+10 Dampak Negatif Kapitalis Yang Tidak Berbagi Seperti LAUT MATI – Ketika Berkat Berubah Menjadi Kutuk

Dampak Negatif Kapitalis Yang Tidak Berbagi Seperti LAUT MATI - Ketika Berkat Berubah Menjadi Kutuk

Dunia ini terus berputar-putar, membentuk sebuah siklus. Dimana masing-masing komponen saling terhubung dan ketergantungan satu sama lain. Tidak ada yang bisa hidup secara mandiri melainkan antara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Bahkan binatang pemangsa yang buas dan ganas sekelas singa dan harimau sekalipun pasti membutuhkan hewan lainnya sebagai mangsanya (Mungkin juga mereka menjadi kanibal ketika tidak ada mangsa). Semua siklus ini membentuk keseimbangan yang terus menerus bergerak mengikuti perputaran zaman (waktu).

Mulai dari siklus energi matahari, siklus hujan, siklus udara, rantai makanan di alam liar bahkan siklus ekonomipun demikian. Perputaran uang sangat mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Bila perputarannya hanya menumpuk pada satu orang saja maka disinilah tercipta yang namanya sistem kapitalis. Tetapi ketika berputar sempurna dan seimbang maka disinilah tercipta sistem sosialis. Sistem kapitalis jelas yang hanya menguntungkan beberapa orang saja sedangkan orang banyak (masyarakat luas) dijadikan sebagai sapi perah.

Barang dan jasa berputar-putar, hati-hati untungnya jangan ditumpuk untuk diri sendiri

Sumber daya di dunia ini berputar-putar, sifatnya stagnan dan tetap. Apa yang dilakukan oleh orang-orang cerdas hanyalah mengolah dan mengelolanya sehingga menjadi bentuk lain yang lebih bermanfaat dan berdaya seni. Siklusnya seperti dibuat >> dipakai >> sampah >> dibuat >> dan seterusnya. Perputaran ini stagnan disitu-situ saja namun uang yang dihasilkan dalam setiap siklusnya terus bertambah-tambah. Setiap kali satu siklus terjadi maka disatu sisi uang dari orang tertentu diambil-dikurangi namun disisi lain uang dari orang lain terus diberikanditambahkan. Jikalau hal ini di lakukan dalam pendekatan maka akan ada yang mendapat keuntungan sedangkan orang lain dirugikan.

Siklus perputaran ekonomi

Pemilik modal menganggap bahwa apa yang mereka lakukan sudah baik dan benar sebab mereka pintar/ cerdas/ pandai mencari kesempatan dalam kesempitan. Itu memang jelas haknya karena mereka pintar-pintar, dalam hal ini pandai mengkibuli/ mengaburkan fakta diantara masyarakat luas. Lalu mereka meraih sen demi sen dari setiap kebodohan warga. Karena licik, mereka jelas semakin kaya raya sedangkan kemiskinan dan pengangguran (akibat pembodohan yang dilakukannya tadi) semakin merajalela/ meluas ke pelosok-pelosok.

Ingatlah bahwa semuanya ini akan berakhir untuk mengawali kekekalan kelak

Ingatlah bahwa manusia di dunia ini hanyalah sementara saja. Jangan sampai kesenangan yang sementara itu menjeratmu sehingga pada kehidupan yang selamanya kelak (kehidupan kedua setelah kematian – akhirat) anda masuk neraka (menderita selamanya). Perputaran uang yang sifatnya satu arah saja hanya menguntungkan orang-orang tertentu sedangkan yang lainnya dijadikan sapi perah (dirugikan). Akan tetapi, jikalau perputaran uangnya sempurna dan seimbang maka tidak ada yang harus merasa bersalah sebab sekalipun ada yang dirugikan namun mereka akan kembali diuntungkan lewat uang yang disalurkan kembali melalui pekerjaan yang dilakukan. Oleh karena itulah mengapa kami membenarkan jikalau negara menjadi kapitalis tunggal di negeri ini.

Hindari menjadi orang cerdas yang egois

Kapitalis yang di dominasi oleh orang-orang cerdas cenderung individualis dimana mereka hanya mementingkan diri sendiri (egois). Mereka lebih cenderung memperkaya diri sendiri dengan menumpuk berbagai-bagai jerih payah itu karena telah berhasil memutar sebuah siklus barang/ jasa. Inilah yang membuat pemilik modal yang serakah layaknya LAUT MATI yang semakin asin dari tahun ke tahun. Saat berkat yang didapatkan ditumpuk dalam kantong sendiri maka berkah itu akan terbalik sehingga tidak lagi memberi faedah yang positif melainkan manfaat yang negatif juga. Pemilik modal akan semakin jahat karena apa yang dihasilkannya menyakiti dan merusak kehidupan orang lain juga menghancurkan hal-hal baik lainnya (lingkungan alam dan sekitarnya) secara langsung maupun secara tidak langsung.

