10 Hubungan Kekristenan Dengan Keadilan Sosial – Kesetaraan Ilmu Pengetahuan, Uang Dan Kekuasaan Adalah Kunci Perdamaian Dunia

Berbahagialah orang yang memperjuangkan kesetaraan

Hubungan Kekristenan Dengan Keadilan Sosial - Kesetaraan Uang Dan Kekuasaan Adalah Kunci Perdamaian Dunia

Kristen Sejati – Sejarah telah mencatat bahwa ada banyak peristiwa yang terjadi disepanjang kehidupan manusia. Disamping perolehan prestasi (misalnya penemuan mesin dan teknologi), ada juga gejolak sosial dari yang besar sampai yang kecil. Masalah itu selalu berawal dari hal-hal kecil dan sepele, misalnya pertengkaran mulut, tidak mau saling bicara (diam-diaman), enggan untuk berbagai, bila bertemu bagai air dan api hingga menimbulkan kegaduhan yang lebih besar, yaitu peperangan.

Sepertinya, sudah tidak terhitung lagi angka konflik yang pernah terjadi di seluruh dunia mulai dari jaman purba kala semenjak dunia diciptakan. Peperangan pertama yang menyebabkan kematian adalah ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah sehingga kita resmi diusir dari pusat kenyamanan dunia yang disebut sebagai Taman Eden. Tidak jauh dari peristiwa itu, terjadi lagi konflik kedua antara Kain dan Habel yang berujung pada kematian Habel. Bacalah Alkitab anda baik-baik, maka disana akan ditemukan bahwa DASAR DARI SEMUA KONFLIK ADALAH KECEMBURUAN ANTAR MANUSIA. Penyebab lainnya adalah ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu yang sesat.

Peristiwa yang terus-menerus dibahas di dalam Kitab Suci adalah seputar kedua hal ini, yaitu bagaimana cara mengendalikan hawa nafsu dan sifat cemburu yang telah ada dalam diri kita sejak dari mulanya. Dari yang kami ketahui, satu-satunya cara untuk mengotrol kedagingan yang sesay dan cenderung menyimpang yaitu dengan memusatkan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan puji-pujian. Sedangkan untuk mengeliminasi sifat cemburu, Tuhan Yesus telah memberi solusi bahkan jauh sebelumnya Kitab Taurat Musa telah menyinggung hal ini, yaitu “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri“.

Keadilan sosial adalah tujuan utama orang-orang Kristen. Itulah sebenarnya inti dari ajaran kasih dari Tuhan Yesus. Ajaran kasih ini bukanlah sesuatu yang baru di zaman Yesus melainkan telah dinyatakan oleh Kitab Musa dan Hukum Taurat yang termuat di dalamnya. Ada dua inti Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi yaitu:

(Matius 22:37-39) Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Bila kita mampu menghidupinya dengan senantiasa fokus kepada Tuhan disegala waktu sembari memperjuangkan keadilan sosial untuk semua manusia maka bukanlah mustahil jikalau terwujud perdamaian di seluruh belahan dunia. Tanpa kesetaraan maka kecemburuaan akan berkembang diantara manusia dan tinggal menunggu waktu saja hingga konflik itu muncul dan pecah ke permukaan.

Ada dua kekuatan super yang selalu menimbulkan gejolak di dalam kehidupan umat manusia dari masa ke masa. Ketika kedua hal ini melakukan aksinya maka timbullah reaksi dari berbagai-bagai pihak yang dapat berujung pada konflik, perang dingin hingga perang dunia. Keduanya adalah kekuatan uang dan kekuasaan.

Adalah sangat diperlukan sebuah aturan yang membatasi dan menyetarakan perolehan uang oleh setiap individu (gaji). Jika sumber daya yang satu diluar kendali maka berpotensi mengundang hadirnya pribadi-pribadi yang serakah, melegalkan segala cara untuk meraih rupiah, memutar balikkan kebenaran untuk melemahkan, membodohi orang sehingga terjebak jatuh dan lain sebagainya. Kekuatan uang yang terlalu besar di tangan swasta (perorangan) dapat menjadi salah satu ancaman bagi negara karena mereka dapat membentuk pasukannya sendiri untuk melawan negara. Contoh kecilnya saja adalah aksi terorisme.

