10 Cara Belajar Taat Kepada Sistem – Menekan Sifat Yang Tidak Taat (Patuh) Dalam Diri Sendiri

Cara Belajar Setia Kepada Sistem - Menekan Sifat Yang Tidak Taat (Patuh) Dalam Diri Sendiri

Sejak dari awal kehidupan manusia adalah pembangkang yang suka melawan. Lihat saja perilaku Adam dan Hawa dalam Kitab Suci, yang tidak taat kepada perintah Tuhan. Sampai hati mereka melanggar perintah Tuhan yang notabene adalah Penciptanya sendiri. Bukankah ini sangat mencengangkan? Atau mungkin mereka belum tahu kali ya bahwa yang memberi perintah adalah Sang Pencipta. Dibalik semuanya itu dapat kita pahami bahwa sesungguhnya manusia memiliki sifat dasar “yang suka membangkang“.

Sebuah sistem dapat berjalan dengan baik jikalau semua bagian-bagiannya dapat mengambil peran yang berbeda lalu bergerak bersama sesuai peraturan yang berlaku. Yang kami maksud disini tidak hanya berbicara soal sistem perputaran yang sederhana seperti roda. Melainkan sesuatu yang lebih kompleks semisalnya manajemen, organisasi, bahkan negara. Sehebat apapun sebuah organisasi bila salah satu saja atau beberapa orang didalamnya tidak patuh, dapat menimbulkan ketidakseimbangan, kegaduhan, kericuhan bahkan perpecahan.

Sebuah sistem dikatakan baik jikalau bagian-bagiannya berfungsi seimbang, tidak berat sebelah dan berputar sempurna. Tanpa keadilan sosial maka organisasi cenderung menjadi sebuah alat untuk mencari uang bagi mereka yang memimpin di atas. Bila tidak berputar sempurna maka negara akan cenderung berutang terus sedangkan kemiskinan dan pengangguran merajalela. Bila setiap orang tidak mampu bekerja sama maka cepat atau lambat sistem tersebut akan mengalami kemunduran yang ujung-ujungnya akan menderita kerugian hingga berakhir dengan kebangkrutan.

Ketidaksetiaan/ ketidakpatuhan manusia sudah mengakar sejak dari nenek moyang kita terdahulu. Ini terus terjadi hingga sekarang, bisakah anda melihatnya? Jangan ambil contoh yang jauh tetapi coba lihat seorang anak yang tidak patuh kepada orang tuanya. Anak kecil saja bisa kendur kesetiaannya terlebih lagi seorang yang dewasa terhadap sistem/ manajemen/ organisasi/ negara. Ketidaksetiaan ini sifatnya manusiawi. Akan tetapi semuanya itu bisa dipelajari, dibiasakan bahkan dibudayakan. Tentu saja dalam pelaksanaannya tidak semudah mengatakan melainkan butuh waktu dan proses yang panjang sehingga hal terseubut menjadi budaya yang menenangkan hati.

Mari kita pelajari, mengapa seseorang memiliki kecenderungan tidak setia/ tidak patuh dalam menjalani hari-harinya. Berikut selengkapnya.

  • Sejak dari kecil di dalam keluarga memang kurang diajari untuk bersikap patuh/ setia kepada orang tua.
  • Tidak ada keadilan sosial. Tanpa kesetaraan maka orang yang satu akan dibuat sangat-sangat kaya namun orang yang lain menjadi sangat-sangat miskin.
  • Mental yang tidak tahan uji sehingga ada masalah kecil saja dalam manajemen sudah ngambek karena manja.
  • Dianak tirikan sedangkan yang lain dimanja.

Cara taat kepada sistem

Sekalipun sistem yang anda tempati saat ini belum semprna amat namun jalani saja dan nikmati itu kawan. Semoga kedepannya akan ada perubahan dan jangan berhenti mengharapkan hal ini. Berikut beberapa cara untuk menekan sifat yang tidak taat dan tidak patuh dalam diri manusia.

