+15 Cara Menghayati dan Memahami Perkataan Yang Terucap dan Didengarkan – Terutama Dalam Doa Dan Perkataan Pengkhotbah/ Pembicara

Cara Menghayati dan Memahami Setiap Kata Yang Terucap dan Didengarkan - Terutama Dalam Doa Dan Perkataan Pengkhotbah Pembicara

Menghayati adalah mengalami dan merasakan sesuatu (dalam batin). Sedangkan memahami adalah  (1) mengerti benar (akan); mengetahui benar; (2) memaklumi; mengetahui (KBBI Luring). Kita perlu belajar mengerti setiap perkataan yang didengar dan sekaligus menghayatinya dalam setiap langkah kaki selama itu baik. Ini jelas butuh proses yang tidak sedikit alias butuh waktu yang cukup lama (tergantung dari tingkat kecerdasan masing-masing).

Hidup ini berkembang dari “0”, tidak ada manusia yang baru lahir dari kandungan ibunya, langsung mengetahui cara berjalan atau cara memakai baju atau cara makan bahkan cara buang air kecil saja tidak tahu. Itulah manusia, kita belajar secara bertahap untuk memahami setiap kata-kata dan segala sesuatu yang dicitrakan oleh indra. Pengertian tentang sesuatu tidak langsung 100% melainkan semuanya itu ada prosesnya dimulai dari persentase yang terkecil.

Butuh proses belajar yang tidak singkat dan sulit untuk membuat kita mampu belajar mengerti dan memahami sesuatu. Bahkan kami bisa mengatakan bahwa kekhilafan dan kesalahan yang kami lakukan di masa lalu telah banyak mengajari diri ini bagaimana seharusnya memaknai kehidupan di dunia yang sementara saja. Tetapi harus satu yang perlu anda ketahui, yaitu PEGANG KUNCINYA. Saat belajar dari kesalahan maka bendingkanlah kejadian itu dengan standar kehidupan yang dimiliki sehingga menemukan solusi yang tidak jauh-jauh dan tidak pernah menyimpang dari Kitab Suci dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Kita memiliki lima indra, mata, telinga, kulit, hidung dan lidah. Ada banyak informasi yang di dapatkan dari indra tetapi tidak semua informasi itu dapat dimengerti dengan jelas. Semuanya itu tergantung dari daya tangkap dan persepsi masing-masing orang. Coba lihat gambar di bawah ini, “ada berapakah jumlah hewan yang anda lihati?“.

Pengertian, pemahaman dan persepsi manusia yang berbeda-beda

Lalu tentukan juga jumlah hewan pada gambar di bawah ini dengan penalaran anda pribadi.

Persepsi dan kecerdasan manusia

Setiap orang memiliki daya tangkap, pemahaman dan pengertian yang berbeda-beda tentang hidup ini. Semuanya tergantung dari pengalaman dan kecerdasan masing-masing. Untuk mengembangkan pengalaman, anda harus lebih banyak belajar, membaca, mempraktekkan, menonton, mendengar/ menyaksikan dan lain sebagainya. Anda perlu merangsang indra dengan berbagai-bagai informasi positf dan baik yang datangnya dari luar sehingga pengalaman dapat bertambah. Sedangkan untuk mengasah kecerdasan, anda harus meluangkan lebih banyak waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu (misalnya saja dengan fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian).

Cara menghayati hidup dan memaknai setiap perkataan yang terucap maupun yang di dengarkan dari orang lain

Dalam hidup ini, semuanya bisa dipelajari. Asalkan anda mengetahui kiat-kiat dan cara untuk melakukannya maka semuanya akan dicapai secara perlahan tetapi pasti. Untuk menghayati dan memaknai setiap perkataan yang terucap dan di dengarkan dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut.

  1. Perhatikan motivasi anda saat melakukan sesuatu.

    Lakukanlah dan tekunilah segala sesuatu dengan  niat yang murni, tulus dan suci. Semata-mata hanya untuk memuliakan nama Tuhan dan menyatakan kasihnya kepada sesama.

    Hati-hati dengan maksud-maksud hati yang kotor seperti demi uang, pujian, penghormatan, penghargaan dan popularitas.

    Jauhkan juga tujuan-tujuan masa depan yang cenderung membebani pikiran anda. Misalnya melakukan semuanya itu demi mendapatkan berkat, muzizat dan kelimpahan. Tidak perlu menumpuk hal ini di dalam pikiran melainkan jika anda layak maka semuanya itu akan datang dengan sendirinya.

  2. Minimalisir rasa bersalah.

    Perhatikan setiap pikiran, perkataan dan perilaku yang diekspresikan sehari-hari. Dalam artian sebisa mungkin jauhkan diri anda dari hal-hal yang jelas-jelas dosa dimana hati sudah memperingatkanmu sebelumnya. Perhatikan kata hatimu dan selalu waspada. Untuk kesalahan yang tidak disengaja, kamipun sering melakukan hal yang sama dan langsung saja meminta maaf jikalau ada orang yang dirugikan karenanya.

