9 Alasan Mengapa Anda Tidak Mau Diuji Orang Lain – Enggan Menerima Apa Adanya Proses Pemurnian Yang Seharusnya Terjadi

Faktor Penyebab Tidak Mau Diuji Orang Lain - Enggan Menerima Apa Adanya Proses Pemurnian Yang Seharusnya Terjadi

Kehidupan kita perlu bergejolak dalam kadar yang pas. Terlalu pelik dengan kemelut juga tidaklah baik sebab tanpa situasi keamanan dan keadilan yang kondusif maka perputaran ekonomi dan kreatifitas akan terhambat. Akan tetapi jikalau tidak bergejolak sama sekali juga tidaklah baik sebab sisi emosional manusia tidak akan mengalami perkembangan. Di dalam semuanya itu, harus kita perhatikan juga yang namanya sisi kesetaraan. Tanpa kesetaraan iri hati dan kesombongan akan berkembang dalam masyarakat sehingga situasi keamanan menjadi tidak kondusif.

Ujian sosial sangatlah baik untuk perkembangan kehidupan manusia. Tanpa pemurnian, otak kita tidak dapat berkembang maksimal sebab gejolak sosial meningkatkan kecerdasan emosional masing-masing orang. Tanpa kemampuan mengendalikan emosi maka seseorang tidak akan sanggup mengendalikan diri sendiri. Ada kemungkinan kebinatangan (kebencian, dendam, amarah dan kekerasan) terus menerus menguasai anda.

Tidak ada ketenangan ketika anda berhubungan dengan dunia luar terkecuali jikalau menyendiri di pulau terpencil atau setidak-tidaknya di dalam kamar sendiri. Ketenangan itu berhubungan erat dengan kemampuan seseorang untuk (1) menerima semua apa adanya (ikhlas), (2) kemampuan berkonsentrasi dan (3) menikmati (menyesuaikan diri) situasi yang sedang berlangsung. Saat anda mampu tetap tenang dalam situasi yang bergelora maka dapat dikatakan tingkat kecerdasan dan kedewasaan telah menjadi lebih baik.

Faktor penyebab seseorang tidak mau diuji oleh orang lain

Ujian sosial itu sifatnya acak dan terjadi tanpa terduga (pada waktu yang tidak ditentukan) sebelumnya. Akan tetapi beberapa orang enggan menerima apa adanya proses pemurnian yang sudah seharusnya terjadi. Berikut beberapa alasannya.

  1. Pengetahuan yang minim/ terbatas.

    Ujian sosial sudah seharusnya terjadi dalam kehidupan setiap manusia pribadi lepas pribadi. Tanpa diuji oleh orang lain dan lingkungan sekitar maka manusia cenderung memiliki kepribadian yang tidak berkembang dalam artian tetap menjadi kekanak-kanakan. Oleh karena itu, gaungan yang indah dari ujian sosial sudah seharusnya diketahui semua orang bahkan Kitab Suci sekalipun menuliskannya dengan jelas.

  2. Kesombongan

    Ketika orang merasa dirinya sudah hebat, punya jabatan dan kekuasaan yang tinggi maka ada kecenderungan mereka tidak mau diuji oleh orang lain. Justru lebih memilih untuk menguji sesamanya. Mereka menggunakan apa yang telah dimiliki untuk melemahkan, menekan dan melawan proses tersebut sehingga dirinya tidak lagi perlu menjalaninya. Sebab katanya “Saya inikan petinggi, kenapa harus diuji“.

  3. Menganggap orang lain lebih rendah.

    Mereka berkata “Sikawan ini hanya tenaga honorer rendahan dan hina tetapi menguji orang seperti saya“. Ini juga termasuk dalam modus kesombongan hanya pelakunya cenderung merendahkan orang lain untuk membenarkan dirinya. Sistem semacam inilah yang sebenarnya salah sebab siapa lagi orang yang bisa memurnikan hati ini dari sifat-sifat yang buruk jikalau bukan orang-orang terdekatmu?

    Kamipun harus mengakui bahwa adek di rumah kerap kali menguji kami (ujian komunikasi) namun tetap dihadapi dengan sabar. Sebab, bagaimana kita bisa menghadapi proses pemurnian yang terjadi diluar sana sedangkan dalam rumah sendiri tidak tahan uji? Ujian itu mulai dari rumah sehingga diluarpun diri ini menjadi lebih siap.

  4. Menuntut segala sesuatu haruslah sempurna (perfeksionis).

    Kita hanyalah manusia biasa yang syarat dengan kekhilafan. Adakalanya saat dimana perlu bagi diri ini untuk mentolerir/ mengertikan kesalahan kecil yang terjadi disekitar anda. Satu-satunya yang sempurna adalah teknologi komputer dimana anda dapat menekan ctrl + z  untuk mengembalikan kesalahan yang terjadi. Tapi lihat juga sedikit saja kesalahan pada sistemnya maka semuanya akan menjadi rusak. Oleh karena itu, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata.