  1. Setia kepada Tuhan.

    Anda harus mampu bertahan dalam satu Tuhan. Jangan biarkan dirimu menjadi seorang yang atheis. Sebab orang atheis sangat bergantung pada materi, tidak memiliki harapan dan menghabiskan hidup untuk mengejar kemuliaan duniawi (uang, pujian, penghormatan dan popularitas duniawi).

    Setia kepada Tuhan adalah sebuah pemahaman yang dilandaskan pada iman-percaya kepada sesuatu yang tidak dapat dilihat namun karya-Nya nyata dalam kehidupan manusia.

  2. Patuh kepada orang tua.

    Sikap semacam ini harus dibina dari kecil. Menjadi orang yang setia tidaklah mudah melainkan harus menundukkan kehendak kita dibawah kepentingan bersama. Di dalam keluarga, seburuk-buruknya orang tua anda, tetap patuh kepada mereka selagi perintah mereka baik dan benar.

    Masalah yang sering terjadi antara anak dan orang tua adalah kepatuhan pada aturan kecil yang berupa kebiasaan yang tidak tertulis. Karena ajakan ini tidak tertulis entah itu dalam Kitab Suci dan undang-undang maka sering ada pergolakan/ selisih paham saat melakukannya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika aturan semacam ini ditetapkan bersama lalu dituliskan dan dihafalkan juga diuraikan apa saja sanksinya.

  3. Membiasakan diri untuk taat kepada pasangan – keluarga

    Menjadi seseorang yang setia kepada pasangan adalah tidak mudah. Tetapi semuanya itu dapat dipelajari dan dibiasakan hingga menjadi budaya yang indah. Jikalau di dalam keluarga, kepada pasangan saja anda setia niscaya di instansi manapun anda berada akan tetap menjadi seseorang yang selalu patuh kepada peraturan. Dalam perjanjian setia antara dua orang saja bisa setia terlebih ketika anda melakukan perjanjian kerja sama dengan banyak pihak yang terlibat, pasti komitmennya lebih kuat lagi. Ingatlah bahwa keluarga adalah tempat dasar dimana kita belajar.

  4. Belajar taat dimanapun anda ditempatkan (pendidikan – bekerja).

    Dimanapun kita beraktivitas, entah di sekolah maupun di tempat kerja, berusahalah untuk selalu menjadi orang yang setia kepada organisasi yang anda tempati. Tidak perlu menjadi kutu loncat, coba sana dan coba sini. Sebab keadaan ini cenderung membuat hati tidak tenang.

    Bagi yang bersekolah maka patuhlah kepada guru/ dosen tempat anda mengikuti pendidikan. Dengan demikian andapun belajar menjadi orang yang memiliki tingkat kesetiaan dan kepatuhan yang tinggi.

  5. Mendoakan sistem, pemimpin dan manajemen juga jajarannya.

    Doa itu kuat teman, pengaruhnya luas dan dahsyat. Jikalau anda ingin mengubah manusia, sistem, organisasi bahkan negara sekalipun maka mulailah usaha ini dengan berdoa. Doa-doa yang dipanjatkan bersama-sama dengan penuh iman sangat besar kuasanya teman.

  6. Mematuhi peraturan dan mengikuti budaya di dalamnya.

    Aturan sangat mudah untuk dilafalkan akan tetapi untuk mempraktekkannya tidak semua orang bisa. Melakukan setiap aktivitas disana sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SPO). Budaya di tempat anda bekerja sepertinya tidak tertulis melainkan merupakan kebiasaan yang bisa anda saksikan dengan jelas lewat perilaku dan tutur kata rekan kerja lainnya.

  7. Pandai menyesuaikan diri – mengalir seperti air.

    Ujian sosial yang pertama-tama dalam dunia ini adalah “saat anda diperhadapkan dengan perbedaan“. Anda perlu memahami baik-baik situasi disana lalu mengikutinya sambil menyesuaikan hal itu dengan kepribadian anda. Akan tetapi untuk kebiasaan yang sifatnya abstrak dan tidak bisa disesuaikan maka mulailah belajar untuk mematuhinya secara perlahan-lahan.

