+10 Cara Memutar Ekonomi Sandiwara – Hidup Ini Hanya Sandiwara Bila Semua Bekerja Sama Maka Semua Bisa Sejahtera

Cara Memutar Ekonomi Sandiwara - Hidup Ini Hanya Sandiwara Bila Semua Bekerja Sama Maka Semua Bisa Sejahtera

Kami telah memberi kesaksian sebelumnya bahwa kita adalah sistem. Semuanya terorganisir dan tertata dengan rapi. Masing-masing mengambil peran dalam mode kebersamaan. Tanpa ada satupun yang tertinggal melainkan semuanya akan dimajukan oleh roda ekonomi gotong royong. Dalam suatu organisasi, semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni untuk kepentingan pribadi lepas pribadi.

Setiap orang memiliki urusan yang berbeda-beda sesuai dengan perannya dalam negara. Sekalipun ada perbedaan namun tetap saja dalam sistem penjatahan sumber daya berada dalam ranah kesetaraan. Jika perbedaan profesi mendorong perbedaan pendapatan maka sudah dapat dipastikan bahwa orang-orang akan berbondong-bondong untuk mendaftar ke profesi tersebut. Situasi semacam inilah yang kerap menimbulkan instabilitas sosial bermasyarakat.

Saat masing-masing orang telah memiliki keyakinan yang kuat kepada Tuhan, ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas maka dapat dipastikan bahwa hampir tidak ada masalah di dalam masyarakat. Artinya, tidak ada lagi perang mulut, tidak ada perkelahian, tidak ada lagi penyakit dan tidak ada lagi masalah sosial yang pelik di sana dan disini. Ketika semuanya dalam keadaan aman terkendali maka pekerjaan minim, artinya aktivitas ekonomi cenderung tidak berputar. Terutama yang bergerak di bidang kesehatan dan keamanan.

Pada dasarnya hidup ini “bisa kita atur“, asalkan ada yang namanya kebersamaan diantara semua pihak dan semua profesi. Tanpa kebersamaan dan saling pengertian maka masing-masing orang akan mengoreksi kelemahan/ kekurangan yang lainnya. Akibat dari tidak ada rasa saling menghargai maka masing-masing akan menempuh jalannya sendiri sehingga sistem menjadi kacau balau. Harus ada kerja sama tim sehingga sandiwara yang akan kita rancang kelak dapat berputar dengan baik tanpa ada yang tertinggal atau rasa bersalah.

Untuk mengantisipasi perekonomian yang lesu, kita perlu bersandiwara sehingga sumber daya yang ada tidak terbuang sia-sia melainkan dipakai habis sehingga perputaran uang terus terjadi. Akan tetapi harus diingatlah bahwa “sumber daya yang digunakan dengan bebas adalah yang dapat diperbaharui“. Artinya sekalipun sudah digunakan maka ia bisa di daur ulang sehingga dapat digunakan lagi. Ciri khas dari sumber daya ini adalah “dapat diputar – direkayasa” sehingga sekalipun sudah dipakai akan bisa menjadi baru lagi setelah melalui proses tertentu. Misalnya, makanan dan minuman.

Satu hal saja masalahnya: keserakahan

Sikap yang serakah adalah bencana ekonomi, sosial dan politik terbesar dalam hidup ini. Jikalau sikap ini dipelihara niscaya perputaran uang itu hanya terjadi dikalangan tertentu saja sedangkan orang yang lainnya tidak lagi merasakan kemakmuran. Lagipula untuk apakah menumpuk uang banyak-banyak menjadi miliki sendiri? Lebih baik uang itu diserahkan sama pemerintah sehingga bisa diputar ulang dan manfaatnya dirasakan oleh seluruh manusia.

Keserakahan hanya menguntungkan pihak pemerintah yang notabene telah dianggarkan dana untuk itu. Padahal praktek dilapangan tidak ada karena semua laporannya hanyalah proyek fiktif belaka yang tidak ada realisasinya. Akibatnya, uang hanya akan berkumpul di tangan orang-orang tertentu saja. Inilah yang kami maksudkan bahwa sistem pembayaran jasa dalam pekerjaan adalah salah. Sebab dapat menimbulkan praktek manipulasi. Misalnya saja antara Rumah Sakit/ dokter dan BPJS kesehatan. Antara oknum aparat pemerintah dengan oknum warga yang sudah dibayar. Keadaan ini pulalah yang membuat sistem penilaian kinerja itu bisa direkayasa/ dimanipulasi.

Resiko yang harus ditanggung akibat pengangguran yang terus bertambah

Pengangguran adalah suatu masalah sosial yang memiliki bahaya masif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Biasanya manusia tanpa pekerjaan adalah orang-orang yang rentan mengalami stres hingga depresi. Banyak dari mereka yang hidupnya ketergantungan dengan seks bebas, rokok, miras, narkoba dan lain sebagainya. Orang-orang sampah semacam ini tidak akan terbentuk jika saja pemerintah dan kalangan kapitalis mau berbaik hati dan peduli dengan mereka. Seharusnya  persaingan kerja tidak sampai membuat seseorang menjadi pengangguran.

Satu saja orang-orang yang senang saat pengangguran banjir di jalanan adalah kapitalis licik yang menjual berbagai-bagai produk haram seperti yang kami tuliskan di atas. Diantaranya adalah ketergantungan miras, seks bebas, narkoba, rokok dan lain sebagainya. Sekalipun oknum yang menganggur ini dibiayai negara namun uang yang diberikan kepada mereka nantinya akan digunakan untuk melakukan kejahatan. Keadaan ini dikarenakan oleh dorongan stres dan depresi yang dirasakan. Ujung-ujungnya para kapitalis licik itulah yang akan semakin kaya raya.

