Uang Adalah Masalah Utama Di Negeri Ini – Pancingan Uang Sangat Kuat Menggaet Siapa Saja

Masalah utama di negeri ini adalah uang

Uang (selanjutnya disimbolkan dengan “~”) memang bukan segalanya tetapi kertas yang satu ini dapat menimbulkan kesedihan, kegelisahan, kekacauan bahkan perpecahan juga. Kurang adil sedikit memanajemennya maka bakalan timbul gejolak sosial yang masif di masyarakat. Saat negara mampu menjatahi orang dengan adil maka akan timbullah stabilitas sosial, ekonomi dan politik.

Memang harus diakui bahwa bangsa ini dibangun di atas kekuatan intelektual sekelompok orang. Akan tetapi bukan berarti para pendiri bangsa ini tidak butuh orang lain saat melakukannya. Dukungan tenaga juga diperlukan untuk memperjuangkan kemerdakaan kala itu. Karena partisipasi semua pihak yang memiliki semangat perjuangan yang sama maka NKRI terbentuk.

Di tengah-tengah kemenangan ini, kami bisa melihat ada banyak kekurangan sehingga sistem tidak berjalan dengan sempurna. Negara tidak mengakui bahwa perbedaan itu manusiawi melainkan lebih memperhatikan  orang-orang intelektual yang ada didalamnya. Sedangkan mereka dengan keterbatasan berpikir, diabaikan dan dibirkan bertahan bgitu saja.

Jika negara tidak mengakui perbedaan profesi yang dimiliki oleh masing-masing orang. Masakan orang baru makmur ketika sudah jadi PNS, anggota dewan dan presiden? Dimanakah keadilan itu? Para petinggi negara ini tidak mengakui perbedaan potensi yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam artian pemerintah tidak manusiawi sebab profesi yang satu dimanjakan sedangkan profesi yang lain diabaikan bahkan dibiarkan terkulai dan miskin. Padahal kita adalah saudara dalam satu sistem.

Perlu dipahami betul bahwa di negeri ini kita bersaudara, sama-sama dilahirkan, dibesarkan dan dipelihara hidupnya di tanah Ibu Pertiwi, Inilah yang membuat kita semuanya sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Terlebih ketika semua bersatu padu dalam NKRI yang membuat kedekatan itu semakin kentara. Jadi tidak ada gunanyalah kita melemahkan, menginjak bahkan memakan saudara sendiri. Jika ingin banget melakukan hal itu, silahkan cari mangsa di luar negeri sana.

Pola pergerakan aktivitas manusia Indonesia berlomba dan bersaing untuk mengikuti UANG

Bisakah anda melihat sekeliling saat ini dimana pola pergerakan manusia tertuju pada profesi tertentu saja? Saat ada tawaran untuk menjadi artis maka semua orang buru-buru melamar audisi. Ketika ada ujian CPNS maka semua orang berbondong-bondong melamar dan mengikuti ujian CPNS. Saat ada penerimaan Polisi maka semua orang beramai-ramai melamar untuk jadi Polisi. Sewaktu ada biaya siswa untuk mengikuti sekolah pemerintah (untuk calon aparatur negara) maka semuanyapun berjejer-jejeran untuk mendaftarkan diri. Ini semua terjadi karena pusaran UANG ada disana.

Pungli masih terjadi dibeberapa bagian. Jabatanpun diperdagangkan diantara para petinggi negeri. Mau jadi anggota partai untuk masuk jadi calon legislatif (DPR/ DPD/ DPRD) maharnya besar. Terlebih ketika ingin jadi pemimpin tertinggi di suatu daerah, sudah pasti bayarannya lebih tinggi lagi. Kampanye para calon anggota legislatif dan eksekutif jelas biayanya tak terkira hingga puluhan bahkan ratusan miliar. Di negeri ini untuk menempati posisi tertentu butuh cost (ongkos) yang tinggi. Artinya, jika ongkosnya tinggi, bayaran yang di dapat kelakpun lebih tinggi bahkan lipat kali ganda.

Orang-orang menjual harta miliknya untuk mendaftarkan anaknya masuk perkuliahan. Petani menjual ladangnya untuk mendaftarkan anaknya menjadi PNS. Banyak orang yang menjual kepunyaannya bahkan mata pencahariannya sendiri untuk memasukkan anaknya kepada posisi/ pekerjaan yang lebih baik. Orang-orang tertentu tidak hidup dengan tenang sebab mereka tidak sejahtera dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Semua orang saing-saingan untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera karena perhatian pemerintah tidak merata kepada semua profesi.

Teorinya begini, “dimana ada gula disitu ada semut“. Manusia mengejar kesejahteraan di dalam hidup ini. Mereka bekerja bukan hanya untuk makan dan minum saja melainkan untuk sejahtera seperti orang lain. Iri hati itu selalu ada terutama ditengah perbedaan perolehan UANG/ pendapatan. Kecemburuan sosial tidak dapat dihindari terlebih ketika kesombongan merajalela. Pada akhirnya, situasi bergejolak, kejahatan berkecamuk dan tidak ada damai dimana-mana. Semua kekacauan ini dipancing, dipicu, diperkuat bahkan diperparah oleh  U A N G  itu sendiri.