Kekuasan adalah kekuatan super kedua yang harus di setarakan di dunia ini. Sebab pengaruh kekuasaan yang terlalu besar dapat berdampak buruk bagi kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, sebaiknya kekuasaan dikembalikan kepada masyarakat (Demokrasi rakyat – pemilihan umum) dan diakhiri di tangan Tuhan (Demokrasi Tuhan – undian) disegala lini kehidupan (bukan hanya sekali 5 tahun saja).

Apa saja hal-hal yang perlu disetarakan?

Seperti yang kami sampaikan sebelumnya bahwa akar dari semua masalah di bumi Indonesia adalah kecemburuan, kesombongan dan iri hati. Dimana semuanya itu berakar dari bias pengetahuan masyarakat. Bias pengetahuan inilah yang berwujud menjadi pembodohan masa secara besar-besaran oleh oknum kapitalis. Pada akhirnya, pembodohan masal semacam ini menguntungkan kalangan intelektual sehingga mereka mampu memperkaya diri dan menjadi penguasa.

Bila kekuatan uang (sistem penggajian) dan kekuasaan dapat disetarakan maka dapat dipastikan bahwa manusia dapat hidup dalam kebersamaan yang saling mendukung satu-sama lain. Sehingga terciptalah sebuah sistem yang stabil dan seimbang dimana tidak ada satupun pihak yang diinjak dan dikorbankan untuk kepentingan orang lain.

Akan tetapi penyetaraan itu tidak akan terwujud sebelum ilmu pengetahuan yang dimiliki disetarakan. Artinya, tanpa masyarakat yang cerdas maka tidak ada pemerataan disegala bidang sebab justru karena kebodohanlah yang memperlancar setiap konspirasi di tengah masyarakat. Setiap manusia Indonesia berhak mendapatkan pengetahuan yang benar. Sebab rata-rata ilmu yang kami pelajari di bangku sekolah dan kuliah telah dikaburkan atau lebih tepatnya hanya menyentuh permukaannya saja sedangkan inti dari Ilmu yang sebenarnya telah dibuat agak keluar dari jalurnya. Inipun termasuk dalam ranah kapitalis (terutama kaum intelektual) yang berusaha menyelewengkan kebenaran sehingga mereka dapat mengambil untung dari kebodohan yang tercipta.

Dasar Firman untuk kesetaraan di dalam masyarakat

Perlu kami utarakan dahulu diawal sebelum anda membaca seluruh tulisan di dalam blog ini bahwa kami bukanlah seorang sarjana theologia yang telah melakukan penelitian panjang tentang kesetaraan di dalam masyarakat. Semua yang ada disini hanyalah inspirasi yang datangnya dari atas. Anda berhak tidak percaya pada tulisan kami sebab melakukan analisa, penerjemahan dan transformasi tanpa memperhatikan aspek-aspek alkitabiah melainkan melakukan cara-cara sendiri yang bersifat pribadi dengan “gaya bebas”.

Kekristenan sangat mendukung paham kesetaraan. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari Kekristenan sebenarnya adalah keadilan sosial itu sendiri. Ditinjau dari sudut manapun dan apapun maka ini adalah sebuah jalan keluar buat permasalahan yang terus dialami oleh negeri kita Indonesia. Tidak ada tawar-menawar lagi dalam hal ini melainkan sudah menjadi nilai yang sahih dan harus diterapkan untuk Indonesia yang lebih damai dan lebih maju. Oleh karena itu, mari berdoa bersama semoga para petinggi bangsa ini mau memperjuangkan hal tersebut.

Pemerataan dalam bidang ilmu pengetahuan, uang dan kekuasaan adalah awal dari perdamaian dunia

1) Orang Israel selama berada di bawah bimbingan Nabi Musa dan tepat di bawah pimpinan Tuhan selama eksodus dari tanah Mesir ke tanah Kanaan

Keluaran  16:18 “Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.”