Berkat itu seperti air, bisa jadi asin atau menimbulkan gejolak

Dalam hidup ini, apa yang ada pada kita harus selalu mengalir seperti air. Apapun potensi yang anda miliki janganlah memendam hal itu di dalam hati/ disampingmu/ dirumahmu saja melainkan sebarkanlah itu juga kepada orang lain sehingga terciptalah keseimbangan. Berkat itu harus mengalir seperti air agar manfaat positifnyalah yang keluar. Coba lihat air, apakah ada yang tinggi ataupun rendah diantara mereka? Tidak ada semuanya sama rata alias setara. Demikianlah seharusnya negara menjadi pemilik modal sehingga semua berkat yang disamaratakan/ disetarakan. Tanpa kesetaraan, kita seperti lautan yang berhadapan dengan samudra raya, yang terus berkecamuk/ bergejolak menerjang sana-sini. Air yang tenang itu datar.

Ketika air tidak lagi mengalir dan berkat hanya tertahankan di satu-dua orang tangan saja maka yang terjadi adalah keasinan. Kadar garam di dalamnya semakin bertambah-tambah banyak sehingga masa jenisnya semakin tinggi, asin dan tidak baik lagi digunakan sebagai air konsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah juga ketika anda menahan-nahan berkat yang telah diterima dan mengalokasikannya untuk diri sendiri. Alhasil sesuatu yang seharusnya berdampak positif akan menghasilkan efek buruk bagi kehidupan anda. Air yang tidak mengalir asin dan tidak memberi  kehidupan.

Bahaya oknum kapitalis yang tidak mau berbagi hingga menimbulkan ancaman

Apa saja akibat buruk yang akan anda alami ketika menumpuk uang untuk diri sendiri. Sumber daya yang terlalu besar tidak bisa ditahankan hanya oleh seorang atau beberapa orang manusia saja sebab ancaman dibalik ketidakseimbangan yang terjadi dapat merugikan anda. Berikut ini beberapa dampak buruk dibalik kehendak menumpuk sumber daya untuk diri sendiri.

  1. Membuat hati tidak tenang.

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa air yang tidak rata (berkat yang tidak merata) cenderung bergejolak layaknya gelombang lautan yang berhadapan dengan samudra yang bergelora. Demikianlah juga suasana hati ini dalam ketidaksetaraan. Harta yang terlalu banyak cenderung mendatangkan kekuatiran.

    Ini jugalah yang membuat mengapa orang-orang yang kaya raya butuh keamanan/ pengamanan yang lebih tinggi/ ekstra ketat. Semakin banyak uang anda maka semakin banyak pula jumlah aparat yang anda butuhkan untuk berjaga-jaga atau setidak-tidaknya pengamanan sekelas preman.

  2. Cenderung individualis.

    Mereka yang memiliki sumber daya yang besar memiliki kecenderungan yang tinggi untuk hidup menyendiri, membangun rumah yang mewah dan megah di tempat yang sepi, jauh dari kerumunan manusia. Sekalipun hidup dalam masyarakat yang bersosial tetapi tembok-tembok rumahnya yang tebal dan tinggi juga pagarnya yang selalu tertutup telah memisahkannya dari lingkungan pergaulan masyarakat.

  3. Menjadi egois

    Oknum kapitalis yang menampung seluruh uang masyarakat ke dalam kantongnya akan mementingkan dirinya sendiri. Dampak negatif dari kebiasaan ini adalah kecenderungan untuk melemahkan, menekan dan menciderai orang lain demi kepentingan sempit. Tidak ada lagi kepedulian melainkan yang ada adalah bagaimana caranya agar bisa memeras orang ini secara halus.

  4. Sangat konsumtif.

    Oknum kapitalis yang memiliki sumber daya yang besar cenderung menggunakan uangnya secara berlebih-lebihan demi gengsi, harga diri dan kehormatan (katanya). Pesta besar yang syarat dengan foya-foya adalah bagian dari tujuannya untuk menegaskan strata sosial yang tinggi. Memang benar-benar primitif kehidupan sikawan ini. Jaman sekarang harga diri dan kehormatan tidak tergantung dari apa yang dimiliki (harta dan kekayaan) melainkan lebih kepada apa yang keluar dari dalam dirimu dan yang anda pancarkan secara konsisten kepada orang lain.

    Untuk apa anda melayani orang lain dengan hartamu sekali setahu (taroklah sekali tiga bulan) sedangkan hari-hari anda angkuh, pasif, hanya mengharapkan dihormati dan dihargai orang lain? Lebih baik tunjukkan kebaikan yang konsisten dan dapat dilihat setiap hari oleh siapapun (misalnya ramah-tamah yang tahan uji).

  5. Terlalu ketergantungan dengan materi.

    Ketika terjadi sesuatu maka pelariannya ke materi. Masalah besar bahkan yang kecil saja langsung menghibur diri dengan harta yang dimiliki. Sampai kapan anda melakukan ini kawan? Mau tunggu habis dulu itu uangnya? Sebab uang itu tidak selalu ada dan tidak selalu konsisten jumlahnya alias bisa habis.