Orang-orang cerdas terlalu serakah terhadap uang

Mereka yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, dibiarkan merajelela untuk memanen di seluruh negeri. Memanfaatkan pengetahuan masyarakat yang kurang, minim bahkan bodoh untuk menjadikan mereka sebagai pundi-pundi untuk menghasilkan uang. Inilah kolonialisme jaman sekarang, dimana orang-orang intelek memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk diri sendiri. Memperkaya diri dengan memperdagangkan ilmu itu sehingga ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah bisa masuk ke dalam kantongnya sendiri.

Ilmu pengetahuan yang mereka miliki membuatnya kehilangan hati nurani sehingga menjadi serakah untuk meraih untung yang lebih dan lebih lagi. Orang intelek adalah penjajah ekonomi yang bergerak secara masif yang ditandai dengan, kekayaan mereka yang semakin bertambah banyak sedangkan tingkat kemiskinan dan pengangguran semakin merajalela. Inilah yang semakin memperuncing perbedaan antara orang kaya dan miskin. Dimana aliran uang bersifat satu arah dan tidak berputar. Artinya, uang rakyat yang telah mereka ambil dengan leluasa tidak dikembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat (ekonomi kerakyatan) melainkan digunakan untuk kepentingan pribadi, golongan dan kelompok.

Uang adalah masalah utama di Indonesia

Money, money and money; semuanya karena uang. Mengapa ada iri hati, mengapa ada kesombongan, mengapa ada kejahatan, mengapa terjadi manipulasi, mengapa terjadi aksi bunuh-membunuh, mengapa manusia Indonesia mudah stres? Semuanya itu karena perbedaan penghasilan (kertas ajaib) yang sangat kentara. ~ adalah sumber masalah terbesar di negeri ini, dengan ciri khas yang kaya semakin kaya tetapi yang miskin tetap miskin.

Ketika perolehan uang untuk masing-masing profesi tidak sama maka manusia berbondong-bondong untuk meraih profesi tertentu. Bisa dikatakan sampai mengorbankan benyak hal bahkan diri sendiri. Mereka tidak lagi peduli juga tidak takut dengan penyimpangan karena sikap yang cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih posisi tertentu.

Kejahatan: pencurian, pembunuhan, jambret, begal motor, maling, penipuan dan masih banyak penyimpangan lainnya yang terjadi demi uang. Ketika akar rumput hidup kekurangan maka para petinggi negeri menaikkan gajinya, menambah tunjangannya, meningkatkan biaya transportasinya dan usaha-usaha meningkatkan perolehan UANG lainnya. Semuanya penggelapan uang ini terjadi karena “sistem tertutup” dan “bisa diaturlah” oleh para petingginya. Penggunaan uang oleh pemerintah tidak dapat selalu dipantau oleh masyarakat luas melainkan hanya oleh lembaga tertentu dengan alasan “agar pembiayaan proyek pemerintah tidak terganggu“. Saat beberapa oknum mengeruk harta miliknya sendiri dengan cara-cara licik sebalikanya keadaan masyarakat banyak yang terlantar, terpuruk, miskin dan melarat.

Gejolak akan terus terjadi dan masalah juga terus bermunculan karena negara tidak adil dalam membagi jatah keuangan untuk setiap profesi. Justru mereka yang pintar-pintar akan semakin kaya raya sedangkan orang-orang dengan intelektual rendah semakin terbelakang. Persoalan terus bermunculan untuk memurnikan bangsa ini dari ketidakadilan. Bencanapun tidak pernah putus-putusnya untuk menyadarkan para petinggi negeri agar mereka lebih mengedepankan kesetaraan dalam hal pembagian UANG.

Selama sistem penggajian belum diperbaiki maka tidak ada ketenangan di dalam hati setiap masyarakat. Jika perdagangan masih dikuasai oleh swasta maka uang negara yang diberikan kepada masyarakat masuk ke dalam kantongnya pribadi. Selama negara belum menjunjung tinggi prinsip kesetraan maka tidak ada keamanan dan kedamaian diseluruh negeri karena semua orang pada berebutan, bersaing bahkan menghalalkan segala cara untuk menempati posisi/ pekerjaan tertentu. Oleh karena itu pemerintah harus segera melekukan pemerataan pendapatan untuk setiap profesi dengan menyebarkan “GULA” itu secara merata. Entah itu dibedakan menurut umur atau dibedakan menurut pendidikan, yang penting semuanya sejahtera. Mustahil ada moralitas yang manusiawi jikalau manusianya belum makmur.

Salam pemerataan pendapatan!

Iklan

One comment

  1. […] Uang seperti buah simalakama. Lebih baik tidak punya sama sekali dari pada hawa nafsu yang sesatu turut terwujud karenanya. Namun lebih baik melimpah daripada orang-orang mencuri dan mengedepankan perbuatan menyimpang untuk memilikinya. Jadi bisa dikatakan bahwa manfaat kertas ajaib ini dapat terwujud bila jumlahnya tidak terlalu melimpah namun juga tidak terlalu sedikit, dalam artian berada pada taraf cukup. Harus dipahami bahwa segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik: hal ini juga turut berlaku untuk Rupiah yang anda pegang. […]

    Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s