7 Perbedaan Negara dan Agama – Kesejahteraan Mengikuti Moralitas Atau Moralitas Mengikuti Kesejahteraan

Perbedaan negara dan agama lebih duluan sejahtera atau moralitas

Sebuah sisi fundamentalis yang sangat berbeda antara agama dan negara. Ketika sebuah kepercayaan dibangun dari harapan tentang adanya masa depan yang lebih baik maka pemerintah tampil untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik itu. Artinya, keyakinan membuat anda memberanikan diri untuk berharap agar bisa hidup makmur maka negara bertugas untuk membantu mewujudkan cita-cita itu. Sebab pemerintah membanting tulang untuk kepentingan masyarakat bukan untuk kepentingan kantong pribadinya

Pergerakan ajaran agama menekankan manusia untuk memiliki sifat-sifat yang baik dan benar. Baik dalam hal ini adalah melakukan sesuatu yang dirasakan baik adanya oleh orang lain. Benar dalam hal ini adalah sebuah totalitas, bukan hanya sekedar enak dipandang, enak didengar atau enak dirasa saja melainkan juga dasar komitmen dan tujuan saat melakukannya adalah benar-benar murni dan jujur tanpa ada udang dibalik batu.

Pergerakan ajaran negara adalah kepada suatu sistem yang stabil dimana menjamin keamanan, kesejahteraan dan keharmonisan setiap warganya. Pemerintah adalah pelaku utama dalam memanajemen sistem tersebut dimana masing-masing orang mendapat bagian yang sama sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jalannya sistem dalam negara ditujukan untuk kepentingan semua warganya dan bukan hanya kepentingan beberapa orang sahaja. Sulit mencapai ini tanpa kesetaraan sebab kehidupan manusia rentan akan iri hati dan kesombongan.

Agama bisa menggerakkan seluruh penganutnya untuk melakukan sesuatu maka begitulah juga seharusnya negara dapat menggerakkan seluruh masyarakat untuk tujuan bersama. Tapi tunggu dulu, mustahil dua kekuatan ini bisa melakukan hal tersebut, apabila belum pernah menyatakan pengaruh dan kebermanfaatannya kepada seluruh masyarakat. Lagipula ada batas-batasnya juga, selama itu dilakukan untuk kepentingan bersama. Lain halnya ketika ajakan itu bertujuan untuk menjerumuskan, pasti yang deman hanya kaum fanatik saja.

Secara fundamental, keduanya bertujuan untuk kebaikan bersama. Namun tidak jarang kita temukan segelintir orang yang berusaha mengaburkan tujuan ini demi kepantingan pribadi. Manusia cenderung menggila akibat hawa nafsu, kejahatan & keserakahan di dalam hatinya. Sehingga banyak usahanya yang penuh dengan manipulasi ala konspirasi. Jika sudah begini jadinya maka kebenaran akan dikaburkan sehingga muncullah fakta abu-abu yang membuat beberapa orang salah tingkah/ salah kaprah. Sehingga pihak-pihak tertentu dapat meraup untung dari kesalahan itu.

Kemudian apa sebenarnya perbedaan antara kedua kekuatan ini?

1. Agama fokus pada budi pekerti sedangkan negara fokus untuk mensejahterakan

Seperti yang kami katakan tadi bahwa inilah dua kekuatan yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia didalamnya. Tetapi keduanya memiliki orientasi yang berbeda. Jikalau negara fokus untuk mensejahterakan masyarakat maka agama fokus untuk memperbaiki/ memperbaharui moralitas dan budi pekerti manusia dengan mencerdaskan akal pikirannya.

2. Pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan sedangkan aliran kepercayaan bertanggung jawab membentuk moralitas manusia

Pemerintah tidak begitu peduli dengan moralitas rakyat akan tetapi terus berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Artinya, moralitas itu ditegakkan dalam satu garis standar yang disebut hukum. Setiap orang yang melanggar hukum yang berlaku akan dibawa dimuka pengadilan untuk diputuskan sanksinya.

Agama justru sangat bertanggung jawab dengan moralitas para pengikutnya. Jika manusia yang seharusnya dituntun dalam terang terperosok masuk ke dalam gelap maka para pemukanya bertanggung jawab penuh untuk menyadarkan orang tersebut agar sekiranya ia berbalik dari kesesatannya itu. Akan tetapi semuanya tergantung dari manusianya, apakah mau berubah atau malah ngetam (keras kepala – bertahan) dalam kedegilan hatinya.

Negara memberikan perhatian khusus agar setiap warga masyarakat mendapatkan kesejahteraan yang layak dan adil. Terlepas dari profesi dan bakat masing-masing maka tidak ada perbedaan yang signifikan lewat semuanya itu. Sebab perbedaannya hanya terletak pada peran masing-masing sedangkan semunya wajib mendapatkan kesejahteraan yang sama sesuai dengan amanat undang-undanya yang menyatakan bahwa semua manusia sama di mata hukum. Bukankah pemerintah adalah hukum itu sendiri? Tanpa hukum maka tidak ada pemerintahan yang sah.

3. Agama memberikan harapan sedangkan negara membantu masyarakat untuk mewujudkan harapan tersebut

Apabila setiap agama memberikan harapan tentang sesuatu yang baik setelah hal-hal ini dan itu diikuti. Lain halnya dengan negara yang memberikan kepastian. Setelah cukup umur dan memiliki kemampuan maka setiap orang berhak mendapatkan kesejahteraan yang layak dari sistem (pemerintah).