Cara memutar ekonomi sandiwara

Ketika semua orang otaknya sudah cerdas, kebutuhan tercukupi, penyakit tidak ada, sumber daya melimpah ruah. Dimana tidak ada lagi gejolak dan masalah sosial yang dulunya membuat pusing kepala tujuh keliling. Akibatnya pekerjaan minim dan lapangan kerja buat aparat pemerintah hampir kosong. Untuk mengantisipasi kelesuan ekonomi semacam ini maka yang perlu dilakukan adalah bersandiwara sehingga uang tetap berputar. Tapi ingatlah bahwa banyaknya sandiwara itu tergantung dari sumber daya terbarukan yang dimiliki.

Sistem semacam ini baru dapat berjalan ketika semua orang berada dalam kesetaraan dimana satu-satunya kapitalis adalah negara itu sendiri. Dimana tidak ada lagi oknum pengusaha yang mencari uang dengan menekan, memeras dan membodohi sesamanya. Melainkan semuanya bekerja untuk negaranya dan bukan saja hanya untuk kepentingan pribadinya semata.

Apa saja yang dapat kita lakukan sehingga sistem dapat berputar bukan lagi berdasarkan keperluan melainkan atas dasar kerja sama sehingga ada rasa saling membutuhkan. Agar setiap sistem yang ada saling membutuhkan. Berikut beberapa sandiwara yang dapat kita terapkan.

  1. Warga adalah pemerintah dan pemerintah adalah rakyat. Ada keterbuakaan antara pemerintah dan masyarakat. Tidak ada lagi yang disembunyi-sembunyika dimana semua pembiayaan berbagai proyek dapat disaksika secara online. Transparansi anggaran ini sekaligus sebagai usaha untuk memastikan aliran sudah benar.
  2. Masyarakat dan pengusaha terhubung sehingga dapat diketahui dimana-mana saja industri yang sedang sepi agar bisa diberdayakan oleh pemerintah atau setidak-tidaknya masyarakat menggandrunginya sehingga produk yang dihasilkan tidak sia-sia. Antar pengusaha bahkan saling terhubung sehingga ketika pengusaha yang satu kelebihan ini maka ia dapat mengoverkannya untuk dilariskan oleh pengusaha yang lain. Demikian juga saat kekurangan maka pengusaha yang lain dapat turut membantunya.
  3. Menyusun pekerjaan dengan pelanggan fiktif. Membuat barang tanpa konsumen, melakukan penjualan tanpa pelanggan, memberikan jasa tanpa pembeli. Semua ini dilakukan agar orang sibuk bekerja.
  4. Menetapkan jadwal pemeriksaan kesehatan seseorang dimana setidaknya 2 atau 3 kali dalam setahun. Masing-masing harus menentukan waktu tertentu dalam setahun untuk memeriksakan diri ke instalasi kesehatan, ada ataupun tidak ada keluhan.
  5. Melaporkan hal-hal kecil kepada pihak yang berwajib untuk ditanggapi dan diberi solusi. Sehingga pihak keamanan tetap punya kerjaan.
  6. Membuat laporan tentang sesuatu sehingga semua pihak bergerak akan tetapi ternyata itu bukan aksi kejahatan melainkan hanyalah sebuah kesalahan teknis (dipinjam oleh kerabat).
  7. Melakukan simulasi tentang hal-hal tertentu sehingga anggara bisa dicairkan dan uang digunakan untuk mensukseskan hal tersebut.
  8. Melakukan pelatihan tentang ini dan itu sembari “out bound” ke tempat-tempat wisata baik yang dekat maupun yang jauh.
  9. Memprogramkan survei lapangan untuk meninjau daerah-daerah tertentu sembari refresih ke luar kantor.
  10. Sudah familiar: sutradara & timnya membuat film yang memakan anggaran tertentu sehingga dapat memutar roda ekonomi.
  11. Yang tidak kalah familiar, melakukan pertandingan olah raga sehingga setiap penonton membayar untuk menyaksikan keseruannya yang penuh dengan ketegangan dalam sandiwara sehingga membuatnya terlihat lebih seru.
  12. Menggelar pesta besar tentang hari-hari nasional yang menyerap sumber daya terutama pangan. Pesta semacam ini sangat ideal dilakukan dimusim panen utamanya ketika hasil panennya melimpah. Istilah kata daripada terbuang sia-sia (membusuk) lebih baik di pestakan.
  13. Mengupgrade/ merenovasi rumah-rumah yang masih sederhana secara bertahap. Terutama untuk memutar ekonomi di bidang properti.
  14. Mengembangkan produk-produk makanan dan minuman sehingga menampung tenaga kerja sekaligus agar sumber daya yang ada tidak terbuang sia-sia.
  15. Jalan-jalan atau reuni bersama ketempat-tempat tertentu sehingga semua sumber daya yang bisa diperbaharui dapat dipakai oleh seluruh masyarakat atau setidak-tidaknya dinikmati secara bertahap.
  16. Semuanya tersistem dan dimuat secara online sehingga setiap warga bisa mengamati dengan jelas dimana-mana saja perputaran uang masih lemah. Agar orang-orang bergotong royong untuk membeli dan mengkonsumsinya.
  17. dan masih banyak lagi.

Hal ini barulah dapat kita lakukan jikalau semua orang sudah sejahtera dan pemerintah menjamin itu. Sehingga tidak ada kekuatiran diantara masyarakat sebab negaranya kaya raya karena mampu menghasilkan sumber daya terbarukan yang dapat diputar sehingga perekonomian tetap berjalan baik.

Salam gotong royong!

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s