Perjalanan eksodus bangsa Israel dari tanah pembuangan (Mesir) menuju ke tanah Kanaan adalah sebuah kisah yang sangat fundamental dalam ajaran Kekristenan. Langsung dibawah pimpinan Tuhan, mereka mengalami proses pemurnian (ujian kehidupan). Dimana orang-orang yang lebih suka bersungut-sungut, lemah hati, penuh dengan ketakutan dan yang gagal “move on” (maunya kembali lagi ke Mesir) benar-benar dibersihkan dari seluruh kelompok. Ini dibuktikan dengan terbunuhnya semua orang yang berumur dua puluh tahun ke atas dalam perjalanan di padang gurun terkecuali Yosua dan Kaleb.

Bukankah Manna yang adalah makanan Sorga itu adalah pemberian langsung dari Allah. Perhatikan ayat di atas teman. “Orang yang mengumpulkan banyak” bisa dikatakan sebagai manusia yang gigih, pekerja keras dan intelek (pintar-pintar) namun bisa juga tergolong dalam kumpulan orang-orang yang serakah. Sedangkan “Orang yang mengumpulkan sedikit” bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang yang kurang pengetahuan, memiliki kelemahan (cacat – miskin) dan kurang persiapan juga bisa berarti bahwa orang-orang ini adalah mereka yang suka bermalas-malasan. Tapi lihatlah pada bagian terakhirnya yang mencerminkan keadilan sosial (kesetaraan) yang dari pada Tuhan.

Dari sini dapat kita pahami baik-baik bahwa Tuhan itu adalah Allah yang sangat adil. Dia tidak hanya mengasihi orang-orang yang pintar (gesit) melainkan mereka yang lemahpun (miskin) dikasihi oleh-Nya di dalam kesetaraan. Coba bayangkan jikalau kala itu Tuhan bersikap tidak adil, pastilah kumpulan orang yang banyak itu keadaannya sama seperti sekarang ini, yakni pada terpecah belah akibat ketidakadilan sosial (ketidaksetaraan).

Apabila kita mengehendaki pimpinan Tuhan nyata bagi kehidupan seluruh umat manusia maka kuncinya adalah kesetaraan. Tanpa keadilan sosial Yang Maha Kuasa enggan menyertai apalagi mencurahkan berkat-Nya atas kehidupan masing-masing anggota masyarakat.

2) Bukankah inti kedua dari firman Tuhan adalah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Imamat  19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Di atas segala sesuatu yang paling tinggi adalah kasih (gagasan awalnya dari Rasul Paulus). Kebaikan kita adalah yang menyempurnakan Kekristenan. Tanpa hati yang mau mengasihi maka sia-sialah iman itu. Kasih adalah tindakan nyata. Tidak seperti yang kami lakukan diblog ini yang hanya berupa tulisan dan celotehan belaka. Tanpa kebaikan hati maka iman kita tidak ada artinya (bandingkan “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yakobus  2:26)).

  • Bagaimana mungkin anda berkata bahwa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri tatapi pendapatanmu dan pendapatannya berbeda padahal sama-sama bekerja pada satu sistem?
  • Mungkinkah dapat dikatakan bahwa anda telah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri padahal fasilitas yang anda terima berbeda dengan yang diterima oleh orang lain?
  • Dalam hal apakah kamu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri? Anda dan dia hanyalah berbeda profesi namun mendapat perlakuan yang berbeda.
  • Bukankah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah sama dengan persamaan hak terhadap sumber daya yang ada?

Perhatikanlah frase “seperti dirimu sendiri” dalam firman di atas. Bukankah ajakan ini bermakna kesetaraan? Oleh karena itu setiap dari kita harus memiliki hati yang ikhlas untuk berbagi. Bukan saja hanya berbagi dalam hal perhatian melainkan yang lebih utama dan paling mendasar dalam hidup ini adalah berbagi ilmu pengetahuan.