Kepercayaan seseorang memberikan harapan tentang adanya kesejahteraan bagi setiap pengikutnya. Perwujudan harapan ini bebeda-beda untuk masing-masing orang tergantung dari izin Tuhan dan keberuntungan setiap manusia. Saat manusia digiring dalam pengertian bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Tuhan yakni sama-sama berdosa adanya. Maka semuanya juga berhak mendapatkan kesejahteraan yang sama dari Sang Maha Adil.

4. Negara bersifat memaksa sedangkan agama adalah ajaran kerelaan hati

Satu lagi perbedaan yang sangat mendasar antara kedua organisasi ini adalah negara bersifat memaksa sedangkan agama menjunjung tinggi kebebasan memilih. Peraturan perundang-undangan yang memiliki sanksi yang jelas dimana pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh Aparat Pemerintah. Sedangkan di dalam ajaran kepercayaan hanya berupa rekomendasi dengan tujuan yang jelas dimana setiap pengikutnya diberi kebebasan untuk memilih.

5. Negara menghakimi dengan jelas sedangkan agama meyakini penghakiman di akhir zaman

Dari kebanyakan kepercayaan yang ada mereka meyakini bahwa penghakiman Tuhan itu terus terjadi, hari lepas hari. Tidak ada yang dapat mengenelinya secara pasti tetapi pada intinya setiap nasib sial merupakan bagian dari peringatan Tuhan kepada umat-Nya. Ini bisa terjadi dalam bentuk apa saja yang kerap dihubung-hubungkan dengan pelanggaran seseorang. Lagi setiap agama meyakini tentang adanya penghakiman terakhir yang akan menentukan destinasi akhir setiap pengikutnya, apakah neraka atau Sorga?

Pemerintah justru menerapkan aturan yang ketat bagi setiap pelanggar akan diberikan sanksi sesuai dengan besar kecilnya kejahatan itu. Ada pengadilan yang sah yang dapat digelar sewaktu-waktu menurut kebutuhan. Sekalipun demikian negara tetap memberikan pembinaan hanya sembari menjalani hukumannya sesuai dengan perundangan yang berlaku.

6. Pemerintah melayani untuk rakyat, agama melayani untuk Tuhan

Jikalau setiap keyakinan bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan Tuhannya sembari melayani Dia. Ini disebut juga sebagai kedaluatan Tuhan dimana semua pelayanan ditujukan untuk kemuliaan nama-Nya. Sedangkan pemerintah berdiri, ditegakkan, dipersatukan dan diakui oleh setiap warganya untuk mendatangkan kesejahteraan, keamanan dan keadilan. Ini dilakukan semata-mata demi kapentingan seluruh warga masyrakat. Bukan untuk kepentingan segolongan orang saja, misalnya hanya untuk Aparatur Sipil Negara saja melainkan kemakmuran adalah hak seluruh warga masyarakat. Inilah yang disebut dengan kedaulatan rakyat, artinya semua sumber daya yang dikelola semata-mata demi kepentingan seluruh warga.

7. Pemerintah menjunjung tinggi kedaulatan rakyat sedangkan suatu kepercayaan menjunjung tinggi kedaulatan Tuhan

Kedaulatan rakyat menjadi nyata ketika segala sumber daya ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Pemerintah bekerja keras untuk melayani kebutuhan semua warga tanpa pandang bulu. Bahkan dalam filosofi “pelayanan prima” terkadang muncul slogan yang menyatakan bahwa “pelanggan adalah raja“. Dengan begitu mau tidak mau perlu adanya kesetaraan antara orang yang dilayani dan mereka yang melayani.

Kedaulatan Tuhan dimana semua sumber daya yang ada ditujukan untuk kepentingan Tuhan. Kepentingan Yang Maha Adil diterjemahkan dengan mengaplikasikan semua sumber daya yang ada untuk keberlangsungan pekerjaan pelayanan dan penyebaran ajaran agama. Ingatlah seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk percaya kepada-Nya. Akan tetapi negara memaksa semua warganya untuk patuh di bawah undang-undang yang berlaku demi kepentingan bersama.

Hubungan sinergisitas antara agama dan negara, lebih duluan moralitas atau kesejahteraan

Apabila hubungan agama dan negara harmonis maka ada sinergisitas antara keduanya maka harapan yang diyakini oleh masyarakat akan dibantu mewujudkannya oleh pemerintah. Sebaliknya pemerintah yang menantikan sumber daya manusia yang berakal budi, berakhlak dan kreatif akan dibentuk oleh ajaran-ajaran kepercayaannya masing-masing. Istilahnya adalah negara memberikan kepastian ekonomi sedangkan agama memberikan kepastian moralitas. Adalah mustahil ada moralitas yang manusiawi tanpa kesejahteraan, tanpa perekonomian yang baik maka warga negara akan saling membunuh dan memakan (terjadi hukum rimba). Sedangkan kemakmuran tanpa akhlak yang bertanggung jawab dapat mempercepat pemanasan global oleh karena tingginya hawa nafsu dan penggunaan sumber daya yang boros.

Salam sinergisitas!

Iklan

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s