Azas Keseimbangan – Tanpa Keseimbangan Tidak Ada Keadilan Apa Bedanya Kita Dari Binatang?

Azas Keseimbangan - Tanpa Keseimbangan Tidak Ada Keadilan Apa Bedanya Kita Dari Binatang?

Kristen Sejati – Hidup ini butuh keseimbangan. Dunia dengan segala semarak dan kemegahannya tidak akan pernah mampu bertahan lama tanpa penyeimbang yang tepat. Manusia terus-menerus menghancurkan apa yang ada di bumi ini. Sedangkan tumbuhan hijaulah yang kembali menyusun dan membangunnya sehingga menjadi rapi kembali. Kita adalah pengacau nomor satu (yang paling ulung) di dunia ini. Bukankah lebih baik untuk menyeimbangkan kekacauan yang telah kita buat dengan menanam pohon?

Akan tetapi bahayanya kekacauan yang kita timbulkan juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Sudah hobinya menghancurkan energi sehingga menjadi panas dan menyebabkan pemanasan global, moralitas juga turut mengalami destruksi perlahan kearah yang istilah kerennya adalah “saling memakan dan dimakan”. Ini hanyalah istilah kiasan saja, arti sebenarnya bahwa masing-masing dari kita menekan sesamanya dengan cara:

  • Pelit ilmu.
  • Membiaskan kebenaran.
  • Mendukung kesalahan.

Sampai sekarang, kami masih terheran-heran. Mengapa bisa ada orang yang tidak mau melihat temannya maju? Sungguh ini adalah kedengkian tingkat kronis. Penyakit semacam ini akan menjadi kanker yang pada akhirnya akan membunuh/ mematikan/ melemahkan sistem sehingga mudah terguncang oleh ancaman dari dalam maupun ATHG dari luar. Jaman sekarang, tampil vokal ditengah dunia yang modern ini sangat beresiko ditolak hingga tersingkirkan oleh kekuatan yang berasal dari pihak lain. Ditambah gencarnya politik adu domba maka keadaan ini kemungkinan akan semakin besar menuju perpecahan.

Mengapa seseorang menjadi pelit ilmu? Pada dasarnya, manusia menyembunyikan ilmunya demi uang?  Ini dilakukan dalam rangka persaingan antar orang-orang cerdas dimana suasana disana saat ini cukup menegangkan. Sadar ataupun tidak persaingan dibidang tertentu akan semakin memanas. Ketika kecerdasan manusia hanya fokus kepada kenikmatan duniawi, uang dan kekuasaan semata maka otakpun mulai mencari-cari cara untuk meraih semuanya itu bahkan sampai melegalkan cara terkotor sekalipun.

Jalan satu-satunya untuk menghindari perpecahan adalah KESETARAAN. Tanpa keadilan sosial maka sulit mencapai kata bersatu apalagi sepakat. Sebab manusia intelektual cenderung mengejar uang dan kekuasaan. Ketika mereka tidak memperolehnya maka mulailah timbul kekisruhan disana-sini. Hingga pada satu titik kita mendengar bahwa sikawan telah membentuk organisasi sendiri yang baru dan lebih hebat (katanya). Selama tidak ada kesetaraan dalam hal kekuasaan dan uang maka selama itu masing-masing dari kita akan bersaing mati-matian bahkan sampai cenderung menghalalkan segala cara. Sadarilah bahwa semua gejolak ini tidak akan mendatangkan kedamaian, keamanan apalagi kesejahteraan.

Camkan firman yang terambil dari II Korintus 8:11-15, yang berkata demikian : Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Keseimbangan itu penting banget dalam kehidupan ini. Tanpanya kita hanya berada dalam kotak-kotak yang terbuat dari kardus yang suatu saat akan melapuk karena terkena angin, air, embun dan hujan juga termasuk sinar matahari. Dalam ketidakseimbangan cenderung terjadi kemelut yang bersifat internal. Memang dari luar akan kelihatan rapi dan bersih namun sesungguhnya bila kita lebih mendekat lagi maka akan terlihat jelas ketidakadilan dimana-mana. Suatu saat ketidaksetaraan ini akan meledak dan masyarakat akan menyadari berbagai tatanan yang merugikan mereka.