    Lagipula materi itu tidak bisa menyentuh hatimu sehingga ada kecenderungan menyebabkan kekurangpuasan (kepuasan saat menikmatinya

  6. Anak-anak menjadi manja dan egois.

    Memiliki anak yang dibiarkan pada keinginan hatinya, entah dia mau ini – entah dia mau itu, entah dia ingin ini – entah dia ingin itu, semuanya dipenuhi oleh ortunya. Bagaimana tidak dikabulkan keinginannya, toh semuanya sudah ada…. Buat apa di pelit-pelitkan toh untuk anak sendiri. Semua hawa nafsu anaknya dipenuhi oleh Ayah dan Bunda sehingga dia jadi anak mami yang manja.

    Oleh karena tembok rumah yang tinggi dan pagar yang selalu tertutup anak menjadi seperti hewan peliharaan yang tidak pernah mengenal pahit getirnya dunia luar. Lihatlah nanti ketika mereka sudah tidak lagi di jaga oleh ortunya pasti menjadi liar dan jatuh dalam berbagai-bagai dosa (narkoba, free seks dan kriminalitas).

    Mereka (buah hati anda) yang tidak pernah berbaur dan bergaul dengan lingkungan sekitar cenderung lebih mementingkan diri sendiri. Kelak ketika mereka sudah besar (dewasa) akan menjadi acuh tak acuh dengan lingkungannya sebab sejak kecil egoisnya tinggi.

  7. Moralitas amburadur (peminum, pecandu, penyuka free seks dan lain-lain) dari luarnya saja kelihatan baik.

    Orang-orang kaya raya (tidak semuanya) menghabiskan harta bendanya untuk memberdayakan, memelihara dan membayar lebih demi kenikmatan dunia. Mereka memanfaatkan uang yang telah dikumpulkan dari tangan masyarakat untuk melakukan berbagai-bagai hal yang menimbulkan dosa.

  8. Tidak mau diuji/ tidak tahan dengan ujian sosial.

    Mereka terlalu sombong, harga diri dan kehormatannya terlalu tinggi sehingga merasa tidak pantas jika diuji orang lain. Ujian kecil saja sudah membuat mereka ngambek/ mewek sampai memanggil ini-itu untuk menyelesaikan hal-hal sepele.

  9. Berlindung dibalik kekuatan uang, relasi, jabatan dan pengaruh yang dimiliki.

    Saat terjadi masalah maka mereka (oknum) enggan untuk menyelesaikannya sendiri. Lebih memilih untuk bersembunyi dibalik harta, relasi, jabatan dan kekuasaan yang dimiliki. Pada akhirnya merekapun tidak pernah dewasa.

  10. Menggunakan uangnya untuk menyakiti/ ngejahatin orang lain.

    Karena sumber daya yang melimpah ruah mereka bebas melakukan apa saja bahkan menyakiti orang lainpun dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini akan dengan mudah masuk Surga jikalau pekerjaannya kotor?

  11. Menjadi otak (perencana) kejahatan.

  12. Memanipulasi – membodohi orang lain demi harta.

  13. Akibat dari pembodohan masyarakat adalah angka kriminalitas tinggi, kemiskinan, dan pengangguranpun meningkat.

  14. Dampak kejahatan kapitalis bagi kehidupan masyarakat dapat anda temukan pada tulisan kami yang sebelumnya atau silahkan cari saja pada kolom search yang terdapat di footer blog.

Kecerdasanmu membuatmu kaya: itu hakmu! Tetapi kekayaan yang diperoleh dari hasil tipu-menipu orang lain, mengkaburkan fakta dan menyimpangkan kebenaran akan menjeratmu diakhirat. (Simak kawan, Faktor penyebab orang kaya mudah terjerat diakhirat) Bukan tidak boleh kaya tetapi pedulilah dengan lingkungan sekitarmu. Jikalau sumber daya itu terlalu besar maka bukalah lapangan kerja yang lain (yang positif tentunya). Daripada anda menggunakannya untuk hal-hal yang keji dan jahat ( 😀 misal industri lendir 😀 ) maka lebih baik serahkan pengelolaannya kepada negara sehingga bangsa ini menjadi negara sosialis yang menopang kehidupan seluruh masyarakat.

Salam kesetaraan, salam garam!

Iklan

2 comments

  1. […] Terlalu banyak makan meningkatkan kolesterol, gula darah dan asam urat. Kebanyakan menonton akan membuat mata lelah dan pikiran penat. Masih banyak lagi yang dapat mengganggu bahkan merusakkan kesehatan anda. Oleh karena itu gunakanlah dengan bijak sehingga mendatangkan manfaat bukannya bencana – masalah. […]

    Suka

  2. […] Hidup sederhana itu tidak dilihat dari jumlah uang yang digunakannya per bulan. Sebab hukum ekonominya adalah semakin besar pendapatan maka semakin besar pula pengeluaran. Apabila seseorang dengan penghasilan tinggi tidak membelanjakan uangnya niscaya perputaran ekonomi di masyarakat menjadi lebih sedikit. Menjalankan uang yang kita miliki juga sama artinya dengan usaha mengurangi angka pengangguran dan mengentaskan kemiskinan. Angka yang bagus untuk menjalankan uang yakni pada kisaran 40 % dari penghasilan. Lihat juga, Dampak buruk menimbun harta seperti laut mati […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s