Jikalau manusia telah dicerdaskan maka ia mampu mandiri di atas kedua kakinya (berdikari). Sistem yang ada saat ini sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang yang lemah. Sebab banyak sumber daya yang dikuasai oleh swasta sehingga pemerintah tidak mampu bekerja maksimal untuk mensejahterakan seluruh masyarakat. Ditambah lagi kesenjangan ekonomi yang sangat jauh antara atasan dan bawahan. Selain itu kekuasaan yang terlalu luas beresiko membuat penguasa (baik di dalam pemerintahan maupun yang swasta) melakukan penyelewengan yang dampaknya luas dan dalam.

  • Bagaimana kita mengasihi sesama seperti diri sendiri padahal pelit ilmu kepada orang lain?
  • Mungkinkah kita saling mengasihi seperti diri sendiri padahal uang yang kita terima tiap bulan berbeda jauh dari yang diterima orang lain?
  • Dapatkah kita mengasihi sesama seperti diri sendiri padahal kekuasaan yang kita pegang merugikan bahkan menindas orang lain?

3) Penglihatan Nabi Yesaya yang terus diulang-ulang dalam perjanjian baru

Coba perhatikan Firman yang menuntut kesetaraan di bumi ini. Firman yang sangat kontroversial dan diulang-ulang di dalam Alkitab. Sebuah kisah di padang gurun dengan Nabi Yesaya yang menyatakan bahawa :

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.” (Yesaya 40 : 3-5).

Karena begitu pentingnya Firman tentang kesetaraan ini maka ke empat Rasul Kristus menyebutkannya di zaman Perjanjian Baru. Mereka adalah Rasul Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Bahkan kami sendiri merinding ketika menuliskan setiap kata disini. Inilah yang sebenarnya persiapan yang kita giatkan untuk mempersiapkan agar kemuliaan Tuhan dapat berjalan di tengah-tengah kita. Bisakah anda membayangkannya? Ketika Roh Allah tercurah kepada semua orang dimana masing-masing mempunyai talenta yang berbeda-beda. Bukan saja hanya karya seni yang akan dinyatakan oleh Roh tersebut melainkan juga ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan oleh orang lain.

Penglihatan ini sangat baik jika diterapkan dalam hal pemerataan ilmu pengetahuan yang murni dan benar, pemerataan ekonomi (sistem penggajian) dan pemerataan kekuasaan. Jikalau suatu negara mampu menyetarakan ketiga hal ini maka bukan mustahil bila negara tersebut menjadi negara maju dengan stabilitas tingkat tinggi.

4) Tuhan mengehendaki agar negara menjadi kapitalis yang tidak hanya mengayomi orang benar melainkan juga menyokong kehidupan orang yang tidak benar.

Matius  5:45 menyatakan bahwa :

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Lagi-lagi Tuhan Yesus menyarankan kita untuk berteman dengan siapa saja: musuh, saudara, orang asing atau siapapun itu. Ia tidak mengehendaki orang Kristen menjadi sama seperti dunia ini yang cenderung pilih-pilih kasih. Tahu atau tidak, sadar ataupun tidak, Allah pencipta segala masa mengehendaki agar orang percaya adil dalam bersikap. Jangan hanya mengasihi saudara seiman, menyayangi orang-orang yang sepaham dan mencintai orang-orang yang pernah menolang kita saja melainkan alangkah baiknya jikalau kita menjadi orang yang terbuka untuk mengasihi siapapun juga.

Keadaan inipun turut didukung oleh aktivitas pelayanan-Nya selama di bumi. Bahwa ia tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi melainkan juga kepada orang-orang Samaria, kerap kali Ia datang. Padahal kita tahu sendiri betapa kuatnya ajaran kebencian antara orang Yahudi dan orang Samaria. Dari sini kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak hanya mengasihi orang benar sebab justru Dia datang untuk mendekat dan merangkul orang berdosa agar mereka bertobat dari kesesatannya.

Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari banyak suku, agama, ras dan golongan. Di dalam perbedaan semacam ini, Allah mengehendaki agar kita tidak membeda-bedakan perlakuan kepada siapapun. Di tengah perbedaan agama di negeri ini, Tuhan mengehendaki setiap dari kita tidak memperlakukan manusia berbeda-beda: hanya mengasihi orang yang kita anggap benar melainkan juga mengasihi mereka yang dalam pandangan kita tidak benar. Inilah yang kami maksudkan dengan azas keadilan sosial.

