarakat luas. Selain mencari nama di mata masyarakat mereka juga berlaku demikian untuk mencari nama dimata para pemimpin kala itu (terutama dari kalangan orang Romawi). Keadaan ini menunjukkan bahwa para pemimpin agama beresiko menyimpang karena tidak bekerja untuk kemuliaan nama Tuhan melainkan demi kemuliaannya dan kelompoknya.

Tuhan Yesus telah memperingatkan hal ini sejak dari dahulu kala. Ada baiknya setiap pemimpin agama mulai mengoreksi dirinya sehingga terbebas dari kepentingan sempit untuk diri sendiri dan kelompok tertentu. Sistem partai dan organisasi yang tersebar diseantero negeri saat ini, membuat Indonesia beresiko terpecah belah. Janganlah juga para tokoh agama semakin memperparah situasi tersebut sehingga bangsa ini semakin jauh dari persatuan dan kesatuan sampai-sampai tercerai berai. Ingatlah bahwa siapa yang meninggikan dirinya akan direndahkan sedangkan siapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan.

Perlukah Tuhan dan ajaran-Nya dibela atau perlukah agama dibela? Faktor penyebab Tuhan tidak perlu di bela

Menjadi pemimpin agama jangan sampai kepedean, kita bertugas untuk mengarahkan, membina dan mendidik sesama manusia untuk memuliakan Tuhan bukannya justru terbakar hawa nafsu sehingga ingin juga dipuji dan disembah layaknya pencipta. Hawa nafsu yang semacam inilah yang membakar para tokoh agama sebab mereka menganggap dirinya atau lebih tepatnya kepedean sehingga berpikir bahwa ia adalah wakil Tuhan/ transformasi Allah sendiri di tengah dunia ini. Inilah paham yang sesat itu, padahal manusia hanyalah hamba yang tidak berguna.

Dalam Alkitab, ada banyak nabi yang dianiaya dan dibunuh oleh masyarakat bahkan Yesus Kristus sendiri dihina, diludahi bahkan sampai mengorbankan nyawanya demi ajaran dan keyakinan yang dihidupinya. Tetapi mengapa para hamba Allah zaman sekarang dicobai dikit aja udah ngambek, hanya dicolek dan disentuh sudah geram, hanya diejek sedikit saja sudah lebay lalu berkoar-koar mengatas namakan ujian yang terjadi itu sebagai penghinaan terhadapa Allah. Bukankah ini justru menegaskan bahwa jika hamba-hamba yang terpelajar saja tidak tahan uji, apalagi ajarannya dan para pengikutnya.

Sebenarnya, mari bertanya dalam lubuk hati yang paling dalam, perlukah kita membela agama? Perlukah manusia yang fana dan hina ini membela Allah yang maha tinggi? Atau jangan-jangan kita hanya terbakar api emosi karena dihasut, diintimidasi dan diprovokasi oleh para pemimpin agama sendiri yang notabene gila uang, pujian, penghormatan, penghargaan dan popularitas? Berikut ini beberapa alasan mengapa Tuhan dan ajaran-Nya tidak perlu di bela.

Allah itu tidak kasat mata dan tidak ada hubungannya dengan simbol-simbol

  1. Allah yang mulia tidak tersentuh oleh manusia yang hina.

    Tahukah anda bahwa kekuatan, keperkasaan dan kemuliaan Allah tidak dapat dibandingkan dengan kemampuan manusia yang lemah dan fana ini? Sekalipun anda berusaha untuk menjatuhkan tahta-Nya namun siapapun dia tidak dapat melakukannya. Walaupun anda berusah menghina dan merendahkan ajaran-Nya namun tetap saja ada orang yang mau dengan rela hati memuji dan memuliakan nama-Nya di luar sana. Jadi jangan terlalu sepele lalu menganggap rendah Allah kita sehingga berpikir Ia tidak dapat melakukan apa-apa. Jika memang Ia mau maka ia pasti sudah bertindak dari awal. Kalau Allah saja diam saat dihina dan direndahkan orang lain lalu mengapa kita menjadi sok tahu (angkuh) sampai-sampai menghakimi orang tersebut? Jangan berani mendahului Allah atau anda akan kualat!

  2. Dunia ini adalah dapur ujian kehidupan, bila dalam kata-kata saja kita tidak tahan uji maka orang lainpun bisa menilai betapa lemahnya iman kita dihadapn-Nya.

    Janganlah kita menjadi anak manja, saat ada apa-apa maka langsung jadi pengecut lalu berlindung dibelakang hukum yang lebay (terlalu berlebihan/ mengarang/ mengada-ada) lalu sekonyong-konyong menuduh orang lain telah melakukan penodaan/ penghinaan terhadap Agama. Melainkan hadapi saja ujian kehidupan yang merendahkanmu itu. Hindari membawa-bawa nama Tuhan, sebab biar bagaimanapun Ia tetap dipuja oleh para pengikutnya bahkan batu-batupun akan memuji-muji nama-Nya jika memang tidak ada lagi manusia yang mau memuji dan memuliakan nama-Nya.