  3. Pikiran yang selalu berjaga-jaga.

    Otak jangan dibiarkan kosong berlama-lama melainkan pada waktu-waktu luang silahkan memusatkan pikiran pada Tuhan dalam doa, firman dan puji-pujian bagi kemuliaan nama-Nya. Pikiran yang kosong sangat mudah dirasuki oleh hasutan yang miring dari orang lain, hawa nafsu yang sesat, kebinatangan (kebencian, dendam dan amarah juga kekerasan) dan berbagai-bagai kejahatan lainnya.

  4. Santai dan tenangkan diri.

    Sikap santai berhubungan dengan keadaan otot-otot anda yang tidak sedang tegang dan mengalami kontraksi melainkan ambillah posisi dimana ketegangan di sana-sini dapat dikurangi seminimal mungkin alias menjadi rilekslah.

    Santai juga berhubungan erat dengan kecepatan. Pastikan kecepatan anda dalam jangkauan dan kemampuan pribadi sehingga tidak beresiko menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan juga tidak sampai merugikan orang lain.

    Sikap yang tenang dan santai berhubungan erat dengan kecepatan yang tidak tergesa-gesa dalam berkata-kata maupun dalam bertindak (sikap). Melainkan lebih kepada memaknai semua ucapan dan perilaku yang diekspresikan.

  5. Biasa saja dalam bersikap alias jangan sombong.

    Miliki sikap yang datar dalam segala sesuatu, saat puji tidak merasa hebat, saat direndahkan malah membalas dengan ramah. Saat disanjung malah menyanjung balik, saat diejek orang malah semakin mempermalukan diri sendiri (meng-iakan ejekan tersebut).

    Pastikan saat anda susah dan saat anda senang ekspresinya hampir bersamaan sehingga orang lain disekitar andapun hampir tidak dapat mengenali dengan jelas situasi yang sedang anda hadapi saat ini.

    Rasa sombong itu selalu ada sebab sangat manusiawi, oleh karena itu lemahkan diri, tekan bahkan hancurkan hatimu yang penuh dengan kesombongan itu.

  6. Amankan diri anda.

    Ambillah posisi aman dimana anda tidak mudah digoyahkan, jatuh atau diumpat oleh orang lain. Minimalisir membawa benda-benda berharga ketempat tersebut agar anda bisa lebih fokus untuk  mendengarkan dan berucap sapa. Bukannya malah konsentrasinya buyar untuk menjaga barang-barang bawaan yang sebenarnya terlalu berlebihan/ cenderung tidak aman untuk dibawa-bawa.

  7. Mulailah segala sesuatu dengan rasa bersyukur yang penuh.

    Pastikan untuk selalu mengucapkan terimakasih buat semua hal yang telah terjadi dalam hidup anda. Syukurilah itu dan merasa cukuplah sehingga hati ini puas menerima segala sesuatu apa adanya dan hiduppun penuh dengan kelegaan.

  8. Nikmati semuanya itu dalam damai dan ketenangan sejati.

    Sesuatu baru dapat dinikmati dengan baik ketika hal tersebut telah membudaya terlebih dahulu. Ketika kita melakukan hal-hal baru ada kecenderungan masih kurang luwes. Akan tetapi bila dibiasakan maka semuanya itu akan mendamaikan hati.

    Harus anda pahami bahwa ketenangan itu sifatnya semu. Terlebih ketika berbicara tentang ketenangan situasi di luar diri ini. Mustahil kita dapat mengendalikan segala sesuatu melainkan cobalah untuk belajar mempertahankan konsentrasi dan fokus yang dimiliki (temukan pada tulisan kami sebelumnya di kotak search di bagian bawah (footer) blog). Anda dapat melatih kemampuan memfokuskan pikiran kepada Tuhan dimulai dari.
    – Suasana yang tenang.
    – Situasi agak riuh.
    – Sikon sedang ramai.
    – Keadaan sekitar lagi kacau balau.
    Semua tahapan ini adalah proses belajar yang membutuhkan waktu (mungkin sampai menahun). Oleh karena itu, lakukan dengan sabar, tekun dan penuh kerja keras.

    Pada akhirnya ketenangan hati adalah kemampuan memanajemen/ mengatur pikiran untuk tetap fokus kepada diri sendiri dan mengabaikan kemelut situasi di luar sana.

  9. Lakukan dengan konsisten, tekun hingga membudaya.

    Aktivitas yang diulang-ulang akan menghasilkan suatu rutinitas. Sedangkan rutinitas yang positif yang terus menerus dilakukan akan menjadi kebiasaan baik. Jikalau kebiasaan baik ini ditekuni dengan sungguh-sungguh maka akan menjadi budaya yang terjadi secara otomatis dan mendatangkan kebahagiaan tersendiri.

    Saat sedang mendengarkan (misalnya saat mendengarkan khotbah dan nasehat dari orang tua)

  10. Minimalisir penggunaan indra yang lain (mata, hidung, kulit dan lidah) dan lebih fokus kepada telinga (pendengaran).

    Tidak mudah untuk menjadi pendengar yang baik. Anda perlu meminimalisir penggunaan indra yang tidak diperlukan. Misalnya, gunakan mata anda dengan cara meminimalisir fungsinya,
    * bisa dengan mengecilkan bahkan menutupnya atau
    * memfokuskannya tanpa goyah pada satu titik saja (layaknya tatapan mata seorang prajurit).