Apabila Allah menginginkan agar umat yang dikasihinya tidak membeda-bedakan kasih kepada sesama manusia maka sudah pasti Ia juga mengehendaki kesetaraan dalam sekop besar, yaitu negara. Pemerintah adalah kapitalis tunggal dinegaranya. Mereka akan benar-benar menjadi wakil Tuhan di dunia ini jikalau mengedepankan kesetaraan bagi seluruh rakyat yang meliputi bidang ilmu pengetahuan, sistem penggajian (perolehan uang setiap bulan) dan mengutamakan demokrasi (rakyat-pemilu dan Tuhan-undian) dalam mengambil keputusan.

Jadi ada empat ciri khas pemerintah yang merupakan utusan Tuhan, yaitu

  • Mendasari semuanya itu dalam pemerataan ilmu pengetahuan sehingga tidak ada lagi orang yang bisa dibodoh-bodohi.
  • mengutamakan keadilan sosial kepada seluruh masyarakat maupun termasuk kepada mereka sendiri (orang-orang dipemerintahan) dalam hal perolehan uang (gaji yang sama).
  • mengedepankan pemilihan umum (demokrasi rakyat-voting) yang
  • diakhiri dengan undian (demokrasi Tuhan-keberuntungan).

Apabila pemerintah telah memenuhi semua syarat ini dan mengedepankan keterbukaan informasi maka dapat dikatakan bahwa mereka adalah wakil Tuhan di bumi ini.

5) Hidup ini bukan hanya soal uang melainkan pengabdian untuk ikut jalan Tuhan

Camkanlah Firman ini:

Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. (Matius 19:20-21)

Tentu saja orang muda itu kaya raya karena dia cerdas dan profesional. Tetapi Tuhan menyuruhnya untuk menjual semua hasil usahanya itu lalu membagikannya kepada orang miskin. Bukankah perintah ini salah satu cara untuk mencapai kesetaraan di dalam masyarakat? Dan lagi, menyuruh dia untuk mengikuti jalan hidup-Nya yaitu jalan salib. Mengabdi untuk bermanfaat bagi Sang Pencipta (Bapa-Nya) dan pengabdian untuk bermanfaat bagi sesama manusia.

Kami hendak kembali mengingatkan tentang sistem penggajian kepada anda. Jika memiliki bakat (talenta) yang banyak, pantaskah anda digaji tinggi? Memang jelas itu pantas. Akan tetapi upah anda hanya sampai disitu saja. Ibu Pertiwi telah membayarkan hasil jerih lelah anda sampai lunas bahkan melimpah ruah/ meluap-luap. Tidak ada lagi upah di Sorga kelak. Tapi, coba jika anda mau berbagi lalu menyerahkan pengelolaan potensi tersebut kepada negara, pastilah kebermanfaatannya akan dibagi secara merata kepada semua orang. Sehingga kelak andapun akan memperoleh harta di Sorga yang kekal. Resiko, bahaya memiliki pendapatan yang terlalu tinggi.

6) Filosofi Tubuh Kristus dari Rasul Paulus

I Korintus 12:12-27 yang berkata demikian :

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Rasul Paulus oleh pimpinan Roh Kudus kenal betul dengan situasi dunia saat ini dimana perbedaan sangat kental diantara manusia. Akan tetapi, itu bukanlah masalah besar sebab justru lewat karunia/ kemampuan/ potensi/ profesi yang berbeda-beda itulah kita saling mengisi satu sama lain. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga kita butuh orang lain untuk melengkapi hidup ini agar lebih sempurna rasanya.

Tanpa rasa kebersamaan maka kita bukanlah apa-apa. Perpecahan akan terjadi jikalau semua merasa dirinya paling penting. Apabila masing-masing hanya mengutamakan dirinya sendiri maka orang yang pintar-pintar akan mendapatkan jatah banyak sedangkan mereka yang lemah akan beroleh bagian yang lebih sedikit. Bukankah ini adalah awal dari perpecahan? Mereka yang cerdas namun tidak puas dengan sistem akan menghasut, mengintimidasi dan memprovokasi orang lain (terutama yang lemah) untuk melakukan pemberontakan (terorisme – faksi memerdekakan diri) atau membentuk sistem/ organisasi/ komunitas yang lainnya.