  5. Tidak mau menerima perbedaan.

    Tidaklah mungkin bagi anda untuk menyetarakan (menyamakan) segala sesuatu. Inipun tidaklah baik. Hanya ada dua kekuatan super yang harus disetarakan di dunia ini yakni uang (pendapatan-penggajian) dan kekuasaan, lebih dari itu biarkan berbeda. Sebab di dalam perbedaan itulah manusia saling menguji satu sama lain. Misalnya saja ketika anda silang pendapat dengan orang lain. Pastilah disana ada yang namanya perbedaan sudut pandang. Keadaan ini akan membuat kesabaran dan kecerdasanmu dilatih agar menjadi lebih baik.

  6. Tidak bahagia, sedang galau dan gudah gulana.

    Bahagia itu sudah ada di dalam dirimu. Jika hati ini sedang berbahagia maka apapun rintangannya pasti akan di lalui dengan sukacita.

    Perumpamaan ini sudah pernah kami ungkapkan. Layaknya, pelari yang terus berlari untuk menyelesaikan pertandingannya agar sampai garis finish. Dia rela menghadapi berbagai rintangan yang menghadang di jalanan, meninggalkan godaan dibelakang sambil tersenyum demi mencapai garis akhir. Demikianlah juga hendaknya setiap dari kita yang telah di janjikan “hidup yang kekal selamanya“. Janji Tuhan itulah yang seharusnya ada di hati kita sehingga hatipun menjadi bahagia hari lepas hari.

    Kami sendiri mengakui bahwa saat hati lagi sedih, galau dan gundah maka cenderung tidak mengikuti (acuh tak acuh) pada berbagai ujian sosial yang terjadi. Tidak seperti biasanya yang selalu memaafkan orang lain bahkan tersenyum ramah kepada mereka. Melainkan lebih memilih untuk fokus dahulu membersihkan hati dari berbagai kepedihan dan kepahitan. Semakin cepat memulihkan diri (menjadi bahagia) maka semakin siap pula anda menghadapi proses pemurnian yang selanjutnya.

    Jikalau hati andapun sedang bersedih maka jangan memaksakan diri untuk mengikuti proses pemurnian melainkan acuhkan dan diam saja dulu bila perlu menghindar juga. Selesaikan dahulu masalah dalam hati anda (misalnya, rasa sakit, luka, kepahitan, kegalauan, kegundahan dan lain-lain) barulah setelah itu siap tanding lagi (menghadapi proses pengujian dengan positif)

  7. Sepele dengan ujian sosial (anggap remeh dengan pemurnian).

    Menganggap bahwa ujian sosial itu tidak penting adalah sebuah bencana kepribadian. Seumur hidup sampai mati anda akan membawa rasa benci, dendam dan amarah itu di dalam hati. Dari yang kami rasakan proses ini sangat membantu kami untuk mengendalikan diri terhadap sifat-sifat kebinatangan.  Bahkan kami bisa mengatakan bahwa lewat proses inilah kami lebih mencintai/ mengasihi sesama seperti diri sendiri. Seolah kebencian itu kini telah bertransformasi menjadi rasa cinta sehingga kami hendak memperjuangkan kesetaraan untuk semua orang (terutama kesetaraan pendapatan dan kekuasaan).

  8. Menjaga jarak, menjaga diri dan enggan bermasalah dengan orang lain.

    Setiap manusia harus berhadapan dengan masalah. Tanpa persoalan otak tidak berkembang dan mental juga tetap menjadi lemah. Beberapa orang cenderung mengambil jalan aman dengan terlalu menjaga diri (over protektif), terlalu perhitungan dan terlalu menjaga jarak dengan orang lain. Kebiasaan ini jelas tidak membuat kepribadianmu berkembang melainkan cenderung begitu-begitu saja. Oleh karena itu, beranikan diri untuk bermasalah dengan orang lain agar mental dan pikiran anda benar-benar dilatih menjadi lebih dewasa.

    Kami sendiri melatih diri terhadap ujian sosial dengan mencari masalah kepada orang lain melalui ramah-tamah. Kepada siapapun anda bertemu dan berpapasan maka ramahlah kepada setiap orang yang memandangmu dengan serius. Ini adalah cara terpraktis dan cukup ampuh untuk membuat anda lebih siap menghadapi proses pengujian yang lebih besar dan berat.

  9. Menghadapi masalah dengan tujuan yang salah.

    Selalu ingatkan diri tentang tujuanmu akan hidup yang kekal selamanya. Hindari memprioritaskan hal lain di dalam hati selain tujuan akhir ini. Beberapa orang juga rela melalui proses pemurnian demi uang, penghormatan, penghargaan, jabatan, popularitas dan hal-hal duniawi lainnya. Tujuan ini memang tidak salah akan tetapi cenderung lebih cepat redup sehingga menimbulkan patah semangat. Bahkan beberapa orang cenderung berubah menjadi membenci ketika hasrat/ keinginan hatinya tidak terpenuhi.

Ujian sosial harus terjadi, persiapkan dirimu agar hati lebih siap menghadapi semuanya itu. Jika anda merelakan diri maka hati dan pikiranmu akan benar-benar diperbaharui menjadi lebih baik. Bahkan sifat kebinatangan (benci, dendam, amarah dan kekerasan) sekalipun akan bertransformasi menjadi hati yang mau mengasihi sesama dengan tulus dan penuh.

Salam tegar, salam garam!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s