    Mari menjadi orang yang dewasa lalu menghadapi ujian itu untuk melatih mental kita menjadi lebih kuat melaluinya. Jangan mengatasnamakan penghinaan/ penodaan/ penistaan terhadap agama padahal Tuhan saja tidak pernah keberatan digituin (buktinya ia tidak menghukum orang tersebut dengan mengirim malaikat-Nya atau mengirim bencana) lalu mengapa kita begitu sewot/ repot? Sadarilah tahta kebesaran dan kemuliaan-Nya tidak akan pernah jatuh sekallipun manusia berupaya menghina dan membinasakannya. Melainkan firman-Nya akan berlaku kekal sampai selama-lamanya.

  3. Allah adalah kasih oleh karena itu jangan menghakimi orang lain.

    Bila Allah yang kita kenal bukan kasih maka buat apa Dia yang maha tinggi, maha besar dan maha kuasa itu mau repot-repot melihat kepada kita manusia hina yang hanya debu dan dianggap sampah ini? Bahkan Ia-pun dengan rela hati mengutus hamba-hamba-Nya untuk mengajar kita agar semua umat manusia beroleh petunjuk sampai selamat masuk ke Sorga di akhirat. Ia sangat bermurah hati kepada kita hingga mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi tumbal demi menanggung dosa-dosa manusia.

    (I Korintus 13:4-7) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

    Allah adalah kasih sedangkan kasih itu sabar. Bila Dia yang hebat dan besar itu sabar menghadapi penodaan agama dan penghinaan ajaran-Nya dengan tidak bereaksi apa-apa (tidak mengirim bala tentara Sorga untuk menghakimi) kepada para pemfitnah/ penghina yang merendahkan (penodaan agama) ajaran-Nya. Maka terlebih lagi bagi kita antar sesama manusia harusnya saling sabar agar mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan aksi balasan terlebih jangan sampai melakukan kekerasan.

  4. Membela Allah yang maha tinggi dengan kekerasan adalah merendahkan/ menghina Allah.

    (Matius 26:51) Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”

    Jadi jangan sok-sok’an membela Allah dan ajarannya lalu melegalkan kekerasan sebab Ia tidak menyukai kekerasan. Oleh karena itulah, ajaran-Nya tidak pernah jauh dari kasih. Pada dasarnya Allah mampu dan sanggup untuk mengirimkan malaikat-Nya, jika memang Dia hendak membela diri. Akan tetapi lihatlah, Tuhan sendiri santai dan tetap tenang menanggapinya lalu mengapa kita risih? Jangan GR, lalu bertindak keras terhadap penghinaan/ penistaan itu sebab bisa jadi Ia sengaja membiarkan hal ini untuk menguji para pengikut-Nya. Apakah iman kita tahan uji atau hanya selempengang kulit pembalut tulang sehingga colek/ cucuk sedikit udah sakit/ luka/ luntur/ hancur. Bukankah ini yang sesungguhnya menandakan betapa lemahnya keyakinan kita tentang keberadaan dan kemahkuasaan-Nya.

  5. Tuhan tidak butuh perhatian kita melainkan kita harus lebih memperhatikan diri sendiri apakah sudah benar.

    (Lukas 23:28) Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!

    Sangat jelas, Nabi tertinggi saja di dalam Alkitab tidak masalah baginya jika dihina, diejek bahkan disalibkan sekalipun demi ajaran yang diyakininya. Lalu mengapa kita para pengikutnya begitu lebay (berlebihan) saat ada orang yang merendahkan bahkan menghina keyakinan yang kita miliki? Bukankah ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kita tidak tahan uji? Bermental lemah bahkan rapuh?

    Daripada berlelah dan capek membela agama dan Tuhan maka lebih baiklah kita mengurusi diri sendiri dan memperhatikan baik-baik apakah selama ini sikap kita sudah tepat benar? Bukan agamamu yang membawamu ke Surga melainkan imanmu.

  6. Perbedaan pendapat itu biasa, biarkan saja. Seiring waktu berlalu semuanya akan terbukti.

    (Kisah Para Rasul 5:34-39) Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang: “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.” Nasihat itu diterima.

    Ketika para Rasul diperhadapkan di depan mahkamah agama Yahudi, mereka dituduhkan macam-macam dan salah satunya adalah pasal penghinaan dan penistaan terhadap agama. Tetapi seorang yang sangat bijak muncul dan menyatakan bahwa perbedaan itu adalah hal yang lumrah terjadi. Masih ingat dengan perumpamaan “gandum dan ilalang”. Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajak seluruh umat untuk tidak saling menghakimi melainkan biarlah waktu yang menguji semuanya itu. Ajaran yang benar akan bertahan tatapi yang tidak benar akan tersisih seiring dengan berjalannya waktu. Sebab bisa saja keputusan yang menghakimi orang lain melawan kehendak Allah.