Sudah saatnya setiap dari kita merasakan betapa pentingnya peran kehidupan orang lain dalam keseharian ini. Jangan lagi kita suka membanding-bandingkan antara profesi ini dan profesi itu. Mengamati dan menakar kelemahan profesi lainnya sehingga menganggap mereka pantas direndahkan. Kita memperlakukan orang lain disana tidak seperti diri sendiri (kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri) lalu menjatahi mereka sumber daya yang sangat minim bahkan terbatas, sedangkan disini kita sendiri puas-puas menikmati sumber daya yang dihasilkan dari sebuah sistem/ organisasi/ komunitas/ negara. Inilah yang kami maksudkan dengan ketidakadilan itu. Apabila semuanya telah mengambil peran untuk menjalankan sistem maka sudah sepatutnya semuanyapun mendapatkan hak yang sama atas sumber daya yang tersedia.

7) Perumpamaan tentang “Pekerja Di Ladang Anggur“.

Perhatikanlah baik-baik perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya, termasuk kita dalam Matius 20:1-16, demikianlah bunyinya :

 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Simaklah baika-baik perumpamaan di atas dan anda jelas akan menemukan bahwa TUHAN ITU SANGATLAH ADIL. Ia tetap mengupah orang sama sekalipun diantara para pekerja tersebut terdapat yang hanya bekerja satu jam saja. BEGINILAH SEHARUSNYA NEGARA MENGGAJI SEMUA ORANG SAMA RATA. Jikalau pemerintah adalah utusan Tuhan dan bukan menjadi bagian dari kapitalis yang membodoh-bodohi bangsanya sendiri maka sudah seharusnya pemerataan pendapatan diperjuangkan oleh semua kalangan masyarakat. Dengan demikian mari menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah negara yang percaya tentang adanya Tuhan yang lebih tinggi dan lebih berkuasa atas kita (sila pertama Pancasila).

8) Azas keseimbangan dari Rasul Paulus

Jalan satu-satunya untuk menghindari perpecahan adalah KESETARAAN. Tanpa keadilan sosial maka sulit mencapai kata bersatu apalagi sepakat. Sebab manusia intelektual cenderung mengejar uang dan kekuasaan. Ketika mereka tidak memperolehnya maka mulailah timbul kekisruhan disana-sini. Hingga pada satu titik kita mendengar bahwa sikawan telah membentuk organisasi sendiri yang baru dan lebih hebat (katanya). Selama tidak ada kesetaraan dalam hal ilmmu pengetahuan, kekuasaan dan uang maka selama itu masing-masing dari kita akan bersaing mati-matian bahkan sampai cenderung menghalalkan segala cara. Sadarilah bahwa semua gejolak ini tidak akan mendatangkan kedamaian, keamanan apalagi kesejahteraan.

Camkan firman yang terambil dari II Korintus 8:11-15, yang berkata demikian : Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Keseimbangan itu penting banget dalam kehidupan ini. Tanpanya kita hanya berada dalam kotak-kotak yang terbuat dari kardus yang suatu saat akan melapuk karena terkena angin, air, embun dan hujan juga termasuk sinar matahari. Dalam ketidakseimbangan cenderung terjadi kemelut yang bersifat internal. Memang dari luar akan kelihatan rapi dan bersih namun sesungguhnya bila kita lebih mendekat lagi maka akan terlihat jelas ketidakadilan dimana-mana. Suatu saat ketidaksetaraan ini akan meledak dan masyarakat akan menyadari berbagai tatanan yang merugikan mereka.