Ketidakadilan ini semacam perlakuan kawanan serigala kepada pemimpinnya. Ketua serigala dan keluarganya mendapat jatah yang lebih banyak (yang bisa disimpan selama berhari-hari). Sedangkan yang lain-lainnya itu hanya dapat sekali makan saja (yang muat diperut untuk hari itu). Bahkan terkadang saat hewan buruannya kecil, mereka hanya mendapatkan bagian kecilnya saja. Inilah yang namanya keadilan binatang. Jadi jika saat ini tempat dimana anda berada menggaji orang berdasarkan posisinya di perusahan/ dalam organisasi. Maka apa bedanya jenis penggajian semacam itu dengan keadilan binatang? Dengan berlaku demikian maka kita tidak ada bedanya dengan hewan-hewan liar di alam rimba sana. Siapa yang kuat maka dialah yang mendapat jatah lebih besar. Sedangkan yang lemah, bawahan, pembantu hanya dapat recehannya saja.

Coba amati kehidupan kita di Indonesia. Indeks pendapatan (bayaran) terendah sangat jauh di bawah indeks pendapatan (gaji) tertinggi. Bukankah ini keadilan sosial yang sangat tidak manusiawi? Sebab menentang azas kesetaraan, azas humanisme dan azas keseimbangan. Dimana ada yang seimbang maka disitulah ada rasa saling melengkapi. Dimana yang seorang melengkapi kelemahan yang ini dan yang lain melengkapi kelebihan yang itu. Hubungan semacam ini sama persis dengan hubungan timbal balik yang senantiasa berputar-putar sehingga sistem tetap berjalan sempurna. Paham kedaulatan rakyat.

Inilah yang kami sebut sebagai kesetaraan. Kita hanyalah berbeda fungsi justru dalam perbedaan itulah ada rasa saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Tidak perlu mempertajam perbedaan antara satu orang dengan orang lain. Sebab justru di dalam perbedaan itulah hidup ini menjadi sempurna rasanya. Layaknya seorang yang mengkonsumsi makanan yang berbeda-beda jenisnya setiap hari. Misalnya dari nasi, lauknya ikan sambel, sayurnya wortel, buahnya jeruk nipis dan minumannya adalah susu. Ini seperti slogan 4 sehat 5 sempurna.

Keseimbangan adalah suatu nilai yang tidak bisa tergantikan. Tanpanya maka akan terjadi berbagai macam ketimpangan, baik ketimpangan moral maupun ketimpangan sosial. Sebelum keburukan ini terjadi maka alangkah lebih baik jikalau anda mulai belajar menyeimbangkan hal-hal yang masih belum setara dan mengatur ulang berbagai hal-hal yang masih belum mencapai azas keadilan sosial. Tanpa rasa adil maka ada kecenderungan munculnya sikap sombong, iri hati, hawa nafsu yang sesat, kebinatangan dan hal-hal jahat lainnya.

Baik bagi kita untuk tidak menilai orang berdasarkan logika yang dimiliki. Melainkan juga perlu menggunakan sisi emosional sehingga hati nurani ini tetap tersentuh oleh keberadaan orang lain disekitar anda. Jika kita hidup bersama dan hendak mempertahankan kegotongroyongan ini maka marilah memperjuangkan dan menerapkan kesetaraan. Tanpa kesetaraan tidak ada keseimbangan sehingga damai dan kelegaan yang kita alami bersifat semu dan sementara. Sedikit saja api emosional didalamnya maka mulai timbullah benih-benih perpecahan.

Salam garam! Salam kesetaraan!

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s