    Ada baiknya jika anda membatasi diri untuk membuka komunikasi yang intens dan terus menerus dengan orang lain selain dengan pembicara/ pengkhotbah.
    Tidak perlu juga berkomentar tentang kualitas, bobot, penampilan dan segala macam hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan sebab anda datang bukan untuk menjadi juri penilai melainkan sebagai pendengar yang baik.

  11. Abaikan gangguan dan terus fokus pada perkataan tersebut.

    Ini adalah kesempatan yang bagus untuk belajar mengabaikan gangguan recehan yang terjadi disekitar anda. Entah itu lewat suara yang lain, kesenggol dan lain sebagainya.

    Di tengah-tengah pengabaian itu, jauhi hati anda dari rasa kesal dan kebencian. Langsung maafkan dan bersihkan hatimu dari yang jahat dengan tetap mengkonsentrasikan pendengaran kepada pengkhotbah/ pembicara.

  12. Fokus pada perkataan itu sendiri.

    • Perkataan itu langsung mengena dalam lubuk hati anda. Pastikan perkataan itu langsung mengena dan sampai ke dalam lubuh hati anda yang paling dalam.
    • Anda beresponsoria (meresponi) kata-kata tersebut di dalam hati. Meresponi kata-kata tersebut di dalam hati (bisa juga diwujudnyatakan dalam perkataan – lakukan apa yang membuatmu nyaman).
    • Memvisualisasikan setiap tutur kata yang terucap. Bayangkan setiap peristiwa yang anda dengarkan dan imajinasikan itu dalam bingkai yang positif.
    • Pilihlah diantara ketiga opsi ini, dimana yang paling membuat hatimu nyaman.
  13. Ambil/ tariklah sebuah kesimpulan yang anda terapkan secara umum dalam kehidupan sehari-hari.

    Janganlah lupa di setiap akhir dari pembicaraan/ khotbah untuk menentukan dan mengambil sebuah makna kehidupan untuk dihayati dan diterapkan dalam hidup sehari-hari.

    Saat sedang berkata-kata (misalnya saat berdoa).

  14. Tutup semua indra dan abaikan gangguan yang terjadi.

    Belajarlah mengabaikan indra yang dimiliki. Abaikan juga segala gangguan yang menyertainya dan berhenti berkomentar tentang ini dan itu di dalam hati melainkan fokuslah pada kata-kata yang dikeluarkan.

    Untuk melakukan dan mewujudkan hal ini, jelas saja butuh tingkat konsentrasi yang lebih mumpuni. Oleh karena itu, belajar mempertahankan dan menjaga konsentrasi dalam latihan khusus maupun dalam segala kesempatan yang memungkinkan.

  15. Pusatkan pikiran pada perkataan yang terucap.

    1. Perkataan itu langsung mengena dalam lubuk hati anda. Pastikan bahwa setiap kata-kata yang dikeluarkan terucap juga oleh suara hati yang dimiliki.
    2. Memvisualisasikan setiap tutur kata yang terucap. Membayangkan atau mengimajinasikan setiap perkataan yang keluar dari dalam mulut anda.
    3. Pilihlah mana yang membuat hatimu nyaman melakukannya (antara ke dua hal di atas).
  16. Berucaplah dengan intonasi tertentu.

    Setiap orang memiliki intonasi yang berbeda-beda saat berkata-kata. Tentukan milikmu dimana intonasi itu membantu anda menikmati suasana yang sedang dihadapi. Lakukanlah intonasi tersebut secara terus menerus sehingga menjadi kebiasaan bahkan membudaya.

    Hati-hati dengan intonasi anda jangan sampai kesombongan menyambar pikiranmu. Oleh karena itu selalu berintonasi biasa saja agar tidak terkesan lebay dan hati ini jauh dari kesombongan.

Untuk memahami kata-kata diperlukan indra yang peka sedangkan untuk menghayati setiap perkataan dibutuhkan pikiran yang cerdas. Anda dapat melatih semuanya itu mulai dari hal-hal yang kecil dalam lembaga yang sederhana, misalnya dalam keluarga, rumah/ tempat ibadah, sekolah, kuliah, kantor dan lain sebagainya. Kemampuan ini akan terus berkembang jika terus-menerus ditekuni hingga menjadi kebiasaan yang membudaya. Tips bijak mengikuti kebaktian di gereja dan sekolah minggu (SM)

Salam pendengar yang baik….

Iklan

One comment

  1. […] Bersukacitalah dalam doa dan nyanyian dengan gembira dan penuh semangat tetapi hati-hati dengan roh kesombongan yang lebay. Pastikan semua kata-kata yang terucap dari bibir sendiri langsung mengena dalam hati (selaras dengan suara hati anda). Tips menghayati dan memaknai setiap perkataan yang keluar dan yang didengarkan. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s