Ketidakadilan ini semacam perlakuan kawanan serigala kepada pemimpinnya. Ketua serigala dan keluarganya mendapat jatah yang lebih banyak (yang bisa disimpan selama berhari-hari). Sedangkan yang lain-lainnya itu hanya dapat sekali makan saja (yang muat diperut untuk hari itu). Bahkan terkadang saat hewan buruannya kecil, mereka hanya mendapatkan bagian kecilnya saja. Inilah yang namanya keadilan binatang. Jadi jika saat ini tempat dimana anda berada menggaji orang berdasarkan posisinya di perusahan/ dalam organisasi. Maka apa bedanya jenis penggajian semacam itu dengan keadilan binatang? Dengan berlaku demikian maka kita tidak ada bedanya dengan hewan-hewan liar di alam rimba sana. Siapa yang kuat maka dialah yang mendapat jatah lebih besar. Sedangkan yang lemah, bawahan, pembantu hanya dapat recehannya saja.

9) Azas saling melayani.

(Yohanes 13:4-17) Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Tuhan Yesus memang dahsyat, Ia telah mengajarkan murid-muridknya tentang dasar-dasar kesetaraan dan keadilan sosial sekalipun pada waktu itu murid-muridnya masih belum memahami apa yang dimaksudkan-Nya. Perhatikanlah teladan yang diberikan-Nya: Ia tampil di depan untuk membasuh kaki murid-murid sedangkan para murid sendiri tidak pernah melayani Dia serendah itu. Belum pernah ditulis para murid membasuh kakinya melainkan hanya perempuan berdosalah yang pernah membasuh kaki-Nya dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya (Lukas 7:44).

Tuhan Yesus memberi teladan dengan jelas, Ia melihat betapa setia murid-murid melayani dia sepanjang perjalanan misi di Israel. Tuhan hendak menyampaikan paham keselarasan dalam diri pengikut-Nya. Mungkin Ia mau mengatakan bahwa “Aku tanpa kalian bukan apa-apa dan kalian tanpa aku bukan apa-apa, kita adalah setara di bumi ini.” Coba perhatikan bagian akhir pada firman di atas yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.” Bukankah frase ini bermakna kesetaraan juga? Perhatikan kata-kata tentang “tidak lebih tinggi.” Frase ini bermakna sebaliknya “tidak lebih rendah.” Yang artinya adalah “berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah” yaitu sama-sama setara posisinya selama di dunia ini.

10) Azas perlakuan sama

Matius  7:12 “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Ini adalah kata kunci dari kehidupan manusia di bumi ini. Jika anda ingin diperlakukan baik maka jadilah orang baik. Bila ingin diperlakukan buruk maka jadilah orang yang bersikap buruk. Setiap perlakuan yang anda berikan kepada orang lain pastilah akan anda terima juga hal yang sama dengan itu. Keadaan ini seperti hukum tabur-tuai tetapi pebedaannya hanya terletak pada kesempatan untuk menerima lebih dari yang telah kita berikan (di taburkan).

Setiap orang ingin diperlakukan sejajar dengan orang lain, tidak ada jabatan yang lebih baik, tidak ada pekerjaan yang lebih baik, tidak ada tanggung jawab yang lebih baik. Melainkan semua hal dan semua profesi yang ada di dunia ini adalah sama-sama penting dan sama-sama bermanfaat. Baik pelanggan maupun konsumen sama-sama saling melayani dengan potensi/ kemampuan/ sumber daya yang ia miliki. Jadi sekarang, mengapakah anda hendak mempertahankan diri bahwa apa yang anda lakukan lebih baik dari orang lain? Saat suatu pekerjaan diselesaikan secara bersama-sama bukankah semuanya berhak mendapatkan bayaran yang setara setelah bekerja. Ketika sistem hendak di jalankan maka semua orang dari profesi, latar belakang dan pendidikan yang berbeda akan bekerja sama, bukankah masing-masing sejajar haknya untuk beroleh gaji sama?

Kesimpulan

Ilmu pengetahuan, uang dan kekuasaan adalah tiga hal yang selalu menimbulkan gejolak di dalam dunia ini. Selama hal-hal ini masih terlalu mencolok maka selama itu pulalah manusia digerakkan oleh kecemburuaan untuk maraihnya sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Berikut ini beberapa hal yang perlu disamaratakan.