  7. Jangan cari-cari alasan untuk melarikan diri, bilang saja jika anda tidak tahan uji menghadapi cobaan dalam hidup ini.

    Simaklah firman ini yang terambil dari Matius 15:7-9 yang berkata demikian : Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

    Apakah yang lebih tinggi dari hukum taurat di dunia ini? Bukankah ini adalah undang-undang yang telah ditetapkan Tuhan untuk mencpai Surga? Lalu apakah di dalam hukum Taurat ada dibicarakan tentang penghinaan/ penodaan/ pelecehan agama? Hanya imam-iman dan orang farisi yang gila hormat dan pujian sajalah yang menjadikan penghinaan/ penodaan/ pelecehan agama sebagai sesuatu yang salah sebab “merekalah (para imam dan ahli taurat) yang malu-maluin sebab tidak bisa beradu argumen dengan orang lain (murid Yesus)”. Keyakinan anda harus berlandaskan pada suatu dasar yang kuat, teguh dan kokoh. Sehingga sekalipun orang lain berusaha menggoyahkan/ menggugatnya anda tetap dapat bertahan : itulah yang namanya TAHAN UJI.

  8. Lalu bagaimana ketika ada orang yang membakar simbol-simbol keagamaan yang anda yakini?

    Keberadaan Tuhan
    (Ibrani 11:1) Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

    Kita harus mampu memahami dengan benar bahwa besar-kecilnya iman anda tidak bisa dilihat secara langsung oleh orang lain sebab keyakinan kepada Tuhan memang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Dialah Tuhan yang maha hadir, maha besar dan maha mulia.

    Pertanyaannya sekarang adalah apakah iman anda ada pada simbol-simbol keagamaan? Jika memang demikian, apa bedanya anda dengan orang yang menyembah berhala yang dapat dilihat secara kasat mata? Sebab Allah yang kita puja dan kita sembah tidak dapat dilihat oleh mata kepala sendiri tetapi perbuatan-Nya dapat langsung kita rasakan.

    Jadi ketika ada orang yang membakar simbol-simbol keagamaan yang kita yakini maka tidak sepantasnya kita menggerutu karena Allah tidak ada pada benda-benda itu melainkan Ia hadir di dalam hatimu.

    Jika seseorang membakar Kitab Suci yang kamu yakini, bagaimana reaksi kita? Biasa aja, selama Kitab Suci itu miliknya, selama ia memiliki kwuitansi pembeliaannya maka sah-sah saja. Akan tetapi akan menjadi salah jikalau ia mencuri Kitab yang dibakarnya itu dari kami atau dari orang lain atau dari dalam gereja atau dari rumah orang lain.

    Selama itu Kitab Suci miliknya (dia pegang kwitansi pembeliannya dan tidak ada orang lain yang kehilangan) maka biarlah ia melakukan apa yang dikehendaki hatinya. Sebab, memang sejak ia membayar lunas buku tersebut dari toko maka itu sepenuhnya adalah haknya, terserah ia mau melakukan apa. Silahkan saja ia mencobai Allah yang maha besar, maha kuat, maha tinggi, maha hadir dan maha mulia itu sembari menanggung akibatnya.

    Kitab Suci akan selalu  ada dan selalu dicetak oleh lembaga percetakan. Justru tindakan tersebut akan menguntungkan bisnis percetakan yang semakin laris manis.

allah yang kita sembah bukan dari perak dan emas, buatan tangan manusia, yang mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, yang mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, yang mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, yang mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Melainkankan Dialah Tuhan, Allah yang maha hadir, maha besar, maha mengetahui, maha kuat dan maha mulia. Masakan Ia tidak dapat membela diri jikalau manusia rendahan seperti kita ini menghina/ merendahkan/ memperolok-olokan Yang Maha Tinggi? Kita ini seperti debu di mata-Nya, tidak perlu mengeluarkan kata-kata untuk menghukum melainkan cukup telunjuk-Nya saja yang bergerak maka manusia hancur lebur dan sudah binasa sehingga tidak ada lagi jejaknya di bumi ini.

Yang kami perlu tegaskan dalam bagian ini adalah, marilah menjadi orang beriman yang tahan uji. Janganlah memiliki kepercayaan/ iman yang kekanak-kanakan. Jika iman anda didebat oleh orang lain maka jawablah seadanya saja dan berikan penalaran yang wajar. Karena perbedaan itu adalah manusiawi, anda tidak perlu menjadi seperti putri malu yang langsung menutup ketika di colek, atau menjadi seperti keong/ siput yang langsung bersembunyi di dalam istananya ketika disentuh, atau menjadi sikaki seribu yang langsung menggulung saat diganggu. Melainkan jadilah manusia yang tegar, bermental kuat tetapi bertutur sapa lembut kepada sesama. Sebab keyakinan kita bukan pada simbol-simbol keagamaan yang ada melainkan imanmu dapat dilihat orang dari sikap sehari-hari (melalui tutur sapa dan perbuatan yang dilakukan). Simak juga, Perlukah debat antar agama?

Salam keyakinan yang benar….

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s