  8. Menjadi pendengar yang baik.

    Mendengarkan itu sangatlah penting. Sebab dua orang yang bekerja sama pastilah butuh komunikasi terlebih ketika kita berbicara soal komunitas yang lebih besar misalnya lembaga keagamaan dan negara. Saat anda mendengarkan maka cobalah untuk.
    – duduk/ berdiri dengan tenang dan santai.
    – tutup/ kunci/ lemahkan indra yang lain, fokus mendengar.
    – fokuskan pikiran pada kata-kata yang keluar.
    – jauhkan pikiran dari imajinasi, masa lalu dan masa depan.
    – sesuaikan kata hati anda pada kata-kata yang didengarkan.
    Ada seseorang yang berkata-kata dalam hati anda maka saat anda mendengarkan sesuatu maka ikutilah kata-kata yang terucap itu di dalam hati anda sehingga pikiran tetap fokus kepada pembicara dan tidak lari kemana-mana.

  9. Memberikan yang terbaik untuk organisasi bahkan memberi lebih dari apa yang telah dibayarkan (gaji).

    Jangan menyesalkan apa yang telah anda berikan atau menghemat kebaikan anda di manapun berada melainkan jadilah pribadi yang maksimal dimana saja. Berjuang maksimal, berkarya maksimal dan bekerja maksimal juga berkorban maksimal.

  10. Mengikuti ujian kehidupan yang terus berlangsung selama berada dalam sistem.

    Di belahan bumi manapun kita berada pasti ada berbagai macam gejolak yang terjadi. Oleh karena itu, hadapi saja dan terima semuanya itu apa adanya sehingga mental dilatih lebih kuat dan otak dilatih lebih cerdas. Ingatlah bahwa ujian sosial merupakan bagian dari pembelajaran penting untuk melatih dan mempersiapkan diri ini mengahadapi sesuatu yang lebih menantang.

  11. Merasa puas dan menjadi bahagia.

    Bersyukurlah dengan apa yang sudah dimiliki dan telah digenggam saat ini. Anggaplah semuanya itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan anda. Nikmatilah hidup apa adanya namun gantungkanlah pikiranmu kepada Tuhan dengan senantiasa memusatkan pikiran kepada dalam doa, firman dan puji-pujian. Merasa pualah dengan kehidupan anda lalu jadilah bermanfaat bagi setiap orang yang anda tamui dimulai dari senyuman, sapaan dan salaman. Selanjutnya lakukan kebaikan sesuai sumber daya dan potensi yang dimiliki. Menjadi orang yang bermanfaat bagi Tuhan dan bermanfaat bagi manusia adalah penghiburan sejati yang takkan tergantikan.

Setia itu dimulai dari hal-hal kecil. Bagaimana anda bisa setia kepada manusia sedangkan kepada Tuhan yang berdiam disampingmu bahkan dihatimupun anda tidak patuh. Saat kesetiaan dilakukan terus menerus secara konsisten maka menjadi budaya yang mendatangkan berkah yang luar biasa. Ketika kepatuhan dilatih terus menerus secara konsisten maka akan terwujud kebersamaan yang mampu mengubah dunia.

Salam garam!

Iklan

2 comments

  1. […] Zaman sekarang, kita berada dalam era kesetaraan dimana laki-laki dan perempuan adalah setara. Istilah yang lebih kerennya adalah emansipasi wanita. Tapi bukan berarti suami harus tunduk sama istri: ini menyalahi kodrat manusia! Istri yang seperti ini bisa-bisa kwalat (durhaka) sehingga tidak selamat dunia akhirat. Selama Suami membawa anda ke jalan yang baik dan benar maka selama itu pula sebagai Ibu rumah tangga berjalanlah dibelakang mengikutinya. Terkecuali kalau kepala keluarga sudah mulai mengajak anda untuk berjalan di jalan yang menyimpang bahkan salah : istri berhak tidak patuh. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s