  1. Pemerataan ilmu pengetahuan yang benar adalah landasan yang kuat demi keadilan sosial itu sendiri sehingga tidak ada lagi kapitalis yang meraup untung dengan membodohi sesamanya.
  2. Sistem penggajian antar profesi disetarakan sudah pasti sifat-sifat seperti kesombongan dan iri hati (karena cemburu) dapat ditekan seminimal mungkin.
  3. Ada baiknya jikalau tidak ada manusia yang ditinggikan diantara kita melainkan biarlah semua keputusan yang berhubungan dengan nasib bersama dikembalikan ke tangan masyarakat luas (Demokrasi rakyat) dan kepada Tuhan (Demokrasi Tuhan) di segala lini kehidupan.

Pada akhirnya, kesetaraan dalam hal ilmu pengetahuan, uang dan kekuasaan akan mendatangkan ketenangan dalam hati setiap orang. Sebab usaha yang dilakukannya resmi untuk kepentingan bersama tanpa ada unsur tipu-menipu disana-sini. Hatipun menjadi lega dan puas sebab kita terbebas dari rasa bersalah yang menghantui setiap langkah kaki ini. Stabilitas akan tercipta di segala lini kehidupan sebab tidak ada lagi kesombongan akan materi dan kekuasaan sehingga iri hati dan kecemburuan dapat ditekan seminimal mungkin.

Salam kesetaraan manusia, salam perdamaian dunia…..

Berbahagialah orang yang memperjuangkan kesetaraan

Iklan

4 comments

  1. […] Ini adalah pertanyaan yang sangat krusial. Oleh sebab itu, kami hendak menyatakan bahwa ANDA BERHAK TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG KAMI SAMPAIKAN, melainkan silahkan ajukan argumen sendiri yang menurut anda benar. Di dalam keyakinan orang Kristen, telah datang seorang penyelamat bagi orang Israel, yaitu Yesus Kristus. Mengapa Yesus pantas menjadi Imam besar? Ini bukan saja karena Dia adalah Anak Allah (untuk di ketahui bahwa Adam, nenek moyang kita juga Anak Allah – diciptakan langsung oleh Allah). Melainkan lebih kepada ajarannya yang menekankan tentang kesederhanaan dan kesetaraan. Simak, Paham kesetaraan dalam agama Kristen […]

    Suka

  2. […] Tuhan hendak menuntun kita untuk mengasihi Allah bila hati ini selalu terhubung dengan-Nya dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Semuanya itu akan diinspirasikan (dibisikkan) lewat mata hati masing-masing. Selain itu, Ia juga rindu kita mengasihi sesama manusia SEPERTI DIRI SENDIRI. Arti kata seperti disini adalah kesamaan alias kesejajaran. Yang selalu saja menimbulkan masalah di dunia ini adalah materi, sebab itu adalah baik bagi kita untuk menyetarakan perolehan materi/ pendapatan bagi semua orang dan semua profesi. Selain itu, kesetaraan ilmu pengetahuan yang benar juga perlu dilakukan dan kesejajaran yang terakhir adalah dalam hal kekuasaan (adanya demokrasi rakyat dan demokrasi Tuhan). Simak juga, Keadilan sosial menurut Alkitab dan perspektif iman Kristen. […]

    Suka

  3. […] Uang membuat seseorang candu. Ketika terus-menerus digunakan untuk membeli sesuatu maka timbullah rasa bosan sehingga ada niat untuk menginginkan yang lebih. Kebutuhan akan kertas ajaib yang sangat tinggi/ lebih tinggi, mendorong seseorang untuk mencarinya sekuat tenaga dan akal pikirannya. Akhirnya, orang-orang ini akan menyesatkan banyak orang melalui ajarannya agar lewat penyesatan itu mereka beroleh keuntungan yang besar. Mengajarkan orang untuk menolak/ menjauhi kesetaraan termasuk salah satu ajaran sesat sebab sudah jelas maksud Tuhan dalam kehidupan umat manusia adalah demi keadilan sosial untuk semua kalangan. Simak juga, Keadilan sosial menurut ajaran kristen. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s